
"Daffian, aku mau jujur padamu."
"Katakanlah!" Daffian tersenyum manis.
"Sebenarnya aku sudah menikah dulu dengan Rendy. Kami menikah siri karena umur kami yang belum mencukupi untuk menikah secara negara. Dan juga, pernikahan kami di dasari atas keinginan orang tua kami."
Daffian hanya diam mendengarkan dengan seksama.
"Tetapi kami belum pernah melakukan hubungan suami istri. Karena Rendy tidak ingin merusakku dalam usia yang masih muda."
Aina menunduk, ia siap mendengar semua kemarahan Daffian padanya. Semua caci makinya.
"Aku sudah tahu semuanya!"
Aina terbelalak mendengarnya. "Kamu sudah tahu? Darimana kamu tahu?" tanya Aina membeo.
Daffian menggangguk sambil menatap hamparan bunga matahari.
"Tentu saja aku tahu semuanya. Aku mengenalmu tidak seumur jagung, Ai."
Aina terkejut, berpaling menatap Daffian yang berdiri di sisi kirinya.
"Jangan terkejut seperti itu Ai. Aku bersamamu bukankah sudah lama. Bukankah sejak kecil hingga sekarang kamu selalu mengikuti ibuku. Dan aku selalu bersamamu sejak aku lahir, bahkan kamu tergila-gila dengan rupa bayiku dulu."
Daffian terkekeh dengan ucapannya. Ia tidak menyangka kalau dirinya bisa begitu kuat menghadapi Aina dengan masa lalunya.
"Daffian. Kamu usil ya?" Aina memerah, merasa malu. Ia memang begitu tergila-gila dengan bayi Daffian yang sangat menggemaskan. Bahkan ia kerap bermain bersama Daffian hingga tidak mengenal waktu.
"Apakah kamu masih mencintainya?" Daffian membuyarkan ingatan Aina, ia menggenggam tangannya yang berada di dalam saku celananya.
Sedangkan Aina terdiam mendengarnya. Ia tidak mampu untuk mengatakannya.
"Pastikan dulu perasaanmu. Pada siapa hatimu sesungguhnya berlabuh. Dan apapun hasil akhirnya nanti, aku akan ikhlas menerimanya. Karena aku benar-benar ingin melihat kamu bahagia, Ai. Walaupun tanpa aku disisimu."
Aina menunduk dengan semua perasaan bersalahnya.
"Ma'afkan aku Daffian, aku meragukan perasaanku sendiri," Aina membatin.
"Sekarang aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Sudah cukupkan kita jalan-jalannya," Daffian terkekeh.
Selesai makan di kafe tadi, Daffian bermaksud untuk mengantar Aina ke tempat kerjanya. Tetapi saat di tengah jalan, dia justru mengajak Aina untuk pergi ke kebun bunga dan menikmati pemandangan disana. Hingga saat ini.
Aina mengangguk meraih tangan Daffian dan menggenggamnya erat. Rasanya begitu nyaman saat bersama Daffian. Dia sekarang begitu dewasa walaupun tidak menutup kemungkinan masih ada sikap kekanakannya. Tapi semua itu sangatlah membuatnya nyaman.
***
Malam harinya Aina sudah siap untuk ikut dengan ayahnya. Seandainya ayahnya menjodohkannya dengan orang yang tidak tepat, maka ia berhak untuk menolaknya. Selesaikan.
"Na, ayo kita berangkat sekarang!" teriak Alvaro di balik pintu.
"Iya. Aina akan keluar sebentar lagi," sahutnya.
Aina terperanjat begitu membuka pintu kamarnya. Disisi ayahnya berdiri sosok ibunya dengan pakaian yang rapi dan elegan.
"Mama?" Aina seketika langsung memeluk ibunya, meluapkan perasaan senangnya karena ibunya sudah tidak menyendiri lagi dan mau berbaur bersama orang lain.
"Iya. Mama akan ikut dengan kalian. Ingin melihat siapa kandidat yang di pilihkan oleh ayahmu untukmu."
Aina melepaskan pelukannya, menatap ibunya sesaat.
"Ma, apapun keputusan akhirku nanti setelah aku bertemu dengannya, aku harap kalian bisa menerimanya."
"Mama pasti akan menerimanya karena semua kebahagiaanmu adalah kebahagiaan mama juga." Menggenggam erat tangan Aina.
"Ayo berangkat!" Alvaro membuyarkan percakapan mereka berdua.
Selama di dalam mobil, Aina terlihat sangat tenang walaupun sebenarnya hatinya sangatlah gelisah. Ia merasakan sesuatu yang di rasanya familiar.
__ADS_1
"Selamat malam tuan Alvaro."
Sean, lelaki paruh baya tersebut langsung menjabat tangan Alvaro.
"Mana putrimu? Aku sudah sangat lama tidak melihatnya?" Menatap ke sekeliling Alvaro.
"Dia masih di luar, ada sedikit keperluan. Biasa, anak gadis." Alvaro terkekeh.
"Duduklah. Anakku juga belum datang kemari, dia masih ada sedikit pekerjaan."
Alvaro mengangguk.
Sementara itu Aina justru duduk di taman restoran sambil menatap langit malam yang berbintang.
"Banyak nyamuk disini, apakah kamu masih suka menjadi hidangan pembuka mereka?"
Aina berpaling saat mendengar suara familiar tersebut.
"Rendy. Apa yang kamu lakukan disini?" Aina terlihat tidak suka karena kesendiriannya di ganggu.
Rendy terkekeh mendengarnya. "Semua orang berhak kesini, Aina. Bukan hanya kamu saja."
Tangan Rendy terulur ingin mencubit hidung Aina, tetapi wanita itu berhasil menghindar. Membuat suasana tampak terasa canggung diantara mereka.
"Kamu sedang apa disini? Apakah sedang mengadakan makan malam bersama keluarga?" Aina memicing menatap curiga kearah Rendy.
"Iya. Kebetulan papa mengajak makan kesini. Kamu sendiri sedang apa?" tanya balik Rendy.
"Hanya jalan-jalan saja," sahut Aina mengelak.
"Benarkah? Tapi kamu tidak dapat membohongiku, Ai. Aku sangat mengenal dirimu sejak dulu."
Lagi. Ucapan Rendy membuat suasana diantara mereka menjadi semakin canggung.
"Aku ingin masuk kedalam. Kebetulan perutku lapar," Aina berdiri dan meninggalkan Rendy. Rasanya perasaannya sudah tidak sama lagi seperti dulu. Tidak ada jantung yang berdegup kencang dan tidak ada debaran di dadanya, juga tatapan malu-malunya. Semuanya sudah berubah seiring perjalanan waktu dan luka yang di tinggalkan lelaki itu padanya.
"Aina, Rendy, kenapa kalian bisa bersama-sama? Apakah kalian sudah berbicara diluar?" Sean menatap Aina. Membuat Aina memalingkan kepalanya kebelakang, rupanya Rendy sedang berjalan di belakangnya.
"Apakah papa tidak berkaca dari masa lalu, kehancuran rumah tanggaku. Dan papa ingin kembali membangun luka itu." Aina tampak dingin.
"Papa tidak menjodohkanmu kembali, papa hanya ingin meluruskan kesalah pahaman diantara kalian saja."
"Meluruskan papa bilang. Tidak ada yang perlu di luruskan. Semuanya sudah jelas. Pernikahan kami sudah berakhir. Bahkan sejak Rendy meninggalkanku tanpa kabar waktu itu." Aina berdiri masih menatap Alvaro dengan sorot kecewa.
"Rendy tidak kembali karena ada alasannya, Aina!" Sean ikut bicara.
"Alasan kalau dia disana mengadakan pertunangan dengan gadis lain dan alasan kalau dia sudah tidak perduli lagi padaku."
Rendy terpaku mendengarnya.
"Ai... Aku tidak menikahi gadis itu. Aku hanya pura-pura bertunangan dengannya untuk membantunya keluar dari jerat keluarganya."
Aina menggeleng mendengarnya.
"Itu bukan alasan yang tepat, Rendy. Seharusnya kamu tidak perlu mengirim undangan kesini dan melukai hatiku kalau pertunangan kalian hanya pura-pura saja."
"Kamu mampu menjaga hati wanita lain tetapi kamu mampu melukai hatiku di saat yang bersamaan. Apakah itu yang dinamakan cinta?"
Rendy menggenggam tangannya erat. Ia tidak pernah di tatap Aina dengan sorot datar seperti itu sebelumnya.
"Berikan aku satu kesempatan lagi untuk memulai dari awal semuanya. Aku ingin menjalani pernikahan yang sesungguhnya denganmu," lirih Rendy.
Aina sedikit melunak. Ia kembali duduk di tempatnya. Meraih segelas air yang ada di depannya dan meneguknya sampai habis. Rasanya udara di ruangan ini begitu mencekiknya.
"Aku tidak bisa. Aku sudah mencintai seseorang!" tolak Aina tegas.
"Tidak ada salahnya Ai, kamu mencoba membangun hubungan kembali bersamaku. Aku yakin di dalam hatimu masih tersimpan namaku."
__ADS_1
Aina menatap Rendy sekilas, bayangan Daffian yang begitu tenang berseliweran di benaknya.
"Ma'af. Aku tetap tidak bisa. Lagi pula hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Dan aku tidak ingin terjatuh pada lubang yang sama."
Aina berdiri dan berjalan keluar restoran meninggalkan Rendy dengan kekecewaannya. Ia tidak perduli dengan teriakan Alvaro dan juga Sean. Bahkan ia tidak perduli kalau seandainya Rendy kembali mengejarnya.
Aina berlari di sepanjang jalan, menangisi masa lalunya yang kembali datang dan ingin kembali lagi padanya. Masa lalu yang tidak ingin di ulanginya lagi. Ia bukanlah wanita hebat dan wanita kuat seperti ibunya Daffian. Dia hanyalah gadis biasa yang mengharapkan cinta tulus dari seorang lelaki.
"Ma'afkan aku Ren, aku sudah terlanjur terluka karenamu. Aku menolakmu bukan karena aku membencimu, tapi karena aku tidak mau kesakitan itu ada terus di benakku." Air mata Aina lirih, bahkan ia memeluk dirinya sendiri.
"Ai... Apa yang terjadi denganmu?"
Daffian menghentikan mobilnya dan berlari memeluk wanita itu, membuat Aina terperanjat. Ia mengenal wangi tubuh yang terasa familiar ini.
"Daffian. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."
Aina membalas pelukan Daffian, ia tidak ingin kehilangan Daffian karena Daffian lebih berharga dari segalanya.
"Kamu bicara apa, Ai...?" Tangan Daffian terulur membelai kepala Aina.
Aina menggeleng dan melepaskan pelukannya. Menatap Daffian dengan seksama.
"Kita jalan-jalan ke taman, bagaimana?" Ajak Aina seketika ia merubah suasana hatinya.
Daffian tersenyum mendengarnya. Tangannya terulur mengacak rambut Aina.
"Daffian. Rambutku berantakan!" teriak Aina saat Daffian berlari menjauhinya.
"Benarkah? Aku pikir kamu merasa malu karena aku perlakukan seperti itu!" sahut Daffian sambil membukakan pintu mobil untuk Aina.
"Siapa bilang aku merasa malu."
"Lihat. Wajahmu memerah. Kamu tidak bisa membohongiku, Ai."
Aina menunduk, menggigit bibirnya. Ia menatap Daffian saat Daffian mengangkat dagunya. Debaran di dadanya tampak menggila bahkan jantungnya terasa sakit karena saking kencangnya berdetak.
"Pasang sabuknya!" Daffian meraih sabuk Aina dan terkekeh setelahnya.
"Daffian. Jangan usil padaku!" Aina semakin malu.
"Kenapa? Apakah tadi kamu berpikir macam-macam?" Daffian menaik turunkan alisnya kembali menggoda Aina.
Aina kembali menunduk dengan pipi memerah.
"Jangan malu, Ai. Aku tau apa yang kamu pikirkan. Bagaimana kalau kita praktek disini dan...."
"Kamu mesum!" Aina memotong ucapan Daffian. Membuat lelaki itu kembali terkekeh. Tangannya tergerak meraih kepala Aina dan mengecupnya sekilas di pelipisnya.
"Aku akan membawamu ke taman. Jadi, sekarang kamu jangan sedih lagi."
Aina berpaling menatap Daffian. Lelaki ini, kenapa ia begitu nyaman saat berada disisinya.
"Jangan menatapku seperti itu, kamu seolah ingin memakanku."
Aina membulatkan matanya. Mencubit Daffian dengan lembut.
"Kamu sekarang sangat usil ya?" Daffian menggelitik Aina lembut. Membuat wanita itu terkikik karena geli.
"Sudah, Daffian. Aku tidak tahan lagi!" teriak Aina di sela tawanya.
Tangan Daffian meraih Aina dan memeluknya merasakan kedamaian sesaat.
"Daffian, kapan kita berangkatnya?" tanya Aina. Aku sangat lapar," pintanya lagi. Tangannya kembali terulur mencubit lembut Daffian. Hingga terdengar kembali suara tawa diantara mereka.
•
•
__ADS_1
•
***