Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 61


__ADS_3

"Maafkan aku." Kata Adrian berdiri tepat di hadapan Afika. "Maaf, karena terlalu memaksamu. Maafkan aku Afika."


"Kalau begitu, aku akan tidur di kamar Lion, dan kembali lah ke kamar kita."


"Kamar mu. Bukan kamar kita." Tegas Afika.


"Oke, oke aku salah. Kamar ku. Yah, kembali lah ke kamar ku. Aku akan tidur di kamar Lion."


"Tidak usah. Di mana kamae Lion. Biar aku yang tidur di sana. Atau, jika kau tidak ingin maka lebih baik aku pulang ke rumah tante Junisah."


"Baiklah." Dengan segerah Adria langsung menuntun Afika agar masuk ke dalam kamar Lion yang bersampingan dengan kamarnya. Ya, walaupun tidak sekamar tapi setidaknya mereka sudah berada di dalam satu atap. Bagi Adrian ini sudah hal yang luar biasa, tinggal sedikit berjuang lagi agar Afika mau memaafkan dirinya.

__ADS_1


"Kau suka? Aku sengaja memberikan desain warna army. Tapi jika kau tidak suka, aku akan menggantinya." Ucap Adrian saat membuka pintu kamar. Dan saat Afika masuk, Afika langsung berdiri di depan pintu menatap tajam pada Adrian.


"Cukup sampai di sini, aku dan Lion ingin beristirahat." Kata Afika yang belum juga di jawab oleh Adrian tapi pintu sudah tertutup.


•••


Afika membaringkan Lion di box bayi yang berada di dalam kamar. Lalu Afika duduk sambil memegang da*danya. Entah kenapa, setiap berada di dekat Adrian hatinya terus merasa sakit.


Kejadian yang dulu masih terekam dan tersimpan di benak Afika. Yang selalu saja terputar kala dirinya berhadapan dengan Adrian. Itu lah mengapa Afika sangat benci dan muak berada di dekat Adrian hanya saja kehadiran Lion membuat Afika sedikit menghilanhkan egonya. Namun, untuk memberi maaf pada Adrian, sedikit pun Afika tidak pernah berfikir ke arah itu.


•••

__ADS_1


Adrian di dalam kamar, melihat Afika dari layar ponsel miliknya. Ya, kamar Lion memang sengaja di pasangkan cctv agar dirinya bisa mengawasi Lion jika mereka tidur secara terpisah. Dan saat melihat Afika yang duduk sambil memegang da*da. Entah kenapa Adrian juga merasa ikut sakit.


"Maafkan aku Afika. Ini semua salah ku." Ucap Adrian. Sungguh, kenapa penyesalan selalu datang di belakang. Adrian benar-benar merasa sangat bersalah dengan apa yang selama ini ia lakukan terhadap Afika. "Aku janji, akan menjadikan mu sebagai wanita yang paling bahagia di bumi ini. Dan aku akan buktikan jika betapa aku sangat mencintaimu Afika."


•••


Hingga malam hari, Afika sama sekali belum keluar dari kamar membuat Baby dan Farah kebingungan.


"Kak Adrian. Harusnya kakak itu panik. Lihat sampai sekarang Afika belum keluar. Dia pasti lapar kak. Sedangkan Lion, dia butuh gizi dari mommy nya." Kata Baby yang tidak suka melihat Adrian yang juga seharian ini berada di dalam kamar. "Kak, jangan ulang kesalahan yang sama. Jangan mengurung Afika dan Lion di kamar. Ingat kak dia istri dan anakmu." Kata Baby namun kemudian Baby melihat Adrian yang hanya diam sambil memperhatikan ponselnya. Baby yang penasaran langsung mendekat ke arah Adrian dan melihat ponsel Adrian. "Kak." Ucap Baby saat melihat jika kini Afika sedang menggeondong Lion sambil bernyanyi.


Pantas saja Adrian betah berada di dalam kamar dan bermain ponsel ternyata inilah alasannya.

__ADS_1


"Aku sudah memikirkan semuanya. Ada kulkas di kamar Lion, banyak buah dan juga minuman khusus untuk ibu yang sedang menyusui. Lagian kakak tahu, pasti Afika ingin menghabiskan waktu dengan Lion. Dan juga, dia tidak membuka kamar karena tidak ingin bertemu dengan ku."


"Aku yakin. Kelak entah itu kapan, cepat atau lambat. Tapi pasti, Afika akan memaafkan mu."


__ADS_2