
Beberapa hari berlalu, Adrian begitu sangat sibuk sehingga bahkan sarapan pagi pun ia lupakan. Adrian yang koma selama beberapa bulan ini, akhrinya memutuskan untuk kembali ke perusahaan. Ia harus menyelesaikan semua urusan pekerjaan sebelum liburan dengan sang istri tercinta.
Dan hari ini, karena Adrian tidak sarapan sehingga Afika mengambil keputusan untuk membawa makan siang untuk Adrian. Di temani oleh Nadi, karena memang Afika tidak tahu sama sekali tentang perusahaan Adrian, yang Afika tahu hanya jika Adrian itu pria mapan yang kaya raya yang memiliki kekuasaan.
Setelah semuanya siap, kini Afika dan Nadi menuju perusahaan. Di dalam mobil, keduanya asyik bercerita mengenaik pacar Nadi, namum Nadi selalu berkata jika dirinya sama sekali belum memiliki pacar, jangankan pacar teman perempuan pun, hanya Afika dan Sri saja. Karena selama ini Nadi terlalu sibuk bekerja sampai melupakan dunia percintaan.
"Oh yah Nadi, kau di beri tugas untuk menjadi asisten Baby, tapi kenapa masih setia berada di dekatku,?"
"Nyonya, andai anda tau. Aku lebih baik berada di dekat nyonta walau tanpa di gaji. Dari pada harus bersama dengan nona Baby yang sifatnya begitu sangat membingungkan." Ucap Nadi tapi hanya di dalam hati saja.
"Jadi bagaimana? Kapan kau akan menjadi asisten Baby? Kan setidaknya kau masih bisa bertemu denganku, karena Baby kan masih satu mension denganku."
"Nyonya bisa tidak jangan bahas nona Baby terus. Itu bisa merubah mood ku pagi ini." Batin Nadi
Nadi hanya menjawab melalui senyum tipis dan membuat Afika tertawa. Kini Afika tahu jika Nadi sama sekali tidak ingin menjadi asisten Baby. Ya, siapa pun yang mengenal Baby pasti akan menolak untuk menjadi asistennya. Tapi percayalah, di balik sikap ceroboh, sifar yang sok mengatur dan selalu memintah hal yang tidak masuk akal. Sebenarnya Baby adalah gadis yang baik hati. Dia memiliki sisi yang sangat hangat.
"Nadi, aku tau isi pikiranmu. Kau pasti menolak. Tapi, aku ingin sebagai sahabat kau bisa menjaga adik iparku. Di masih lugu, hahahah." Afika tertawa sesaat. "Dia sebenarnya..." Afika menghentikan ucapannya kala ponsel miliknya berdering.
"Lugu apa nya. Dia hanya pura-pura agar tuan Adrian selalu menuruti apa keinginannya." Nadi kembali membatin.
__ADS_1
Beberapa saat mobil yang di kendarai Nadi telah tiba, di depan gedung yang menjulang tinggi. Nadi langsung segera keluar dari mobil, memutari mobil dan membuka pintu untuk Afika.
"Silahkan nyonya."
"Ayolah Nadi, jangan memanggilku seperti itu terus." Kata Afika, namun tetap saja Nadi harus memanggilnya nyonya, karena bagaimana pun Afika adalah istri dari tuannya, tempat dirinya bekerja mencari makan dan menyambung hidup.
Saat Afika keluar dari mobil. Kini beberapa lelaki yang berseragam hitam serentak menunduk. Karena mereka sudah tau sebelumnya dari Nadi jika istri tuan Adrian akan mampir ke perusahaan.
Nadi berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam lift, di ikuti oleh Afika.
"Nadi cukup sampai di sini saja. Dimana ruangan Adrian?" Ucap Afika saat mereka keluar dari lift.
"Baiklah, kau tunggu aku saja di lantai satu. Aku akan membawa makan siang ini untuk Adrian dan juga Baby."
"Baik nyonya."
Saat Nadi telah pergi, kini Afika tersenyum sambil melangkah perlahan menuju ruang kerja Adrian.
"Rio, apa Adrian ada di dalam?" tanya Afika saat mendapati Rio yang sedang berdiri tepat di dekat pintu masuk.
__ADS_1
"Nyo-nya." Sapa Rio dengan terbata. Rio tidak menyangkah jika Afika datang ke perusahaan. "Nyonya sendiri? Bekal itu untuk tuan Adrian?" tunjuk Rio pada kotak bekal yang Afika bawah. "Nyonya biar aku saja yang memberikan pada tuan." Kata Rio. Namun ucapan Rio mampu membuat Afika curiga.
Apakah Adrian ada di dalam sana, dan jika Adrian ada, maka siapa yang bersama Adrian di dalam sana. Pertanyaan itu langsung memutar di dalam pikiran Afika.
"Biar aku saja." Ucap Afika lalu berjalan melewati Rio.
"Tapi nyo..." Belum sempat Rio melanjutkan ucapannya, kini Afika membuka pintu secara perlahan.
"Adrian, apa kau mencintaiku? Katakan! Katakan jika kau mencintaiku Adrian. Kau tahu, aku sangat mencintaimu Adrian.." Ucap seorang wanita yang tak lain adalah Inggrid mantan pacar Adrian. Jelas sekali Afika tau siapa wanita itu karena dulu mereka sempat tinggal bersama di mension hutan.
"Ya, aku memang mencintaimu."
DUUUAAARRRRR.........
Bak di sambar petir di siang bolong. Kaki Afika seperti kehilangan keseimbangan. Kepalanya tiba-tiba merasa pusing. Ucapan Adrian mampu memberika luka baru, padalah luka lama belum sepenuhnya pulih. Perlahan Afika menutup pintu, dan berjalan dengan linglu.
"Jangan katakan pada Adrian jika aku datang." Ucapanya tanpa menatap sedikit pun pada Rio. Afika terus berjalan, dengan tatapan mata yant kosong. Dan juga, air mata tiba tiba jatuh membasahi pipi mulusnya.
Mungkin kah, Adrian sama sekali belum berubah. Atau mungkin kah ucapan Adrian yang mengatakan mencintainya hanya bualan saja.
__ADS_1