Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 45


__ADS_3

Flash back.


Adrian terus berusaha mencari Afika, tanpa mengenal rasa lelah sedikit pun. Ia sudah tidak lagi memperhatikan dirinya, karena merasa tidak penting. Karena bagi Adrian yang terpenting saat ini adalah menemukan Afika, meminta maaf dengan tulus dan juga memulai hidup kembali dengan Afika, dan buah hati yang saat ini masih berada di dalam kandungan Afika. Tiap hari, Adrian selalu menyembatkan mendatangi panti asuhan, melihat keadaan apakah Afika pulang atau tidak, dan bahkan kadang Adrian sampai tinggal menginap jika Siti sudah merasa kasihan melihat Adrian. Seluruh kebutuhan panti, kini di tanggung oleh Adrian, dan Siti benar-benar melihat ke dalam mata Adrian jika memang benar saat ini pria itu sudah merasa kehilangan sosok yang selama ini tinggal bersamanya.


Dan seperti hari ini, keadaan sudah sangat larut, dan kini Adrian pun menyempatkan diri untuk kembali datang ke panti asuhan. Siti, yang memang belum tidur dapat mendengar suara mobil Adrian yang berhenti tepat di pekarangan panti. Siti langsung bergegas menuju pintu dan membuka pintu untuk Adrian. Sama seperti kemarin-kemarin. Tampilan Adrian terlihat begitu sangat kacau.


Siti hanya bisa tersenyum melihat Adrian yang berjalan menghampirinya, tapi dalam hati Siti, ia begitu merasa kasihan dengan keadaan Adrian.


"Ibu." Panggil Adrian, sambil menyalim tangan Siti. "Apa Afika sudah pulang bu?" Pertanyaan yang sama yang Adrian lontarkan di setiap harinya. Namun, tetap saja jawaban Siti pun sama. Jika Afika tidak ada.


Melihar Siti yang hanya diam saja, Adrian sudah mengetahui jawabannya. Dengan berjalan tertatih, Adrian masuk dan duduk di kursi di susul oleh Siti yang ikut duduk di samping Adrian.


"Ibu.. Hikkkssssss, hikkkkkssss, Hikkkkssssss.." Tangis yang selama ini di pendam oleh Adrian kini keluar tanpa ia tahan sedikit pun. Adrian menangis, karena merasa gagal menemukan istri dan calon bayinya. Ia merasa apa yang ia miliki tidak mempunyai arti, kekuasaan dan uang tidak bisa membuat dirinya menemukan Afika hingga sampai detik ini. Dan, jika pria menangis itu tandanya, pria itu sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Siti menarik lembut kepala Adrian dan menyandarkan di pundaknya. Siti mengusap lembut pundak belakang Adrian. "Menangislah, jika itu bisa membuat mu lebih baik." Kata Siti dengan lembut. Siti jelas tahu sakit dan penyesalan yang saat ini di rasakan oleh Adrian. Siti dapat melihat dari setiap hari Adrian mencari tanpa henti.


Farah yang mengintip di balik gorden, turut mengeluarkan air matanya. Dulu, ya, Farah sangat membenci pria yang bernama Adrian ini, saat tahu apa yang telah Adrian lakukan pada Afika. Namun, saat Afika pergi, dan Farah melihat ketulusan Adrian mencari tanpa lelah Afika, di situlah amarah dalam diri Farah terkikis, hingga amarah itu berubah menjadi rasa iba dan sangat prihatin.


"Afika, kau di mana.." Gumam Farah, sambil mengusap air matanya.


"Ibu.. Aku salah, aku menyesal.." Lirih Adrian di sela tangisnya.


"Ibu, apa Afika baik-baik saja?"


"Kita doakan semoga dimana pun Afika berada, dia dan bayinya bisa sehat-sehat."


"Apa yang kau lalukan? Kenapa kau mengintip?" Tanya Baby, saat mendapati Farah yang kini masih berdiri dan sembunyi di balik gorden. Farah yang mendengar suara Baby, langsung berbalik dan meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya.

__ADS_1


Perlahan Baby mendekat dan melihat jika saat ini Adrian sedang menangis, dan Baby pun langsung ikut menangis.


Baby langsung kembali berlari masuk ke dalam kamarnya, dan Farah pun langsung ikut menyusul Baby.


"Aku tidak sanggup melihat kak Adrian yang terus saja menangis." Ucap Baby saat Farah sudah menutup pintu kamar. Semenjak Afika pergi, Baby memutuskan untuk sesekali menginap di panti. Dan hubungannya dengan Farah semakin dekat. Dulu mereka saling tuduh menuduh tapi sekarang mereka sudah menjadi teman sekamar dan bisa dikatakan sudah menjadi sahabat.


"Itu sudah menjadi takdirnya. Karena semua terjadi atas apa yang ia lakukan." Kata Farah hingga membuat Baby semakin terisak. "Hey, kenapa kau menagis semakin keras??"


"Ini semua salah ku. Andai aku tidak egois waktu itu. Andai saja aku tidak memaksa kak Adrian untuk menikahi Afika, pasti semuanya tidak akan terjadi. Hikkkssss..hiksssss..."


Farah langsung memeluk Baby.


"Sudah jangan menangis dan jangan menyalahkan dirimu lagi. Semua sudah terjadi, lebih baik kita fokus menunggu kabar dari Afika saja."

__ADS_1


__ADS_2