
Sesuai dengan kemauan Daffa, akhirnya setelah dari kafe tersebut mereka mengunjungi kediaman kakeknya Daffa, Eland.
Sesampainya disana Daffa menatap seluruh bangunan yang menjulang di depannya dengan penuh tanya. Suasana tampak sangat sepi bahkan kehidupan seperti tidak tampak di depannya.
"Tuan muda, apakah anda sesang mencari tuan besar?"
Daffa beralih menatap kearah seorang pelayan yang tiba-tiba sudah berdiri disisi kanannya dan tidak jauh dari keberadaan mereka berdua. Ia mengangguk samar.
"Tuan besar sedang berada di belakang. Mari ikuti saya!" ucapnya lagi sambil mempersilahkan Daffa dan Anggia untuk mengikutinya dibelakangnya.
Sepanjang perjalanan mereka, Anggia hanya bungkam saja. Sesekali matanya melirik kekanan dan kekiri untuk menatap keindahan taman yang di miliki oleh lelaki tua yang belum pernah di temuinya sama sekali.
Matanya kembali memindai kearah ayunan dan rumah pohon yang sudah mereka lewati. Sedikit kekanakan memang dari tatanan tamannya.
"Rumah pohon itu sengaja kakek bangun dulu, saat kami masih kecil dan sangat suka bermain kesini mengunjungi kakek," ucap Daffa sambil mengarahkan telunjuknya kearah rumah pohon.
Anggia mengangguk saja, ia sudah salah menduganya. Matanya melirik kearah hamparan danau yang tidak seberapa luas di depannya, memandang dengan takjub keindahan di belakang mansion milik lelaki berusia senja tersebut.
"Kakek! Apa kabar?" Daffa merangkul tubuh ringkih yang sedang duduk santai di gezebo belakang rumahnya. Menatap hamparan danau buatan yang ada di sekelilingnya dengan seteko teh hijau kesukaannya.
"Daffa! Kamu sudah sangat lama tidak mengunjungi kakek!" Eland menyambut hangat pelukan Daffa. Matanya beralih menatap seorang wanita yang berada di belakang tubuh Daffa dan ia yakin kalau wanita itu pastilah di bawa oleh cucunya.
"Pantas saja tidak pernah kesini, rupanya kamu sibuk dengan kekasihmu!" Eland menunjuk pada Anggia dengan ekor matanya.
"Ehm... Daffa lupa. Dia Anggia, calon istri Daffa!" Daffa menarik tangan Anggia untuk mendekat ke sisinya. Memperkenalkan pada kakeknya yang barangkali sudah melupakan keberadaan gadis tersebut.
Eland menatap Anggia dengan penuh selidik, hingga membuat dahinya yang keriput semakin bertambah-tambah lipatannya. Hal tersebut justru membuat Anggia merasa risih. Ia mengalihkan tatapannya kearah bunga teratai ungu yang ada di pinggiran danau. Kemudian matanya beralih menatap bunga marigold yang tumbuh berjejer di sepanjang jalan buatan yang terhubung dengan gazebo yang berada tepat di tengah danau tersebut.
"Siapa namamu?" ucap Eland disertai dengan sebuah kekehan.
"Anggia kek," sahut wanita itu, kembali menatap kearah lelaki tua yang mengembangkan senyum manisnya nan keriput.
"Nama yang bagus sesuai dengan orangnya!" sahut Eland. Ia kembali duduk pada bangku yang di tempatinya sebelumnya.
"Apa kamu kesini hanya ingin memperkenalkan calon istrimu pada kakek?" Menatap Daffa dengan sendu. Ia terkadang merasa sangat kesepian hidup di rumah mewah tersebut, tapi semua itu sudah menjadi keputusannya untuk menenagkan diri di usia senja serta memisahkan diri dari kehidupan anaknya.
__ADS_1
Bahkan ia sengaja hidup mengasingkan dirinya dari kehidupan Angga dan Rika. Padahal mereka berdua begitu keberatan melepaskan Eland yang hidup menjauh dari mereka.
Namun, di sisi lain mereka tidak dapat menolak keinginan Eland yang sudah menjadi keputusan mutlak baginya.
"Sekaligus kek keduanya, sekalian kami mengunjungi kakek. Sudah sangat lama bukan kita tidak bertemu."
Eland mengangguk, "Setidaknya kamu tidak melupakan lelaki tua ini!"
Hening. Suasana kembali hening, Eland sibuk dengan ingatannya saat Daffa masih sangat kecil dan sekarang saat ia bertemu, cucunya sudah tahu arti dari lawan jenis.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan berdua bersama kakek!" Daffa menatap Eland dengan intens, kemudian menatap Anggia yang duduk tepat di hadapnnya.
Membuat gadis belia tersebut melirik kearah Daffa disertai sebuah anggukan.
"Kalian bicara saja berdua. Aku ingin jalan-jalan melihat danau buatan ini!" ucap Anggia. Ia mengerti dengan situasi yang di hadapinya sekarang, bahwa mereka berdua perlu privasi.
"Baiklah. Kamu minta Rahman saja untuk menemanimu jalan-jalan," sahut Eland yang langsung memberi kode pada lelaki paruh baya yang berdiri tidak jauh dari gazebo tempat mereka duduk.
Anggia mengangguk dan berjalan meninggalkan mereka di ikuti oleh pelayan Eland yang dengan setia menemaninya.
Eland terkekeh mendengarnya, "Rupanya kamu sangat memperhatikan raut wajah kakek saat melihat calon istrimu tadi."
Daffa hanya mengangguk samar untuk menanggapi ucapan kakeknya tersebut.
"Kalau soal ayahmu, kakek sama sekali tidak tahu-menahu mengenai itu. Tapi wajah gadis itu mengingatkan kakek pada seseorang. Sahabat kakek lebih tepatnya." Eland mendesah saat kembali mengingat masa-masa kelam dalam hidupnya.
"Apa kamu yakin kalau dia cocok sebagai pendamping hidupmu?" Eland juga menatap cucunya dengan ekspresi yang sama.
"Apa maksud kakek?" Daffa mendesis. Ia tidak suka apabila pilihannya di ragukan, apalagi oleh orang terdekatnya.
"Tidak apa-apa. Menikah itu perlu pertimbangan yang matang. Hanya saja aku melihat kalian menikah di usia yang sangat belia." Eland meraih cangkir teh hijau miliknya kemudian menghirupnya dengan perlahan.
Tangannya bergerak meraih teko dan cangkir kosong yang ada di meja tersebut. Menuangkannya dan menyodorkannya pada cucunya.
Sudah lama sekali ia tidak menikmati hari-hari tua seperti ini dengan duduk bersama cucunya.
__ADS_1
Daffa tidak percaya begitu saja dengan ucapan pria tua yang ada dihadapannya. Lelaki ini sama persis dengan ayahnya yang menentang keputusannya tanpa suatu alasan yang jelas.
"Apa karena ada sesuatu yang lain. Yang berhubungan dengan masa lalu kakek atau ayah?" celetuk Daffa di sela-sela keterdiaman mereka.
Eland terdiam, sinar matanya tampak meredup. Ia berdiri dan berjalan kearah tepian gazebo. Menatap angsa yang berenang kian kemari.
"Tidak ada masa lalu yang harus kamu permasalahkan di masa kini kan? Kecuali kamu punya hutang," Eland berbalik dan menatap Daffa dengan senyum keriputnya.
"Kakek benar. Hutang selamanya akan tetap menjadi hutang dan selalu di wariskan pada keturunannya." Daffa menarik napasnya dengan keras.
"Apa kakek mengenal keluarga Anggia maksud Daffa?" ia kembali membuka suaranya.
Eland menggelang. Ia menatap Anggia dari kejauhan, gadis itu seperti memiliki aura negatif bagi Daffa tapi Eland tidak mau mengatakannya. Percuma saja mengatakannya pada cucunya yang sangat keras kepala ini. Semuanya pasti akan tetap di tentangnya.
"Apa yang membuatmu memutuskan untuk menikahinya di usia belia seperti ini?" tanya Eland kemudian.
Daffa berjalan ke sisi Eland, menatap air danau yang berwarna hijau kebiruan. Matanya tidak beralih dari ikan-ikan yang berenang di bawah air.
"Dia istimewa dan tidak ada gadis terkuat yang pernah Daffa temui selain dirinya." Senyum Daffa mengembang saat mengingat masa lalu mereka berdua. Anggia adalah gadis yang periang di matanya bahkan gadis itu sangat menyukai kesederhanaan.
"Semenjak Daffa mengenalnya waktu itu, Daffa merasa bahwa hidup Daffa memiliki tujuan," senyum manis masih mengembang di bibirnya saat ia mengingat kembali masa kanak-kanak yang sering di habiskannya bersama Anggia.
"Ternyata cintamu sudah ada sejak lama. Tapi sesempurna dirinya di matamu, dia tetaplah manusia biasa yang masih punya banyak kekurangan!" Eland menepuk pundak cucunya hingga membuat Daffa berpaling dan menatap Eland.
"Sebaiknya kamu temani dirinya jalan-jalan disini. Kakek ada keperluan!"
Daffa hanya mengangguk saja sembari menatap kepergian Eland yang menjauhi dirinya. Dahinya mengerut saat mengingat ucapan terakhir kakeknya. Apakah lelaki tua itu benar-benar meragukan pilihannya.
Baiklah, ia akan membuktikan pada kakeknya dan kedua orang tuanya bahwa pilihannya adalah benar.
•
•
•
__ADS_1
*****