
Keesokan harinya. Tim dokter masuk memperiksa keadaan dokter. Adrian yang memang sejak awal langsung mengubungi dokter dan memberikan perintah agar Afika bisa di rawat dengan sangat hati-hati. Saat tim dokter masuk. Baby menatap satu perawat yang berada di samping dokter. Perawat yang mengenakan masker itu terus saja menatap ke arah Afika. Tatapan mata yang siapa pun melihat pasti akan tahu, jika tatapan itu adalah tatapan penuh cinta dan juga rasa khawatir. Dan, Baby tahu jika di balim masker itu adalah wajah sang kakak. Mata, alis, semua mirip dengan Adrian. Terlebih lagi dengan postur tubuh serta Baby melihat ke arah sepatu. Baby menarik bibirnya membuat seutas senyum. Demi untuk bertemu dengan Afika, Adrian rela menyamar. Ya, pria di balik masker itu adalah Adrian. Yang tak habis akal. Karena Afika terus menolak ingin bertemu dengannya, maka dari itu Adrian memutuskan untuk menjadi bagian dari tim dokter yang merawat Afika.
Saat salah satu doktet ingin memeriksa kondisi Afika dengan meletakkan stetoskop di dada Afika. Spontan Adrian langsung menahan lengan sang dokter, hingga membuat Afika nampak bingung. Adrian menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar dokter tidak memeriksa Afika.
Baby langsung berdiri.
"Dok, jangan dengarkan ucapan perawat baru. Tolong periksa keadaan Afika." Ucap Baby sambil seraya bersorak dalam hati. Baby tahu, jika saat ini Adrian tidak ingin satupun pria yang mencoba menyentuh Afika. Dokter pun melanjutkan tugasnya. Hingga beberapa saat kemudian, saat semua dokter telah keluar, Adrian mala tetap tinggal di dalam ruangan.
"Perawat yang semalam saat ini sedang off. Jadi yang bertugas saat ini adalah dia." Kata Baby menjelaskan pada Afika yang saat ini sedang diam namun tatapannya terus menatap pria yang menyembunyikan wajahnya di balik masker. "Aku keluar dulu Afika. Ada hal yang harus aku urus." Pamit Baby, membiarkan kedua orang ini berada di dalam satu ruangan. Baby berharap Afika dapat mendengar perminta maafan dari Adrian. Dan Baby pun berharap semoga Adrian tidak berkata kasar pada Afika.
Saat Baby keluar. Afika sibuk membaca majalah. Namum Afika merasa risih karena merasa jika saat ini dirinya sedang di perhatikan. Afika kemudian meletakkan majalahnya lalu menatap pada Adrian. Adrian yang ketahuan langsung memilih menundukkan kepalanya. "Kenapa kau melihatku? Apa ada yang salah?" Tanya Afika. Adrian hanya diam saja. Ia tidak mungkin berbicara karena pasti Afika langsung dapat mengenali dirinya saat Adrian mengeluarkan sepatah katapun. "Kenapa hanya diam saja?" tanya Afika sehingga membuat Adrian membunyikan jari jemarinya. "Lihatlah infusku sepertinya tidak berfungsi dengan baik." Ucap Afika dan membuat Adrian masih diam, namun kali ini Adrian sangat gelisah, karena Adrian tidak tahu menahu tentang infus ataupun merawat seseorang. "Auhh." Ringis Afika sehingga spontan Adrian berdiri.
"Afika, kau baik-baik saja?" Ucap Adrian sehingga membuat Afika terdiam. Kini kecurigaan Afika benar adanya. Afika tahu, jika perawat di balik masker itu adalah Adrian.
__ADS_1
"Keluar! Keluar sekarang juga." Teriak Afika sambil melempar majalah ke arah Adrian. Dan, bukannya keluar, Adrian justru berjalan perlahan ke arah Afika.
"Maafkan aku. Maaf. Maaf karena sudah berlaku kasar padamu."
"Keluar!"
"Afika, maafkan aku. Aku salah, aku bod*oh. Maaf." Kini Adrian tengan berdiri tepat di samping Afika membuat Afika begitu muak melihat wajah Adrian.
"Keluar!" Sentak Afika yang begitu sangat emosi sehingga spontan menarik cairan infusnya dan melempar wajah Adrian. Adrian yang berada di sana sama sekali tidak bergeming sehingga cairan infus itu tepat mengenai wajahnya. Bagi Adrian ini adalah hal yang sepeleh, mengingat dirinya lebih kejam dari apa yang barusan ia dapatkan. Adrian merasa Afika berhak melukainya agar bisa mendapatkan maaf dari Afika. Secara bersamaan infus yang berada di tangan Afika langsung mengeluarkan darah. Adrian yang begitu sangat panik langsung menekan tombol agar dokter datang.
"Pergi! Keluar kau Adrian. Pergi!"
Adrian yang panik langsung merobek bajunya dan membaluti tangan Afika. Lalu Adrian memeluk tubuh Afika tanpa menghiraukan pukulan demi pukulan yang di layakan oleh Afika padanya.
__ADS_1
"Lepaskan aku Adrian, lepaskan. Hikkssss, hikkksss, hikkkksss lepaskan." Ucap Afika.
"Pukul aku, pukul! Jika itu bisa membuat mu tenang." Ungkap Adrian sambil terus memeluk erat tubuh Afika. "Maafkan aku Afika." Lirih Adrian dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.
"Lepaskan! Lepaskan aku Adrian. Aku benci kamu, B E N C I!"
Tim dokter langsung masuk ke dalam ruangan.
"Jangan ada yang berani menyentuhku. Aku tidak ingin di obati selama pria ini ada di dalam ruangan ini." Ucap Afika membuat tim dokter terdiam di tempat. "Lebih baik aku mati, dari pada harus melihat wajah pria ini." Lanjut Afika.
DUARR.... Bak di sambar petir di pagi hari. Adrian sungguh tercengang mendengar ucapan Afika. Yang lebih memilih mati dari pada melihat dirinya. Pelukan yang awalnya begitu erat kini mulai merenggang. Adrian perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Afika. Sponta Afika langsung melayangkan tamparan ke pipi kiri Adrian.
PLAK..
__ADS_1
Adrian tetap tidak bergeming, ia masih menatap wajah Afika. Tatapan mata mereka sama sama menyelam. Baik Adrian atau pun Afika, keduanya sama-sama mengeluarkan air mata. "Aku benci kamu Adrian!"