
"Pria misterius itu lagi, apa yang sedang di lakukannya disini?" Daffian menghentikan mobil miliknya tidak jauh dari lelaki misterius yang menatap kearah rumah mereka di balik pagar.
"Azza? Dia memotret Azza!" terkejut. "Apa yang di lakukannya!" marah.
Bergegas ia turun dari mobil dan menghampiri lelaki tersebut.
"Hei! Apa yang srdang kamu lakukan disini!?"
Pria misterius tersebut terkejut dan menatap kearah Daffian yang menatap dirinya dengan emosi.
"Kenapa kamu mengambil gambarnya diam-diam? Apakah kamu sedang mengintainya?" Daffi menunjuk kearah Azza yang sedang berada di halaman rumah mereka.
"Dan aku lihat gerak-gerikmu sangat mencurigakan, bahkan sudah mengintai kediaman kami sejak beberapa hari lalu. Apa tujuanmu sebenarnya?"
Lelaki asing tersebut terkejut, ditambah lagi dengan cengkraman tangan Daffian yang hinggap di leher bajunya.
"Aku kesini hanya memastikan seseorang saja. Apakah wanita itu istrimu?" tunjuknya pada Azza.
"Apa yang ingin kamu pastikan? Katakan padaku!" Daffi semakin kuat mencengkram leher baju lelaki tersebut.
"Lepaskan aku dulu, bagaimana aku bisa bicara denganmu kalau tanganmu membuatku sulit bernapas."
Daffi melepaskannya begitu saja tetapi matanya menatap tajam orang tersebut.
"Awas saja kalau kamu melarikan diri!" ancam Daffian.
Lelaki itu mengangguk.
"Aku kesini hanya memastikan wanita itu saja, apakah benar dia saudara tuanku ataukah tidak. Apakah nama wanita itu adalah Mahya?"
Daffi mengerutkan dahinya menatap Azza yang sudah kembali kedalam rumah.
"Namanya bukan Mahya tetapi Azza. Kamu salah orang. Kalau kamu memang mempunyai niat tertentu, sebaiknya jangan terlalu banyak beralasan!"
"Katakan padaku alasan apa sebenarnya hingga kamu berada disini?" Daffian kembali mencengkram kerah kemeja lelaki tersebut.
"Aku sudah mengatakan yang sejujurnya!" sahut lelaki asing itu tanpa takut.
"Dan lepaskan tanganmu, kamu benar-benar ingin membunuhku dengan caramu mencekikku."
Daffian melepaskan tangannya.
"Kalau wanita tadi bukan wanita yang kamu cari, sebaiknya kamu tinggalkan kediaman kami dan jangan pernah muncul kesini lagi!"
Pria itu hanya tersenyum sinis kearah Daffian.
"Aku tetap akan berusaha untuk mengetahuinya walaupun kamu selalu menghalangiku!" sahutnya berlalu dari hadapan Daffian.
"Pak Atak!!!" Daffi berteriak marah memanggil satpam mereka.
Atak tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Apa yang kamu lakukan di pos? Apakah kamu hanya tidur saja hingga kamu tidak tahu kalau rumah kita sejak kemarin sudah di intai oleh seseorang."
"Dimana-dimana tuan penjahatnya?" Atak celingak-celinguk menatap sekitar, ingin berjalan kearah jalan.
"Eits... kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara?" menahan satpam dengan mencengkram baju belakangnya.
"Lah. Tadi katanya ada orang jahat yang mengintai rumah, saya hanya ingin mengeceknya."
"Dia sudah pergi, Atak!!!" geram Daffi.
"Lain kali kamu harus lebih waspada saja padanya. Kita tidak tahu kalau dia orang seperti apa. Bisa saja dia lebih berbahaya dari yang kita bayangkan sebelumnya!"
__ADS_1
Daffi berjalan kearah mobilnya menuju kearah halaman rumahnya.
***
Keesokan harinya, Azza yang tampak bosan di rumah ingin keluar rumah hanya sekedar untuk jalan-jalan saja. Bahkan sekarang ia sedang duduk di kafe seorang diri untuk menikmati ketenangannya.
"Halo Mahya! Apa kabar?"
Azza berbalik dan mendapati seorang lelaki kisaran 27 tahun sedang menghampirinya.
"Siapa kamu?" Azza menatap waspada kearah lelaki tersebut yang sudah terkekeh dan menatapnya.
"Apakah benar kalau kamu tidak mengenali siapa diriku? Coba kamu ingat-ingat kembali."
"Aku tidak mengenali dirimu sama sekali. Mungkin kamu salah orang!" sahut Azza.
Azza berdiri, bermaksud ingin meninggalkan lelaki tersebut.
"Benarkah kamu tidak mengenalku? Tapi tidak apa. Karena aku sangat mengenali dirimu. Aku juga punya penawaran yang bagus untukmu, apakah kamu tertarik nona manis?"
Lelaki itu menatap Azza dengan tatapan jenaka. Sudah sepatutnya ia menghargai usaha anak buahnya dengan hasil yang sangat memuaskan.
"Ma'af. Aku tidak tertarik dengan penawaranmu."
Azza bermaksud untuk melangkah.
"Tidak apa kalau kamu tidak tertarik pada penawaranku, tapi setidaknya kamu jangan menyesal setelah tahu kebenaran tentang dirimu dan orang tuamu di masa lalu."
Azza tidak memperdulikan ucapan lelaki tersebut, ia berjalan keluar kafe tersebut.
"Feb, temui aku di taman. Aku kangen kamu!"
Azza memasukkan handphonenya setelah mengetik pesan dan mengirimnya pada Febry.
Azza melongo menatap sahabatnya yang berjalan kearahnya dengan merubah penampilannya menjadi sedikit feminim.
"Kamu. Kamu kenapa berubah seperti ini?" Azza masih melongo.
"Kenapa? Apakah aku aneh menurut pandanganmu?"
Azza menggeleng. "Tidak. Bahkan kamu terlihat sangat cantik."
"Kamu jangan mengejekku seperti itu. Kalau aneh katakan saja aneh, apa susahnya sih!" cemberut.
"Feb, kamu benaran cantik kok, aku berkata jujur." Azza menatap Febry penuh selidik.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Apa yang membuatmu merubah penampilan seperti ini. Katakan padaku siapa lelaki yang sudah membuatmu jatuh cinta!"
Febry tampak memerah, sebisa mungkin ia menahan raut wajahnya agar tetap biasa saja.
"Jangan coba-coba membohongiku Feb!"
"Iya. Iya. Yang membuatku berubah seperti ini adalah seseorang.
"Siapa dia? Apakah dia seorang lelaki?"
"Hei. Tentu saja dia seorang lelaki, memangnya siapa lagi dia kalau bukan seorang lelaki. Aku masih waras Za."
Azza terkekeh mendengarnya. "Iya-iya. Lalu siapa dia?"
"Dia bernama Andra."
__ADS_1
"Dia terdengar asing di telingaku!" Azza mengerutkan dahinya.
"Apakah dia teman kita atau dia adalah___."
"Berhenti Azza. Kamu tidak mengenalnya. Dia lelaki yang baru saja aku kenal tanpa sengaja beberapa waktu lalu."
"Kamu merahasiakannya dariku?"
"Aku tidak bermaksud begitu," Febry meringis.
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan marah padamu asalkan kamu bercerita padaku tentang dirinya."
"Tunggu! Mama menelpon!"
Febry mengangkat telponnya sebentar.
"Za, aku tidak bisa bercerita sekarang karena mama sedang memintaku untuk mengantarnya." Febry tampak merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Kamu pergilah. Aku masih ingin jalan-jalan sebentar."
"Kamu tidak apa-apakan aku tinggal sendiri?"
"Iya. Pergilah."
Febry mengangguk dan meninggalkan Azza di taman.
"Bagaimana dengan penawaranku tadi? Apakah kamu tidak penasaran dengan orang tuamu di masa lalu?"
Azza berpaling dan mendapati lelaki yang menghampirinya di restoran tadi sedang berdiri di belakangnya.
"Kamu membuntutiku?" selidik Azza.
"Bisa dikatakan begitu!" jawab lelaki itu acuh.
"Aku sama sekali tidak mengenalmu. Jadi kumohon jangan menggangguku lagi. Dan aku ingatkan padamu aku sama sekali tidak tertarik dengan penawaranmu itu!" sahut Azza.
Lelaki tersebut tampak terbahak mendengarnya.
"Kalau kamu tidak mengenalku maka aku akan memperkenalkan diriku padamu terlebih dahulu. Kenalkan namaku Anan."
Azza berpaling kearah lain dan tidak menghiraukan tangan Anan yang menggantung di udara.
"Apakah kamu tidak ingin tahu tawaran apa yang sedang aku tawarkan padamu? Tawaran ini sangat menguntungkanmu."
"Aku tidak tertarik sama sekali!" sahut Azza.
"Baiklah, tidak apa. Tapi aku punya satu informasi mengenai orang tuamu di masa lalu. Dan statusmu di keluarga mereka."
Azza menatap lelaki itu dengan muka merah padam, ia kesal dengan lelaki yang banyak bicara tersebut. Ingin rasanya ia menghilangkan lelaki itu dengan sekali tepuk.
"Dengar ya. Kamu tidak mengenali siapa orang tuaku. Jadi, jaga bicaramu mengenai mereka."
Anan kembali terkekeh. "Benarkah? Tapi kurasa kamulah yang tidak mengenali mereka dengan baik." Berdiri.
"Tapi jika suatu saat nanti kamu menemukan kebenarannya maka kamu jangan sungkan untuk mencariku. Aku pasti akan membeberkan semuanya padamu." Berkata enteng dan berjalan meninggalkan Azza yang di liputi rasa bingung.
•
•
•
*****
__ADS_1