
Pagi harinya, Azza terlihat sibuk di dapur bersama bi Mini menyiapkan sarapan buat keluarga Angga. Sesekali matanya menatap kearah ruang makan seperti mencari-cari keberadaan seseorang.
Bahkan tadi malam, setelah ucapan Daffa padanya, Azza sama sekali tidak dapat memejamkan matanya barang sedetikpun.
"Pagi!" Daffa datang dari arah belakang Azza, membuat wanita itu terkejut karena terlalu asyik dengan lamunannya.
"Kenapa? Kamu melamun?" tanya Daffa.
Mata Azza menatap ke sekeliling mereka.
"Bi Mini sedang keluar, ada sesuatu yang harus dia kerjakan," ucap Daffa yang mengerti tatapan Azza.
"Ada apa?" tanya Azza saat Daffa tidak mau menyingkir dari hadapannya.
"Tolong kamu pasangkan dasi untukku!" perintah Daffa.
Azza meneguk ludahnya kasar, itu artinya jaraknya dan Daffa akan semakin dekat.
"Tapi aku tidak bisa!" tolak Azza.
"Ayolah. Kamu pasti bisa. Hanya saja kamu belum mempraktekkannya secara langsung."
Daffa semakin mendekat kearah Azza. Bahkan ia merapat dan menghimpit tubuh Azza kearah pantry.
"Baiklah! Aku akan memasangkannya untukmu. Tapi jaga jarak dariku!" pinta Azza.
Daffa menurut, ia tersenyum tipis dan menjauhkan dirinya sejengkal dari Azza.
Dengan ragu Azza meraih dasi milik Daffa dan memasangkannya, bahkan tangannya terasa bergetar. Keringat dingin muncul di dahinya.
"Jangan menahan napasmu seperti itu. Kamu bisa mati tidak bernapas," goda Daffa.
Tangan Daffa menyentuh dahi Azza dan menyeka keringatnya dengan sapu tangan miliknya. Membuat wanita itu menutup matanya rapat-rapat karena refleks.
"Hei. Aku tidak bermaksud menciummu, hanya menyeka keringatmu saja. Jangan gugup seperti itu. Dan buka matamu."
Azza menunduk, ia segera melepaskan tangannya dan menjauh dari Daffa. Lelaki itu begitu pandai membuat dadanya bergetar hebat. Perasaan gugup dan takut bercampur aduk menjadi satu.
"Apa yang sedang kamu masak?" Daffa berada tepat di belakang Azza. Hembusan napasnya begitu terasa menggelitik di tengkuk Azza, karena rambutnya yang di cepol asal olehnya.
Azza berbalik, bermaksud ingin mendorong Daffa agar menjauh darinya. Tapi hal yang lain justru terjadi. Wajah mereka bersentuhan, bahkan bibir mereka hanya berjarak beberapa centi meter saja.
Azza dan Daffa menahan nafas secara bersamaan, tatapan mereka kembali berpaut.
"Eheemmm... aku mencium aroma yang lain di dapur. Seperti aroma cinta-cintaan!"
Daffa dan Azza segera tersadar dan menjauhkan diri masing-masing. Daffa menatap horor kearah Daffi yang mengganggu acaranya bersama Azza.
"Kalau kalian ingin mesra-mesraan, jangan disini, tapi di kamar. Kasian bi Mini tidak bisa memasak karena takut mengganggu waktu kalian berdua. Lalu, kapan sarapannya?" ucap Daffi.
Daffa menatap Azza yang sudah menjauh darinya. Dan sibuk dengan kegiatannya di meja makan. Bahkan wajah wanita itu tampak menggemaskan karena rona pipinya yang masih ada.
"Azza, bagaimana kalau siang nanti kamu mengantarkan makan siang buat Daffa di kantornya?" tanya Rika saat mereka sudah duduk mengelilingi meja makan.
"Tapi ma...."
"Tidak apa-apa sayang, nanti mang Udin yang akan mengantarmu," sahut Rika cepat.
Azza mengangguk sambil matanya melirik kearah Daffa yang sibuk dengan makanannya.
"Aku berangkat ma," ucap Daffa selesai ia sarapan.
"Azza, antar suamimu ke depan pintu!" perintah Rika saat ia mendapati Azza yang juga sudah selesai sarapan.
Azza menatap sekilas kearah Daffa dan mengangguk samar. Ia berjalan menunduk sambil mengikuti langkah Daffa.
__ADS_1
"Aduh...," Azza menggosok dahinya saat menabrak sesuatu yang terasa keras, ia mengongak. Rupanya dada Daffa yang di tabraknya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk berjalan di belakangku?" tanya Daffa.
Azza menggeleng samar.
"Berjalan di samping aku saja karena kamu adalah pendamping hidupku."
Daffa menarik lengan Azza dengan lembut membuat Azza memberontak sesaat.
"Tidak akan terjadi apa-apa padamu, aku juga tidak akan menyakitimu lagi," melepaskan tangannya.
"Sebaiknya siang nanti kamu tidak perlu membawakanku makan siang. Aku bisa makan di luar."
"Tapi...."
"Tapi apa Azza? Aku tidak mau membuat kamu merasa terpaksa melakukan sesuatu untukku."
"Aku berangkat dulu!" Daffa menyodorkan tangan kanannya yang di sambut ragu oleh Azza. Azza berdiri terpaku menatap Daffa yang sudah menghilang di balik mobilnya.
Ia melangkah gontai masuk ke kediaman Angga, melewati Rika yang sedang duduk di ruang tamu.
"Azza, ada apa denganmu? Apakah Daffa menyakitimu lagi?" tanya Rika.
Azza menggeleng, ia berjalan menghampiri Rika.
"Ma, apakah Azza salah pada mas Daffa apabila Azza selalu menghindar darinya?"
Rika tersenyum. "Apa yang membuatmu menghindar darinya? Apakah ia masih memperlakukanmu dengan buruk?"
Azza menggeleng.
"Lalu?" tanya Rika.
"Azza juga tidak tahu ma, Azza hanya merasa takut saja dengan mas Daffa. Setiap kali dia mendekat padaku, setiap kali juga aku merasa kalau dirinya ingin berbuat sesuatu padaku."
"Lalu, Azza harus bagaimana?"
"Kamu harus melayaninya dengan baik karena kamu juga mempunyai kewajiban sebagai seorang istri."
"Ingat sayang, rumah tangga akan harmonis apabila ada kekompakkan di antara keduanya. Menjalankan tanggung jawab dan kewajiban secara ikhlas. Walaupun kalian menikah tanpa cinta tapi kalian sudah di satukan dalam ikatan pernikahan yang sakral."
"Lupakan masa lalumu waktu itu, belajar untuk membuka lembaran baru bersama suamimu."
Azza hanya diam saja mencerna ucapan mertuanya. Mampukah ia berbuat seperti yang di minta oleh mertuanya, sedangkan dirinya selalu di bayangi oleh malam ktelam tersebut.
"Oh iya. Nanti selepas kamu memasak ada hal yang ingin mama sampaikan padamu mengenai suamimu."
"Baik ma!"
***
Siangnya, Azza sudah duduk bersama mertuanya.
"Azza, mama akan menyampaikan semua ini padamu, karena mama pikir sudah waktunya. Mama harap kamu benar-benar ikhlas mau hidup dengan Daffa dalam membentuk rumah tangga yang sempurna."
Azza menatap Rika dengan intens.
"Sebenarnya Daffa sudah memiliki istri. Dan kamu adalah istri keduanya."
Deg.
Azza membelalakkan matanya, ia begitu terkejut mendengar kabar ini. Ia pikir kalau Daffa masihlah bujangan kalau di lihat secara fisik dan dari segi umur. Ia menunduk sesaat, meremas tangannya. Ia merasa tidak terima dengan keadaannya sekarang yang menjadi seorang pelakor. Orang ketiga dalam rumah tangga Daffa.
Apa yang harus ia katakan pada istri Daffa seandainya ia tahu? Pikiran Azza berkecamuk. Perasaan benci muncul seketika di benaknya.
__ADS_1
"Kalau Daffa sudah menikah kenapa mama merestui aku menjadi yang kedua, ma?" tanya Azza lemah, matanya memerah.
"Karena Daffa harus bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah di lakukannya. Seorang lelaki sejati harus bisa memikul tanggung jawab dengan baik."
"Itu bukan alasan ma. Ia bisa saja tidak perlu menikahiku. Dan sekarang aku menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka!"
Bibir Azza bergetar.
"Azza, setiap istri kedua itu tidak selalu salah dan tidak selalu pelakor. Ada banyak hal yang menyebabkan seorang suami menikah lagi bahkan mereka terkadang bisa hidup rukun satu sama yang lainnya."
"Tapi ma, tetap saja aku di mata orang lain salah dan di pandang sebagai seorang pelakor. Apalagi di mata istri pertamanya, pastilah ia menyalahkanku sebagai perusak rumah tangganya."
"Lalu alasan apa yang harus kuberikan pada istri pertamanya seandainya ia bertemu denganku?"
"Sayang, rumah tangga mereka tidak harmonis sejak awal dan ada sebabnya kenapa Daffa sampai mabuk dan melakukan semua itu padamu."
"Tetap saja itu bukan alasan ma untuk Daffa menyakiti diriku dan merenggut kehormatanku secara paksa!"
"Iya. Semua itu memang tidak di benarkan. Tetapi penyebab semua itu terjadi juga karena istrinya."
"Mama tidak bisa membeberkan masalah mereka di hadapanmu. Karena ini masalah mereka berdua. Dan tugasmu disini adalah untuk membahagiakan suamimu dan buat juga dirimu bahagia."
"Tapi ma, Daffa adalah suami orang!" sahut Azza merasa keberatan.
"Dia memang suami orang Azza, tetapi sekarang kamu juga istrinya. Kalaupun kamu ingin tahu sesuatu, tanyakan saja padanya langsung!"
"Bangun komunikasi diantara kalian berdua."
"Ma'af ma. Aku tidak bisa. Aku menikahi Daffa juga karena kesalahan dan hari ini aku juga harus mendengarkan kebenaran yang lainnya."
"Azza, mama mohon. Tolong kamu bahagiakan Daffa, karena dia sudah tersakiti begitu dalam. Selami dirinya maka kamu akan mengerti isi hatinya."
"Ma, mas Daffa tersakiti tetapi aku lebih tersakiti lagi ma!"
"Iya. Mama tahu sayang tapi sekarang kamu adalah istrinya. Jadi bertanggung jawablah sebagai seorang istri yang baik pada suaminya."
"Cobalah kalian menjadi penawar satu sama lainnya."
Azza terhenyak mendengarnya, tangannya menggulir cincin yang ada di jari manisnya. Haruskah ia melakukan hal yang bertentangan dengan hati nuraninya.
Sesuai dengan janjinya, Azza terpaksa mengantarkan makan siang untuk Daffa. Selama dalam perjalanan ia terlihat melamun saja bahkan tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di depan gedung milik perusahaan Galuh Sari.
"Nona, kita sudah sampai!" ucap mang Udin setelah membukakan pintu.
Azza masih bergeming, ia tetap pada lamunannya membuat mang Udin menggaruk tengkuknya.
"Nona! Kita sudah sampai!" ucap mang Udin dengan cukup keras.
Azza tersentak. Ia menatap sekelilingnya. Mata terpaku melihat gedung yang megah di depannya.
"Kita dimana, mang?" tanya Azza.
"Kita sudah sampai di tempat tuan Daffa bekerja!" sahut mang Udin.
Azza hanya mengangguk saja sambil keluar dari mobil dengan membawa rantang di tangannya.
"Mari saya antar ke ruangan tuan Daffa!"
Azza kembali mengangguk. Ia mengikuti langkah mang Udin yang memasuki lobi. Dan menunggunya saat mang Udin berbicara dengan resepsionis. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
•
•
•
__ADS_1
****