
Hari yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Baralek Gadang orang namakan. Pelaminan sudah terpasang. Talempong dan serunai serta tari galombang sudah dipersiapkan menunggu arak-arakan marapulai bersama rombongan. Untuk makanan, berbagai macam masakan yang kemarin dibuat sudah terhidang di ruang tengah dan meja panjang yang diletakkan persis di samping pintu masuk ke atas rumah Khaula.
Selain itu, para penanti rombongan sudah memakai pakaian kebesaran Minangkabau. Ada yang memakai baju badeta, baju kuruang basiba dan lain-lainnya sesuai gelar dan kedudukannya dalam kaum. Mereka semua sudah siap menunggu kedatangan Khalid. Sementara di dalam kamar, Khaula menatap hampa. Keberaniannya menciut, dendam itu berganti ketakutan yang teramat sangat.
Rasa itu bercampur dalam dada Khaula, hingga membentuk genangan air di pelupuk matanya. Kerinduan kepada Juki ikut menjadi bumbu kegalauan yang kini menjadi tangis tanpa suara. Dada Khaula terasa sesak, napasnya tersengal-sengal.
“Juki maafkan aku,” lirihnya sambil menahan isak.
Melihat Khaula menangis, Nazima yang sedari awal sudah berada bersamanya di dalam kamar tersebut menjadi kaget. Kenapa tiba-tiba Khaula bisa serapuh ini? Sangat berbeda dari biasanya. Nazima duduk di samping Khaula, merangkul bahu saudarinya tersebut ke dadanya. Maka tumpahlah tangis Khaula bersama tubuhnya yang bergetar.
“Kamu kenapa?” tanya Nazima pelan.
“Maafkan aku, Niz,” pintanya seperti memohon.
“Tapi untuk apa? Kamu tidak salah! Apa kamu belum siap menerima Khalid?”
“Niz, aku, aku ….” Khaula tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Dulu, Nazima adalah tempat berkeluh kesah Khaula. Ingin ia kembali melakukan hal yang sama, menceritakan tentang rasa yang ia punya untuk Juki. Namun, Khaula dihadang keraguan, karena Nazima pernah berkhianat. Khaula tidak mau ceroboh hanya karena kesedihan yang sedang menderanya.
Salahkah pernikahan ini? Karena memiliki tujuan yang tidak benar.
Pernikahannya, bukan untuk membina keluarga yang sakinah, warohmah, dan mawadah. Melainkan untuk melampiaskan sakit hati pada Khalid. Sementara Tuhan sangat membenci pernikahan yang dipermainkan. Khaula bimbang.
__ADS_1
“Khaula sudahlah. Ini takdir yang harus kamu jalani. Tuhan tahu yang terbaik untuk umatnya, namun, jika pernikahan ini akan membawa mudharat, ada baiknya kamu pikirkan lagi,” ucap Nazima sambil menepuk pelan bahu Khaula.
Mendengar ungkapan Nazima, dada Khaula bergemuruh. Jangan-jangan Nazima hanya pura-pura baik untuk menghalangi pernikahannya, lalu ia menikah dengan Khalid. Enak saja!
“Orang yang pernah diberi kepercayaan, lalu tiba-tiba berkhianat. Tidak mungkin dipercaya lagi,” batin Khaula.
Perlahan, namun pasti. Khaula memantapkan diri menikah dengan Khalid, walau nantinya tidak bisa dibayangkan seperti apa rumah tangga mereka. Dendam ini masih menyala seperti bara, sedikit saja dihembus angin, akan menyala dan membakar kepercayaan Khaula kepada siapa saja yang ada di barisan Khalid. Termasuk Nazima.
Khaula mengusap air mata. Lupakan Juki, lupakan cinta. Sekarang yang terpenting dendam ini terbalas.
***
Hampir pukul sepuluh, Khaula sudah siap memakai baju nikah. Setelan baju kurung basiba dengan tengkuluk yang di pasang di luar jilbab. Setelah menikah, baru Khaula memakai baju anak daro, basuntiang emas dan diarak dari rumah Nazima.
Seketika jantung Khaula berdegup semakin kencang. Matanya nanar, sebentar lagi ia akan melihat Khalid. Dan besok malam mereka akan di kamar ini berdua. Khaula bergidik membayangkannya.
Bukan tentang itu saja, angan Khaula kepada Juki membuat gadis itu semakin nelangsa.
“Ah, kenapa tidak dari bulan lalu Juki memperlihatkan perhatiannya? Kenapa setelah ia mau menikah,” rutuk Khaula berlinang air mata.
***
Rombongan Khalid sudah sampai di depan halaman. Beberapa orang tetua sudah menunggu dengan petatah dan petitih. Khalid tampak gagah dengan balutan baju koko dan celana hitam. Laki-laki itu semakin tampan, apalagi tubuhnya kini semakin tegap dan berisi. Wajah Khalid tampak bersinar, begitu juga tatapan matanya yang tampak lebih teduh. Satu lagi yang dulu membuat Khaula kagum dari Khalid adalah lesung pipinya yang dalam, sangat manis.
__ADS_1
“Assalamualaikum,” ucap rombongan serempak. Tak lama terdengar jawaban salam yang bergemuruh dari dalam rumah.
Setelah para tamu duduk, etek Samsida tergopoh ke kamar Khaula. Memberi tahukan kalau Khalid dan rombongan serta penghulu sudah siap di anjungan. Khaula mendesah, menghembuskan napas bersama usapan tangan ke wajah.
“Hei! Nanti bedakmu luntur,” sergah Nazima.
Seketika Khaula menoleh ke gadis itu. Nazima segera meraih tangan Khaula untuk digandeng menuju tempat acara yang sudah disediakan.
Kain pintu disibak, berpasang mata menatap Khaula yang terlihat anggun dengan balutan baju kurung basiba berwarna keemasan. Senada dengan pelaminan yang dipesan Nazima ke Anya WO.
Khaula menggigit bibir, perih menyelusupi relung jiwa. Ketika matanya tidak sengaja bertemu dengan tatapan Khalid. Darahnya berdesir. Ternyata masih ada sisa perasaan yang tidak hangus bersama dendamnya.
Di depan Khalid telah duduk Pak Etek Zainul, adik kandung ayahnya Khaula. Mata gadis cantik itu berembun, melihat laki-laki jangkung yang akan menggantikan posisi ayahnya sebagai wali nikah.
Rasa haru tiba-tiba memenuhi rongga dada Khaula ketika menatap wajah Pak Etek Zainul. Wajahnya sama persis dengan mendiang ayah Khaula. Wajah yang hanya bisa ia lihat melalui foto besar di dinding rumah mereka.
Khaula menunduk berusaha tenang, ketika melihat Khalid yang sudah siap menunggunya di depan penghulu. Dalam angannya pun melintas wajah Juki. Ya Tuhan, Khaula merintih sambil berusaha menguatkan hati menjalani pernikahannya. Karena ini adalah amanah ayahnya dan demi apa pun yang ada dalam pikirannya saat ini.
Saat Khaula menyeret langkah ke dekat Khalid. Langkahnya terhenti di antara punggung tamu yang membentuk lingkaran menghadap meja nikah, ketika sesosok tubuh tinggi berkulit putih masuk sambil mengucap salam. Senyumnya yang khas mengembang, sekadar menyapa tamu yang sudah memenuhi ruang tengah.
Khaula terperanjat, ternyata Juki datang untuk menyaksikan pernikahannya. Khaula tak habis pikir, kenapa Juki datang dan mengorbankan waktunya untuk menyaksikan pernikahannya? Maka runtuhlah fondasi air mata Khaula.
Air merembes deras dari sudut mata Khaula ketika tatapan mereka bertemu. Juki berusaha tersenyum, lantas mengangguk pelan sambil mengacungkan ibu jari. Mengisyaratkan kalau semua baik-baik saja.
__ADS_1
Melihat kedatangan Juki, Pak Etek Zainul langsung berdiri. Menyongsong pemuda itu ke pintu dan memintanya agar mau menjadi saksi pernikahan Khaula. Karena sepengetahuan Zainul, Juki adalah bos Khaula. Maka sepantasnya ia diberi penghormatan dan diminta menjadi saksi acara penting dalam kehidupan Khaula.