Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Keputusan


__ADS_3

Sesuai dengan ucapannya tadi seluruh orang tampak sudah berkumpul di ruang tamu milik keluarga Angga. Bahkan Zainal dan Asra juga berada disana.


"Daffa, ada kabar apa yang membuatmu mengumpulkan kita semua disini?" tanya Eland.


Daffa menatap satu persatu semua orang yang ada di ruang tamu tersebut, hingga matanya berhenti pada Anggia dan terfokus menatapnya saja.


"Aku sengaja mengumpulkan kalian disini agar kalian tahu bahwa aku ingin mengambil keputusan besar dalam hidupku."


"Keputusan apa?" tanya Angga cepat. Ia juga terlihat gelisah.


Sedangkan Rahiyang masih dalam perjalanan menuju kearah kediaman Angga. Ia tampak kesal karena jalanan sedang macet.


"Aku akan menceraikan Anggia sekarang juga!" ucap Daffa.


Seluruh mata yang ada disana tampak terkejut mendengarnya. Kecuali Angga dan Rika yang memang tahu sejak lama tentang masalah dalam rumah tangga anaknya.


Anggia langsung berdiri.


"Kenapa kamu tega menceraikanku di saat aku sedang hamil?" tanya Anggia. Ia tidak terima dengan keputusan Daffa.


"Bukankah sejak kemarin aku meminta ma'af padamu berulang-ulang. Apakah kamu sama sekali tidak mempertimbangkannya dan memulai semuanya dari awal lagi!" sahut Anggia.


"Aku tidak bisa menerima kelakuanmu itu Anggia. Kamu menikahiku bukan karena cinta."


"Tetapi disini aku tidak mempermasalahkan tentang cintamu padaku. Yang jadi permasalahan kita adalah tentang kesetiaan dan pengkhianatan."


Anggia terdiam, ia menggenggam tangannya erat. Ada luka dan juga dendam dalam dadanya saat di perlakukan seperti ini di hadapan semua orang.


"Seharusnya kamu tidak melakukan semua ini padaku karena aku yakin kalau kamu masih mencintaiku. Kamu pasti sudah terpengaruh dengan hasutan wanita lain kan!?" ucap Anggia dingin.


Matanya mencari-cari keberadaan Azza, tetapi wanita itu tidak ada di ruangan tersebut.


"Tidak ada yang menghasutku. Dan jangan meyalahkan orang lain atas perbuatanmu sendiri. Dan harus kamu tahu, bahkan sebelum aku menikahi Azza pun aku sudah berniat untuk menceraikanmu!"


Anggia menatap nanar Daffa.


"Karena aku sudah tahu semuanya sejak awal tetapi aku bodoh karena hanya diam saja melihat tingkahmu di belakangku!" Mendesah.


"Aku pikir kamu akan berubah dan bertaubat, tapi nyatanya kamu hanya menjadikanku sebagai pelarianmu saja setelah Alfa pergi jauh dari hidupmu."


"Lagi pula aku tidak sanggup menanggung semua dosa perselingkuhanmu di hadapan Allah. Jadi, aku memutuskan yang terbaik dalam hidupku dengan cara menceraikanmu."


Anggia terhenyak. Ia menunduk menyesali semua perbuatannya. Andaikan ia tidak di butakan oleh cinta dan nafsu maka ia pasti akan memilih untuk setia bersama Daffa.


"Beruntung kamu aku ceraikan saja Anggia, tidak aku perkarakan tentang perselingkuhanmu karena tuduhan perzinahan!" tambah Daffa lagi.


"Dan aku ingin kita bercerainya juga secara baik-baik saja! Dan tetap berjalan layaknya keluarga."


Anggia tidak mampu lagi mengucapkan sepatah katapun. Ia menatap getir Daffa yang juga menatap dirinya.

__ADS_1


"Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan menerimanya!" Luruh airmata Anggia.


"Uruslah surat cerai kita, aku akan menunggu berkasnya dan menandatanganinya," ucapnya lagi.


Anggia berjalan kearah Rika, ia memeluk Rika dengan erat di sertai dengan tangisan. Bahkan ia menangis dengan pilu.


"Sesakit inikah di ceraikan walaupun dengan bukan orang yang kita cintai," Anggia membatin.


"Gia. Mama akan selalu menganggapmu sebagai anak dan jangan pernah kamu menganggap kami sebagai orang lain," tangan Rika membelai lembut kepala Anggia.


"Iya ma, Anggia akan berusaha untuk tetap menjaga komunikasi kita. Ma'afkan semua kesalahan Gia selama ini karena sudah berselingkuh."


"Mama tahu kalau kamu berselingkuh ada hal penyebabnya di balik semua itu. Bahkan seandainya benar yang dikatakan oleh Daffa tadi kalau dirimu berselingkuh sejak lama."


"Mama tahu kalau ada alasan di balik semua itu, alasan kenapa kamu menikahi Daffa. Tetapi sekarang mama tidak ingin mengungkit masalah itu."


"Jadikan semua ini sebagai pelajaran hidupmu Gia. Jika kamu menikah suatu hari nanti maka menikahlah dengan alasan yang benar."


Panjang lebar Rika menasehati.


"Iya ma, aku akan pulang!"


"Biar mang Udin yang mengantarmu."


Anggia mengangguk, ia berjalan menyapa dan meminta ma'af pada satu persatu anggota keluarga Daffa. Dan terakhir ia menghampiri Daffa.


"Ma'afkan semua kesalahanku." Anggia menangis terisak.


Ia sudah pasrah dengan keadaan hidupnya yang semakin berantakan hanya demi menurut ego ibunya yang memiliki keterbelakangan mental.


Dengan anggukan lemah, Daffa langsung merengkuh tubuh wanita yang sempat begitu di cintai olehnya dulu.


Tidak ada rasa berdebar yang ia rasakan, juga tidak ada rasa sakit. Yang ada hanya rasa kasian saja pada wanita itu. Rasanya semuanya terangkat begitu saja.


"Berbahagialah hidup bersama orang kamu cintai nantinya. Terima dia apa adanya karena dia juga sangat mencintaimu," bisik Daffa di sela pelukan mereka.


Ia menyudahinya dan menyeka airmata Anggia.


"Rasanya aku begitu berat melepaskanmu, tetapi aku tidak keberatan melepaskanmu pada orang yang tepat."


Anggia terdiam mendengarnya, berusaha mencerna ucapan Daffa yang tidak ia mengerti.


"Apa maksudmu?" tanya Anggia.


"Setelah ini maka menikahlah dengan Alfa. Berikan dia satu kesempatan untuk bertanggung jawab dengan apa yang sudah kalian tebar," bisik Daffa.


"Tapi dia...."


Daffa mengarahkan jari telunjuknya di bibir Anggia, menyuruhnya untuk diam. Kepalanya menggeleng samar.

__ADS_1


"Aku sudah tahu semua alasan yang membuatnya pergi darimu. Semua alasan yang di ucapkannya padamu hanyalah sebagai pengalihan saja. Percayalah padaku, dia pasti akan menikahimu."


Daffa meraih tubuh Anggia dan memeluknya. Kali ini ia sendiri yang menginginkan pelukan perpisahan itu.


"Benarkah?" bisik Anggia dengan seulas senyum tipisnya.


"Terima-kasih atas semua yang kamu lakukan untuk hidupku," bisiknya lagi.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Selama ini kamu selalu melayaniku dengan sangat baik walaupun kenyataannya kamu tidak pernah mencintaiku."


"Bisakah kamu berjanji padaku?"


Daffa melepaskan pelukannya.


"Berjanji untuk selalu hidup bahagia bersama Alfa. Aku akan tenang melepasmu apabila kamu mampu hidup bahagia bersamanya."


Anggia tersenyum haru, ia mengangguk.


"Aku janji," lirihnya.


Anggia melangkah pulang dengan tenang, bahkan langkahnya terlihat lebih ringan.


"Daff, keputusan yang kamu ambil sangatlah tepat. Kamu tidak hanya melepaskan sesak di dadamu tetapi kamu juga membuatnya merdeka," Eland angkat bicara setelah kepergian Anggia.


"Sebaiknya kita merencanakan pesta pernikahan Daffa dan Azza saja, bagaimana?" usul Rika.


"Tetapi menurut aku ma, sebaiknya kita tunda dulu karena perceraian Daffa dan Anggia saja masih dalam proses dan mereka perlu istirahat dulu," sahut Angga.


"Maksud papa apa?" Rika menatap Angga dengan rasa sebal.


"Perceraian mereka pasti terdengar sampai ke telinga publik. Tidak mungkin kan kita menggelar acara pesta di saat orang sedang ramai-ramainya memberitakan perceraian mereka yang jadi trending topik."


"Iya, papa ada benarnya juga. Lalu, bagaimana kalau Azza sekarang hamil? Kalau kita tidak me.perkenalkan Azza sebagai menantu kita ketengah publik maka sudah di pastikan kalau Azza di sebut sebagai orang yang ikut andil besar dalam perceraian mereka."


"Bahkan mama yakin kalau dia pasti akan di hujat oleh banyak orang dan dikatakan sebagai pelakor."


Angga terdiam.


"Kalau menurut aku, sebaiknya Anggia dulu yang menikah dengan Alfa. Setelah itu kita resmikan pernikahan Daffa dan Azza. Sekaligus kita klarifikasikan ke publik mengenai status mereka," sahut Eland.


"Jangan memikirkan soal itu pa, ma. Sekarang yang harus aku urus dulu adalah berkas perceraian aku dan Anggia. Soal pesta pernikahan, itu gampang diatur," sahut Daffa.


Mereka semua yang ada di ruangan itu hanya mengangguk saja.




__ADS_1


*****


__ADS_2