
Satu bulan lamanya, kini Afika berada di mension Adrian. Tidak ada perubahan sama sekali dengan sikap Afika menghadapi Adrian. Dari awal hingga sampai saat ini Afika menghadapi Adrian dengan ketus dan dingin, tidak memberikan sedikit pun cela pada Adrian. Walau bagaimana pun Adrian berusaha mendekat, tapi tetap saja Afika selalu menghindar. Seperti jika, Adrian ingin melihat Lion maka Afika akan keluar dari kamar dan membiarkan Adrian berdua dengan Lion. Dan jika Afika merasa waktunya Lion untuk menyusui, maka Afika akan menyuruh Adrian keluar dari kamar.
Dan jika waktu makan pun tiba, banyak alasan yang Afika katakan agar tidak makan satu meja dengan Adrian. Tapi Afika yang sadar diri pun tidak hanya tinggal diam di mension Adrian. Karena jika sudah mengurus Lion dengan baik sampai Lion tertidur. Maka Afika pun keluar dari kamar dan membantu Sri melakukan pekerjaan. Walau kadang Baby marah melihat Afika yang selalu saja bekerja.
Dan pagi ini, saat Afika sedang berada di dapur, Adrian langsung berlari menuruni anak tangga mendekat ke arah Afika.
"Sa..." Ucapan Adrian menggantung kala Afika menatap Adrian dengan tatapan tajam. "Sudah aku katakan, jangan bekerja. Kau cukup tinggal dan nikmati semua hasil kerja kerasku. Ayo, ikut dengan ku." Kata Adrian, namun Afika hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya membuat nasi goreng. "Baiklah jika kau tidak mau mendengarkan ku." Ucap Adrian lalu memberikan kode pada Sri dan pada art yang lainnya.
Lalu Adrian menarik lengan banjunya, dan berdiri tepat di samping Afika.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Afika.
"Aku ingin membantu istriku, apa itu salah?"
"Berbicara dengan mu sama saja dengan berbicara dengan tembok. Lakukan sesukamu." Kata Afika, lalu kembali melakukan tugasnya. Sedangkan Adrian, dia hanya bisa berdiri memandang Afika karena sejujurnya dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Setidaknya aku sudah di sini. Berikan perintah padaku agar aku bisa bekerja." Kata Adrian.
"Cuci piring itu. Aku ingin memakainya." Pinta Afika membuat Adrian menatap pada piring kotor.
"Serius? Bukannya piring banyak? Kenapa harus memakai yang ini?"
"Kerjakan atau pergi dari sini."
__ADS_1
Adrian menelan salivanya secara kasar. Mungkin jika bukan karena cinta ia tidak akan mengerjakan pekerjaan yang di perintahkan oleh Afika.
Dengan senang hati Adrian melakukan tugasnya. "Apakah dengan membersihkan ini semua, maka aku bisa mendapatkan maaf?" Tanya Adrian.
"Bersihkan semuanya. Aku ingin melihat Lion. Jangan biarkan Sri mengerjakan ini." Kata Afika lalu meninggalkan Adrian seorang diri.
"Sayang.. Sayang. Bagaimana? Apa aku bisa mendapatkan maaf?" Teriak Adrian yang tidak mendapatkan respon sama sekali.
•••••
"Bagaimana tuan, apa nyonya sudah memaafkan tuan?" Tanya Rio saat Adrian sudah berada di perusahaan.
"Belum." Ucapnya sambil memijat keningnya yang terasa pusing. Ia tidak tahu harus melakukan hal apa lagi agar Afika mau memaafkan dirinya. Sudah satu bulan ini dirinya berusaha namun tetap hasilnya nihil.
"Tuan, lalu bagaimana dengan bunga yang selalu tuan berikan jika pulang bekerja?"
"Hahha." Rio tanpa sadar tertawa dan langsung menutup mulutnya. "Maaf tuan."
"Aku harus bagaimana?"
"Tuan, semua wanita sangat suka dengan perhiasa, bagaimana kalau tuan memberikan nyonya perhiasan."
"Kau lupa, jika istriku berbeda dengan wanita lain? Kau lupa jika aku sudah memberikannya dan tetap saja kamad Baby menjadi tempat dirinya membuang semua pemberianku."
__ADS_1
"Jadi? Apa yang anda akan lakukan tuan?"
"Jangan bertanya padaku, karena aku pun tidak tahu."
Sungguh Adrian tidak tahu, apa yang bisa membuat Afika luluh kepadanya. Karena jika di luar sana banyak wanita yang luluh karena di berikan perhiasan dan bunga. Tapi Afika berbeda. Justru semua pemberian yang di berikan oleh Adrian di tolak. Dan selalu di singkirkan ke kamar sang adik. Tak satupun hadiah dari Adrian di simpan di kamar Lion.
"Haruskah aku menyerah?" Batin Adrian.
•••••
Sri mengetuk pintu kamar Lion, dan masuk setelah mendapatkan izin dari Afika.
"Nyonya. Malam ini tuan tidak pulang." Jelas Sri yang sudah mendapatkan kabar dari Rio jika malam dan mungkin sampai beberapa hari ke depan Adrian tidak akan pulang. "Apa ada yang bisa saya bantu nyonya?" Tanya Sri saat melihat Afika yang kini tengah sibuk mengurus pakaian Lion.
"Bi, jangan pangggil nyonya. Panggilan itu terasa asing bagiku."
"Tapi nyonya."
"Afika. Sama seperti biasa, saat kita tinggal bersama di mension hutan." Ucap Afika yang masih merasa tidak suka dengan panggilan barunya.
"Tapi beda nyonya. Dulu dan sekarang." Jelas Sri saat duduk tepat di samping Afika.
"Apa yang beda bi, sama saja."
__ADS_1
"Dulu tuan tidak sadar jika mencintai anda nyonya. Tapi sekarang, semua berbeda. Tuan sudah sadar dan sangat mencintai nyonya." Ungkap Sri yang memang tahu jika Adrian sangat mencintai Afika. Mendengar ucapan Srin membuat Afika diam dan sibuk dengan pakaian Lion. "Maaf nyonya." Kata Sri, "kalai begitu saya permisi dulu." Lalu Sri berjalan keluar dari kamar, tapi langkah kaki Sri terhenti kala Afika berkata.
"Adrian kemana?"