Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Ngidam


__ADS_3

"Sayang, kamu sudah bangun? Ini baru jam 3 subuh, sayang," Daffa segera duduk melihat Azza yang menutup wajahnya dengan tangannya.


"Iya. Tidak bisa tidur lagi soalnya perutku mual sekali. Aku ingin makan sesuatu seperti kacang kulit yang di rebus atau yang di oven."


Daffa melongo mendengarnya.


"Aku akan mencarinya di dapur, mungkin saja ada kacang seperti yang kamu minta." Bergegas Daffa berdiri dan berjalan keluar kamar mereka.


"Kemana aku harus mencarinya sepagi ini, apakah ada toko yang masih buka." Daffa sudah memeriksa setiap isi kulkas dan lemari tetapi tidak ada makanan yang di carinya.


"Daff, kamu sedang apa di dapur? Selain berisik kamu juga membuat dapur sangat berantakan." Rika berjalan kearahnya.


"Azza ingin makan kacang tanah ma yang di rebus. Tetapi tidak ada di dapur. Aku pikir aku harus keluar mencarinya."


Rika terkekeh mendengarnya. "Wanita ngidam memang seperti itu. Keinginannya pada sesuatu bisa muncul kapan saja, tidak kenal waktu."


"Pergilah, mencarinya sebelum Azza berubah pikiran. Urusan dapur biar mama dan bibi yang bereskan."


Daffa segera meraih kunci mobilnya dan keluar untuk mencari makanan yang di inginkan oleh istrinya.


Ia melaju kearah supermarket yang buka dalam waktu 24 jam. Beruntungnya ia berada di kota besar sehingga mudah membeli sesuatu di saat yang tidak terduga.


Daffa memborong kacang kulit dengan berbagai rasa, bahkan ia seperti seorang pedagang yang ingin kembali berdagang saja.


"Sayang. Kacang kulitnya sudah datang!" Daffa membuka pintu kamarnya tetapi tidak mendapati keberadaan Azza disana.


Dari kamar mandi ia mendengar suara Azza yang sedang muntah, bergegas ia menghampirinya. Menggosok tengkuk Azza dengan lembut.


"Kenapa kamu muntah?" Panik Daffa.


"Perutku mual sekali," ucap Azza setelah membasuh mulutnya.


"Ayo kita ke ranjang lagi, kacangnya sudah datang." Daffa menggendong Azza dengan perlahan.


Baru saja Azza duduk, ia sudah bergerak ingin ke kamar mandi lagi.


"Mau kemana? Mual lagi?"


Azza mengangguk.


"Minum dulu," menyodorkan segelas air minum. Azza segera meminumnya dan menahan mualnya.


"Ini kacangnya, buar aku yang kupaskan. Kamu suka rasa apa?" tanya Daffa.


"Yang tidak ada rasanya, original saja Daff."


Daffa mengangguk dan segera mengupaskan untuk istrinya sekaligus menyuapinya.


"Bagaimana? Apakah masih mual?"


Azza menggeleng.


"Sepertinya perutmu mual karena tidak terisi makanan."

__ADS_1


"Mungkin," sahut Azza sambil mengunyah kacangnya. "Kamu mau?" tawarnya. Daffa menggeleng.


"Aku tidak biasa bangun sepagi ini hanya untuk makan kecuali saat sahur di bulan puasa," sahut Daffa membuat Azza terkekeh karenanya.


"Ini anak kamu yang minta loh. Ma'af ya sudah merepotkanmu!"


"Bukan apa-apa, sayang. Kamu adalah istriku dan wajar saja kamu selalu bergantung padaku. Artinya kamu selalu menghargaiku sebagai seorang suamimu."


Azza langsung memeluk Daffa dan menguselkan kepalanya di dada Daffian. Membaui tubuh Daffa yang terasa candu baginya.


"Sayang... aku ingin kamu menyanyi sebuah lagu untukku," pinta Azza manja.


Daffa membulatkan matanya menatap kearah istrinya yang sejak tadi mengusel-uselkan kepalanya di dadanya.


"Kamu tidak ingin tidur lagi?" Daffa mengalihkan pembicaraan, sengaja menghindar.


"Aku belum ngantuk. Mungkin dengan kamu nyanyi aku bisa kembali tidur."


"Sayang, aku tidak bisa nyanyi. Bisa-bisa nafasku untuk besok justru keluar semua pada hari ini," sahut Daffa.


"Ayolah sayang, hanya selirik saja atau sekata dua kata juga boleh," pinta Azza sekali lagi.


Daffa menatap sesaat kearah Azza, tangannya terulur mencubit pipi Azza yang tampak tembem. Ia tidak tega menolak keinginan istrinya.


"Iya. Iya. Aku akan nyanyi!" sahut Daffa mengalah.


Ia berdehem beberapa kali untuk mengatur volume suaranya. Sumpah. Ia tidak pernah menyanyi dalam seumur hidupnya dan apa kabar kalau ia menyanyi sekarang? Jangan-jangan Azza pingsan karena mendengar suaranya saat menyanyi.


Azza tampak berpikir, ia kembali melirik kearah Daffa dengan senyum tipisnya.


"Lagu bangun tidur saja, sayang!" ucap Azza dengan tersenyum senang.


"Lah... itukan lagu anak-anak, sayang!"


"Yang minta lagu orang dewasa siapa?" tanya balik Azza.


Daffa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus nyanyi seperti apa karena ia tidak hafal sama sekali lirik lagu tersebut. Apalagi lagi itu pernah di dengarnya sewaktu ia masih sekolah di taman kanak-kanak dulu.


"Baiklah! Dengarkan baik-baik ya!" ucap Daffa.


Azza mengangguk cepat dan duduk dengan tegap. Wajahnya tampak berseri-seri karena senang. Ia seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.


"Bangun tidur kuterus mandi....


Tidak lupa mengecup pipi....


Habis mandi nina bobo lagi....


Membersihkan tempat tidurku....


Bantal guling justru bau pesing....


Azza melotot kearah Daffa.

__ADS_1


"Sayang! Kenapa kamu menciptakan lagu baru?" ucap Azza kesal. "Aku hanya minta lagu bangun tidur, lalu ini lagu apa namanya?"


"Apakah salah?" Daffa menggaruk kepalanya sekali lagi di iringi sebuah kekehan.


"Tidak salah sayang tapi tidak ada yang benar semuanya!"


"Aku tidak ingin nyanyi lagi ya, sayang. Aku hanya ingin nina boboin kamu," pinta Daffa mengerling nakal.


Daffa mengecup pipi Azza dan melum*t sekilas bibir wanita yang tampak mayun di depannya. Wanita itu sungguh lucu, setiap saat dia selalu meminta Daffa untuk menyanyi. Entah akan seperti apa anak yang ada dalam kandungannya nanti.


"Sayang, aku hamil loh!" ucap Azza di sela ciuman mereka.


"Aku tahu sayang, aku akan pelan-pelan melakukannya. Kalau sakit kamu bilang padaku ya!" pinta Daffa.


Azza hanya mengangguk. Setelahnya mereka kembali meneruskan kegiatan panas mereka.


***


"Daff, kenapa mukamu kusut begitu?" Daffian sudah duduk tenang di meja makan.


Rika terkekeh mendengarnya.


"Dia kurang tidur Daffian. Semalam istrinya minta kacang kulit padanya dan di dapur tidak ada persediaan sama sekali."


"Jadi, kamu yang berangkat pagi-pagi sekali? Aku pikir papa yang lagi ada urusan dadakan," gumam Daffian.


"Sekarang aku harus siaga Daffian, bisa saja istriku meminta sesuatu yang lain lagi tepat di tengah malam," sahut Daffa.


"Azzanya kemana Daff? Apakah masih tidur?" tanya Rika.


"Tidak ma, dia tidak bisa bangun pagi ini. Katanya perutnya mual sekali."


"Wanita hamil memang seperti itu, sebaiknya kamu berikan bubur hangat ini untuk istrimu, untuk meredakan rasa mualnya."


"Iya ma," Daffa segera ke kamarnya membawa semangkuk bubur yang ada di nampan.


"Kenapa kamu sepagi ini sudah bangun? Tidak biasanya pagi-pagi begini sudah duduk di pantry." Rika menatap Daffian. Membuat Daffian salah tingkah.


"Ketahuan ya ma?" Daffian terkekeh.


"Sepagi ini kamu juga sudah kelihatan sangat rapi. Memangnya kamu mau kemana, Daffian?" Rika kembali memperhatikan Daffian sekali lagi. Ia baru menyadarinya.


Daffian menyeruput kopi yang ada di cangkirnya. Rika kembali sibuk membantu bi Mini untuk menyiapkan sarapan mereka.


"Kerumah Aina, ma. Hari ini aku akan menjemputnya sekaligus mengantarnya ke rumah sakit."





*****

__ADS_1


__ADS_2