
Adrian tersenyum bahagia saat mendengar Afika mempertanyakan kemana perginya.
"Rio, istriku mencariku. Kau lihat, bukan-bukan, tapi coba kau dengar dia mencariku." Ucap Adrian tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Dan Rio pun ikut bahagia, karena baru pertama kalinya melihat Adrian yang begitu sangay bahagia setelah Lion lahir.
"Aku tidak bohong kan? Dia benar-benar mencariku. Kau dengar kan?" Kata Adrian saat mendengar dan memperlihatkan cctv ke Rio.
"Iya tuan."
Begitu bahagianya Adrian sampai terus memutar menit yang sama di mana Afika bertanya kemana perginya dirinya kepada Sri.
"Tunggu aku sayang." Batin Adrian.
•••
Dua hari berlalu. Dan hingga sampai saat ini Adrian tak kunjung pulang dan juga tak memberi kabar sedikit pun.
"Afika, please jangan buat kamar ku menjadi tempat penampungan barang-barang mu." Ucap Baby meluapkan keresahannya karena selama dua hari ini, ada-ada saja barang yang di berikan oleh Adrian melalui Nadi. Ya, Nadi yang sudah di tugaskan untuk memberikan barang selama Adrian pergi.
"Jangan tanya aku Baby. Tapi tanya pada kakak mu agar tidak memberikan aku apa-apa lagi." Ucap Afika yang juga merasa resah dengan barang pemberian Adrian yang menurutnya sudah sangat banyak.
"Tapi Afika. Banyak kamar di mension ini, kenapa harus kamarku?"
__ADS_1
"Karena jika kau yang meminta pada Adrian untuk tidak memberikan aku barang, maka Adrian pasti akan mendengarkannya. Sama seperti kau meminta Adrian menikahi ku." Ucap Afika yang sontak membuat Baby terdiam karena merasa bersalah.
"Maaf." Kata Baby sambil menunduk.
"Baby. Ayo kita ke panti. Aku rindu dengan ibu dan juga Farah." Ajak Afika karena tidak menyangkah jika ucapannya mampu membuat Baby murung.
"Baiklah. Tapi aku telpon kak Adrian dulu."
"Ya, aku juga ingin mengurus barang Lion dulu."
Beberapa saat kemudian.
"Ayo kita pergi." Ajak Afika saat sudah memasukkan beberapa baju Lion ke dalam tas.
"Afika, kak Adrian tidak memberikan izin. Dia tidak memperbolehkan kita keluar dari mension. Jika rindu dengan ibu, maka Nadi akan menjemput dan membawa ibu ke sini." Jelas Baby mengutarakan apa yang Adrian tadi katakan padanya saat dirinya meminta izin.
"Berikan ponselmu."
Afika lalu menghubungi Adrian, dan baru panggilan pertama langsung terhubung.
"Aku dan Lion ingin ke panti." Kata Afika lalu memutuskan panggilan sebelum di jawab oleh Adrian, Baby yang berada di sana langsung membulatkan matanya. Tidak di sangkah, Afika ternyata memiliki sifat yang tegas dan spontan tanpa rasa takut. Ya tentu tanpa rasa takut, karena dulu pun Afika sangat berani menghadapi Adrian.
__ADS_1
"Mau ikut atau tidak? Jangan hanya berdiri saja." Kata Afika sambil menggendong Lion.
"Ikut." Ucap Baby dengan lantang.
••••
Ponselnya berdering. Adrian tahu jika yang menghubunginya saat ini adalah sang istri tercinta dan tanpa menunggu waktu lebih lama Adrian langsung menjawab.
"Ada apa sa...." Ucapan Adrian menggantung.
"Aku dan Lion ingin ke panti." Kata Afika lalu memutuskan panggilan.
"Sial! Untung saja aku cinta, kalau tidak maka mungkin sudah aku tenggelamkan." Gumam Adrian.
"Ada apa tuan? Apa ada yang membuat tuan kesal?"
"Rio, perintahkan pasa Nadi agar mengawal Afika kemana pun. Aku tidak ingin Afika dan Lion lecet sedikit pun."
"Baik tuan."
"Setidaknya, dia sudah mau menghubungi ku lebih dulu." Batin Adrian lalu tersenyum. Meski Afika hanya berkata sedikit, tapi bagi Adrian itu sudah hal yang sangat luar biasa. Dan Adrian berharap bisa lebih lagi dari ini.
__ADS_1