
Malam mulai merebut senja, kesibukan di rumah Khaula pun mulai reda. Riuh suara para tamu mulai menghilang bersama waktu yang kian malam. Hanya beberapa orang saudara dekat yang masih tinggal. Karena esok masih ada beban setelah helat digelar. Membersihkan dan mengembalikan barang, serta perkakas ke tempat semula.
Sementara Khaula dan Khalid sudah kembali menjadi manusia biasa, mereka telah melepas baju kebesaran pengantin. Keduanya masuk kamar untuk membersihkan diri serta istirahat. Sebab sehari penuh duduk dan berdiri menyambut sanak keluarga dan tamu yang hadir di pestanya. Kelelahan meliputi jiwa dan raga mereka, apalagi Khaula yang sedang dilanda kegalauan.
Kamar Khaula kini menjadi milik Khalid juga. Meski tidak seutuhnya. Karena di Minangkabau posisi menantu atau sumando hanya tamu di rumah istrinya. Kalau diibaratkan, menantu itu hanya abu di atas tunggul. Ia bisa terbang jika angin meniupnya dengan kencang.
Angin yang dimaksud adalah masalah dalam rumah tangga mereka. Di sanalah posisi istri diperhitungkan, bagaimana ia menghambat agar angin tidak menerbangkan abu di atas tunggul yang sekarang datang ke rumahnya. Khaula tetap membisu, ketika Khalid menyapanya pelan.
“Khaula, bisa kah kamu mengambilkan baju gantiku di dalam tas itu?” tanya Khalid sesaat setelah mereka berada dalam ruang 4x6 meter tersebut.
Kamar itu kini dihias bak peraduan putri raja, megah. Apalagi semua dinding tertutup tabir warna merah. Khalid duduk di pembaringan yang berlapis seprai tebal. Matanya tak lepas dari Khaula yang masih mencatut diri di depan cermin.
Riasan wajahnya masih sempurna, inai di jari masih memerah. Memang hebatlah Nazima mengaduk bahan-bahan alami sehingga warnanya merah merata. Tapi, bukan itu yang sekarang ada di benak Khaula. Melainkan Khalid yang kini ada bersamanya di kamar. Bagaimana kalau nanti Khalid menuntut haknya, sementara ia belum bisa menerima kenyataan? Sedangkan menolak suami itu dosa besar.
__ADS_1
Khaula tertegun.
“Khaula,” panggil Khalid, yang membuat wanita itu terlonjak.
“Hmmm!”
“Bisa bantu ambilkan baju gantiku?” ulang Khalid.
“Kamu kan bisa ambil sendiri,” jawabnya ketus.
“Kamu, ‘kan istriku. Sudah sepantasnya melayaniku. Karena seorang istri soleha itu mampu membuat suaminya senang. Kata Ibu, kalau istri mampu menjadi pelayan suami. Maka suami harus lebih melayaninya lagi,” ujar Khalid, setelahnya lelaki itu tersenyum teduh.
“Melayani?” tanya Khaula dalam hati.
__ADS_1
Ia mendesah, menatap lelaki itu saja ia serasa ingin muntah. Bagaimana bisa ia melayaninya sebagai seorang suami?
Dari samping lemari, Khaula melihat pantulan wajah Khalid yang tertunduk. Dari cermin rias yang berhadapan dengan ranjang. Khaula meyakini saat ini Khalid pasti resah. Apalagi setelah Khaula melucuti baju pengantin yang tadi membungkus tubuh moleknya.
Mata Khaula berbinar, ia bergumam menang. Mana ada kucing yang tahan melihat ikan asin. Sebentar lagi jakunnya pasti naik turun. Dan inilah saatnya Khalid rasa betapa tersiksanya menahan syahwat. Ini baru awal dari pembalasan Khaula. Wajah Khaula berubah dingin dengan tatapan sinis.
Khaula tersenyum mengejek, pembalasan untuk luka tikam ini mulai ia perankan.
“Apakah kamu sanggup bertahan? Atau kamu akan pergi lagi seperti dulu, Khalid?” gumamnya lagi.
Setelah puas menikmati wajah Khalid yang merah dari cermin lemari. Khaula melangkah ke kamar mandi, tanpa sedikit pun ingin membantu lelaki itu mengambilkan pakaian gantinya. Khaula membasuh tubuhnya perlahan. Dingin air yang berasal dari Bukit Sangkiang membuat gigi Khaula gemeretuk. Namun, ia tetap membersihkan wajah dan membasuh kenangan indah tentang Khalid yang sedikit banyak, masih berbekas di ruang jiwanya.
Belum beberapa gayung air membasahi tubuhnya, Khaula terperanjat. Ketika tiba-tiba Khalid sudah berada dalam kamar mandi di belakangnya.
__ADS_1
“Astaga! Jangan-jangan tadi aku lupa mengunci pintu sebelum mengguyur tubuh dengan air,” batin Khaula meradang. Wajahnya memerah, dengan napasnya terdengar keras.
Udara kamar mandi yang awalnya dingin, berubah menjadi hangat. Sebab kehadiran Khalid yang tidak terduga membuat darah Khaula berdesir. Kejutan di jantung wanita itu membuat air yang baru beberapa gayung membasuh badannya terasa panas seperti lahar gunung berapi. Matanya yang nyalang memelototi Khalid yang memberi senyum mesra.