Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 59


__ADS_3

Hari ini, Afika sudah di perbolehkan pulang. Karena melahirkan secara normal jadi tidak perlu memakan waktu yang lama untuk berada di rumah sakit. Dan di sini lah terjadi drama yang begitu panjang saat Adrian masuk ke dalam ruang inap Afika.


"Kita akan pulang ke mension kota. Bukan mension hutan." Ucap Adrian sembari mendekati Afika, ingin mencoba membantu Afika turun dari tempat tidur.


"Apa aku pernah bilang ingin pergi ke mensionmu?"


"Tidak! Hanya saja aku pikir mension kota cocok untuk anak kita."


"Anak kita?" Ulang Afika dengan penekanan di setiap katanya. "Apa aku tidak salah dengar Adrian?"


"Tidak! Benarkan jika baby L anak kita. Jadi ucapanku memang tidak salah. Ayo sini aku bantu, kita akan pulang bersama." Ucap Adrian mencoba memegang tangan Afika namun dengan cepat Afika menepis tangan Adrian.


"Lepaskan! Aku tidak butuh uluran tanganmu."


"Sayang." Ucap Adrian.


"Jangan memanggilku seperti itu, aku geli mendengarnya." Kata Afika sambil berjalan menuju box baby L. Baby yang berada di sana tertawa, mendengar perdebatan keduanya. "Ingat, aku tidak pernah memaafkan dirimu. Jadi jangan sok akbrab dengan ku. Apalagi memanggil ku dengan sebutan aneh itu." Ucap Afika mengancam Adrian agar tidak mengulang memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Maaf, maafkan aku sa.. Maafkan aku mommy nya L."


Afika menghembuskan nafasnya dengan kasar. Entah kenapa panggilan itu membuat dirinya begitu geli. Andai orang lain yang menyebut momy L mungkin saja Afika suka, namun tidak dengan panggilan yang di buat oleh Adrian. Justru Afika merasa tidak suka.


"Jadi kita akan ke mension kota." Ajak Adrian sambil mengambil tas milik Afika yang di dalamnya berisi barang-barang bayi.


"Adrian!" Seru Afika. "Jangan pernah memaksaku untuk mengikuti kehendakmu. Ingat! Aku ini bukan siapa-siapa mu."


"Maaf." Kali ini Adrian mencoba untuk mengalah


"Apa kau lupa dengan apa yang kau lakukan padaku? Atau perlu aku katakan satu persatu biar kau ingat tentang perbuatanmu padaku? Iya?" Ucap Afika tegas sehingga membuat baby L, menggeliat. "Maaf sayang." Ucap Afika sambil menggendong tubuh mungil L.


Adrian seakan tertampar dengan apa yang barusan Afika katakan. Ya, Adrian sadar betul, apa yang dulu ia lakukan pada Afika memang begitu sangat kejam. Tak sedikit pun rasa kahisan Adrian tujukan pada Afika dulu.

__ADS_1


"Aku menyesal." Lirih Adrian yang masih berdiri di tempatnya.


"Simpan penyesalanmu itu."


"Maaf, berikan aku kesempatan ke dua."


Tidak menjawab ucapan Adrian. Kini Afika melangkah keluar. Baby yang sejak tadi diam mendengar pertengkaran kini membuka suara.


"Aku kasih tahu rahasia perempuan jika dia sedang marah."


"Apa itu."


"Pelukan. Yah, wanita hanya membutuhkan pelukan hangat dari prianya."


"Kau yakin? Tidak sedang bercanda kan?"


"Cari saja di om goooooole, pasti jawabannya sama."


••••


Afika merasa kesal, karena Adrian terus saja berada di dekatnya. Seperti sekarang, saat Afika hendak pulang dan di antar oleh Nadi, Afika yang sudah berada duduk di dalam mobil langsung kaget saat pintu mobil terbuka, dan Adrian dengan santainya langsung duduk di sampingnya.


"Halo sayang. Maaf Daddy lambat." Ucap Adrian sambil mengusap kepala mungil L.


"Keluar!" Perintah Afika.


"Nadi, ayo jalan."


"Ba..." Ucapan Nadi menggantung kala Afika langsung berbicara.


"Baiklah kalau kau tidak keluar maka aku yang akan keluar." Ancam Afika dan hendak keluar namun tangannya di tahan oleh Adrian.

__ADS_1


"Jalan sekarang Nadi. Ingat saya ini tuanmu."


"Baik tuan." Ucap Nadi lalu melajukan mobilnya.


"Jagoan, bagaimana kabarmu, kau tahu daddt begitu sangat merindukan mu." Ucap Adrian yang membuat Afika ingin muntah mendengar ucapannya. "Hey, kau tahu sayang. Mommy mu sangat galak. Dia tidak pernah tersenyum melihat daddy mu yang cakep ini."


Nadi sontak tertawa mendengar celotehan dari Adrian. Sungguh menurut Nadi, Adrian berubah hingga mungkin menjadi seribu derajat. Di mana dulunya pria itu sangat iri dalam berbicara namun sekarang, justru malah kebalikannya. Apakah sekarang es batu sudah benar-benar mencair.


"Kenapa kau tertawa Nadi? Apad ada hal yang lucu?"


"Maaf tuan."


"Lihat sayang, uncle Nadi lucu yah. Dia tertawa padahal tidak ada yang lucu di sini. Oh yah sayang, bisakah kau membuju wanita cantik yang saat ini menggendongmu agar mau tersenyum melihat daddy."


PLAKKKK...


Bukannya mendapatkan senyuman, justru jitakan tangan Afika mendarat begitu sempurnah di atas kepala Adrian, hingga membuat Adrian meringis menahan sakit. Nadi yang berada di depan sana, menahan tawa.


"Hentikan omong kosong mu." Ucap Afika.


"Sayang kau lihat sendiri, wanita yang daddy cintai begitu kejam." Ucap Adrian


"Nadi, ini buka jalan menuju rumah tante Junisah."


"Maaf nyonya."


"Sekarang juga berhenti di sini, atau aku akan melompat keluar." Ancam Afika.


"Maaf." Kini Adrian yang berkata. "Aku rasa kita harus pulang ke mension. Ini sudah menjadi keputuasanku."


"ANDRIAN!" Sentak Afika yang tidak terima dengan keputusan Adrian.

__ADS_1


__ADS_2