
Setelah sarapan, Daffian dan Aina langsung berangkat bekerja.
"Daffian. Apa yang kamu bicarakan dengan papa di ruang kerja tadi?" Aina begitu penasaran.
Daffian mengerutkan dahinya melirik sekilas kearah Aina yang menatapnya sejak tadi. Bahkan wanita itu terlihat lucu di matanya.
"Jangan tertawa, aku hanya bertanya saja dan tidak berharap kamu jawab," sahut Aina cemberut setelah melihat kekehan Daffian.
"Tidak ada yang di bicarakan," sahut Daffian tersenyum.
"Masa tidak ada yang di bicarakan? Selama itu berduaan di ruang kerja papa, kalau tidak bicara lalu ngapain?"
Daffian melotot mendengar pertanyaan Aina.
"Kamu selalu ingin tahu rupanya."
Daffian mencubit hidung Aina setelah mereka berada di halaman rumah sakit.
"Awww aduh. Hidungku memerah!"
Daffian terkekeh mendengarnya sambil mengacak rambut Aina.
"Daffian. Rambutku berantakan," Aina kembali cemberut.
"Sudah sampai. Memangnya kamu ingin berlama-lama denganku disini?" goda Daffian.
"Tapi, katakan sesuatu dulu tentang yang tadi," pinta Aina sekali lagi.
"Nanti malam kamu akan tahu sendiri, juga akan ada kejutan kecil untukmu. Dan siang nanti aku tidak bisa makan sama kamu, ada pertemuan dengan klien mewakili papa."
Aina tersenyum. "Iya. Aku masih ada Bella yang temani. Kamu tenang saja, aku tidak akan kenapa-kenapa."
Daffian kembali mengacak rambut Aina setelah ia membukakan pintu mobil untuk wanita tersebut.
***
Malam harinya, keluarga Angga sudah siap untuk berangkat ke rumah Alvaro. Sesuai dengan keinginan Alvaro yang menginginkan agar Daffian segera mempercepat lamarannya terhadap Aina.
"Ma, mama jangan terlalu cantik dong, kita mau ke rumah Alvaro loh," Angga menatap Rika dari ujung kepala hingga ujung kaki. Berdecak tidak suka.
"Loh. Mama tampil seperti biasanya, dimana yang terlalu cantik seperti kata papa," sahut Rika.
Angga kembali menatap Rika dengan detail. Wanita itu bagaimanapun penampilannya, selalu tetap mempesona.
"Ya udah. Kita berangkat sekarang saja, nanti kemalaman," ajak Rika.
Angga kembali berdecak tidak suka. Ingin rasanya ia mengarungi perempuan itu dan mengurungnya di bawah selimut saja.
"Nanti kalau di rumah Alvaro, jangan dekat-dekat dengannya dan jangan jauh-jauh dariku." Angga memulai dengan keposesifannya.
"Iya, iya. Kita mau lamaran loh. Bukan mau tebar pesona atau pencarian jodoh seperti yang papa pikirkan," sahut Rika sebal.
"Siapa bilang pencarian jodoh. Aku hanya mengingatkan loh. Bagaimanapun juga Alvaro tetaplah rivalku," gumam Angga.
Rika hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar penuturan suaminya tersebut.
Mereka berjalan kearah ruang tamu, disana Daffian dan Daffa beserta istrinya sudah menunggu.
"Daffian, kamu ikut mobil papa, biar Daffa dan Azza berdua dengan mobil mereka."
"Iya pa. Aku akan ikut kalian," sahut Daffian.
__ADS_1
"Jangan gugup seperti itu dong Daffian, ini hanya lamaran saja. Aku yang sudah menikah dua kali saja santai-santai saja."
Daffian melotot menatap Daffa yang berbisik padanya.
"Nanti istrimu marah loh kalau kamu bicara tentang dua kali menikah," balas Daffian.
Daffa meneguk ludahnya kasar menatap kearah Azza yang datang kearahnya, memeluknya dengan erat.
"Duh, bumil sekarang bawaannya ingin menempel terus, tidak hanya di kamar saja, di tempat ramai juga," cibir Daffian.
"Kalau iri bilang dong. Sebentar lagi kamu juga akan seperti kami, menempel terus," balas Daffa.
"Ayo berangkat!" ucap Rika melerai mereka.
Setelah sampai di kediaman Alvaro, Angga terus-menerus memeluk pinggang Rika posesif. Apalagi setelah mendengar pujian yang keluar dari mulut Alvaro.
"Semakin hari istrimu semakin cantik," puji Alvaro dengan kekehannya.
Angga menatap tajam kearah Alvaro dan memeluk erat Rika. Hampir membuat wanita itu tidak bisa bernapas lega karenanya.
"Tetapi tidak kalah cantik dengan istriku," tambah Alvaro lagi saat mendapati Nadia memasuki ruang keluarga.
"Bagaimana dengan rencana kita untuk menyatukan mereka?" tanya Angga mengalihkan pembicaraan. Menatap Daffian dan Aina bergantian.
"Kalau boleh tahu, memangnya rencana apa ya, Om?" tanya Aina yang sejak tadi duduk manis di hadapan mereka tidak tahu sama sekali arah pembicaraan.
Ia memang tahu kalau keluarga Angga akan datang ke rumah mereka bersama Azza hanya untuk bersilaturahmi. Tetapi mengenai pembicaraan dan rencana yang di maksud oleh Angga, Aina sama sekali tidak mengetahuinya.
"Rencana untuk pernikahan kalian kedepannya," sahut Alvaro.
Aina terkejut mendengarnya, pipinya bersemu merah dan melirik sekilas kearah Daffian.
Daffian terkekeh mendengarnya, ia mengangguk dan membalas Aina.
"Aku cinta kamu!" bisik Daffian.
Aina kembali bersemu dengan senyum bertengger di bibirnya.
"Aku juga sangat mencintaimu," balas Aina berbisik.
Mereka tidak menyadari kalau sejak tadi mereka menjadi pusat perhatian seluruh mata yang ada disana.
"Hmm. Kalau ingin gombal-gombalan dan rayu-rayuan atau mesra-mesraan sebaiknya jangan disini. Di taman saja atau di ruang depan. Kasian yang lihat, ini masih awal pertemuan loh!" Alvaro menatap mereka bergantian.
"Iya. Kami akan ke taman belakang saja," sahut Daffian menarik tangan Aina. Membuat wanita itu membalas genggaman tangan Daffian.
"Dasar anak muda sekarang. Kalau sudah jatuh cinta, maunya nempel saja," Alvaro kembali berdecak.
"Itulah ikatan kuat dari cinta mereka," balas Angga.
Alvaro terkekeh mendengarnya. "Kamu tidak layak menjadi seorang pujangga dengan kekakuanmu itu."
"Heh. Kamu juga tidak cocok. Lebih cocok menjadi pelawak dengan tampang konyolmu," balas Angga.
Keduanya terkekeh setelahnya.
Mereka kembali membicarakan acara pernikahan yang akan mereka langsungkan sebentar lagi.
Sedangkan di taman belakang rumah Alvaro. Aina dan Daffian duduk di depan kolam renang, tangan mereka masih tergenggam erat.
"Bagaimana kejutannya, apakah kamu suka?" tanya Daffian.
__ADS_1
"Jadi, kamu merencanakan semua ini di ruang kerja papa tadi pagi?" tanya Aina.
"Iya. Papa kamu yang minta dan kebetulan aku juga ingin mengajukan hal itu pada papamu. Ternyata papamu sudah lebih dulu mengutarakannya."
"Aku sangat senang mendengarnya. Setelah ini kita akan sama-sama selamanya." Aina bersandar di bahu Daffian.
"Makanya, mulai sekarang kamu jangan panggil aku dengan nama lagi."
Aina menegakkan kepalanya.
"Lalu panggil apa?" tanya Aina.
"Panggil sayang dong!!" pinta Daffian.
"Iya, sayang," sahut Aina kembali menyandarkan kepalanya kebahu Daffian.
"Terdengar sedikit lucu." Daffian terkekeh.
"Apa yang lucu, Hem." Aina mencubit lengan Daffian.
"Saat kamu panggil aku dengan embel-embel sayang!"
"Dimana lucunya, sayang?" tanya Aina gemas.
"Bibirmu minta di cium," sahut Daffian.
Aina terbahak mendengarnya. "Nikah dulu baru cium-ciuman," sahutnya.
"Itu di dalam mereka lagi rembukan," balas Daffain.
Mereka terdiam sesaat memandang langit malam.
"Sayang. Terima kasih karena sudah sabar menungguku untuk membuka hati dan juga sudah menyadarkanku kalau selama ini ternyata aku sangat mencintaimu." Aina memainkan jari-jemari Daffian yang besar.
"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Dengan hubungan ini kamu sudah membuatku menjadi Daffian yang dewasa. Mengajarkanku tentang kesabaran dan juga perjuangan. Semoga cinta kita akan abadi selamanya."
Aina mengangguk menatap Daffian dengan intens.
"Hmm. Berduaan di tempat sepi, yang ketiganya adalah setan."
Daffa datang dari arah belakang membuat keduanya memalingkan kepala.
"Apaan sih, ganggu aja!" sahut Daffian.
"Itu, papa sama Mama memanggil kalian untuk masuk kedalam. Tanggal pernikahan sudah ditentukan!"
Aina dan Daffian saling berpandangan, tersenyum manis.
"Jangan ciuman, kalian masih belum halal!" celetuk Daffa lagi.
Aina dan Daffian terkekeh bersama berjalan kearah ruang keluarga tanpa menghiraukan Daffa.
"Lah. Aku di kacangin. Kenapa tidak sekalian saja di sambalin." Daffa melongo.
•
•
•
***
__ADS_1