Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 64


__ADS_3

Kini Afika dan juga Lion telah tiba di panti, dan tentunya bukan hanya Nadi yang mengawal mereka tapi ada beberapa mobil hitam yang juga ikut serta mengantarnya. Belum lagi, segala keperluan Lion, mulai dari tempat tidur dan yang lain-lain juga ikut serta. Awalnya Afika menolak, namun Nadi bersikeras mengatakan jika ini adalah perintah dari Adrian dan tidak boleh terbantahkan. Alhasil Afika hanya menurut, dan terjadilah seperti ini, hanya datang berkunjung ke panti tapi seperti orang yang mau pindahan rumah.


"Nak, kok banyak barang? Lion mau tinggal di sini?" Tanya Siti saat melihat barang Lion yang di bawah masuk ke dalam panti.


"Tahu sendiri bu, Adrian seperti apa. Dia tidak ingin Lion kekurangan sedikit pun. Maaf, membuat ibu tidak nyaman."


"Tidak mengapa sayang. Justru ini bagus. Setidaknya Adrian benar-benar sayang pada Lion."


"Bu, begitulah kakak ku. Jika sudah cinta dan sayang. Apa pun akan di berikan, jangankan kenyamanan. Nyawanya pun rela ia berikan." Timpal Baby, yang merasa kesal karena dirinya terpaksa harus mengatur peletakan barang Lion.


Selama berada di panti, Adrian terus mengawasi Afika. Hampir setiap sepuluh menit Adrian terus menghubungi Nadi mencari tahu keadaan Afika dan Lion. Jujur ada perasaan takut pada Adrian jika Afika nekad pergi dan membawa Lion, meninggalkan dirinya seorang diri.


Afika yang merasa kasihan melihat Nadi yang terus saja menjawab telpon, langsung meminta ponsel Nadi, dan saat ponsel Nadi kembali berdering, Afika langsung menjawab panggilan.


"Nadi, bagaimana istri dan anakku? Apa yang mereka lakukan? Mereka baik-baik saja kan? Ingat! Jangan ada lecet sedikit pun pada istri dan juga anakku. Jika itu terjadi maka aku akan mem...

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa menelpon terus? Apa kau tidak bekerja? Jangan ganggu Nadi hanya karena pertanyaan yang tidak masuk di akal. Kasihan Nadi. Jadi stop mengubungi Nadi lagi."


"Nyonya." Ucap Nadi saat mendengar ucapan Afika. Nadi takut Adrian marah dan justru berdampak buruk padanya.


"Jangan takut, jika Adrian marah katakan saja padaku." Kata Afika lalu mengembalikan ponsel Nadi, dan sambungan sama sekalk belum terputus. Nadi langsung menyimpan ponselnya di dalam saku celananya.


"Nyonya."


"Nadi, sudah aku katakan jangan panggil aku seperti itu. Kau lupa, jika aku ini sahabatmu."


"Nadi, mungkin jika tidak ada kamu aku tidak akan ada di sini."


"Jangan berlebihan. Aku tidak pernah sekali pun menolong mu Afika."


"Tapi kau dan bi Sri sudah menjadi teman ku. Dan sudah selalu mendukungku saat berada di mension hutan."

__ADS_1


Keduanya sama-sama terdiam. Hingga beberapa saat Nadi membuka suara.


"Afika, maaf. Tapi, apakah tidak ada kesempatan untuk tuan Adrian lagi?"


Mendengar ucapan Nadi, membuat Afika tersenyum. Senyum yang sangat sulit untuk Nadi jabarkan. Dimana senyum itu, terlihat mengandung makna kesedihan. Bibir Afika tersenyu tapi matanya berkaca-kaca.


Sedangkan Adrian yang masih mendengar percakapan mereka, begitu sangat menunggu jawaban dari Afika.


"Maaf membuat mu harus mengingat masa lalu. Tapi Afika, tuan Adrian sudah menyesali perbuatannya. Selama kau pergi, dia tersiksa. Tiap hari, dan bahkan tiap menit dia terus mencarimu, dan terus menitihkan air mata. Tuan benar-benar menyesal dan juga aku tahu, tuan Adrian sangat mencintai mu Afika."


"Tapi Nadi."


"Aku tidak berhak memaksa mu untuk menerima. Hanya saja aku sebagai temanmu hanya mengatakan jika tidak ada salahnya memberi kesempatan pada seseorang untuk membuktikan keseriusannya."


"Nadi." Ucap Afika sambil tersenyum. Senyum yang sama yang sulit untuk Nadi jabarkan. Apakah itu senyum bahagia atau senyum kesedihan.

__ADS_1


__ADS_2