Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Lelaki Misterius


__ADS_3

"Selamat pagi sayang!" Daffa membuka pintu ruangan Aina dengan sebuket mawar merah di tangannya.


"Daffian! Kamu...," Aina tersipu malu dengan sikap romantis Daffian sepagi ini.


"Tumben sepagi ini kamu sudah ada disini?" tanya Aina.


"Tentu saja, untuk mengucapkan selamat pagi pada kekasih hatiku," sahut Daffi.


"Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah baik-baik saja?"


Aina tersenyum mendengar perhatian Daffa padanya, semburat merah tidak pernah mau pergi dari pipinya.


"Iya. Aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat!" sahut Aina.


"Apakah kamu tahu kapan Azza kembali dari berbulan madu?"


Daffi terkekeh mendengarnya.


"Aku tidak dapat memastikannya. Bisa saja mereka menunda untuk pulang dan lebih memperpanjang waktu kebersamaan mereka!" sahut Daffian.


"Apakah kamu juga menginginkan bulan madu yang romantis?" goda Daffian.


"Bukan itu Daffian maksudku!" Aina tampak salah tingkah.


"Aku hanya ingin bertemu dengannya saja!" sahut Aina.


"Baiklah. Baiklah. Aku mengerti. Lalu, apakah kedua orang tuamu sudah pulang?"


Aina mengangguk, wajahnya berubah menjadi sendu.


"Aku sudah berbicara pada papa pagi tadi. Memang benar kalau dulu adikku sudah di tukar dengan bayi laki-laki yang sudah meninggal."


"Apakah kamu juga sudah menceritakan tentang kecurigaanmu tentang Azza pada ayahmu?"


Aina mengangguk. "Sudah. Dan respon papa sangat berlebihan," Aina terkekeh.


"Dia meminta alamat Daffa dan Azza berbulan madu. Dan tentu saja aku tidak memberitahukan pulau mana yang mereka datangi."


"Aku hanya mengatakan tentang nama Azza dan statusnya di keluarga kalian."


"Apa respon ayahnmu?" tanya Daffi.


"Aku tidak tahu karena aku meninggalkannya pada waktu itu. Dan kurasa ia pasti sangat terkejut karena tidak mengetahui tentang perceraian Daffa dan Anggia."


"Aku rasa masalahnya semakin rumit," sahut Daffian.


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Aina menatap Daffian penuh selidik.


"Tadi pagi aku ke rumah Tante Ambar untuk menanyakan tentang orang tua Azza. Tetapi Tante Ambar terlihat gelisah saat aku mengungkitnya. Bahkan ia tidak menjawab pertanyaanku tersebut. Ia menghindar dari pertanyaanku serta merahasiakannya dariku."


"Benarkah? Apa yang membuatnya melakukan hal itu?" tanya Aina.


"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin ada sesuatu yang terjadi di balik semua ini!" ucap Daffi.


"Iya. Aku sudah paham apa yang sebenarnya terjadi disini," Sahut Aina setelah kembali mengingat ucapan ayahnya tadi.


"Apa yang kamu tahu?" desak Daffi.


"Orang tua Azza yang sekarang bukanlah orang tuanya yang sebenarnya."


"Apa maksudmu? Apakah benar kalau Azza adalah saudaramu?"


"Aku tidak yakin tentang itu karena aku belum memastikannya. Tetapi papa sempat bilang kalau orang tua angkat adikku yang sempat menghilang itu adalah keluarga yang sangat kaya. Tetapi mereka mandul."


"Darimana kamu menyimpulkan kalau orang tua Azza adalah bukan yang sekarang?"

__ADS_1


"Tentu saja. Karena ibunya Azza yang sekarang salah seorang pembantu. Dia yang membawa Azza pergi dari keluarga kaya tersebut. Karena hidup Azza tidaklah aman, keluarga orang tua angkatnya memperebutkan harta warisan mereka. Dan mereka tidak rela apabila sepersen pun kekayaan mereka jatuh pada anak pungut tersebut," simpul Aina.


"Kalau memang benar apa yang kamu ucapkan tersebut, kita hanya akan melakukan tes DNA saja untuk memastikan semuanya."


"Iya. Kamu benar! Aku pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kembali apa yang sudah seharusnya menjadi bagian dari keluarga kami," sahut Aina.


"Baiklah. Aku akan membantumu untuk mengambil sampel rambutnya untuk tes DNA nanti."


"Terima kasih," sahut Aina tulus.


"Jangan berterima kasih padaku, aku tulus membantumu."


"Aku tahu Daff."


"Siang nanti kita makan bersama. Aku akan menjemputmu!" ucap Daffian.


Aina mengangguk.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Hati-hati dalam bekerja." Tangan Daffian terulur mengajak rambut Aina sesaat kemudian pergi ke kantor ayahnya.


Sesampainya di kantor Angga, Daffi langsung masuk ke ruangan ayahnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Daffi, kamu tidak keberatankan kalau papa suruh untuk mengambil berkas milik papa yang ketinggalan di rumah," ucap Angga.


"Memangnya berkas apa pa sampai-sampai papa meninggalkannya di rumah?"


"Itu berkas penting Daffian, berkas yang akan papa bawa untuk kepentingan rapat. Dan rapatnya berjalan sebentar lagi."


"Oke. Daffi akan ambilkan untuk papa. Di ruang kerja papakan?"


"Iya. Di atas meja kerja papa."


"Baiklah." Daffi kembali melangkah pulang untuk mengambil berkas yang di maksud oleh Angga. Ia memacu mobilnya dengan kencang hingga tiba di depan pagar rumahnya.


"Sedang apa orang itu dan kenapa ia mengintai rumah kami?" gumam Daffi menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang.


Ia membelalakkan matanya setelah melihat lelaki itu, lelaki yang bertemu dengannya di toko bunga tadi.


"Siapa orang itu sebenarnya?" gumamnya sambil melangkah memasuki rumah dengan seikat mawar hitam miliknya.


"Daffian. Kamu pulang sepagi ini, apakah ada sesuatu yang ketinggalan?" Rika terkejut menatap anaknya.


"Berkas papa ketinggalan di ruang kerja," sahutnya.


"Kenapa tidak menelpon mama saja. Mama pasti akan mengantarkannya untuk papa."


Daffian tersenyum mendengarnya.


"Mama di rumah saja, kalau keluar sendirian berbahaya ma," sahut Daffi.


Rika mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Ini bunga untuk mama dari papa!" Daffi menyerahkan mawar hitam tersebut, semakin membuat Rika bingung.


"Kenapa harus mawar hitam. Bukankah mawar merah lebih romantis!" gumam Rika.


"Mawar hitam mengangdung makna bahwa mama adalah milik papa!" ucap Daffian berlalu kearah ruang kerja papanya.


Rika terkekeh mendengarnya. Lelaki itu selalu saja romantis padanya.


"Ma, ingat! Jangan keluar rumah dan mama tetap di rumah saja. Oke!" ucap Daffi sekembalinya dari ruang kerja.


"Iya. Mama akan menurut padamu!" ucap Rika lembut.


"Aku kembali ke kantor ma!" Daffian mengecup pipi Rika singkat membuat Rika kembali terkekeh dengan sikap Daffian.

__ADS_1


Daffian kembali menatap sekelilingnya setibanya di luar pagar. Tidak ada lagi lelaki yang mencurigakan tadi. Ia bernapas lega karena lelaki tadi sudah tidak ada disana lagi.


"Pa, apakah papa punya musuh sekarang?" tanya Daffian setibanya di kantor.


"Musuh? Angga menatap heran kearah anaknya. "Apa maksudmu dengan kata musuh?" ulangnya.


"Aku hanya bertanya saja pa. Siapa tahu ada saingan bisnis papa yang ingin berbuat curang pada kita."


Angga menghentikan pekerjaannya, menatap serius kearah anaknya.


"Tidak ada musuh papa ataupun saingan yang bersaing secara tidak sehat untuk waktu sekarang. Papa tidak pernah menemui yang seperti itu. Memangnya kenapa?" tanya Angga penasaran.


"Benarkah? Coba papa ingat-ingat lagi!"


Angga semakin menatap curiga kearah Daffian.


"Katakan pada papa ada apa sebenarnya?"


"Ada seseorang yang mencurigakan di depan pintu gerbang rumah kita. Sepertinya dia sedang mengintai sesuatu."


Angga terbelalak mendengarnya. "Bagaimana dengan ibumu? Apakah dia aman di rumah?"


"Pa, papa tenang dulu. Mama baik-baik saja dan berada di dalam rumah."


"Bagaimana papa bisa tenang kalau ibumu sendirian di rumah." Angga memanggil asistennya.


"Asra! kirim 100 orang bodyguard untuk berjaga di sekeliling kediamanku!" perintah Angga.


"Pa! papa apa-apaan sih, mengirim orang sebanyak itu. Bisa saja orang tadi hanya salah rumah atau juga orang gila, pa!"


"Tidak ada salahnya Daffian kita waspada terlebih dahulu. Papa tidak ingin kejadian lama terulang kembali pada ibumu."


"Jadi, kejadian lama apa itu pa?"


Angga menatap sekilas kearah Asra yang sudah mengangguk dan keluar ruangan.


"Nanti saja papa menceritakan padamu. Papa ada rapat beberapa menit lagi."


Bergegas Angga berjalan keluar ruangannya menuju kearah ruang rapat. Ia berhenti sesaat tepat di depan pintu.


"Kamu. Cepat selesaikan pekerjaanmu. Jam makan siang nanti sudah harus ada di meja papa!"


"Siap bos!" sahut Daffi mantap.


"Orang gila?" Daffian terkekeh sendiri. "Tidak ada orang gila yang berpenampilan seperti itu," gumamnya.


"Aku akan menyelidiki lelaki misterius tersebut."


Daffian duduk di mejanya, meraih handphone miliknya. Memasukkan beberapa kata sandi kedalamnya. Ia menatap handphonenya cukup lama.


"Sudah selama itu dia berada disana, apa yang di inginkannya? Bukankah sebelumnya ia menanyakan seorang wanita bernama Mahya di toko bunga. Lalu, kenapa ia mengintai kediaman kami?"


Daffian masih sibuk menatap rekaman CCTV rumah mereka yang langsung tersambung ke handphone miliknya.


Tidak berapa lama ia melihat begitu banyak bodyguard yang datang ke rumah mereka hingga membuat lelaki misterius tersebut pergi.


"Mahya?" Daffian kembali bergumam sendirian.





***

__ADS_1


__ADS_2