
"Anan. Siapa dia sebenarnya dan kenapa dia menyuruhku untuk menandatangi surat pengalihan harta itu? Apakah ia banyak mengetahui tentang keluargaku ataukah ia hanyalah sekumpulan orang penipu yang ingin menipu suamiku melalui diriku?"
Azza hanyut dalam pemikirannya sendiri. Ingin rasanya ia menanyakan hal ini kepada Daffa tetapi ia tidak ingin mengganggu kesibukan suaminya.
"Azza, makanlah bubur ayam itu. Jangan terlalu di pikirkan. Kamu harus memikirkan keadaan dirimu dan bayimu terlebih dahulu. Urusan orang tuamu serahkan saja pada suamimu."
Rika masuk dengan nampan di tangannya.
"Mama. Aku tidak lapar ma," sahut Azza.
"Kamu harus makan walaupun sedikit. Kasian bayimu, bagaimana dia ingin tumbuh dengan baik kalau ibunya sendiri tidak mengurus dirinya sendiri."
Azza terkejut mendengarnya. "Mama. Ma'afkan Azza. Tidak seharusnya Azza membahayakan anak kami dan bersikap egois seperti ini." Membelai perut ratanya dengan gurat penyesalan.
"Jangan minta ma'af pada mama. Yang harus kamu lakukan adalah memperbaiki dirimu dengan mengatur pola makanmu dan selalu menjaga kesehatanmu."
Azza tersenyum mendengarnya. Ia beruntung memiliki mertua sebaik Rika. Mereka selalu mrmbawanya pulang walaupun dirinya tengah terombang-ambing di tengah lautan.
"Katakan pada mama, apa yang membuatmu berpikir begitu keras? Apakah mengenai orang tua kandungmu?"
Azza terdiam mendengarnya, ada perasaan nyeri menjalar di dadanya.
"Semua orang pasti akan memikirkan hal itu apabila mereka di buang, terlebih lagi bagi aku ma, yang mengetahui semuanya setelah orang tua yang mengasuhku meninggal. Aku merasa adalah anak yang sengaja di buang. Aku hanya ingin tahu alasan apa yang membuat mereka membuangku?"
"Kamu akan menemukan jawabannya nanti setelah bertemu mereka. Jadi untuk sekarang kamu lupakan dulu masalah mereka. Dan fokus dengan kehamilanmu."
"Tapi ma, bagaimana aku tahu alasan mereka kalau aku tidak mencarinya sendiri."
Rika menggeleng. "Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup kamu banyak makan dan banyak istirahat maka biarkan suamimu yang mencarinya."
"Tapi ma...."
"Tidak ada tapi-tapian, sayang. Biarkan Daffa fokus dengan semua itu tanpa melibatkan dirimu. Dan kamu, fokuslah dengan kesehatanmu agar tidak membuat Daffa khawatir. Jangan biarkan sikapmu membuat bayi kalian merasa terbuang." Rika tersenyum.
Azza menunduk meremas kedua belah tangannya.
"Makanlah. Mama ada keperluan lain."
Azza kembali termenung mencerna ucapan mertuanya. Benar yang di katakan oleh mertuanya, dia tidak boleh egois.
***
"Daff, sewaktu aku ke rumah tahanan tadi aku tidak sengaja bertemu Aina dan Daffian."
Daffa langsung menghentikan kegiatannya, menatap kearah Zainal yang duduk di depannya bersama sopir pribadinya. Mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Untuk apa mereka datang kesana?" tanya Daffa heran.
"Mereka bilang kalau Aina mengambil sampel darah untuk di periksa di rumah sakit. Bukankah alasan itu sangat tidak logis!" ucap Zainal.
"Aku merasa ada yang sedang mereka selidiki ataukah ada kasus yang kamu tidak tahu dari mereka. Mustahil seorang dokter dari rumah sakit umum menggantikan pemeriksaan terhadap rumah sakit tentara."
"Apa yang sedang mereka selidiki, apakah berkaitan dengan bisnis papa ataukah berkaitan dengan yang lain? Kenapa aku tidak mereka beri tahu," gumam Daffa.
__ADS_1
"Bagaimana dengan hasil interogasimu? Apakah membuahkan hasil?"
Zainal mendesah. "Aku benar-benar tidak dapat apapun dari wanita itu. Ia benar-benar lupa bayi mana yang aku maksud karena saking banyaknya bayi yang sudah di jual oleh mereka."
"Apakah mereka tidak memiliki berkas yang tertinggal mengenai identitas anak tersebut?"
"Wanita itu benat-benar sulit untuk di tanyai. Ia lebih banyak bungkam Daff dan tidak mau membeberkan hal itu padaku," sahut Zainal.
"Kalau begitu, besok bawa aku menemuinya. Aku akan menanyakannya secara langsung padanya."
Zainal menatap Daffa terkejut.
"Apa kamu yakin akan ke tempat seperti itu. Bagaimana kalau beredar romur yang tidak nyaman di dengar?"
"Aku tidak perduli, apapun romur yang beredar aku akan tetap pergi kesana untuk menanayainya. Aku tidak ingin istriku terperangkap dalam kesedihannya. Terlebih sekarang ia sedang mengandung anakku. Aku tidak ingin dia dan bayiku kenapa-kenapa."
Zainal mengangguk.
"Aku juga sudah mengetahui siapa yang sudah menemui Azza siang tadi di kafe."
"Siapa dia?" Daffa penasaran.
"Dia adalah Anan pemimpin dari perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan.
Daffa terkejut mendengarnya.
"Untuk apa ia menemui istriku? Bukankah romur yang beredar selama ini mengatakan kalau dia adalah seorang pemimpin yang arogan dan sangat sombong, bahkan sangat tidak suka bertatapan dengan orang biasa, apalagi orang yang tidak di kenalnya."
"Itulah yang aku herankan. Dia memberikan Azza sebuah berkas untuk di tandatangani. Tetapi aku tidak tahu apa isi berkas tersebut. Aku pikir hanya Azza yang tahu semuanya."
"Aku sarankan padamu agar menanyainya secara halus nantinya."
"Kamu mengatakan seperti itu padaku seperti aku ingin menghukum dirinya saja," Daffa berdecih tidak suka.
Zainal terkekeh mendengarnya. "Mungkin saja kamu cemburu padanya Daff. Dia brrtemu dengan Anan tanpa meminta izin padamu terlebih dahulu. Apalagi kedekatan mereka seolah tidak biasa bagi pandangan umum."
"Kamu tenang saja, aku tahu batasan cemburu dan marah padanya."
Zainal mengangguk.
Sesampainya di kediaman mereka, Daffa langsung menuju kearah kamarnya untuk melihat keadaan istrinya.
"Sayang, kenapa melamun hem?" Memeluk Azza yang berdiri menghadap balkon.
"Apakah sekarang istriku yang manis ini sangat menyukai angin malam sehingga setiap aku pulang dia selalu berdiri disini?" tambahnya lagi.
Azza melepaskan pelukan Daffa, berbalik menghadap kearah suaminya.
"Kamu sudah pulang?"
Daffa terkekeh. "Tentu saja aku sudah pulang. Kalau aku berdiri disini, artinya aku sudah pulang, sayang," meraih wajah Azza dan mengecupnya sekilas.
"Iya-iya. Aku tahu kamu sudah pulang. Tapi tidak salahkan pertanyaanku," sahut Azza cemberut.
__ADS_1
"Sayang, jangan cemberut. Nanti wajahnya tidak manis lagi."
Azza langsung melotot mendengarnya. "Apa kamu bilang? Aku tidak manis lagi?" Mata Azza tampak berkaca.
"Hei! Hei! Aku hanya bilang tidak manis kalau kamu cemberut. Sudah, lupakan saja itu. Aku mau mandi dulu."
Azza langsung mendekap suaminya dari belakang, membaui tubuh Daffa yang berkeringat.
"Aku bau sayang, belum mandi dan penuh keringat!"
"Tidak kok. Kamu sangat harum!" sahut Azza kembali memeluk Daffa dan menempelinya. Membuat Daffa kembali terkekeh karena merasa senang.
Setelah membersihkan dirinya, Daffa dan Azza menuju kearah ruang makan. Selesai makan Azza kembali ke kamarnya sedangkan Daffa duduk bersama Daffian di ruang keluarga.
"Apa yang kamu lakukan di rumah tahanan tadi?" tanya Daffa langsung membuat Daffian berpaling padanya.
"Zainal bercerita padamu rupanya." Mendesah. "Aku hanya membantu Aina untuk melakukan tugasnya sebagai seorang dokter," sahut Daffian.
"Benarkah? Tapi kenapa kedengarannya sangat aneh."
Daffian berpaling menatap Daffa.
"Apa maksudmu dengan kata aneh itu?"
"Mana mungkin seorang dokter dari rumah sakit umum memeriksa seorang narapidana. Bukankah mereka memiliki rumah sakit tentara sendiri."
Daffian terdiam dibuatnya. Ia tidak mampu menyembunyikan kebohongannya. Bodoh.
"Katakan saja yang sejujurnya Daffi. Kamu sedang menyelidiki siapa?"
Daffian kembali terdiam.
"Aku hanya membantu Aina menyelesaikan masalah ayahnya. Hanya itu," sahut Daffi kembali fokus dengan televisi di depannya.
"Beberapa hari ini aku dengar kamu sedang menyelidiki sesuatu. Tentang apa?"
"Apakah papa yang memberitahumu?"
Daffa mengangguk.
"Beberapa hari yang lalu sebelum kalian kembali ke rumah dari bulan madu. Ada seseorang yang selalu mengintai rumah kita. Entah apa maksud darinya. Aku pernah memergokinya dan menanyainya. Apa yang dia katakan, rasanya benar-benar mustahil."
"Apa yang dia katakan?" desak Daffa.
"Dia mencari seorang wanita yang bernama Mahya disini. Bukankah itu terdengar aneh. Nyata-nyata kita tidak memiliki pembantu yang bernama Mahya," ucap Daffian terkekeh.
"Mahya?" Daffa membelalakkan matanya. Bergegas ia meninggalkan Daffian yang menatapnya dengan bingung.
•
•
•
__ADS_1
*****