
Ambar sudah berada di kediaman Azza. Ia masih bertatapan dengan putrinya.
"Memangnya apa yang terjadi dengan Azza?" tanya Ambar.
"Dia di perkosa ma tadi malam. Dan aku menyesal karena tidak mencarinya saja tadi malam saat ia tidak pulang ke rumah," ucap Febry.
Ambar terkejut mendengarnya. Matanya beralih menatap Azza yang meringkuk dan tampak gelisah dalam tidurnya.
Ia merasakan perih pada hatinya. Bagaimanapun juga Azza sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
"Sayang. Kamu jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Ini sudah takdirnya Azza. Hanya saja mama harap kamu selalu ada untuknya dan mendukungnya."
"Iya ma, aku juga merasa khawatir kalau Azza di tinggal sendirian di rumah. Takutnya melakukan hal yang justru membahayakan dirinya," sahut Febry.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Ambar.
"Ingin mencari lelaki brengs*k itu ma!" sahut Febry.
Ia mengepalkan tangannya dan tatapannya menajam.
"Memangnya kamu tahu rupa lelaki itu?" tanya Ambar.
Febry mengangguk.
"Tadi sewaktu kami keluar restoran dan ingin pulang. Azza menatap dua orang pemuda yang baru saja datang kesana. Ia begitu ketakutan bahkan gemetaran. Dari situ aku sudah mengira hal buruk sudah menimpa Azza," sahut Febry.
"Sayang, mencari satu orang di kota yang luas ini sulit loh, apalagi hanya berbekal ingatan saja wajah saja, tanpa tahu identitasnya."
"Mama tenang saja. Yang penting aku usaha dulu. Urusan hasil belakangan. Kan tidak ada hasil yang membohongi usaha," sahut Febry.
"Sayang, sebaiknya kamu hati-hati. Bisa saja lelaki itu adalah seorang preman ataupun penjahat," sahut Ambar khawatir.
"Aku yakin ma kalau dia bukan lelaki yang mama maksud dengan sebutan preman. Dia sepertinya orang kaya!" sahut Febry.
"Tetapi soal penjahat, dia memang penjahat kelam*n ma! Buktinya Azza yang jadi korbannya. Entah dengan gadis dan wanita yang lain," tambah Febry lagi.
"Orang kaya itu lebih berbahaya lagi. Apabila mereka tidak menyukai kita maka yang bermain adalah uang. Resikonya adalah nyawa taruhannya," sahut Ambar.
"Ma, percaya sama Febry kalau Febry pasti akan selalu menjaga diri."
Febry mengepalkan tinjunya di udara.
"Ya sudah ma, aku berangkat sekarang. Tolong jagakan Azza ya ma!"
Setelah mencium pipi Ambar, Febry segera pergi meninggalkan ibunya yang menatap kepergiaannya.
***
Di kamarnya Azza membuka matanya, menatap sekelilingnya yang terasa sepi. Memang selalu sepi tapi kali ini ia merasa lebih sepi lagi.
"Kamu sudah bangun?"
__ADS_1
Ambar menghampiri Azza, mengusap kepalanya dengan lembut.
"Ibu!" Azza langsung memeluk Ambar dengan erat. Ia merasa hangat sekarang.
"Sayang. Apapun cobaan yang kamu hadapi di dunia ini, kamu harus kuat menghadapinya karena ini sebagai bentuk ujian untukmu. Allah begitu menyayangi dirimu dan Dia ingin menaikkan derajatmu."
Tangan Ambar terus membelai rambut Azza.
"Tapi bu, Azza tidak kuat menghadapinya. Masa depan dan kehormatan Azza di renggut secara paksa dengan cara tidak hormat!"
Azza terisak di pelukan Ambar.
"Sayang. Kamu harus kuat karena kami akan selalu ada untukmu. Kami akan selalu mendukungmu."
"Lalu bagaimana dengan masa depanku, bu?"
"Sayang. Masa depan kamu akan selalu ada. Lupakan kejadian malam itu dan kamu harus memulai menata hidupmu kembali."
Azza hanya diam saja mencerna ucapan Ambar.
"Aku ingin keluar sebentar," ucap Azza tiba-tiba.
"Kamu mau kemana?" Ambar terlihat panik.
"Aku ingin mengunjungi mama dan juga ayah. Aku merindukan mereka!" sahut Azza. Ia mengusap airmatanya yang tidak pernah mau mengering.
"Sayang. Hari ini kamu istirahat saja di rumah. Kamu juga sedang tidak stabil," sahut Ambar.
"Tapi...."
"Ma, yakin sama aku kalau aku tidak akan melakukan hal yang ibu takutkan."
Ambar masih menatap ragu Azza.
"Percaya sama aku, bu. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam!"
"Baiklah kalau begitu. Tapi ibu ingin kamu di temani oleh Daniyal!" sahut Ambar.
"Bu, aku janji tidak akan macam-macam. Percaya sama aku, bu."
Azza berusaha meyakinkan dan memohon.
Ambar mengangguk dengan ragu.
***
Setibanya di pemakaman, Azza terdiam menatap makam kedua orang tuanya yang selalu terawat dengan baik. Ia berdo'a terlebih dahulu untuk keduanya.
Cukup lama ia memandangi makam itu hingga tidak menyadari kalau pipinya sudah basah oleh airmata.
"Ma, Azza malu menatap kalian berdua disini. Azza benar-benar hina sekarang. Kehormatan yang selama ini Azza jaga ternyata di nodai hanya dalam sekejap."
__ADS_1
Azza menengadah menyapu kedua belah pipinya.
"Azza tidak tahu harus seperti apa kedepannya. Bagaimana pertanggung jawaban Azza nantinya pada suami Azza. Ataukah Azza harus melajang seumur hidup?"
Tatapan Azza tampak kosong. Matanya semakin memburam.
"Seandainya bunuh diri itu halal, maka akan Azza lakukan sekarang ma. Azza tidak kuat menanggung beban ini ma!" ratapnya.
Azza terisak. Tangis yang sejak tadi di tahannya ternyata tak mampu di tahannya. Ia bersimpuh di kedua pusara ibunya.
"Ma, jangan pernah menyesal karena sudah melahirkanku. Aku yang sangat malu pada mama karena tidak dapat menjaga diriku dengan baik bahkan juga menjaga amanah papa dan mama agar selalu mampu mempertahankan kehormatan demi apapun juga."
Isakan Azza semakin nyaring membuat seorang pria paruh baya yang juga sedang berada di sana berpaling padanya.
Lelaki, yang tidak lain adalah Angga menghampirinya.
"Kenapa kamu menangis?"
Angga menyerahkan sapu tangan miliknya pada Azza yang menatapnya sekilas. Ia meraih sapu tangan tersebut dengan ragu.
"Ambillah. Hapuslah air matamu. Jangan membuang-buang airmata untuk penyesalan yang sebenarnya tidak akan pernah untuk kita kembali pada titik semula."
Azza terdiam mendengarnya. Ia menarik ingusnya hingga menimbulkan bunyi.
"Tidak ada manusia yang tidak mendapat ujian selama hidupnya. Hanya saja bagaimana mereka memghadapinya dan menjalaninya. Apakah sabar ataukah putus asa."
"Dan kamu pasti tahu hasil akhir dari ujian itu seperti apa. Bagi mereka yang sungguh-sungguh dan yakin bisa melewatinya maka mereka pasti akan menuai kebahagiaan. Tetapi bagi mereka yang menyerah dan putus asa maka akan menuai penyesalan."
"Tapi om, aku malu pada kedua orang tuaku," bibir Azza bergetar. Airmata kembali luruh.
"Tidak ada hal yang membuatmu malu kalau semua itu bukanlah kesengajaan. Bahkan orang-orang yang benar-benar suci pun terkadang juga pernah melakukan hal yang salah tanpa sengaja."
Angga menatap kearah dua makam yang ada dihadapan mereka.
"Kedua orangtuamu pasti sangat sedih melihat keadaanmu seperti ini."
Azza menatap sekilas kearah Angga, kemudian menunduk. Tangannya memilin sapu tangan tadi.
"Bagaimana kalau kamu pulang saja dan Om yang akan mengantarmu?"
Azza menggeleng.
"Ya sudah kalau begitu. Om duluan saja."
Angga mengangkat tangan dan menepuk kepala Azza lembut sekilas. Membuat Azza terperanjat dan memundurkan kepalanya. Matanya menatap kearah lelaki tua yang tidak di kenalinya sama sekali. Kemudian beralih menatap sapu tangan yang sudah basah di tangannya.
•
•
•
__ADS_1
*****