Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Permintaan Wanita Hamil


__ADS_3

"Feb, bisakah kamu memanggilkan mereka berdua untukku?"


Febry hanya mampu mendesah melihat tatapan Azza yang seperti anak kucing.


"Baiklah. Baiklah. Tapi untuk memanggil Zainal. Kamu harus memintanya pada suamimu sendiri."


Febry menunjuk Zainal yang selalu berada di samping Daffa sejak tadi.


"Aku tidak berani meminta padanya. Bisa-bisa Andra mengamuk padaku karena cemburu."


Azza tersenyum mendengarnya, membuat Febry meneguk ludahnya kasar.


"Jangan katakan kalau Azza ingin meminta hal konyol lainnya," Febry membatin dengan keringat dingin.


"Baiklah. Itu tidak masalah, asalkan kamu memanggilkan Andra untukku. Maka urusan Zainal, biar aku panggil sendiri."


Azza melenggang santai kearah Zainal dan Daffa, melewati Anggia begitu saja.


"Sayang. Aku ingin makan kue. Bisakah kamu dan asistenmu menemaniku?" pinta Azza manja.


Daffa terkekeh melihat istrinya yang bergelayut manja di tangannya. Ia merasa sangat senang melihatnya.


"Jangan kebanyakan makan yang terlalu manis, sayang. Tidak baik untuk gula darah pada wanita hamil sepertimu." Membelai perut Azza.


"Tidak banyak, cuma sepiring saja," senyum Azza merekah. Ia membawa Daffa berjalan kearah mejanya. Disana Febry dan Andra sudah menunggunya.


"Zainal, duduklah di samping Andra, jangan berdiri saja. Kamu membuatku tidak nyaman," ucap Azza.


"Tidak papa nyonya, aku akan berdiri saja disini sekaligus melihat beberapa tamu yang datang."


"Duduklah. Urusan tamu biar menjadi urusan Tuan Angga," jawab Azza lagi.


Zainal tetap pada posisinya. Sepertinya hanya Daffa yang bisa memerintah ya. Azza menatap Daffa dengan memohon.


"Zainal. Turuti saja keinginan ibu hamil ini," ucap Daffa.


Zainal mengangguk dan segera duduk di samping Andra. Membuat Azza bertepuk tangan senang.


"Pelayan! Ambilkan cake masing-masing 7 piring."


Semua yang ada disana terkejut mendengarnya, berbeda dengan Febry ia tampak acuh saja, tetapi tetap saja ia terlihat tegang.


"Sayang. Sebanyak itu?"


Azza menggeleng, melirik kearah Zainal dan Andra.


"Jangan katakan kalau kamu mengajak kami duduk bersamamu hanya untuk melihat kamu menghabiskan 14 piring cake," tambah Daffa lagi.


Azza terkekeh mendengarnya.


"Sayang, jangan begitu. Kasian anak kita. Bagaimana kalau dia obesitas?"


Azza melotot mendengarnya. Kata-kata keramat itu lagi. Tetap saja ia tidak menyahut ucapan suaminya. Setelah cake yang di mintanya sudah tersaji di atas meja, ia tersenyum puas melihatnya.


"Sekarang karena cakenya sudah ada disini. Aku menginginkan sesuatu."


Kembali menatap Andra dan Zainal membuat keduanya bergidik ngeri.


"Perasaanku tidak enak, sepertinya ada firasat buruk," gumam Zainal.


"Aku juga, apalagi dia selalu menatap kita berdua sejak tadi," bisik Andra.


"Em, aku ingin menyapa tamu yang baru datang disana. Sepertinya mereka adalah kolega bisnis kita," Zainal berusaha menghindar.


"Tunggu! Zainal. Kamu duduk di tempatmu!" perintah Azza.


Azza menghentikan pergerakan Zainal. Membuat lelaki itu meneguk ludahnya kasar dan kembali duduk dengan tegang.


"Aku ingin melihat Zainal dan Andra menghabiskan masing-masing 7 piring cake itu!"


Andra dan Zainal langsung menatap horor kearah Azza setelah mendengarnya.


"Tidak mungkin kami bisa menghabiskan cake tersebut hanya berdua, sayang. Bujuklah sahabatmu untuk menguranginya," bisik Andra di telinga Febry.


"Sayang, ini permintaan wanita hamil. Otomatis bukan dia yang minta tapi anaknya yang minta. Aku tidak ingin melihat ponakanku nanti ileran!"


Febry bergidik ngeri saat membayangkan bayi Azza yang ileran.


"Iya. Yang dikatakan oleh Febry adalah benar. Aku tidak ingin melihat anakku ileran. Apakah kalian mau bertanggung jawab nanti karenanya!" Daffa turut bicara.


"Daff, mengertilah. Coba kamu berada di posisi kami, bagaimana rasanya," Zainal memelas.

__ADS_1


"Sayangnya aku tidak berada di posisi kalian. Jadi nikmatilah momen-momen indah ini," Daffa terkekeh senang.


"Sialan kamu Daff!" Zainal mengumpat pelan.


"Ayolah Daff. Bantu sahabatmu ini," Zainal memelas.


"Tidak. Ini adalah momen yang langka dan aku akan mengabadikan semuanya. Dan menatapnya setiap hari," sahut Azza.


Zainal dan Andra kembali menatap horor kearah wanita hamil itu. Rasanya dirinya sangat mengerikan.


"Baiklah. Tidak ada penolakan diantara kalian berdua. Dan sekarang kita mulai!"


Zainal dan Andra segera memakan cake tersebut, mereka benar-benar melakukannya. Bahkan memakannya dengan tergesa seolah semua itu benar-benar ajang sebuah lomba.


Zainal terlebih dahulu menghabiskan 7 piring cakenya. Perutnya bergejolak hebat, ia segera berlari menuju kearah kamar mandi.


Begitupun dengan Andra. Setelah ia bersendawa panjang, ia merasakan mual dan ingin muntah. Ia berlari menyusul Zainal.


"Kenapa mereka?" tanya Febry khawatir.


"Paling-paling mereka sedang melakukan ritual wanita hamil!" sahut Azza asal.


"Apa?" Febry melotot mendengarnya. Bergegas ia berjalan untuk melihat keadaan kekasihnya.


"Ternyata calon anakku mampu memerintah orang lain yang bukan bawahannya sama sekali," Daffa bergumam dalam hati.


Zainal dan Andra tampak lesu sekembalinya dari kamar mandi.


"Bagaimana ritual hamilnya? Apakah sukses?" tanya Azza spontan.


Zainal dan Andra kembali menatap horor kearah Azza, apalagi setelah melihat wanita itu bertepuk tangan dan kegirangan.


"Aku ada ide, bagaimana kalau...."


"Tidakkkk!!!" teriak Zainal dan Andra secara bersamaan. Bahkan mereka berlari kalang kabut.


"Ya sudah kalau mereka tidak mau, padahal aku ingin memberikan minyak kayu putih ini untuk mereka," ucap Azza.


"Sayang, papa memanggilku. Apakah kamu mau ikut denganku atau tetap disini?"


Azza melirik kearah Febry yang masih duduk di hadapannya dengan handphone di tangannya.


Febry mengangkat kepalanya.


Azza memgwluarkan handphone miliknya dan membuka galeri. Ia tersenyum menatap video yang baru saja di rekamnya tadi. Mereka benar-benar lucu.


"Apa yang kamu lihat, wanita hamil? Sampai-sampai kamu tidak dapat membuang senyummu sejak tadi."


"Coba kamu kesini dan ikutmelihatnya bersamaku. Mereka benar-benar lucu dan menggemaskan. Cara mereka makan seperti anak kecil, benar-benar lucu. Dan aku masih ingin melihat mereka menghabiskan 5 piring pasta."


Febry kembali melotot mendengarnya. Jangan sampai itu terjadi, bisa kiamat perut mereka berdua.


"Za, bagaimana kalau kita...," Febry menghentikan ucapannya saat Danial duduk di samping Azza.


"Apa kabar adik kecilku yang manis?" Danial mengacak rambut Azza pelan. Membuat Azza menyeringai senang melihatnya. Kebetulan ia sedang ingin melihat pertunjukkan kedua.


"Ka Danial, bisakah kamu mengambilkan 5 piring pasta untukku," pinta Azza.


"Dengan senang hati, tuan Putri," jawab Danial cepat. Bergegas ia berjalan ke stand makanan.


Febry menatap horor kearah kakaknya. Haruskah ia menutup mata sekarang? Merasa kasian dengan nasib buruk yang menimpa para lelaki hari ini.


"Ini pastanya, sesuai dengan yang kamu minta!"


Pelayan membawakannya untuk Danial. Azza bertepuk tangan senang karenanya.


"Makanlah, semuanya sudah ada di depanmu. Aku tidak mau keponakanku nanti ileran!" ucap Danial.


Azza menggeleng pelan.


"Anakku tidak suka pasta," jawabnya pelan.


"Apa?" Danial terkejut. "Lalu, kenapa kamu memesannya?" tanyanya lagi.


"Dia hanya ingin melihat Om Tampannya memakan pasta ini semua," Azza memperlihatkan sederet giginya.


Danial meneguk ludahnya kasar, bersusah payah ia memutar otak untuk menolaknya.


"Tetapi aku sudah kenyang. Bagaimana kalau kamu tawarkan pada yang lainnya saja?" bujuk Danial.


Azza menggeleng dengan wajah kecewa, itu semua membuat Danial tidak tega untuk melihatnya.

__ADS_1


"Dek. Kamu bantu kakak untuk menghabiskannya, ya?" pinta Danial berbisik.


"Tidak mau. Aku sudah kenyang melihat Andra dan Zainal menghabiskan 7 piring cakenya tadi," sahut Febry.


Keringat dingin langsung membasahi wajah Danial. Ia menatap horor kearah Azza yang terlihat santai.


"Ayo kak Danial. Kita mulai!"


Dengan terpaksa Danial memakan semua pasta yang ada di hadapannya. Bahkan ia tidak sadar kalau Azza sudah memvideonya sejak tadi. Begitupun dengan orang-orang di sekeliling mereka, menatap horor kearah Danial.


"Ya ampun aku kenyang sekali. Rasanya aku berpuasa setahun pun tidak akan membuatku kelaparan," gumam Danial, menggosok-gosok perutnya.


"Hore! Kak Danial hebat. Bisa makan 5 piring pasta dengan begitu cepat. Bagaimana kalau aku tambahkan lagi 3 piring...."


"Tidak. Tidak perlu. Aku mau ke kamar mandi dulu," sahut Danial cepat. Ia bergegas berlari untuk mengeluarkan isi perutnya. Rasanya begitu bergejolak.


"Kenapa mereka semua selalu ke kamar mandi setelah makan banyak. Aku saja yang menghabiskan banyak cake masih lapar," ucap Azza.


"Kamu berdua memakannya, makanya kamu tidak kenyang. Sedangkan mereka sendirian," sahut Febry.


"Iya ya. Kamu benar juga," sahut Azza.


"Wah-wah. Sepertinya aku melewatkan beberapa pertunjukkan disini?" Anan duduk tepat di hadapan Azza. Membuat wanita itu tersenyum sinis karenanya.


Sejak awal datang tadi dia memang selalu memperhatikan keberadaan Azza.


"Tumben tuan Serakah ada waktu luang seperti ini? Biasanya semua waktumu begitu berharga," sahut Azza acuh.


"Terima kasih atas perhatian Anda, nyonya Daffa," sahut Anan.


"Bagaimana kalau kali ini kamu makan dulu. Aku akan memesankan sesuatu untukmu!" pinta Azza.


"Karena kamu yang memintanya, maka aku tidak akan menolaknya!" sahut Anan.


"Febry, tolong kamu ambilkan 10 porsi steak untukku. Bukankah kamu tidak menolaknya, Tuan Serakah?"


"Oh, tentu saja!" sahut Anan mempertahankan harga dirinya.


Azza tersenyum puas melihat tatapan horor Anan.


"Baiklah. Dengan senang hati!" sahut Febry bergegas berlari kearah stand makanan.


"Wanita hamil itu benar-benar mengerikan, membuat para lelaki ketakutan hari ini," gumam Febry.


Febry kembali ke meja Azza dengan beberapa pelayan di belakangnya.


"Kalau kamu tidak menolak permintaanku. Habiskanlah semua steak itu!" ucap Azza masih dengan senyum manisnya.


Anan benar-benar menatap horor semua piring yang ada di hadapannya. Melirik kearah Febry yang tampak acuh dan pura-pura tidak mendengar. Kenapa ia harus terkena jebakan ini. Sial.


"Ayolah Tuan Sekarah. Setidaknya berkorban lah sedikit untuk keponakanmu sendiri."


Anan mengangguk cepat. Ia ingin segera menjauh dari wanita mengerikan ini. Rasanya dunia benar-benar kiamat hari ini.


Dengan cepat Anan memakan seluruh steak yang ada di hadapannya, walaupun perutnya sudah melebihi kapasitasnya. Ia mencoba bertahan untuk menghabiskan steak yang tinggal 1 porsi lagi.


"Aku selesai!" Anan meraih segelas air dan meneguknya hingga tandas. Rasanya ia tidak mampu bergerak lagi. Bersandar pada kursinya.


"Aku ingin ke kamar mandi sebentar!" Anan sudah berlari dengan menutup mulutnya. Sedangkan Azza tampak santai melihatnya.


"Za, aku rasa semua lelaki itu akan berpikir dua kali kalau bertemu denganmu!" ucap Febry.


"Tidak juga. Aku yakin kalau besok-besok mereka tidak akan menolak permintaanku yang lain," sahut Azza.


Danial keluar bersamaan dengan Anan, Azza melambaikan tangannya kearah mereka berdua.


"Azza, kebetulan kakak ada kesibukan. Kakak kesana dulu ya," dengan cepat Danial menghindarinya.


"Aku juga, sepertinya ada beberapa urusan yang belum aku kerjakan," Anan segera pergi menjauhi Azza.


"Mereka benar-benar manis!"


Febry menatap horor kearah Azza, entah mengapa wanita hamil ini begitu senang menindas mereka hari ini.





***

__ADS_1


__ADS_2