
Happy reading 😊
Selepas keluar dari dapur Alex langsung melepaskan genggamannya dan mendorong Rossa menjauh
"Jangan sampai melewati batas ingat kau hanya pelayan" ucap Alex berlenggang pergi
"Dasar brengsek " ucap Rossa kesal sembari menghentakkan kakinya saat melihat Alex mulai jauh meninggalkannya.
Nadira membasahi wajahnya dengan air di wastafel saat melihat makanan yang dibuat telah siap. Karena tak ingin Alex melihatnya baru saja menangis
Nadira mulai berjalan menelusuri setiap ruangan sembari membawa makanan tersebut ditangannya ia menghembuskan nafas perlahan saat telah di depan kamar Alex. Nadira mencoba mengetuk pintunya namun ia tak mendengar suara Alex dari dalam membuat Nadira langsung membukanya perlahan sembari menyapu setiap ruangan mencoba mencari keberadaan Alex dan Rossa disana.
Nadira tersentak saat mendengar suara kamar mandi terbuka alhasil membuatnya langsung menoleh ke kamar mandi tersebut disana dapat dilihatnya Alex hanya menggunakan handuk sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Alex terkekeh melihat Nadira tak bergeming di depannya membuat pria itu berjalan mendekati Nadira lalu berbisik pelan di telinga wanita itu
"Kau sedang lihat apa sayang hm? " tanya Alex tersenyum membuat Nadira langsung tersadar dari lamunannya ia kelabakan tidak tahu ingin berkata apa saat mendengar ucapan Alex
"Sarapannya sudah aku taruh diatas meja aku permisi" ucap Nadira sedikit gugup
"Sepertinya aku sudah tidak berselera" ucap Alex
"Bagaimana kalau aku memakan mu saja?" tanya Alex mengangkat dagu Nadira agar menatapnya
Nadira terdiam, tubuhnya terpaku. Matanya membulat sempurna, dia tercengang. Saat Alex menarik tubuh mungilnya ke dalam dekapannya.
"Bagaimana menurutmu hm? "
"Jangan bercanda Alex! Cepat Lepaskan aku " ucap Nadira mencoba mendorong Alex agar menjauh darinya
"Jangan terlalu banyak bergerak Nadira bisa-bisa handuknya akan terlepas apa kau mau tanggung jawab?"
Nadira tersentak seketika ia berhenti mendorongnya membuat Alex tersenyum
Alex langsung mencium bibir Nadira saat di lihatnya wanita tersebut ingin protes. Berlahan tapi pasti, Nadira mulai terhanyut oleh cumbuannya. Kesadaran itu mulai menepi, yang ada hanya nafsu yang menuntut untuk dipuaskan.
__ADS_1
Tubuh Nadira semakin menghangat, deru nafas berlomba dengan syahdunya lenguhan hasrat. tubuhnya bereaksi aneh seolah ingin di puaskan
"Jangan pernah pergi lagi. Kau milikku"
Hasrat sudah ter petik, semua sudah dimulai, dan harus ada penyelesaian dalam permainan ini. Ketika semua yang melekat dalam tubuh ini luruh satu persatu, selaras dengannya luruh juga asa yang masih tersisa. Tak ada keajaiban kembali, yang ada hanya kenyataan bahwa semua tak akan berakhir.
Dalam sekejap, nafsu terkutuk sudah membekap, menguasai sepenuhnya sadar Nadira. Menjadi gila akan lebih baik, hingga tak ada rasa terpaksa. Rela atau tidak tak penting lagi, yang terpenting hasrat terpuaskan.
Meskipun ia tahu ini bukan pertama kalinya Alex melakukannya tapi entah mengapa ia merasakan ada sensasi berbeda yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Melihat Nadira sudah mulai meresponnya, cumbuannya semakin intens. Alex mendorong tubuh Nadira pelan, merebahkannya di atas ranjang.
 Tubuh Nadira gemetar, Ia bingung harus bagaimana sementara hatinya menolak tapi tubuhnya minta lebih
Ada satu sisi hati, mencoba mengetuk kembali. Menarik dirinya untuk sadar dari bekapan nafsu birahi. Seolah tak merelakan semua itu terjadi lagi.
"Berhenti,"
Nadira mendorong tubuh polos Alex untuk menjauh Alex terlihat terkejut melihat reaksi Nadira. Namun Nadira segera mungkin memperbaiki pakaiannya yang hampir terbuka ia gemetar ketakutan sembari air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya.
"Tolong jangan lakukan itu lagi," ucap Nadira di sela tangisnya.
"A... aku, tidak ingin melakukannya lagi ," jawab Nadira
"Apa, hah omong kosong apa ini. Jangan bercanda Nadira." Alex terlihat emosi
"Maafkan aku benar-benar tidak bisa.Tolong jangan lakukan itu lagi pada ku "
Alex memungut handuknya yang telah terjatuh dilantai lalu melilitkannya kembali.
"Jangan berlebihan Nadira! Bagaimana bisa kau berkata seperti sementara kau adalah istriku" marah Alex tidak senang
" Aku tahu, tapi kau bisa saja melakukannya dengan wanita lain"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku takut, aku takut bersamamu Alex, jujur aku takut aku takut semua hal yang menyangkut tentang mu Alex" ucap Nadira mencoba menahan tangisannya tapi semakin ia menahannya tangisnya semakin menjadi.
Alex itu terdiam, entah apa yang ada di dalam benaknya. Sedangkan Nadira masih gemetar tak berani menatap kearah Alex.
"Apa kata itu juga termasuk karena aku telah membunuh orang tua mu?" tanya Alex dingin
"Jadi benar kau pelakunya? Tanya Nadira histeris
"Ck ternyata dugaan ku benar" Alex tersenyum sinis
"Apa maksudmu jadi benar kau pelakunya jawab aku Alex " teriak Nadira sembari menggoyangkan tubuh Alex yang menatapnya begitu tajam
Alex menepis tangan Nadira kuat membuat wanita itu hampir terjatuh
"Kenapa? apa kau ingin balas dendam? Atau ingin membunuh ku?
Tangisan Nadira semakin menjadi jadi. Tubuh wanita itu sudah meluruh menyentuh lantai kembali, wajahnya ia tutup dengan kedua telapak tangannya, yang seketika membuat Alex terdiam, namun amarah dari pria itu sama sekali belum redam.
Alex melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Nadira hingga ia dapat melihat wajah Nadira yang basah karena air mata.
"Jika kau memang takut padaku, kenapa kau masih disini!! Kenapa Ha!!!" Ucap Alex emosi
Hancur rasanya, wanita itu benar benar hancur skarang. Alex yang dulu tak ingin ia pergi dari rumah itu malah dengan lantangnya menyuruhnya pergi.
"Apalagi yang kau tunggu cepat pergi!!" amarah Alex semakin menjadi-jadi
"Aku akan pergi aku juga tidak sudi hidup dengan pembunuhan sepertimu " balas Nadira
Plak..
Nadira meringis kesakitan saat Alex menamparnya kuat
"Pergi jauh jangan sampai aku menemukan mu atau kau akan bernasib sama dengan kedua orang tua mu" bentak Alex emosinya bergejolak
"Aku benar-benar kecewa padamu "
__ADS_1
Nadira memilih pergi dari sana, wanita itu menangis dalam diam sembari mengelus pelan perutnya yang terlihat mulai membuncit. Sedangkan Alex pria itu memilih diam, menatap kepergian Nadira yang terlihat sudah menghilang dibalik pintu rumah.
Rasa kecewa dan marah bercampur di benaknya pasca mengingatnya kembali.