
Daffa berjalan kearah ruangannya. Ia merasa kalau bebannya sedang berkurang sekarang.
Tangannya bergerak membuka pintu ruangannya. Senyumnya langsung terbit saat mendapati Azza yang sedang berdiri di depan jendela kaca, sedang berdiri membelakanginya.
Dengan perlahan Daffa berjalan kearahnya. Memeluknya dengan tiba-tiba hingga membuat wanita muda itu memekik karena terkejut.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Daffa.
Azza berusaha melepaskan pelukan Daffa. Wajahnya tampak merona karena merasa malu.
"Sayang. Aku lelah hari ini. Bisakah kamu memijat punggungku?" tanya Daffa. Ia meletakkan kepalanya di ceruk leher Azza.
"Bukankah kamu bukan kuli yang harus memikul beban berat, kenapa harus punggung yang di pijat," sahut Azza dengan malu-malu.
"Memangnya kamu mau memijatku dimana?"
Melepaskan pelukannya dan membalik badan Azza untuk menghadap padanya.
Azza menunduk menahan malu dan pipinya tampak semakin merona. Ia tidak bisa berkutik dengan pertanyaan Daffa.
"Bagaimana kalau kamu memijatku disini?" tunjuk Daffa pada bibirnya.
Azza repleks mengangkat kepalanya untuk melihat objek yang di tunjuk oleh suaminya. Matanya terbelalak saat Daffa sudah meraup bibirnya terlebih dahulu, melum*tnya dan memperdalam ciumannya.
Daffa bahkan sudah mengangkat dan menggendong tubuh Azza dan membawanya kearah kamar pribadi miliknya yang ada di ruangan tersebut.
Ia melepaskan seluruh pakaian Azza dan juga pakaian yang melekat di tubuhnya. Mereka melakukan penyatuan hingga beberapa ronde. Rasanya Azza bagaikan candu untuknya.
Selesai bercinta, Daffa meraih selimut dan menaikkannya hingga sebatas dada Azza. Mengecup sesaat dahi wanita yang tertidur pulas di sampingnya. Rupanya wanita itu sangat kelelahan dalam mengimbangi permainannya.
Entah kenapa ia begitu tenang saat bersama wanita tersebut, wanita yang tidak sengaja di rusak olehnya.
Bergegas ia berdiri dan menuju kearah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Zainal? Sejak kapan kamu berada disini?" tanya Daffa saat ia membuka pintu kamar pribadinya.
"Sejak kamu masuk ke ruang pribadimu dengan menggendong Azza!" sahut Zainal santai.
"Oh iya, makanan ini kenapa tidak di makan, nanti basi."
Zainal mengangkat rantang yang ada di meja tersebut.
"Astaga! Aku lupa kalau Azza kesini pasti membawakan makan siang untukku!" menepuk jidatnya.
Zainal terkekeh. "Ternyata kamu lebih menyukai makanan pembuka dari pada makanan utama."
"Diamlah!" ucap Daffa kesal.
"Kasihan dia di dalam sana, melayanimu hingga berjam-jam tanpa makan. Bisa-bisa badannya nanti tinggal tulang saja!" ledek Zainal.
__ADS_1
"Sialan kamu!" Daffa melempar bolpoin miliknya.
"Kamu belikan pakaian wanita untuk Azza. Yang sopan dan agak tertutup!" perintah Daffa.
"Siap, Bos!!" sahut Zainal.
Daffa kembali masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Azza. Ia membaringkan tubuhnya di samping Azza dan memeluk wanita tersebut dengan erat bahkan ia menciumi wajah wanita tersebut bertubi-tubi sebelum menutup matanya.
***
Azza membuka matanya dengan perlahan. Rasanya ia begitu lelah dan merasa ada sesuatu yang menindih tubuhnya.
Azza menoleh kearah samping dan mendapati Daffa yang masih menutup matanya. Azza tersenyum sendiri saat mengingat kejadian panas mereka tadi. Ternyata bercinta tidaklah semenyakitkan seperti bayangannya bahkan lelaki ini begitu pandai membuatnya terbuai.
Tangannya bergerak membetulkan selimut yang hampir melorot. Sekali lagi ia memindai wajah Daffa yang tampan dan juga manis. Senyum kembali terbit di bibirnya.
"Kenapa kamu tersenyum? Apa kamu ingin mengulanginya sekali lagi denganku?"
Daffa berguling hingga ia kembali berada di atas tubuh Azza.
Azza memalingkan wajahnya kearah samping, pipinya tampak merona bahkan rambutnya acak-acakkan. Ia begitu seksi di mata Daffa.
"Bagaimana kalau kita melakukannya satu kali lagi?" tanya Daffa dengan suara parau.
Azza memejamkan matanya sesaat, kemudian membukanya dan menatap Daffa dengan malu-malu.
Mereka kembali memadu kasih hingga sama-sama mencapai puncak.
"Mandilah!" ucap Daffa setelah mereka selesai melakukannya.
"Setelah ini kita akan makan siang. Kamu pasti sangat lapar karena melayaniku hingga berkali-kali."
Azza kembali merona, menatap kearah mana saja asal tidak menatap wajah Daffa.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" usul Daffa.
Tanpa aba-aba Daffa langsung meraih tubuh Azza dan membawanya kearah kamar mandi. Azza menyembunyikan wajahnya di dada Daffa karena begitu malu melihat keadaan mereka yang tanpa sehelai benang pun.
Di dalam kamar mandi ritual sebelum mandi kembali terjadi lagi.
***
Tepat pada saat Daffa keluar kamar, Zainal datang dengan paperbag di tangannya. Menyerahkan pada Daffa.
"Pakailah pakaianmu ini karena pakaianmu yang lalu tidak patut di pakai!" ucap Daffa menyerahkan paperbag tersebut.
Matanya memindai tubuh Azza yang hanya mengenakan handuk sebatas dada. Ia kembali meneguk ludahnya kasar. Ingin rasanya ia sekali lagi mengulanginya.
"Kamu sedang lihat apa?" tanya Azza dengan malu-malu.
__ADS_1
"Cepatlah pakai bajumu. Kalau tidak maka kamu tidak akan bisa bangun!" perintah Daffa. Bergegas ia keluar dari kamar tersebut untuk kembali meredam hasratnya.
Rasanya ia tidak bisa dekat-dekat dengan Azza karena sangat berbahaya dengan miliknya yang selalu menegang.
Azza keluar ruangan dengan pakaian yang baru di belikan oleh Zainal untuknya. Ia duduk di kursi tamu dan menyiapkan makanan yang sudah dingin tersebut.
"Mas, makanannya dingin," ucap Azza.
"Tidak apa-apa. Aku akan memakannya karena ini adalah masakanmu. Dan masakanmu sangatlah enak!" ucap Daffa.
"Baiklah. Ayo kita makan siang!" sahut Azza riang.
"Suapi," sahut Daffa manja.
Azza mendekat kearahnya dan menyuapi Daffa sesuai dengan permintaannya.
"Kamu juga dong sayang di suap."
Daffa meraih sendok yang lain dan mengarahkan sendoknya kearah mulut Azza. Azza tampak ragu membuka mulutnya.
"Buka dong sayang mulutnya! Kalau tidak maka hukumannya nanti malam kamu tidak tidur semalaman, bagaimana?"
Azza segera membuka mulutnya. Membuat Daffa terkekeh senang melihatnya.
"Nanti malam kamu pindah kamar ke atas. Kita sekamar!"
Azza ingin membuka mulutnya menolak.
"Tidak ada penolakan, sayang. Kalau kamu menolak maka hukumannya akan aku tambahkan. Kamu tidak bisa bangun hingga siang besok, bagaimana?"
Azza membelalakkan matanya menatap horor kearah Daffa. Ia mengangguk dengan cepat sebelum ancaman Daffa benar-benar di buatnya menjadi nyata.
"Pintar!" tangan Daffa bergerak mengacak-acak rambut Azza. Membuat wanita itu terdiam di buatnya. Ia menatap Daffa sekilas dan merasakan dadanya yang bergemuruh hebat. Apakah ia kembali takut dengan lelaki ini ataukah perasaan lain yang tidak di mengerti olehnya.
"Hei! Buka lagi mulutmu! Jangan membayangkan hal yang jorok saat makan!" ledek Daffa.
Tangannya menjawil hidung mungil Azza. Membuat wanita itu merona dan dengan cepat menundukkan kepalanya.
"Jangan malu seperti itu, aku hanya bercanda!" Meraih wajah Azza dan membelai pipinya. Daffa mendekatkan wajahnya kearah Azza sambil memejamkan matanya. Melum*tnya sesaat dan melepaskannya dengan tersenyum manis.
Lagi, wajah Azza semakin merona malu.
•
•
•
*****
__ADS_1