
Setelah melakukan rapat kerja sama dengan perusahaan milik Bastian, kini Adrian dan Rio hendak melangkah keluar dari kamar hotel tempat mereka menginap, namun saat berada di lobby hotel, tiba-tiba saja langkah kaki Adrian terhenti kala Rangga langsung berdiri tepat di hadapannya.
Adrian menautkan satu alisnya menatap tajam pada Rangga yang saat ini sedang tersenyum tipis di hadapannya.
"Jangan menghalangi langkah kaki ku." Tegas Adrian menatap horor pada Rangga.
Lalu Rio ingin maju memberi pelajaran pada Rangga, namun Adrian memberikan kode dengan tangannya agar diam di tempat tidak usah ikut campur.
"Ck. Kau pikir kau siapa? Lihat, banyak jalan di sini? Kenapa kau merasa aku menghalangi langkah kakimu? Kau bisa berputar jika mau melangkah bukan?" Ucap Rangga dengan raut wajah yang seperti merendagkan Adrian.
Adrian menahan emosinya. Andai saja ia tidak sedang buru-buru, mungkin saja ia sudah menghajar habis-habisan pria yang saat ini ada di hadapannya. Entah kenapa pria itu bisa masuk dalam kategori pria yang sangat di cintai oleh adiknya, padahal jelas sekali jika pria ini adalah pria yang tidak tahu malu, dan tidak memiliki jiwa kepemimpinan.
Adrian lalu melangkah, sambil menyambar pundak Rangga, sehingga Rangga langsung menarik lengan Adrian. Namun, dengan satu kali gerakan, Adrian langsung berhasil memelintir tangan Rangga hingga membuat Rangga meringis kesakitan.
"Sudah aku peringatkan, jangan pernah halangi langkah kakiku. Jika sekali lagi kau mencoba, maka aku tidak akan segan-segan menghilangkan nyawamu." Ancam Adrian lalu mendorong tubuh Rangga, hingga membuat Rangga hampir terjatuh.
Adrian dan Rio kembali melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Adrian... Jika aku tidak bisa memiliki Afika, maka kau pun juga tidak akan bisa! Ingat itu." Teriak Rangga dengan keras dan sangat lantang. Namun di abaikan oleh Adrian, karena bagi Adrian ancaman seperti itu hanya sebuah sampah baginya. "Lihat saja Adrian. Akan aku buat kau berpisah dengan Afika." Gumam Rangga.
••••
Di panti. Saat Nadi dan Afika sibuk duduk bersama tiba-tiba Afika di kagetkan saat Sulis datang menghampiri.
"Apa boleh aku berbicara berdua dengan Afika saja?" Tanya Sulis dengan sopan kepada Nadi. Dan lalu Nadi melihat ke arah Afika.
Afika menganggukkan kepala, menandakan ia ingin berdua bersama Sulis.
"Terima kasih." Ucap Sulis lalu duduk di samping Afika.
"Terima kasih karena sudah bertahan hingga sejauh ini."
Afika tersenyum mendengar ucapan Sulis.
"Mau kah kau kembali menjadi menantuku? Istri dari Rangga putraku?"
__ADS_1
Afika terdiam menatap wajah Sulis yang memang sangat tulus menginginkan Afika untuk menjadi menantunya.
"Ibu janji, akan menjagamu. Dan ibu pun juga yakin jika Rangga benar-benar sangat mencintaimu. Percayalah, Rangga sudah sangat menyesali perbuatannya dahulu. Beri Rangga satu kali kesempatan untuk membuktikan semuanya padamu. Tolong beri Rangga kesempatan."
"Tapi bu.." Sela Afika.
"Ibu yakin, Rangga akan menjadi suami yang bertanggung jawab. Akan mencintaimu dan menyayangimu. Menjadikan mu wanita paling beruntung. Percayalah, asal kau bisa memberikan Rangga kesempatan. Dan soal bayimu, biarkan pria brengsek itu yang mengurusnya. Biarkan mereka bersama. Kau sudah cukup menderita, dan kembali lah pada Rangga."
Afika langsung melepaskan genggaman tangan Sulis.
"Dia daddy Lion, dan juga jangan pernah memintaku untuk meninggalkan Lion. Karena Lion adalah anakku, darah dangingku. Jadi stop bu, jangan pernah meminta apa pun padaku." Ucap Afika yang begitu kecewa dengan ibu Sulis. Sangking sayang nya Sulis pada putranya dan juga menyukai jika Afika menjadi menantunya, namun Sulis mengenyampingkan perasaan Afika. Sulis hanya ingin membuat putranya bahagia tanpa melihat satu sisi, jika Afika sudah memiliki anak. Dan tidak mungkin bagi Afika meninggalkan darah dagingnya hanya untuk pria yang sudah pernah membuatnya kecewa.
"Tapi Afika."
"Jangan pernah meminta padaku. Karena apa yang ibu minta tidak akan pernah terjadi. Lion akan hidup bahagia bersama mommy dan daddy nya. Tidak dengan orang tua sepihak." Tegas Afika lalu berdiri dan menginggalkan Sulis.
"Afika.." Teriak Sulis. "Baiklah, kalau begitu kau bisa membawa Lion tinggal bersama kami. Aku dan Rangga akan berusaha membuka hati untuk menerimanya."
__ADS_1
"Tidak perlu menerima anakku. Karena sudah ada aku dan daddy nya yang menerima Lion."
Afika berjalan masuk ke dalam panti sambil memengang dadanya yang terasa nyeri. Seperti ini kah rasanya sakit saat mendengar jika anak sendiri tidak di anggap. Dan enak saja Sulis memintanya untuk memisahkan dirinya pada Lion. Padahal sejauh ini, Afika sudah berusaha mempertahankan Lion dari dalam kandungan.