Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 36


__ADS_3

"Satu. Dua. Tiga. Empat. " Adrian pun mulai menghitung. "Lima. Baiklah jika ini mau mu Afika."


"Enam."


"Adrian." Panggil Afika, namun belum juga keluar menampakkan dirinya. "Kenapa kau sangat membenciku? Kenapa Adrian?"


"Tujuh."


"Kenapa kau sangat membenciku pada Baby saja sudah baik padaku. Apa aku punya salah padamu Adrian?"


"Delapan."


"Adrian, stop. Kenapa kau tidak menjawan pertanyaanku, apa salah ku Adrian?" Kini suara Afika terdengar gemetar. Bukan karena Afika takut. Melainkan Afika kini merasa bersedih. Sehina itukah dia di mata Adrian, sampe hamil pun Adrian masih mau menyiksanya. Tidak tahukan Adrian jika bayi yang saat ini berada di dalam kandungannya adalah bayinya. Tapi, Afika sudah terlanjur kecewa. Karena dulu pun Adrian mengatakan tidak akan pernah mau memiliki bayi dari Afika. Padahal jelas sekali, hanya Adrian yang melakukan hal itu pada dirinya. Harus kah Afika menyesali apa yang telah terjadi. Kenapa di luar sana banyak pasangan yang sudah menikah bertahun tahun lamanya namun belum memiliki keturuan, kenapa dia yang baru satu kali melalukan hal itu dan dengan mudanya hamil. Kenapa? Afika mengusap perutnya, ia tidak akan mungkin menyesali apa yang terjadi, karena kini ada bayi yang membuatnya ingin hidup lebih lama lagi.


"Sembilan."


Kini Afika keluar dari persembunyiannya. Dan berdiri di hadapan Adrian dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Adrian langsung menatap wajah Afika, begitupun dengan Afika langsung menatap tajam pada Adrian. Mata Afika kini sudah mulai mengeluarkan air mata.


"Apa salah jika aku mengandung? Kenapa kau begitu kejam pada ku Adrian? Kenapa?" Tanya Afika dengan nada gemetar. Afika mengusap air matanya, lalu mengusap perutnya. "Bayi yang ada di sini tidak memiliki dosa, dia berhak untuk hidup Adrian."


Tanpa menjawab, Adrian langsung maju melangkah mendekati Afika, sehingga Afika berjalan mundur. Namun tubuh belakang Afika terbentur dengan rak buku yang menjulang tinggi sehingga membuat Afika berhenti melangkah mundur. Adrian langsung menatap tajam pada Afika yang saat ini berada di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat.


Lalu Adrian mencengkram kedua pipi Afika dengan sangat keras. "Wanita mura*han. Kau sudah memiliki suami tapi masih bermain dengan pria lain." Kata Adrian sehingga membuat Afika tertawa. Tuduhan apa lagi ini. Sejak kapan pria yang ada di hadapannya ini menganggap dirinya sebagai seorang istri.

__ADS_1


Sreetttt... Adrian mendorong Afika sehingga membuat Afika terjatuh hingga ke lantai.


"Auuuhhh.." Ringis Afika sambil memengang perutnya yang kini terasa kram. "Adrian, jangan. Jangan laku kan apa pun. Aku sedang hamil Adrian." Kini Afika menggelengkan kepalanya dan memohon pada Adrian. Namun Adrian yang sudah naik pitam langsung melepas ikat pinggangnya.


Dan... Adrian dengan tanpa rasa belas kasih memukul Afika dengan ikat pinggangnya, sehingga membuat Afika terus menjerit karena kesakitan.


"Adrian. Sakit.. Hikkksss, hikkkssss.."


"Adrian.. Lepaskan, sudah cukup Adrian..Hiksss, hikkkssss." Tetap saja Adrian masih memukul Afika.


"Adrian, bayiku. Auhhh, sakit Adrian.."


"Adrian.." Teriak Afika..


"Hikkkssss, hikkkksss, hikkkkssss. Adrian, sakit. Sakit. Sakit.." Kini Afika memengang perutnya sambil melihat wajah Adrian. "Bayi ini, dia bayimu. Jangan sakiti bayi ini." Kata Afika di sela tangisnya sambil memegang perutnya.


Tapi tetap saja Adrian tidak percaya dengan omongan Afika. Adrian percaya jika Afika hanya berkata demikian karena agar dirinya tidak melanjutkan pukulannya.


"Dasar wanita pembohong." Kata Adrian lalu melanjutkan lagi pukulannya.


"Adrian. Dia anakmu. Kau lupa, dulu kau melakukan itu kepadaku. Tapi kau sendiri yang berkata jika tidak ingin bertanggung jawab. Adrian, sakit. Sakit Adrian. Hikkksss, hikkkssss, hikkksss.."


"Kak Adrian." Teriak Baby dan langsung berlari menghampiri Afika dan memeluk tubuh Afika sehingga Baby pun terkena cambukan dari ikat pinggang Adrian.

__ADS_1


"Tolong lepaskan Afika."


"BABY." Ucap Adrian dengan lantang.


Baby langsung berbalik dan menatap wajah sang kakak. Sambil memgatupkam kedua tangannya di depan wajahnya. Memohon pada Adrian.


"Lepaskan Afika kak. Tolong lepaskan dia."


"Adrian, aku benci padamu." Lirih Afika, membuat Adrian marah dan menyeret Baby sehingga Adrian kembali memberikan cambukan pada Afika.


"Kak Adrian, apa kau ingin membunuh ibu dari anakmu?" Teriak Baby yang sudah tidak sanggup lagi melihat Afika di cambuk.


"Darah." Ucap Afika sambil menangis dan kaget melihat darah yang mengalir dari sela pahanya.


"Aku mendengar sendiri, itu anak Nadi." Kata Adrian.


"Bukan kak. Dia anak mu."


"Tolong, tolong." Lirih Afika.


Lalu Baby dengan cepat mendekati Afika sedangkan Adrian dia mengusap wajahnya. Dan langsung menggendong tubuh Afika. Berlari menuju garasi.


"Bayiku. Selamatkan bayiku." Lirih Afika.

__ADS_1


"Afika sadarlah. Jangan pernah pejamkan matamu." Kata Baby sambil memegang erat tangan Afika.


__ADS_2