
Tidak ada yang mampu membalas kebaikanmu, kecuali Allah SWT.
______________________________________
Rika berjalan terseok-seok di tengah rumpun rimbunnya semak yang menutup jalan. Beberapa kali langkahnya terjatuh karena tersangkut ranting kayu hingga menimbulkan goresan luka pada kakinya.
Perih. Sekuat mungkin ia menahannya. Beberapa kali ia menatap kearah belakang untuk melihat apakah dirinya sedang di kejar atau tidak.
Aman. Ia masih bisa bernapas sejenak untuk menghalau lelahnya walaupun agak kesusahan.
Beruntungnya dirinya bisa melarikan diri dari penyekap yang gila tersebut. Bagaimana tidak gila, setiap hari dirinya di pukul dan dicambuk, bahkan hanya diberikan sedikit air dan makanan.
Kalau saja perempuan bercadar tersebut tidak menolongnya, mungkin saja besok-besok dia sudah menjadi seonggok daging yang tidak bernyawa.
Rika menghentikan langkahnya tepat ditepi jalan raya. Menatap kearah jalan yang terlihat sangat ramai namun hanya mobil bermuatan berat saja yang berlalu lalang. Melirik kekanan dan kekiri, berharap ada orang yang mau menolongnya.
Ia tidak memperhatikan lagi keadaan dirinya yang berpakaian compang-camping. Bahkan dirinya persis seperti orang gila yang sedang berkeliaran. Atau setidaknya seperti seorang gelandangan yang sedang mencari nafkah.
Senyumnya mengembang saat menemukan sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Setidaknya ia masih bisa meminta pertolongan dan juga meminta minum pada mereka, dirinya sangat kehausan.
Dengan bersusah payah ia menyeret kakinya untuk berjalan ke kedai kopi tersebut. Sambil membenahi sedikit lengan bajunya yang tersingkap karena robek memanjang hingga siku.
Saat dirinya sudah berdiri tepat didepan kedai tersebut, serentak semua yang berada disana menatap kearah dirinya. Tatapan mereka terasa menguliti dirinya, dari atas hingga ujung kaki. Bahkan tatapan mereka terlihat penuh tanya, bingung, kasihan dan takut bercampur menjadi satu.
"Ma'af, bolehkah saya minta minum. Saya sangat kehausan." Susah payah Rika mengucapkannya. Bahkan ia terlihat sudah gemetaran.
"Duh, ikam kanapa luh? Datang dimana ikam tadi?" tanya pemilik warung sambil membawakan Rika segelas air putih, dengan bahasa daerah yang tidak dimengerti oleh Rika.
(Duh, kamu kenapa, neng? Datang darimana kamu tadi?)
Rika hanya membeo saja karena ia tidak mengerti sama sekali dengan ucapan mereka. Ia hanya mengetahui sedikit saja bahasa yang sama seperti bahasa Indonesia. Matanya beralih menatap kearah beberapa pengunjung yang sejak tadi menatapnya prihatin.
Dengan tangan gemetar ia meraih gelas tersebut dan meneguknya sampai tandas. Sesekali matanya menatap awas kearah belakangnya. Ia takut kalau mereka akan menyadari kalau dirinya sudah tidak ada disana lagi.
"Ma'af, Bu. Saya tidak mengerti dengan bahasa yang ibu gunakan. Saya berasal dari Jakarta." Sahutnya setelah menyerahkan gelas kosong pada pemilik warung kopi tersebut.
"Oh begitu?" sahut pemilik warung dengan aksen yang terdengar cadel.
"Bawa duduk dulu, Neng," ucap salah seorang pengunjung yang sudah menggeser duduknya untuk memberikan Rika tempat.
__ADS_1
"Makasih, Mas," tolak Rika. Matanya kembali menatap kearah belakangnya.
"Itu... wajahnya kenapa lebam-lebam? Apakah kamu salah satu korban tabrak lari?" Pemilik kedai yang penasaran dengan Rika kembali bertanya. Ia kembali menatap Rika yang terlihat masih gemetaran. Ia merasa kasian melihat Rika yang terlihat mengenaskan dan entah karena apa ia menjadi tersentuh karenanya.
"Bagaimana kalau kita ke rumah saja? Kamu obati dulu luka lebam pada wajahmu."
Rika hanya mengangguk saja sambil mengikuti langkah wanita paruh baya yang sudah menarik tangannya menuju kearah rumahnya yang terletak dibelakang kedainya.
"Kamu panggil ibu dengan sebutan Diyang saja. Karena orang-orang memanggil ibu dengan sebutan itu," ucapnya sambil menyuruh Rika untuk duduk lesehan dirumahnya. Rumah yang sederhana dengan beberapa perabot seperlunya saja.
"Nama kamu siapa?"
"Rika, Bu. Panggil Rika saja," sahut Rika kembali mengulang namanya.
"Ibu ambilkan obat dulu," ucapnya lagi sambil berlalu kedalam ruangan yang ada disana untuk mengambil kotak P3K.
Rika hanya diam saja sambil duduk lesehan. Ia menatap penampilannya yang sangat memprihatinkan. Bahkan ia baru menyadarinya sekarang. Menatap kakinya yang berjalan tanpa alas dan banyak goresan yang cukup dalam disana, bahkan beberapa duri tampak tersangkut di telapak kakinya.
Bersyukurnya ia karena masih ada orang yang mau menolongnya walaupun ia berada di daerah yang sangat asing dan dalam keadaan yang sedikit memprihatinkan.
"Kamu makan dulu, ibu lihat sejak tadi kamu gemetaran. Sepertinya kamu belum makan sejak pagi tadi." Meletakkan sepiring nasi beserta lauk dan juga sayurnya.
Rika mengangguk. Masih dengan tangan gemetar dirinya meraih nasi tersebut dan memakannya dengan perlahan. Hingga nasinya tertinggal beberapa suapan saja lagi.
Diyang terus-menerus memperhatikan Rika. Baru kali ini ia menemukan wanita yang keadaannya begitu memprihatinkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?"
Rikà menghentikan suapan nasinya. Ia menatap kearah Diyang dengan wajah memucat.
"Sebenarnya saya baru saja melarikan diri dari penculikan," sahut Rika dengan setengah berbisik. Ia masih takut kalau-kalau di luar ada mata-mata Yakub.
"Kenapa kamu bisa sampai diculik!?" Membelalakkan mata.
"Saya tidak tahu. Mungkin karena kebodohan saya yang menyangka kalau semua orang yang saya kenal itu baik." Rika kembali mengingat dirinya saat bertemu dengan pengendara motor saat berada dihadapan vila Eland.
"Maksud kamu apa? Apa kamu diculik orang yang tidak dikenal? Semacam perdagangan manusia?" tanya Diang penasaran.
"Mungkin," sahut Rika asal.
__ADS_1
"Bu, perkebunan kelapa sawit di daerah ini ada dimana ya?" tanyanya lagi.
Diyang mengerutkan dahinya bingung mendengar pertanyaan Rika tersebut. Ia tampak berpikir dan mengingatnya.
"Ada. Tapi jauh dari sini. Kamu harus melalui jalan memutar. Karena perkebunan kelapa sawit terletak di pinggiran sungai besar," sahutnya. "Kenapa kamu menanyakannya?"
"Kebetulan disana ada seseorang yang saya kenal, bu. Dia juga masih kerabat saya," sahut Rika lagi.
"Berarti kamu diculik saat berapa didaerah ini ya?" Tanyanya lagi dengan aksen lokal.
Rika mengangguk. Ia menatap kearah Diyang. Entah kenapa ia percaya begitu saja dengan wanita paruh baya tersebut. Mungkin karena dia sudah menolong Rika tanpa pilih kasih.
"Sebaiknya kamu habiskan dulu makananmu. Nanti aku akan mencarikan bantuan untukmu."
Rika kembali mengangguk. Ia kembali melanjutkan suapan makanannya yang sempat tertunda tadi.
Selesai makan, Rika di suruh membersihkan dirinya terlebih dahulu. Bahkan ia juga diberikan sepasang pakaian untuk mengganti baju yang sudah tidak layak pakai di badannya. Luka lebamnya juga sudah di obati. Ia merasa sangat lebih baik sekarang.
Sekali lagi Rika merasa bersyukur karena ditolong oleh wanita yang baru saja dikenalnya dalam hitungan jam.
"Bu, bolehkah saya minta carikan tumpangan sekarang?" tanya Rika.
Diyang mengangguk. Ia menatap Rika yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Kamu tunggu disini. Saya akan memanggilkan Udin untukmu," sahutnya lagi.
"Tapi, bagaimana kalau besok pagi saja kamu perginya. Malam ini menginap disini saja terlebih dahulu. Sekaligus untuk memulihkan tenagamu." Diyang menatap Rika dengan dengan sedikit harapan.
"Bu, tidak bisa. Saya harus berangkat sekarang juga. Untuk memberitahukan kejadian ini pada tuan saya, sekaligus saya ingin melaporkan kejadian ini pada pihak polisi," sahut Rika.
"Baiklah kalau begitu. Ibu tidak akan mencegahmu lagi." Diyang berjalan keluar rumah menuju kearah kedai kopi miliknya untuk mencarikan seseorang yang bisa mengantarkan Rika dengan selamat hingga sampai ketempat yang dituju olehnya.
•
•
•
*******
__ADS_1