Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Kedatangan Eland


__ADS_3

Sungguh kamu yang utama untukku dan aku tidak akan pernah berpaling darimu, karena kamu kebahagiaan terdalamku saat melihat dirimu dalam keadaan baik-baik saja


______________________________________


"Angga, kamu sudah pulang, Nak?" Rani menyambut kedatangan Angga. Tidak biasanya Angga pulang secepat ini.


"Iya ma, Rika mana?" Mata Angga beralih menatap kearah ruang tengah.


"Dia masih di kamar. Sejak pagi tadi, dia kelihatan sangat lelah bahkan muntah berulang kali. Sepertinya kamu harus membawa dokter kandungan kesini untuk memeriksa dirinya."


Angga terkejut dibuatnya setelah mendengar penuturan mertuanya. Ia bergegas berlari kearah tangga dan melupakan tasnya yang ada di meja ruang tamu.


Rasa khawatirnya membuatnya melupakan segalanya.


Dengan perlahan Angga membuka pintu kamarnya, mengintip Rika yang berada di dalamnya. Rupanya ia sedang tidur.


"Ada apa, Angga? Kenapa tidak langsung masuk saja?" Rani berada di belakang Angga, membawakan tas kerjanya.


"Dia tidak menyukai bau badanku ma, dia pasti muntah setiap kali aku mendekat padanya, sebelum badanku di guyur air. Mandi juga tidak boleh pakai sabun," Angga mendesah.


Rani hanya tersenyum saja dibuatnya. Ia tahu seperti apa penderitaan yang dirasakan oleh Angga saat mandi tanpa sabun. Tapi ia lebih mengerti lagi dengan semua penderitaan yang dialami Rika saat berbadan dua.


"Ya sudah, sebaiknya kamu segera mandi sana. Coba kamu cari, wangi seperti apa yang di sukai Rika saat ini."


Angga mengangguk saja, ia berjalan masuk kedalam kamarnya setelah mengambil tas kerjanya. Bergegas ia masuk kedalam kamar mandi untuk menghilangkan bau anyir yang didapatnya dari pasar ikan tadi.


"Kamu sudah pulang, Mas?" Rika sudah duduk dan bersandar di kepala ranjang. Menatap kearah Angga yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Iya. Aku pulang sayang, membawakan banyak ikan untukmu." Angga berjalan mendekat kearah Rika, meraih kepalanya dan menciumnya.


"Katanya kamu tidak mau makan sejak tadi dan terus-terusan muntah. Apa kamu sedang menunggu kepala ikan?"


Rika mengangguk saja, ia menempelkan kepalanya ke dada Angga yang bidang. Membiarkan Angga memeluknya dan menciumi kepalanya sepuasnya.


Rika terlihat sangat lemah, bahkan keadaannya sangat berantakan. Angga tidak tega melihatnya seperti itu. Dia seperti orang yang sakit, tapi badannya tidak panas.


"Apa ada yang sakit?" Angga masih membelai punggung Rika dalam dekapannya. Ia menatap kearah Rika, rupanya istrinya sudah memejamkan matanya.


Dengan perlahan Angga membaringkan Rika pada ranjang yang di tempatinya. Menatap Rika yang sangat berantakan, bahkan rambutnya terlihat acak-acakan. Ia merasa sangat kasihan dan juga merasa bersalah.


Tok tok tok


Angga berjalan kearah pintu kamarnya, membukanya. Tampak Rani sedang berdiri dan menatap kearahnya. Ia melongok sesaat untuk melihat keadaan anaknya.


"Ikan milikmu sudah datang, memangnya untuk apa ikan sebanyak itu?" tanya Rani karena ia merasa heran dengan ikan-ikan itu.


"Rika yang menginginkannya," sahut Angga sambil berjalan menapaki anak tangga.


"Sebanyak itu?" heran Rani lagi.


"Apa ada yang salah?" tanya Angga balik. Mereka sudah sampai didepan pintu belakang. Seluruh pembantunya tampak sibuk mengangkut ikan-ikan tersebut dari pintu belakang mansionnya.


"Masak kepala ikan-ikan itu sesuai dengan permintaan nyonya!" Perintah Angga pada chefnya.


"Baik, Tuan!" Menunduk hormat dan segera memasak kepala ikan segar tersebut.


Rani mendatangi chef tersebut dan memperhatikan pekerjaannya.

__ADS_1


"Buatkan sambal kuahnya tanpa bawang merah dan bawang putih. Dia akan muntah setiap kali mencium baunya."


Chef tersebut mengangguk mendengar perintah mertua Tuannya.


Semua pelayan di mansion tersebut sangat senang saat melihat Angga pertama kali datang membawa Rika. Mereka sangat menyukai nyonya besarnya karena sangat ramah dan baik. Bahkan tidak segan-segan membantu pekerjaan mereka. Hanya saja mereka yang merasa enggan karena tidak pantas bagi Rika untuk melakukan pekerjaan tersebut.


Terlebih lagi untuk saat ini, mereka juga sangat senang ketika mendapat kabar gembira mengenai kehamilan Rika. Maka mansion tidak akan pernah sepi lagi.


"Ma, ada sesuatu yang ingin Angga bicarakan." Angga berjalan menghampiri Rani yang masih berada di ruang dapur.


Seluruh pelayan yang ada disana segera menunduk hormat. Tidak menghilangkan rasa keheranan mereka, karena seumur hidup mereka baru kali ini Angga memasuki ruang dapur tersebut.


"Owh, ayo!" sahut Rani. Ia menatap kearah Angga. Ada gurat kegelisahan yang tergambar disana.


"Ada apa?" tanya Rani setibanya mereka di ruang keluarga. "Sepertinya ada hal serius yang ingin kamu sampaikan."


Angga mendesah frustasi, ia menyugar rambutnya kebelakang. Menatap kearah Rani dengan tatapan dalam.


"Tentang pernikahanku dengan Rika." Ada jeda sesaat disana, ia beralih menatap kearah dinding dengan tatapan kosong saat mendapati Rani yang semakin penasaran.


"Ada apa memangnya dengan pernikahan kalian?" Rani terlihat gelisah. Ia takut kalau Angga akan mencampakkan anaknya setelah semua ini terjadi. Tapi ia tidak yakin dengan semua itu setelah melihat sikap Angga yang berubah drastis dalam memperlakukan Rika.


Rani memang selalu tidak tahu dengan semua permasalahan yang dihadapi anaknya karena mereka menutup rapat semuanya. Bahkan soal penculian Rika pun mereka sembunyikan.


"Aku ingin mengadakan ulang tahun pernikahan kami yang kedua," sahut Angga.


"Itu bagus, tapi apakah ada hal lain yang sedang kamu sembunyikan dari ibu?"


Pertanyaan Rani membuat Angga semakin terlihat gelisah dan serba salah. Haruskah ia menceritakan semuanya dari awal.


Tidak. Ia tidak akan menceritakan pada mertuanya. Ia tidak yakin kalau mertuanya tidak akan murka padanya, terlebih lagi setelah kematian suaminya saat di penjara.


Rani tampak bernapas lega setelahnya. Ia pikir ada masalah yang serius yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya.


"Ya sudah, sebaiknya kamu atur saja perayaannya." Tersenyum menatap kearah Angga yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.


Ting tong


Suara bel membuyarkan percakapan mereka. Seorang asisten rumah tangga bergegas berjalan kearah pintu. Membukanya dan menatap haru kearah luar.


"Ada apa?" tanya Angga setelah melihat keterdiaman pelayannya.


"Angga! Papa datang, Nak. Kamu memang anak bodoh dan kurang ajar!" Eland masuk menerobos melewati pelayan yang masih menatap dirinya. Berjalan kearah Angga, menubruknya dengan pelukan. Menjewer telinga setelahnya.


"Kamu anak nakal ya," geramnya.


"Aduh... duh... sakit pa, jangan tarik telingaku!" Angga menahan tangan papanya yang menjewer telinganya, walaupun sebenarnya tidak sakit.


Sedangkan Rani berdiri dan menghampiri mereka. Ia menatap heran kearah pria tua yang ada dihadapannya tersebut. Menatap berulang kali wajah Angga dan Eland secara bergantian untuk menilai keduanya.


"Tuan Eland? Anda masih hidup?" Kepala pelayan datang menghampiri mereka setelah mendengar sedikit kegaduhan. Ia tampak terharu karena Tuannya ternyata masih hidup. Lalu siapa yang sudah di kuburkan tersebut.


"Iya. Aku masih hidup. Ma'af membuatmu kecewa karena sudah menemukan fakta yang sebenarnya," Eland berpaling menatap kearah kepala pelayan tua tersebut.


"Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu dan juga ada banyak hal yang ingin aku dengarkan darimu," ucap Eland sambil mendelik kearah Angga.


Kepala pelayan hanya mengangguk saja, menyeka ujung matanya yang berair dengan tangannya karena saking terharunya.

__ADS_1


"Kenapa papa tidak mengabariku sebelumnya kalau papa ingin kesini?" Angga berjalan kearah kursi yang sempat ia duduki bersama mertuanya tadi.


"Apa aku harus melapor dahulu padamu seperti bawahan dan suruhanmu?" menatap Angga dengan jenaka.


Angga tampak salah tingkah. Ia tahu kalau papanya selalu menjawab semua ucapannya.


"Setidaknya aku akan menyiapkan kamar untuk papa dan juga penyambutan."


"Papa tidak perlu disambut dengan meriah. Dan juga, kalian bisa membersihkan kamar dalam sekejap dengan semua pelayan yang kamu miliki," sahut Eland. Ia beralih menatap kearah Rani yang sejak tadi hanya diam saja memperhatikan perdebatan mereka.


"Inikah besanku?" tersenyum sangat ramah sambil menatap kearah Rani.


"Iya," sahut Rani singkat saat menyadari kalau pertanyaan itu di ajukan untuknya. Matanya beralih menatap kearah Angga. Ada banyak pertanyaan yang ingin di utarakannya pada Angga. Setahunya kalau Angga adalah seorang yatim-piatu, tidak punya orang tua.


Lalu, apa yang sedang terjadi sekarang. Dihadapannya sudah duduk seorang pria tua dengan wajah yang sangat mirip dengan Angga. Hanya bibir dan matanya yang sedikit membedakan.


"Nanti akan Angga jelaskan!" Sahut Angga yang mengerti dengan kebingungan mertuanya. Ia tahu kalau semuanya akan terbongkar juga.


"Baiklah. Kalian bicara saja berdua untuk melepaskan kerinduan."


"Aku ingin melihat masakan tadi, apakah sudah jadi atau belum." Rani berdiri dan meninggalkan keduanya.


"Angga, jelaskan pada papa, apa yang sebenarnya terjadi?" Suara tegas Eland mengisi ruangan yang hanya ada mereka berdua.


"Mengenai apa, Pa?" Angga pura-pura tidak mengerti.


"Jangan pura-pura tidak tau kamu! Tentu saja mengenai rumor kamu dan wanita yang di beritakan itu!" Eland kesal dengan sikap Angga yang tidak tegas.


"Apa benar kamu menyelingkuhi menantuku!" Eland menatap garang kearah anaknya.


Angga terperanjat dibuatnya. "Tidak, Pa. Angga tidak seperti itu," menggeleng dengan kuat.


"Baguslah kalau begitu," sahut Eland santai sambil bernapas lega.


"Sebaiknya papa istirahat dulu. Kamar papa yang dulu sudah di bereskan." Angga menatap kearah kepala pelayan yang berjalan kearah mereka.


"Kamu selalu pintar mengalihkan pembicaraan. Tapi kamu tidak akan pernah lepas dari permasalahan yang menjeratmu, sebelum kamu menyelesaikannya," Eland melirik kearah pelayan yang berdiri di sisi kanannya agak sedikit kebelakang.


"Baiklah! Papa akan istirahat dulu. Rasanya papa sangat lelah dan pusing." Eland berdiri.


"Nanti, pembicaraan ini akan kita sambung lagi, karena belum selesai," Eland berbalik berjalan mengikuti pelayan.


Baru beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Angga yang masih pada posisinya.


"Dimana menantuku, sejak tadi aku tidak melihatnya?"


"Jangan bilang kalau dia sedang kabur karena mengetahui kamu sedang selingkuh, Angga."


"Dia sedang istirahat pa di kamar, dan Angga benar-benar tidak selingkuh," sahut Angga.


Eland hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya kearah kamar miliknya dulu. Sudah sangat lama ia menghilang dari mansion tersebut dan semuanya sama sekali tidak berubah. Ternyata Angga masih mempertahankan barang-barang lama tersebut.




▪︎

__ADS_1


********


__ADS_2