Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Tidak Percaya


__ADS_3

Keesokan harinya di sebuah restoran, Anggia terlihat duduk dengan tidak tenang bahkan beberapa kali ia menatap jam yang ada di pergelangan tangannya. Bahkan matanya selalu menatap kearah pintu restoran. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang.


"Sayang. Apa aku sangat lama?" Lelaki berperawakan tinggi datang menghampirinya. Mengecup pipinya singkat.


"Di jalan tadi macet," sahutnya lagi.


Anggia mengangguk, ia menatap dengan intens lelaki muda yang juga menatap dirinya. Mata mereka terpaut cukup lama.


"Ada apa?" tanya Alfa lagi.


"Kamu pesan dulu, setelah ini kita akan bicara," ucap Anggia tenang.


"Baiklah." Melambaikan tangannya kearah waitres yang sedang berada tidak jauh dari tempat mereka.


"Aku tetap pada keputusanku, menikahi Daffa," ucap Anggia setelah kepergian waitres tadi.


"Apa kamu tidak ingin merubah keputusanmu!?" Alfa menatap Anggia dengan penuh harap. "Kita menikah dan hidup bahagia bersama." Meraih tangan Anggia dan menggenggamnya erat.


"Urusan balas dendam ibumu bisa kita lakukan bersama. Bahkan ada banyak cara lain yang harus kamu lakukan selain menikah dengannya. Lagi pula perbuatan Angga di masa lalu tidak seburuk ucapan ibumu."


Anggia menggeleng, ia menunduk sesaat.


"Keputusan mama sudah bulat dan aku tidak ingin depresi mama kembali kambuh," sahut Anggia.


"Kemarin aku juga sudah membelikan obat depresi lagi, bahkan kali ini dosisnya lebih tinggi dari sebelumnya."


Alfa mendesah mendengar keputusan kekasihnya.


"Apa separah itu kondisi ibumu?" melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Anggia.


Anggia mengangguk perlahan. "Kalau mama depresi lagi, kali ini mungkin ia akan kehilangan akal selamanya. Dan aku tidak mau mama menjadi gila, Alfa!" Anggia menengadah menekan rasa nyeri di dadanya.


"Dia satu-satunya wanita yang aku punya dan yang memberikanku kasih sayang. Kamu juga tahukan kalau kehidupanku hanya berporos pada dirinya," kembali mendesah.


"Sayang, jangan sedih seperti itu. Aku akan selalu ada untukmu." Alfa berdiri dan berjalan kearah Anggia. Ia memeluk Anggia dengan perasaan bersalah.


"Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu. Tapi berjanjilah padaku sebelum itu, untuk selalu memberikan hatimu hanya untukku," Alfa masih membelai kepala Anggia dengan sayang.


"Anggia! Siapa dia?"


Anggia tersentak dan melepaskan diri dari pelukan Alfa. Menatap kearah sumber suara, disana berdiri Daffian dengan seorang wanita yang tidak dikenalinya.


"Anggia. Jawab, siapa lelaki ini?" tunjuk Daffi dengan suara dinginnya.


"Oh ini... dia...,"


"Aku kakak sepupunya!" sahut Alfa memotong ucapan Anggia sambil menyodorkan tangannya. Ia menatap Anggia yang terlihat gugup.

__ADS_1


"Sepupu?" Masih menatap Anggia dan Alfa bergantian. Dan tidak menghiraukan tangan Alfa yang menggantung di udara.


"Apakah harus bermesraan dan saling berpelukan seperti itu!?" tanya Daffi masih dengan nada dingin.


"Aku hanya menghiburnya saja. Dia sedang banyak masalah," sahut Daffa.


"Masalah apa? Bukankah kamu sudah memiliki Daffa yang bisa saling berbagi masalah. Bukannya harus melibatkan orang lain," menyindir Alfa.


"Bahkan kalian sebentar lagi akan menikah. Apakah ini berhubungan dengan pernikahan kalian?"


"Daffi. Ini masalahku tidak ada sangkut pautnya dengan Daffa, apalagi soal pernikahan kami. Kamu jangan salah paham dulu," sahut Anggia dengan cepat dan sikap tenangnya.


"Daff, sudah. Lebih baik kita pergi saja dan jangan mengganggu mereka. Ini urusan mereka. Mereka juga punya privasi" sahut Aina menengahi.


"Baiklah. Ayo kita pergi!" sahut Daffi sambil berjalan meninggalkan Anggia dan Alfa. Tetapi tatapan matanya masih mengisyaratkan kecurigaan yang dalam.


"Fa, seharusnya kita tidak bertemu disini tadi. Aku merasa tidak nyaman dengan tatapannya."


"Apa kamu takut dengan dirinya?" Menatap kekasihnya. "Jangan takut. Aku selalu ada untuk melindungimu."


"Aku tidak takut Fa, aku hanya tidak ingin dia menyampaikan semua ini pada Daffa. Dia lelaki yang pencemburu! Nanti akan timbul masalah baru."


"Itu bagus. Maka dengan tahu kita ada hubungan, dengan cepat juga ia akan sakit hati! Dan jangan lupakan, aku juga pencemburu, sayang."


"Alfa. Aku serius."


"Baiklah. Tapi lain kali kami harus bisa menjaga sikapmu di depan banyak orang!"


"Baiklah sayang, aku janji," sahut Alfa.


***


"Daffi, kenapa lagi dengan wajahmu?" menatap Daffian yang baru saja masuk ruangannya dan duduk di sofa.


"Apa wajahmu kusut karena wanita pujaanmu lagi?"


Daffi mendelik. "Bukan. Tapi karena kekasihmu!" ucap Daffi.


"Anggia? Ada apa dengan dirinya? Bukankah kalian tidak sedekat itu?" Daffa menghentikan gerakannya. Matanya beralih menatap Daffi.


"Dia sedang berbicara bersama seorang lelaki asing."


Daffa mengerutkan dahinya.


"Maksudmu apa?"


"Bukan. Bukan lelaki asing seperti yang kamu pikirkan. Maksudku, aku tidak mengenali lelaki asing tersebut. Tapi Anggia menyebutnya sebagai sepupunya."

__ADS_1


Daffa kembali mengerutkan dahinya, berusaha mengingat kerabat Anggia.


"Apa benar dia memiliki sepupu laki-laki," tanya Daffi dengan mimik serius.


Daffa mengangguk. "Dia memang memiliki seorang sepupu tapi tidak pernah mengatakan padaku laki-laki atau perempuan," sahut Daffa.


"Benarkah? Kalian bahkan mengenal sangat lama tapi tidak tahu keadaan keluarga masing-masing!" Sindir Daffi. Ia sedikit terkejut dengan jawaban saudaranya.


"Memangnya kenapa dengan mereka?" tanya Daffa. Ia meraih dokumen yang ada di atas mejanya dan membukanya.


"Mereka berbicara dan berinteraksi layaknya seperti sepasang kekasih!" cibir Daffi.


Daffa hanya terkekeh saja mendengarnya. Ia tidak menghiraukan ucapan Daffi barusan.


"Dia sangat mencintaiku dan tidak mungkin akan memiliki kekasih lain selain diriku," sahut Daffa.


"Aku pikir kamu perlu refresing Daffi, karena sejak tadi kamu sepertinya sedang galau! Bahkan menyangka semua orang bersikap mesra."


"Hei Daffa, ini kebenaran yang aku sampaikan. Ini fakta. Fakta. Fakta!" tekan Daffi.


Daffa kembali terkekeh. "Sudahlah. Jangan suka mengurusi calon iparmu. Kamu sendiri juga tidak terlalu kenal dengannya."


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya Daffa. Coba saja tadi aku memvidionya untuk kamu," menggerutu.


"Kamu pasti akan sangat terkejut melihatnya!" sambung Daffi.


Daffa hanya menggeleng saja mendengar ucapan yang di lontarkan oleh adiknya tersebut.


"Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan dirinya. Aku percaya sepenuhnya padanya," sahut Daffa.


"Aku hanya mengingatkan saja. Siapa tahu kalau lelaki itu memang benar kekasihnya dan kamu jangan menyesalinya karena membiarkannya seenaknya saja."


"Aku percaya Anggia bukan gadis seperti itu. Dan setiap lelaki yang dekat dengannya aku selalu mengenalnya."


"Aku rasa kamu yang seharusnya meminta ma'af padanya karena sudah salah menilai dirinya," ucap Daffa.


"Baiklah, tapi akan aku lakukan lain kali," sahut Daffi.


"Aku tidak akan meminta ma'af padanya. Aku yang akan mencari tahu sendiri kebenarannya. Dan kita lihat saja, seperti apa dirinya bertahan kalau dia sampai menghianati saudaraku," Daffi membatin menatap Daffa yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.





****

__ADS_1


__ADS_2