Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Kemarahan Daffa


__ADS_3

Anggia kembali ke kediaman ibunya untuk melihat keadaannya, bahkan Anggia juga selesai membeli obat yang di resepkan oleh dokter padanya setelah ia berbicara dengan Emran tadi.


"Anggia, apakah kamu tahu kalau Daffa menikah lagi?" tanya Rahiyang dengan tatapan serius saat Anggia melihat keadaan ibunya di kamar.


"Apa? Menikah?"


Anggia terkekeh mendengarnya.


"Itu tidak mungkin terjadi ma, Daffa cinta mati sama aku!" sahut Anggia.


"Ini benar Anggia!" geram Rahiyang.


Tawa Anggia lenyap tergantikan dengan tatapan seriusnya.


"Memangnya mama tahu kabar ini darimana? Bukankah mama selalu berada di rumah?" selidik Anggia.


"Dari orang suruhan mama. Dia selalu mengawasi gerak-gerik Daffa selama beberapa hari ini."


Anggia tercengang mendengarnya.


"Sejak kapan Daffa mempunyai seorang penguntit ma?"


"Apa kamu bilang!? Mama penguntit!" Melotot.


"Kamu ini bodoh atau apa Anggia, Daffa sudah mulai curiga denganmu karena kamu selalu memberinya obat tidur setiap kali dia menginginkanmu!"


Anggia menunduk.


"Aku hanya tidak mau melakukan semua itu dengannya!" sahut Anggia.


"Kamu terlalu naif. Dia juga suamimu, kenapa kamu justru menolaknya, rencana mama jadi gagal dan berantakan, semua juga karenamu!!"


"Andai saja kamu mengikuti strategi mama sejak awal, maka kita tidak akan ketahuan!"


"Tapi ma--,"


"Pokoknya mama tidak mau tahu, kamu harus bisa kembali mengambil hati Daffa. Kamu berikan saja tubuhmu itu padanya, kamu juga sudah tidak perawan lagi bahkan sekarang kamu sedang hamil!" ucap Rahiyang.


Anggia terpaku mendengarnya, serendah itukah dirinya dalam anggapan ibunya.


"Tapi aku tidak sehina itu ma. Aku hanya melakukannya dengan pria yang aku cintai."


"Kamu salah besar Anggia, kamu memang mencintai Alfa tetapi tidak ada keuntungan yang dapat di ambil dari pria bodoh itu."


"Tapi aku tidak sehina ucapan mama. Dan apakah mama selalu mengawasiku?"


"Ya, mama selalu mengawasimu. Mama tahu kamu menyerahkan keperawananmu pada Alfa jauh sebelum kamu merencanakan pernikahan dengan Daffa!"


"Bukankah kelakuanmu itu lebih rendah dari pada kamu menyerahkannya pada orang yang jelas statusnya di matamu."


Rahiyang seakan mampu membaca pikiran anaknya.


"Pulanglah! Bujuk Daffa dan rayu dia agar mau menandatangi surat pengalihan hak atas perusahaan Galuh Sari."


"Tapi ma, memberikan langsung kertas itu pada Daffa sangat sulit untuk aku lakukan! Dia sangat teliti dalam meletakkan setiap tanda tangannya, tidak asal saja,"sahut Anggia.


"Kenapa sulit? Apakah kamu mulai mencintai dia sehingga kamu begitu melindunginya. Atau kamu sedang memihak pada keturunan pembunuh kakekmu?"


Rahiyang melotot marah.


"Tidak ma!" sahut Anggia. Ia kembali teringat pada hari kemarin.


"Kenapa sekarang mama justru mengubah strategi? Bukankah sejak awal mama hanya ingin membuat keluarga mereka kacau dan Daffa sakit hati? Kenapa mama sekarang menjadi serakah?"


"Mama tidak serakah Anggia. Mama hanya ingin mengambil apa yang sudah menjadi hak mama dan juga hak kamu.


"Tapi ma, kita sudah memiliki perusahaan sendiri yang di kelola oleh orang kepercayaan mama. Apakah semua itu belum cukup?" sanggah Anggia.


"Kamu tidak mengerti dengan apa yang mama rasakan." Rahiyang melemah.


"Aku tahu apa yang mama rasakan dan sebab itulah mama menjadi depresi karena menyimpan dendam yang tidak berkesudahan. Seandainya mama ikhlas dengan masa lalu, mungkin saja mama tidsk akan seperti ini sekarang," Anggia membatin.


"Ada apa denganmu, kenapa kamu melamun?"


"Ma, beberapa hari ini Daffa kelihatan sangat sibuk, bahkan dia juga bekerja larut malam hingga tertidur di ruang kerjanya. Apa yang sudah mama lakukan padanya?"


Rahiyang menyipit mendengar pertanyaan anaknya yang terdengar menuduhnya.


"Apakah mama sudah mengacaukan perusahaannya?" tambah Anggia lagi.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Itu hanya alasannya saja untuk menghindarimu mengetahui kebenarannya."

__ADS_1


"Kebenaran tentang apa, ma? Aku rasa Daffa sudah berkata jujur padaku mengenai kesibukannya," Anggia.


"Kebenaran tentang Daffa menikah lagi," sahut Rahiyang.


"Apa mama sedang berhalusinasi lagi, karena masa lalunya bahwa suaminya menikah lagi?" Anggia membatin.


"Apa benar kalau mama tidak mengacau perusahaan Daffa, lalu kenapa Daffa selalu dingin padaku akhir-akhir ini?" kembali membatin.


"Apa yang mama ketahui selama menjadi penguntit Daffa?"


"Sudah mama bilang Anggia bahwa mama bukan penguntit. Mama hanya menyuruh orang saja untuk memperhatikan gerak-geriknya."


"Itu sama saja dengan penguntit ma, bagimana kalau Daffa menyadarinya?"


"Percuma bicara denganmu di saat kamu sedang kacau begitu Anggia. Sebaiknya kamu pulang saja!" usir Rahiyang.


"Sudahlah ma, jangan memikirkan itu. Sebaiknya mama istirahat saja. Lagi pula mama harus sembuh."


"Aku tidak sakit Anggia. Mama sehat saja! Coba kamu lihat mama, tidak di infus dan tidak berbaring di ranjang sajakan?"


"Iya. Anggia tahu kalau mama sehat. Anggia hanya tidak ingin mama kelelahan!" ucap Anggia.


Rahiyang akhirnya menurut juga. Setelah ibunya tertidur, Anggia segera pulang ke kediamannya.


Saat di tengah jalan ia tanpa sengaja melihat Daffa yang baru saja keluar dari toko pakaian wanita dan membawa banyak belanjaan.


"Untuk siapa pakaian-pakaian itu?" gumam Anggia memperhatikan Daffa.


Ia mengikuti mobil yang membawa Daffa kearah kediaman orang tuanya.


"Anggia? Ada apa kamu kemari?" tanya Daffa saat turun dari mobil dan mendapati keberadaan mobil Anggia yang mengikutinya.


"Aku hanya ingin bertemu dengan papa dan mama. Sudah sangat lama sekali aku tidak melihat mereka," sahut Anggia.


"Kenapa? Apakah aku salah?" tanya Anggia lagi setelah melihat raut keterkejutan Daffa.


Matanya beralih menatap kantong belanjaan yang ada di tangan Daffa.


"Milik siapa itu, belanjaan baju?"


"Oh ini. Milikku." sahut Daffa acuh.


"Milikmu?" tanya Anggia. "Bukankah itu pakaian wanita?" tambah Anggia.


"Tapi aku ingin bertemu dengan mama terlebih dahulu," tolak Anggia.


"Baiklah. Kita masuk ke dalam tapi hanya sebentar saja!" sahut Daffa.


"Baiklah!"


Anggia mengikuti langkah Daffa, matanya terus saja melirik kearah kantong belanjaan yang ada di tangan Daffa. Tidak biasanya Daffa belanja pakaian wanita.


"Mama! Daffa pulang!" ucap Daffa saat memasuki pintu utama.


"Eh... nak Anggia juga kesini?" Rika menatap Daffa.


"Iya ma. Kebetulan aku lewat sini dan sekalian saja mampir!' sahut Anggia.


"Oh begitu. Mama pikir kamu tadi satu mobil dengan Daffa!" ucap Rika.


"Tidak ma, Daffa lebih dahulu sampai sini baru aku!" sahut Anggia.


Matanya melirik kearah rumah yang terlihat sepi.


"Ada apa Anggia?" tanya Rika.


"Tidak apa-apa ma, rumahnya terlihat lebih sepi dari biasanya," sahut Anggia mencari-cari alasan.


"Ini ma belanjaannya."


Daffa menyerahkan kantong belanjaan tersebut pada ibunya. Matanya menatap kearah kamar milik Azza yang tertutup rapat. Wanita itu akan mengurung dirinya setiap kali Daffa datang kerumah besar tersebut.


"Iya. Makasih ya Daff kamu sudah mau mengambilkan belanjaan yang mama pesan tadi," sahut Rika.


"Kami pulang dulu, ma. Sekaligus aku nanti ke kantor!" ucap Daffa.


"Kalian tidak ingin makan malam disini dan menginap?" tanya Rika berbasa-basi.


"Tidak ma, kami pulang sekarang saja. Banyak pekerjaan Daffa yang belum selesai," sahut Daffa.


Daffa mengajak Anggia pulang dalam satu mobil.

__ADS_1


Hening.


Selama perjalanan tidak ada yang membuka suara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sesampainya di rumah, Daffa segera masuk ke dalam ruang kerjanya kemudian kembali lagi mendatangi Anggia yang duduk santai di ruang keluarga.


Anggia terkejut saat Daffa melemparkan amplop padanya.


"Apa ini, mas?" tanya Anggia.


"Buka saja!" sahut Daffa dengan wajah datar dan tenang.


Dengan gerakan perlahan Anggia membuka amplop tersebut. Matanya terbelalak saat mendapati foto-foto panas dirinya dan juga Alfa.


"Jelaskan padaku mengenai semua itu,"ucap Daffa menahan marahnya.


"Mas, aku bisa jelaskan semua ini padamu!" ucap Anggia di sela keterkejutannya.


"Apalagi yang ingin kamu jelaskan padaku Anggia? Semuanya sudah jelas!!" sahut Daffa.


Anggia menggeleng, tadinya ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Daffa dan memulai semuanya setelah Alfa pergi dari hidupnya. Tetapi Daffa justru menyerahkan semua foto-foto panas tentang dirinya.


"Mas. Itu semua tidak seperti yang kamu lihat, seperti di dalam foto ini!" kilah Anggia.


"Berarti yang kamu lakukan lebih dari sekedar yang ada di dalam foto ini?" tanya Daffa tajam.


"Aku...," Anggia menunduk. Meremas tangannya. "Ma'afkan aku Daffa. Setelah ini aku janji tidak akan melakukannya lagi dengan Alfa. Aku akui aku memang salah tapi aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi!" mohon Anggia.


Daffa mendesah frustasi. Ia mengusap wajahnya kasar. Ingin rasanya ia memaki Anggia habis-habisan tetapi Anggia sedang hamil sekarang.


"Kenapa kamu lakukan ini padaku Anggia? Kenapa!!?" Daffa menatap kecewa kearah istrinya. Ia tidak menyangka kalau istrinya sebejat ini.


"Aku... aku khilaf! Ma'afkan aku."


Anggia tidak dapat memberikan alasannya.


Daffa melangkah keluar rumah dengan perasaan kacau dan marah. Ia tidak menghiraukan lagi teriakan Anggia yang memanggil namanya berulang kali.


Daffa menaiki mobilnya menuju kearah kantornya. Ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa bertindak tegas pada Anggia.


"Kenapa lagi dengan wajahmu? Padahal kamu hari ini sudah menikah lagi, tapi wajahmu terlihat 2 kali lipat lebih kusut dari pakaian yang habis keluar dari mesin cuci."


Zainal mengikuti langkah Daffa memasuki ruangannya.


"Anggia! Dia membohongiku. Katanya dia khilaf padahal kenyataannya tidak seperti itu. Dia sengaja melakukannya. Alasan yang klasik."


Daffa berdiri membelakangi Zainal.


"Aku rasa kamu harus bertindak tegas padanya. Kamu terlalu lemah dan di butakan atas nama cinta Daff. Padahal cinta tidak seperti itu," ucap Zainal.


"Entahlah. Aku merasa tidak tega saja memarahinya karena setiap aku menatap matanya, terlihat jelas gambaran bahwa dia wanita yang rapuh."


"Ck ck ck, wanita memang terlalu suka main sandiwara dan di iringi dengan airmata buaya."


Daffa hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Zainal.


"Oh iya. Tadi malam kamu ingin menyampaikan sesuatu yang penting padaku. Mengenai apa?" tanya Daffa mengalihkan pembicaraan.


Iya. Padahal hari ini aku ingin menyampaikannya padamu. Tapi karena kedatangan Daffi tadi dan juga pernikahanmu maka pembicaraan kita di jeda."


"Aku hanya memeriksa tangkapan CCTV di setiap jalan, sesuai dengan permintaanmu sewaktu mencari idenditas istri barumu."


"Ada yang aneh, setiap kali kamu selalu di ikuti oleh mobil yang sama setiap waktu. Aku rasa mereka adalah orang-orang yang sengaja mencari kesempatan untuk melukaimu."


Daffa berbalik, merubah ekspresinya dengan penuh tanya.


"Orang yang sama?" ulang Daffa.


"Benar, orang yang sama setiap hari selalu mengikutimu. Sepertinya dia memang sengaja."


"Ada yang bermain-main denganku rupanya. Selidiki dia tanpa ketahuan. Aku ingin tahu apa motifnya mengikuti diriku."


"Tidak mungkin kan dia adalah penggemar rahasiamu," Zainal terkekeh.


"Aku serius Zai!" sahut Daffa.


"Iya-iya, aku tahu.



__ADS_1



*****


__ADS_2