
Bodohnya aku yang jusrtu menjerumuskan keselamatan mereka hanya karena rasa egoisku dan memikirkan rasa amanku.
______________________________________
Rika menatap heran pada pengendara motor didepannya, yang sudah menghentikan laju motornya dijalan sepi. Ia juga merasakan guncangan hebat dan rasa oleng pada motor yang di tumpanginya.
Mendadak motor tersebut berhenti di jalan yang sepi dan tidak berpenghuni. Rika menatap kearah sekelilingnya, hari sudah beranjak sore.
"Mang Udin, ada apa?" tanya Rika saat Mang Udin sudah menghentikan motornya di tepi jalan. Ia masih menatap Mang Udin yang turun dari motornya, membuka kaca helm dan memperhatikan ban depan dan ban belakangnya yang sudah kempis.
"Aduh, neng. Kita dalam masalah. Ban motornya bocor keduanya!" sahut Udin sambil berjongkok kembali memeriksa ban motor metiknya.
Rika terkejut mendengarnya dan segera turun dari motor, ikut serta memperhatikan ban tersebut. Ia kembali terlihat gelisah saat mendapati hal yang tidak wajar pada kedua ban motor tersebut. Sepertinya ada yang sengaja menabur paku di jalanan. Apakah mungkin mereka sedang dijebak. Matanya memendar menatap kesekeliling rumput dan semak liar yang ada di sepanjang jalan tersebut.
"Mang, apa ada bengkel di dekat sini?" Rika memastikan untuk mengusir rasa khawatirnya.
"Sangat jauh, 4 kilo dari sini baru kita bisa menemukan pom bensin. Kalau bengkelnya lebih jauh lagi dari pom bensin," jawab Mang Udin.
"Kita sekarang harus bagaimana, Mang?" tanya Rika yang mulai khawatir dan gelisah. Beberapa kali matanya menatap waspada kearah belakang mereka, kearah semak belukar. Ia benar-benar ketakutan sekarang.
"Sebentar, Neng. Saya akan menghubungi teman saya dulu untuk membawakan tambal ban instan. Dan kita akan menunggunya sebentar lagi disini," sahut Mang Udin yang terlihat sedikit gelisah sambil mengeluarkan handphone yang ada disaku celananya.
Rika masih menatap awas kearah Mang Udin yang sedang sibuk berbicara dengan seseorang di telpon. Matanya memindai kearah mobil yang tampak berhenti di dekat mereka. Ia sama sekali tidak mengenali mobil tersebut.
Dengan perasaan takut dan waspada, Rika menatap lelaki yang baru saja turun dari mobil tersebut, ia tidak mengenalnya sama sekali. Pria itu terlihat sangat asing di matanya. Apakah dia temannya Mang Udin maksud.
Rika menggeser kakinya berjalan dan merapat kearah Mang Udin yang sudah selesai dengan telponnya. Ia sengaja menurunkan kaca helmnya untuk menutupi wajahnya, agar tidak mudah dikenali.
"Ada apa, Neng?" tanya Mang Udin sambil kembali memasukkan handphonenya kedalam saku celananya. Ia menatap heran kearah Rika. Kepalanya memutar kedepan saat mendengar suara asing yang menyapa gendang telinganya.
"Ada apa, Bang? Kenapa dengan motornya?" tanya lelaki tersebut. Ia menatap kearah motor yang kedua bannya sudah kempis.
"Oh bocor," jawabnya sendiri.
Rika tampak ketakutan saat melihat seringaian samar muncul di bibir lelaki yang tidak dikenalnya tersebut. Rupanya lelaki itu bukan temannya Mang Udin. Benar juga, tidak mungkin temannya langsung ada dalam hitungan detik saat Mang Udin menelpon. Memangnya dia siluman apa, bisa datang dengan sekejap.
"Iya. Bocor, dek. Sepertinya kena paku," jawab Udin. Udin memindai penampilan lelaki muda yang berumur kisaran 27 tersebut. Pakaiannya terlihat rapi dengan kaos oblong dan celana jeans panjang. Ia berharap agar lelaki didepannya ini juga menolong mereka.
"Kalau begitu aku akan menolong Abang untuk meringankan beban Abang. Setidaknya mengantarkan wanita itu sampai ke tujuan." Tunjuknya pada Rika. Ia menepuk tangannya sekali.
__ADS_1
"Ma'af, Dek. Dia keponakan saya. Saya tidak bisa menyerahkannya pada orang asing." Udin membela Rika. Ia adalah orang yang amanah.
Rika beringsut bersembunyi ke belakang Mang Udin. Dia benar-benar ketakutan. Apalagi setelah terlihat raut marah di wajahnya setelah mendapat penolakan dari Mang Udin.
Ia kembali menepuk tangannya 2 kali. Tiba-tiba semak di belakang mereka bergerak. Tampak keluar 8 orang lelaki bringas dan diantara mereka Rika mengenalnya. Rupanya dia kembali mereka temukan.
"Rika! Cepat ikut dengan kami sebelum kami berbuat lebih dari ini!" gertaknya.
Rika hanya diam saja, matanya melirik kearah batu besar yang tergeletak tidak juah dari kakinya. Kali ini dia akan melawan dan tidak akan menyerah.
Sedangkan Mang Udin sudah menatap waspada kearah mereka. Ia tahu keadaan Rika yang sebenarnya karena Diyang sudah menceritakan kejadiannya kepada dirinya sebelumnya.
"Jangan mengganggunya, kalian orang-orang jahat. Apa yang kalian harapkan darinya?" Mang Udin memasang kuda-kuda. Matanya menatap awas pergerakan mereka. Ia sudah menyangka kalau mereka sedang di jebak. Ia hanya berharap agar teman-temannya segera datang menolongnya.
"Kamu jangan ikut campur urusan kami!" gertaknya lagi.
"Cepat ringkus dia!" perintahnya pada semua anak buahnya.
Mereka mengangguk dan bergerak mengelilingi Rika dan Mang Udin. Rika bergegas berjongkok dan meraih batu tajam yang sejak di tatapnya.
Mang Udin bergerak maju saat mereka menyerang. Ia yang pandai membela diri pun tampak kewalahan menghadapi mereka yang main keroyok. Apalagi mereka terlihat sangat kuat. Sedangkan jalanan sudah tampak sepi.
Rika hanya bisa mengayunkan batu yang ada di tangannya saat mereka mendekat kearahnya. Rasa sakit masih terasa di sekujur tubuhnya. Ingin rasanya ia berlari, tapi tidak mungkin ia lakukan karena itu hanya akan membuat dirinya kelelahan saja.
Rika berusaha menendang *********** namun sama sekali tidak pernah kena karena dia sangat pandai menghindar. Dengan sekali tarik, ia sudah dapat menguasai tubuh Rika.
Rika yang geram mengayunkan batu yang ada di tangannya kearah kepala lelaki tersebut. Batu itu bersarang tepat di dahinya sehingga terdengar lelaki itu mengaduh kesakitan. Ia melepaskan Rika dan Rika mengambil kesempatan ini untuk berlari menjauh darinya.
Rika melihat sepotong kayu yang tergeletak di tepi jalan. Ia meraihnya dan berjalan kearah Mang Udin dan melemparkannya. Mang Udin sudah terlihat kelelahan, bahkan ia sudah beberapa kali kena tendangan.
Rika berbalik saat mendengar suara geram yang ada di belakangnya. Rupanya lelaki yang di pukulnya tadi hingga benjol dan berdarah, tampak menatap kearahnya dengan murka.
Dengan cepat Rika kembali mengambil beberapa batu dan melemparkannya kearah lelaki tersebut, namun tidak pernah kena karena ia selalu berhasil menghindar. Tangannya berhasil meraih dan mencengkram tangan Rika. Menyeretnya dengan paksa menuju kearah mobil miliknya. Meninggalkan seluruh anak buahnya yang masih bergelut dengan Mang Udin yang terlihat sudah sangat kewalahan.
"Dasar wanita kurang ajar!" makinya saat Rika mencubit tangan lelaki tersebut dengan kencang. Ia menarik Rika hingga Rika tampak terseok-seok. Membuka pintu mobilnya dan mengambil tali yang ada disana.
Tangannya bergerak mengikat tangan Rika dan melemparkan Rika masuk kedalam mobil begitu saja. Hingga Rika mengaduh kesakitan saat badannya membentur mobil. Rasanya badannya remuk semua dan lepas begitu saja.
Bunyi pintu mobil yang di tutup kasar terdengar memekak di telinga Rika. Matanya menatap awas kearah lelaki tersebut yang sudah duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
Mobil yang di tumpangi oleh mereka melaju entah kemana. Rasa bersalah seketika menyeruak didalam hatinya, saat dirinya melihat Mang Udin yang sudah tidak berdaya lagi. Ia hanya berharap agar Mang Udin ada yang menolongnya, atau setidaknya temannya tidak terlambat untuk menemukannya.
"Lepaskan aku bodoh, aku tidak ingin kamu serahkan pada lelaki tua gila itu!" teriak Rika murka.
"Diam!!" gertaknya sambil menatap Rika tajam melalui kaca spion.
Rika seketika membelalakkan matanya. Ia semakin kesal karena sejak tadi dirinya selalu digertak lelaki yang sedang mengemudi tersebut.
Apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku!?" Desis Rika tajam. Ia benar-benar murka pada lelaki tersebut. Ketakutan yang di milikinya tadi sudah menguap entah kemana.
"Diam aku bilang!!" teriaknya lagi sambil menghentikan mobilnya mendadak.
"Aku hanya ingin tahu saja!" balas Rika dengan berteriak.
"Kamu wanita bodoh, aku tidak tahu kenapa Bos sangat tertarik dengan wanita bodoh sepertimu, bahkan dia tidsk membiarkan kamu lepas begitu saja!"
"Maksudmu apa?" tanya Rika kembali dengan inotasi rendah.
"Tentu saja kami bisa melacak keberadaanmu, walauoun kamu berlari ke ujung dunia sekalipun. Tidakkah kamu sadar kalau di pakaianmu trlah kami pasang pelacak. Dan bodohnya kamu karena membawa orang lain kedalam masalah yang kamu hadapi."
Rika membelalakkan matanya menatap lelaki tersebut.
"Apa yang akan kalian lakukan padanya, brengs*k!!" maki Rika kesal.
"Diam kamu!! Sekali saja kamu berbicara, maka kamu akan tahu akibatnya!!" gertaknya lagi.
Rika tampak ketakutan, wajahnya seketika pias karena terus-menerus digertak olehnya.
"Lepaskan aku!!" teriak Rika lagi, ia mencoba melawan rasa takutnya.
"Diam!!! Aku bilang diam!!!"
Ia meraih sapu tangan yang ada di dasborad, memberikan sedikit cairan kloroform dan menutupkannya kearah mulut dan hidung Rika hingga membuat Rika pingsan.
Senyum jahatnya kembali terbit saat melihat wanita tersebut sudah lunglai dan tidak bersuara lagi. Ia bisa tenang dalam mengemudi sekarang.
•
•
__ADS_1
•
*******