
"Hei... jangan diam seperti itu saja, aku janji akan menemukan orang tua kandungmu."
Daffa meraih tubuh Azza dan memeluknya erat. Membuat gadis belia tersebut terisak karena terharu.
"Makasih sayang, kamu sudah membantu diriku," sahut Azza di sela isak tangisnya.
"Kamu adalah segalanya untukku, mana mungkin aku hanya duduk diam saja dan membiarkanmu melakukan segalanya."
Azza semakin memeluk erat tubuh suaminya dan membaui wangi tubuh Daffa yang bagaikan candu untuknya.
Tok tok tok
"Daff, aku ingin bicara denganmu sebentar!" Daffian berteriak di belakang pintu kamar mereka.
"Sayang! Sayang!"
Daffa menggoncang tubuh Azza yang lemah dalam pelukannya, tetapi tidak ada pergerakan sama sekali. Rupanya wanita hamil itu sedang tertidur dalam pelukannya. Senyum Daffa terkembang melihat semua itu. Dengan perlahan ia meraih tubuh Azza dan meletakkannya di atas ranjang. Rupanya dia kelelahan.
"Besok saat kamu bangun maka semuanya baik-baik saja dan pasti ada kabar gembira yang kudapatkan untukmu," mengecup dahi Azza sekilas.
"Kenapa lama keluarnya? Apakah kamu sedang sibuk membuat keponakan dengan kakak ipar ataukah kamu sedang__."
"Berhenti Daffian! Kamu terlalu ingin tahu urusan ranjangku rupanya. Cepatlah kamu menikah agar kamu tidak mengurusi urusan ranjangku lagi."
"Sialan kamu." Daffian melemparkan remot televisi kearah Daffa tetapi Daffa berhasil menangkapnya.
"Aku tidak bisa cepat-cepat menikahi Aina karena masalah keluarganya belum tuntas. Dan dia berjanji akan menikah denganku setelah mempertemukan adiknya dan orang tuanya."
Daffian menatap sendu.
"Jangan di pikirkan, usiamu masih muda dan kamu juga harus sabar menunggu dirinya yang berpikiran dewasa."
"Jangan meledekku Daff," sahut Daffian.
"Aku tidak meledekmu, aku hanya menghiburmu. Lagi pula aku tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba memanggilku dan mengganggu kegiatanku bersama istriku."
Daffian berdehem sesaat untuk menetralkan rasa canggungnya.
"Memangnya kamu sedang ehem-ehem ya saat kupanggil tadi?" goda Daffian sambil menaik turunkan alisnya.
Daffa terkekeh mendengarnya, membuat Daffian semakin cemberut.
"Cepatlah menikah Daffian agar kamu tahu kesenangan apa saja yang bisa kamu lakukan saat berada di dalam kamar."
"Hah itu lagi. Aku juga akan menikah sebentar lagi tapi setelah badai berlalu. Aina juga terlalu sibuk mencari keberadaan adiknya. Dan aku katakan satu hal padamu, jalan cerita Azza sama persis dengan jalan cerita adiknya Aina yang hilang. Dan dia sudah lama mencurigai Azza sebagai adiknya setelah melihat Azza pertama kalinya."
"Jadi, dia sudah curiga lama. Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?" tanya Daffa.
"Sebelumnya dia juga tidak tahu Daff, kalau adiknya di tukar dengan bayi yang sudah meninggal. Dia hanya kaget saja saat melihat wajah Azza yang sama persis dengan wajah ibunya."
Daffa mengangguk mendengarnya.
"Dan kecurigaan kalian ternyata mendasar," sahut Daffa.
__ADS_1
"Ya begitulah. Felling seorang saudara terhadap adiknya sangatlah kuat. Dan aku sudah melakukan perintahmu sebelumnya, hasilnya sudah keluar sore tadi."
Daffa terdiam mendengarnya.
"Apa hasilnya?" tanya Daffa.
"Aku tidak membukanya, hanya Aina yang tahu. Tetapi ia merubah wajahnya saat membacanya, dia terlihat sendu, haru dan bahagia secara bersamaan. Aku yakin kalau mereka memang saudara."
"Baguslah kalau begitu. Ternyata pencarianku selama ini tidak sesulit bayanganku. Seandainya kamu tidak menceritakan tentang penguntit tersebut padaku, maka aku tidak akan bisa mengetahui kalau Azza adalah anak om Alvaro yang sudah di tukar."
"Kapan kamu akan mempertemukan mereka?" tanya Daffian.
"Aku sudah mengaturnya sedetail mungkin, kamu tenang saja. Tinggal bantu aku untuk membujuk tante Nadia agar mau berbaur dengan keluarga kita. Yang aku dengar sejak ia kehilangan bayinya, dia selalu mengurung diri dan mengurangi berbaur dengan orang lain. Dia sangat tertekan karena dokter wanita itu terus menekannya tanpa sepengetahuan om Alvaro."
"Kamu benar Daff, Aina selalu sedih melihat keadaan ibunya. Bahkan wanita itu bernasib sangat malang. Dia di culik oleh dokter wanita jahat itu dan menyabotase keberadaannya dengan menyatakan kalau tante Nadia meninggal dalam kecelakaan pesawat. Bahkan ia berkomplot dengan Yakub. Tapi beruntungnya lagi Yakub sudah mati di bunuh oleh Rahiyang sebelum tante Nadia membalas dendamnya," ucap Daffi.
"Bagaimana dengan dokter wanita yang berada di penjara kemarin? Apakah kamu tahu sesuatu yang lain?"
"Mengenai apa?" tanya Daffa.
"Ternyata dia melakukannya tidak sendiri. Ada orang lain yang juga membantunya."
"Siapa?" Daffa menatap serius kearah Daffian.
"Tentu saja asistennya Daff!" Daffian langsung terkekeh dibuatnya karena ekspresi Daffa yang sangat serius.
"Sudahlah. Aku mau keluar dulu, ada banyak pekerjaan yang harus kulakukan hari ini."
Daffian berjalan keluar ruang keluarga menelpon seseorang untuk di ajak bertemu dengannya.
***
"Sayang, kenapa syukurannya mendadak sekali? Usia kehamilanku belum 4 bulan ataupun 7 bulan," ucap Azza.
"Tidak perlu menunggu usia seperti itu, sayang. Aku hanya ingin mengadakan syukuran karena kamu hamil saja sekaligus memperkenalkan kamu pada keluarga kita yang lainnya."
Azza mengangguk mendengarnya.
"Sebaiknya kamu siap-siap ya, akan ada kejutan besar untukmu nanti. Aku tunggu di bawah."
Azza menatap kepergian Daffa dengan terharu. Bahkan ia sangat bersyukur dengan keadaan suaminya yang sangat pengertian terhadapnya. Tidak ada di dunia ini yang paling di inginkan wanita selain kebahagiaan bersama suaminya.
Setelah cukup dengan dandanannya, Azza segera turun ke lantai bawah. Sudah ada Anggia bersama suaminya, juga Ambar sekeluarga.
"Sayang, apa kabar? Apakah kamu bahagia hidup disini?" Daniyal berjalan cepat kearah Azza membuat wanita itu refleks menghentikan langkahnya.
"Kak Daniyal, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kabar kakak?" Azza tampak sangat ceria.
"Kakak baik-baik saja, sayang."
"Ehemm!!" Daffa berdehem dengan wajah tidak sukanya menatap kedekatan Daniyal dan Azza. Ia bergerak mendekat kearah Azza dan memeluk pinggang wanita itu posesif.
"Aku tidak akan merebut adik kecilku bersamamu, dia kelihatannya bahagia bersamamu disini."
__ADS_1
Tangan Daniyal tergerak kearah kepala Azza tetapi di tahan oleh Daffa.
"Jangan sembarangan pegang. Dia istriku!" Daffa tampak cemburu.
"Hei. Sebelumnya tidak masalah aku mengacak kepalanya bahkan aku memeluknya, dia juga adik kecilku," Daniyal tidak terima.
"Tapi dia istriku sekarang!" sahut Daffa kesal.
"Baiklah. Baiklah aku mengalah. Bersenang-senanglah dengannya." Daniyal mengangkat tangannya dan terkekeh.
"Daffian! Kapan keluarga om Alvaro datang kesini? Kamu benar-benar mengundang mereka secara khususkan?" Daffa menghampiri Daffian.
"Sudah. Mereka sedang dalam perjalanan kesini," sahut Daffian.
"Baguslah. Kita tunggu kedatangan mereka dahulu baru kita mulai acara syukurannya," ucap Daffa.
"Daffian! Kenapa kamu menginjak kakiku, bodoh!!" teriak Febry tiba-tiba.
"Aku tidak sengaja gadis pesek!" sahut Daffian yang duduk dihadapan Febry.
"Kamu bohong. Kamu pasti sengaja mencari gara-gara denganku kan? Apa kamu ingin mengajakku bergulat?" Febry tampak geram.
"Bergulat, heh dengan wanita?" Daffian tampak meremehkan ucapan Febry. "Memalukan, hanya banci yang bisa melakukannya!"
"Kamu! Jangan remehkan aku. Apa kamu mau merasakan tinjuku!" Febry tampak emosi.
"Ada apa denganmu hari ini, apakah kamu salah minum obat hingga sekesal itu padaku?"
"Daffian!!" teriak Febry.
"Apa sayang?" sahut Daffian.
"Kamu kurang ajar mengatakan aku stres."
"Aku tidak bilang begitu," sahut Daffian acuh.
"Tadi kamu bilang begitu," sahut Febry tidak mau kalah.
"Hais! wanita ini, sepertinya dia sedang datang bulan," gumam Daffian.
"Apa!? Apa yang kamu bilang barusan? Ucapkan lebih keras!!" Febry kembali kesal.
"Aku tidak bilang apa-apa. Aku hanya sedang bergumam saja."
"Sebaiknya kamu yang cek ke dokter bedah. Periksa otakmu, mungkin saja ada kotoran yang menempel disana."
Daffian melongo mendengarnya. Wanita itu benar-benar sensitif hari ini, apakah ia putus hubungan dengan pacarnya? Ah, bukan urusan Daffian juga.
•
•
•
__ADS_1
*****