
"Sayang. Apa yang sedang kamu pikirkan?" Rahiyang menghampiri Anggia yang sedang duduk di tepi ranjangnya.
Anggia melirik kearah ibunya, kepalanya menggeleng pelan.
"Mama tahu kalau kamu sangat keberatan dengan pernikahan ini. Tapi mama harap kamu bisa menyelesaikan tujuan kita." Rahiyang mendesah.
Anggia mengangguk. "Tapi, haruskah keperawananku diserahkan padanya. Sedangkan aku hanya ingin melakukannya yang pertama kalinya dengan lelaki yang aku cintai, ma."
"Keperawanan tidak perlu kamu permasalahkan, sayang. Ia hilang juga kamu tidak akan mati. Banyak gadis diluaran sana yang melakukannya tanpa menikah. Lalu kenapa kamu harus takut melakukannya setelah menikah."
"Bukan itu yang aku maksud, ma. Aku hanya ingin melakukannya yang pertama dengan lelaki yang aku cintai."
"Terserah kamu sajalah. Itu urusanmu dan kamu akan mencari tahu jawabannya sendiri. Yang mama ingatkan adalah jangan sampai kamu hamil dengan lelaki itu."
"Apa aku harus pakai kontrasepsi, ma. Tapi itu akan ketahuan nantinya. Dan tentu saja Daffa akan sangat marah karena dia ingin cepat-cepat punya anak," ucap Anggia frustasi.
Rahiyang tersenyum manis karenanya. Ia membisikkan rencana miliknya pada Anggia.
"Kedengarannya itu tidak buruk ma, tapi kalau ketahuan bagaimana?" Anggia terlihat ragu.
"Tidak akan ketahuan. Kamu disini berperan penting dan harus pandai melakukan peranmu." Rahiyang berdiri dan melangkah keluar kamar Anggia.
Saat diambang pintu ia berpaling. "Ingat, kamu menikahinya bukan karena cinta tapi karena ingin menghancurkan keluarganya seperti mereka yang menghancurkan keluarga kita."
"Dan mama yakin kamu pasti bisa melakukannya," tersenyum manis seiring menutupnya pintu kamar milik Anggia.
Drt drt drt
Mata Anggia beralih menatap handphone miliknya yang menyala di atas nakas. Ia meraihnya dan mengangkatnya, senyumnya terbit saat mendengar suara kekasih yang di rinduinya.
"Sayang. Aku sangat merindukanmu!" terdengar suara dari seberang telpon. "Bagaimana kalau kita bertemu malam ini," sambungnya lagi.
Anggia tampak berpikir. "Aku tidak bisa sayang. Sudah aku bilangkan sebelumnya untuk kita tunda dulu pertemuan kita sementara waktu ini," sahut Anggia.
"Tapi aku sangat merindukanmu dan aku tidak ikhlas kamu tidur dengan lelaki itu!"
"Kamu tenang saja, semua yang kamu khawatirkan tidak akan pernah terjadi," jawab Anggia tenang.
"Baguslah kalau kamu sudah memiliki rencana. Tapi aku rasa rencanamu itu hanya berjalan sesaat, sedangkan kamu selalu bersamanya setiap saat."
Anggia mendesah. "Percayalah padaku sayang kalau aku pasti bisa mengatasinya." Menarik napas. "Tapi aku harus meminta bantuanmu juga. Kalau aku sendirian yang melakukannya, itu sangatlah tidak mungkin." Anggia tersenyum.
"Tapi tidak adakah cara lain selain menikah dengannya?"
"Aku rasa tidak ada karena itu sudah menjadi keputusan mama. Dan kamu tahukan apa yang sudah mama putuskan tidak akan bisa untuk di ganggu gugat." Anggia.
"Coba kamu bicarakan sekali lagi dengan ibumu. Siapa tahu dia akan berubah pikiran," sahut lelaki di seberang telpon.
__ADS_1
"Aku coba nanti, tapi kamu selalu ada di sisikukan bagaimanapun hasilnya nanti," sahut Anggia.
"Baiklah. Aku akan selalu ada untukmu. Tapi kamu janji, tidak boleh jatuh cinta padanya."
"Iya. Percayalah padaku. Kalau begitu aku tutup dulu telponnya. Bye sayang," ucap Anggia mengakhiri panggilannya.
***
Daffa pulang dalam keadaan larut malam bahkan ia terlihat sangat lelah.
"Daff, sebaiknya mulai besok kamu sudah harus cuti. Biar semua pekerjaan aku yang mengambil alih untuk sementara waktu." Zainal menjeda.
"Kalau keadaanmu begini terus, kamu bisa sakit tepat di hari pernikahanmu. Bahkan kamu sekarang terlihat sangat memprihatinkan."
Daffa hanya mendengarkan saja ucapan Zainal. Ia memijit batang hidungnya sejak tadi, rasanya kepalanya benar-benar pusing.
"Akan aku pertimbangkan nanti!" jawab Daffa seadanya.
"Bagaimana dengan hotel yang kita bangun waktu itu. Apakah sudah rampung?" tanya Daffa mengubah pembicaraan.
"Seperti yang kamu ketahui sendiri. Pekerjaan mereka masih berjalan 85%."
"Jadi sisanya akan memakan waktu berbulan-bulan?" tanya Daffa.
"Bisa jadi begitu. Tapi kita sedang mengusahakan menambah sejumlah pekerja buruh di bidang itu agar pekerjaannya cepat selesai."
"Aku ingin hotel itu rampung sebelum bulan ketiga pernikahanku. Karena aku ingin merencanakan sesuatu nantinya," sahut Daffa.
"Sok tahu kamu. Hah... memangnya aku tahu apa, seperti apa rasanya bulan madu?" Mendesah.
"Tentu saja manis, bos!!" ledek Zainal.
"Bisa jadi!" sahut Daffa masih mengembangkan senyumnya.
"Kalau tidak manis maka tidak akan ada bulan madu kedua, ketiga dan seterusnya," sahut Zainal.
Daffa hanya tersenyum saja mendengarkan penuturan Zainal. Ia berharap kalau bulan madu mereka hingga menua walaupun usia sudah di makan zaman.
***
"Apa aku harus mengatakannya pada mama?" gumam Anggia yang terlihat gelisah. Bahkan ia cukup lama berdiri di ambang pintu kamar milik ibunya.
Tangannya terulur ingin mengetok pintu kamar yang ada didepannya tersebut tapi kembali urung hingga Anggia cukup terkejut karena Rahiyang sudah membuka pintu dari dalam terlebih dahulu.
"Ada apa Anggia? Kenapa kamu hanya berdiri disitu?" tanya Rahiyang menatap curiga terhadap anaknya. Apalagi setelah melihat raut wajah Anggia yang tidak biasa.
"Ma. Aku ingin bicara mengenai pernikahan ini, ma."
__ADS_1
"Kita bicara di dalam saja." Rahiyang kembali menutup pintu kamarnya setelah Anggia masuk.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Anggia?"
Anggia tampak menarik napas. Ia berusaha menenangkan degup jantungnya yang melaju. Bagaimana kalau saran darinya di tolak oleh ibunya, pasti ini akan berdampak juga pada dirinya.
"Bagaimana kalau pernikahan ini kita batalkan saja," ucap Anggia pada akhirnya.
"Aku tidak setuju!!" sahut Rahiyang dengan keras. Menatap Anggia dengan tatapan tajam.
"Bahkan rencana ini sudah aku susun sejak kamu masih sekolah TK Anggia. Bahkan aku sudah menantikan ini semua."
"Dan kamu harus tahu. Kenapa kamu mama sekolahkan ditempat yang sama dengan Daffa dan Daffi, padahal kediaman kita sangat jauh. Jawabannya hanya satu, untuk mendekatkan kalian berdua." Rahiyang menarik napas, menahan amarahnya.
"Dan sekarang, setelah puluhan tahun aku menunggu. Kamu tiba-tiba ingin mengubah strategi," berdesis. "Tidak. Ibu tidak akan pernah membiarkanmu melakukannya!"
"Tapi mama mengorbankan perasaanku. Mama tega padaku."
"Sayang, dengarkan mama. Tadi sudah mama bilangkan mengenai rencana mama padamu. Dan kamu harus menjalankan rencana itu!" Rahiyang berusaha meyakinkan anaknya.
"Aku tahu ma. Tapi tidakkah ada cara lain selain menikah?" Menatap penuh harap pada Rahiyang.
"Tidak ada. Karena itu satu-satunya jalan untuk masuk kekeluarga mereka."
Anggia terdiam mendengarnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Rencana ibunya untuk menikahkan dirinya dengan Daffa benar-benar sudah bulat.
"Dan jangan lupakan kalau keluarga mereka yang sudah menghancurkan kehidupan kita di masa lalu. Dan membuatmu hidup tanpa kasih sayang seorang ayah!"
Rahiyang kembali menanamkan rasa benci pada Anggia. Hingga membuat Anggia menggenggam tangannya dengan kuat. Ia masih mengingat saat dirinya dalam masa sekolah. Tidak mendapatkan pergaulan yang layak karena ledekan dari seluruh teman-temannya yang mengatakan kalau dirinya adalah anak haram.
Dan rasanya itu sangatlah sakit, lebih sakit dari tusukan seribu jarum yang menghinggapi di dada. Bahkan Anggia sama sekali tidak pernah melihat wajah ayahnya.
Tidak ada satupun foto tentang ayahnya yang tertinggal di rumah mereka karena kebencian ibunya pada ayahnya.
"Sebaiknya kamu tidur ke kamarmu dan mama rasa pembicaraan ini tidak perlu di lanjutkan lagi. Karena kamu sudah tahukan jawabannya?"
Anggia mengangguk. Ia tersenyum kearah ibunya.
"Baiklah kalau begitu, aku rela berkorban apa saja asalkan bisa membuat mereka tidur." Anggia mengangguk. "Aku akan pergi tidur."
Anggia mengecup pipi ibunya sekilas dan melangkah meninggalkan kamar ibunya. Sedangkan Rahiyang menatap terpaku pada anaknya. Ada rasa tidak tega karena ia sudah memanfaatkan anaknya demi egonya tapi ia tidak tahu lagi harus berbuat apa selain mengorbankan perasaan anaknya sendiri.
Dirinya kembali menerawang pada masa lalu ketika masih bersama suaminya.
•
•
__ADS_1
•
*****