Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 37


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Afika langsung di tangani oleh dokter yang saat ini sedang bertugas, sedangkan Adrian dia langsung menghubungi dokter yang berada di kota besar agar segerah datang ke kota di mana saat ini mereka berada. Baby, saat ini tengah berada tepat di depan ruangan sambil berjalan mondar mandir bak sebuah setrika.


Tiba-tiba saja Nadi berlari dan langsung menghampiri Baby, tanpa memperdulikan Adrian yang berada di sana. "Nona Baby, bagaimana keadaan Afika?" Tanya Nadi dengan khwatir. Tadi, saat Nadi mengetahui jika Afika pingsan dan terjadi pendarahan, Nadi yang tidak baik-baik saja memilih untuk mengikuti mobil Adrian yang sudah pergi terlebih dahulu ke rumah sakit. Nadi tidak akan mungkin bisa memaafkan apa dirinya seandainya sesuatu terjadi pada Afika.


"Nadi tenanglah. Afika pasti baik-baik saja." Ucap Baby sambil menepuk pundak Nadi.


Adrian langsung menghampiri Nadi, dengan wajah merah dan mata yang menatap tajam.


BUKKHHH...


BUKKKHHH..


Bogeman mentah kembalu mendarat di wajah Nadi.


"Kak Adrian jangan." Ucap Baby sambil melerai perkelahiran yang terjadi.


"Katakan! Siapa ayah dari bayi yang di kandung oleh Afika? Katakan!" Tanya Adrian sambil memegang kera baju Nadi dan juga, melayangkan tinjunya di udara yang akan siap memberikan kembali bogeman mentah pada Nadi.


"Kak."


"Katakan!" Teriak Adrian.


"Anda tuan. Anda ayah dari bayi yang Afika kandung." Mendengar jawaban Nadi, seketika membuat Adrian melepaskan cengkraman tangannya. Adrian langsung mengusap wajahnya secara kasar. Kakinya seperti kehilangan keseimbangan, tubuhnya merosot jatuh ke lantai. Adrian yang di kenal dingin dan kejam yang tidak pernah sedikit pun menangis, bahkan saat kematian kedua orang tuanya. Namun kini, Adrian menangis tanpa memperdulikan siapa pun yang berada di sana.

__ADS_1


Tangis pilu dari seorang pria yang berhati dingin. Baby, yang melihat sang kakak, kini juga ikut menangis. Baru kali ini Baby melihat Adrian menangisi sesuatu dengan nada yang teramat sakit. Siapa pun yang mendengar tangis Adrian pasti akan ikut hanyut dan juga ikut menangis.


"Anak ku. Anakku." Lirih Adrian di sela tangis. Baby pun mendekat dan berjongkok tepat di hadapan Adrian. Adrian pun langsung menyandarkan kepalanya di pundak sang adik. "Anakku." Lirihnya sambip terus terisak bagai seorang anak yang kehilangan mainan kesayangannya.


Baby menepuk dan juga sesekali mengusap pundak belakang Adrian dengan penuh kelembutan.. "Kak, semua pasti baik-baik saja." Kata Baby. Bukannya membuat Adrian tenang. Justru Andrian semakin merasa bersalah. Karena perlakuan dirinya sehingga membuat anaknya sendiri dalam bahaya dan bahkan tidak di tahu apakah saat ini selamat atau tidak. Karena keegoisannya, yang menutupi rasa cintanya membuat dirinya sendiri merasa sakit karena menyakiti orang yang entah sejak kapan sudah bertahta di dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka seorang dokter keluar dari dalam ruangan. Baby, dan Adrian pun serentak berdiri dan menghampiri sang dokter.


"Bagaimana keadaan Afika dok?" Tanya Baby


"Bagaimana keadaan istri dan anakku dok?" Tanya Adrian. Dan untuk pertama kalinya seorang Adrian menyebut Afika sebagai seorang istri di hadapan orang luar. Baby yang mendengar dengan sangat jelas ucapan sang kakak dapat tersenyum dalam hati. Karena setidaknya sang kakak kini sadar jika Afika adalah istrinya. Walau memang pernikahan mereka sejak awal hanya aturan yang di buat olehnya.


"Ibu Afika mengalami syok dan sedikit kontraksi. Sehingga membuat darah mengalir. Tapi, syukurnya keadaan janin di dalam kandungan masih bisa di pertahankan."


"Syukurlah." Kata Baby dan Adrian serentak.


"Istri anda saat ini baik-baik saja. Namun, dia tidak ingin satu orang pun masuk ke dalam." Jelas sang dokter membuat Adrian kembali merasa tersakiti.


Hanya beberapa kata mampu membuatnya sakit. Lalu bagaimana dengan Afika? Selain kata, perlakukan kasar pun ia dapatkan. Entah terbuat dari apa hati Afika sehingga selama ini dia selalu saja sabar menghadapi Adrian yang terbilang begitu sangta kejamnya.


"Kak, Afika butuh ruang. Lebih baik kita sabar menunggu." Ucap Baby menenangkan sang kakak yang saat ini terlihat begitu khawatir.


••••

__ADS_1


Rangga yang mengetahui jika Afika di larikan ke rumah sakit. Tidak memperdulikan lagi pekerjaannya dan memilih untuk segerah berangkat ke kota tempat Afika saat ini berada.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lumayan jauh. Kini Rangga telah sampai di rumah sakit di mana Afika saat ini berada. Rangaa langsung berlari masuk dan mencari ruangan inap Afika. Dan saat Rangga melihat Adrian yang saat ini tengah duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan. Rangga langsung berlari menghampiri dan tanpa banyak kata Rangga langsung memberikan bogeman mentah tepat ke pipi kiri Adrian.


Adrian yang sama sekali tidak siap dengan serangan, langsung terjatuh.


"Kau apakan Afika, breng*sek?" Tanya Rangga sambil mencoba kembali ingin memberikan bogeman mentah namun Rio, asisten Adrian langsung datang dan menarik tubuh Rangga. Begitupun dengan Nadi yang berada di sana. Walaupun Adrian sudah memukulnya dengan memba*bi buta, tetap saja Nadi akan selalu melindungi tuannya. Bahkan kondisi Nadi yang saat ini belum stabil, namun masih dapat memberikan tijunya tepat di perut Rangga.


"Jangan berani macam-macam dengan tuan Adrian." Kata Nadi.


Adrian langsung berdiri, dan memberi kode pada Rio beserta Nadi agar melepaskan Rangga.


"Dasar breng*sek." Kata Rangga yang ingin memberikan pukulan kepada Adrian namun dengan cepat Adrian menangkis pukulan Rangga dan memutar tangan Rangga hingga ke belakang tubuh Rangga. "Lepaskan!" Teriak Rangga.


"Jangan membuat keributan di sini." Ucap Adrian dengan dingin lalu menghempaskan tubuh Rangga.


"Dimana Afika? Aku ingin bertemu dengannya."


"Rangga tenanglah. Jangan membuat keributan. Saat ini Afika sedang beristirahat dan tidak ingin siapa pun untuk masuk ke dalam." Jelas Baby.


Lalu seorang perawat yang sejal tadi di tugaskan berada di dalan ruangan Afika kini membuka pintu secara perlahan, hingga semua orang yang sejak tadi menunggu di luar langsung menoleh ke arah pintu.


"Siapa yang bernama Baby?" tanya sang suster.

__ADS_1


"Aku sus. Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Baby dengan panik sambil menghampiri suster.


"Pasien ingin bertemu." Kata suster, dan tanpa menunggu lebih lama, Baby pun langsung masuk ke dalam ruangan. "Maaf, hanya yang bernama Baby yang boleh masuk. Selain itu tidak boleh. Ini permintaan langsung dari pasien." kata suster saat Adrian dan Rangga secara bersamaan melangkah ingin masuk ke dalam ruangan. Kemudian pintu kembali di tutup dengan sangat rapat. Baik Rangga dan juga Adrian, keduanya serentak mengusap wajahnya. Rangga duduk di kuris dan begitupun juga Adrian. Keduanya duduk saling berhadapan.


__ADS_2