Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Bab 6


__ADS_3

Ketika Khaula sudah duduk di samping Khalid. Laki-laki itu tersenyum penuh arti. Ada kerinduan yang lepas saat wanita yang ia jaga kehormatannya itu duduk menunduk. Wajah Khaula yang selama ini selalu mengisi angannya kini nyata di dekatnya. Khalid menghela napas dalam, melihat gurat sedih yang tergambar di muka calon istrinya.


Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi tentu tidak mungkin. Banyak telinga yang akan mendengar dan Khalid tidak ingin membuat Khaula menjadi tertuduh hanya karena ia tidak mampu menahan diri. Khalid tetap ingin Khaula dipandang sebagai calon istri yang baik. Anggap saja kesedihannya sebagai haru seorang gadis yang mau melepas lajang. Walau terbersit tanya ada hubungan apa antara Khaula dan Juki? Kenapa Khaula tampak bersedih?


“Khaula, kamu sudah siap, Nak?” Zainul memecah hening.


Agak lama baru Khaula mengangguk.


“Khalid, kamu bagaimana?” lanjutnya pelan.


“Insyaallah, Pak Etek,” jawabnya mantap.


“Sebelum pernikahan ini kita laksanakan, ada beberapa hal yang ingin Pak Etek terangkan dan sampaikan. Sebagai tanggung jawab seorang bapak terhadap anaknya.”


Suara Zainul bergetar, rahangnya tampak mengeras. Rasa haru membuat laki-laki paruh baya itu menarik napas berkali-kali bersama istighfar dalam dada. Rasa haru itu pun keluar menyertai kata-katanya.


Menikahkan anak kakaknya yang tidak pernah mendapat kasih sayang semenjak kecil, tentu bukan hal yang mudah bagi laki-laki gagah itu. Dadanya sesak, air mata mulai membuat matanya mengabur. Setelah berkali-kali ia menghela napas, dengan terbata-bata ia lanjutkan kalimatnya.


“Nak, menikah bukan hanya menyatukan dua manusia, melainkan mengeratkan silaturahmi dua keluarga besar, suku, kaum dan nagari. Ingat, Nak. Menikah itu adalah ibadah. Jika kalian tidak bisa menutupi dan melindungi aib kalian berumah tangga, maka jangan bermimpi meraih surga Allah.”


Hening, banyak di antara tamu yang barangkali ikut ditohok kata-kata Zainul. Karena di zaman sekarang, banyak yang lupa bagaimana menempatkan diri dalam keluarga pasangan, banyak yang mengumbar aib pasangan, meski hanya menceritakan pernah diperlakukan seperti apa oleh pasangan.


Betapa berat menjadi seorang istri dan betapa besar tanggung jawab yang akan dipikul Khalid setelah ini. Khalid mengatupkan bibir, menatap lekat Zainul yang kembali berbicara.

__ADS_1


“Adapun tujuan dari pernikahan dan berumah tangga adalah tidak lain tidak bukan hanya mencari ketenangan dalam hidup, bahagia namanya, senang lahir dan batin, sentosa berkeluarga sehingga lapang terasa alam ini. Berumah tangga itu susah-susah gampang, jika liar menggigit tangan, jika jinak tidak tertangkap, dikejar semakin menjauh, dicari tidak bersua, hampir-hampir tidak bertemu. Pelajaran tentang kehidupan berumah tangga tidak ada hubungannya dengan sekolah, banyak sarjana yang gagal total dalam membina biduk berumah tangga. Bukanlah harta yang menentukan, rumah orang kaya tidak tanggung megahnya, tapi rumah orang miskin kehidupan keluarganya lebih damai. Atau barangkali gagah dan cantik seperti bintang film, kadang itu yang paling buat sengsara, ijab kabulnya di tanah Mekah pulangnya langsung cerai di KUA sambil tertawa dan berpelukan, sementara si jelek dan si kurus enjoy berumah tangga dan selalu mesra. Jadi rumah tangga tergantung orang yang menjalani, mau bahagia harus bisa saling menerima, baik itu watak, ataupun segala tindak tanduknya. Namun, satu hal yang mesti kalian ingat, bawa Allah selalu dalam perjalanan rumah tangga kalian, karena Allah Maha Penyayang dan Maha Bijaksana. Agar kapal kehidupan kalian tidak karam di tepi,” tutupnya dengan tatapan haru kepada Khaula dan Khalid.


Khalid mengangguk, sedang Khaula menghapus bening yang mengalir dari sudut matanya. Bagaimana mungkin ia bahagia, sementara hatinya ada bersama Juki. Sedang Khalid, laki-laki ini hanya akan menjadi pelampiasan dendam di masa lalu. Khaula yakin kapal yang dikemudikan Khalid tidak akan sampai ke tujuan.


“Bagaimana Khaula, Khalid dan semua saksi? Apa acara bisa kita lanjutkan?” pertanyaan penghulu membuat semua yang hadir saling berpandangan antara satu dengan yang lain.


“Tapi sebelumnya, silahkan minta restu dulu kepada orang tua masing-masing. Karena rida Allah, ada pada rida orang tua,” ucapnya kemudian.


Sesuai arahan penghulu, Khaula dan Khalid bersimpuh di depan ibu masing-masing, karena memang mereka sudah sama-sama tidak memiliki ayah. Keharuan kembali menyelimuti, tidak hanya kedua pengantin yang larut dalam rasa itu. Semua yang hadir ikut merasakan, bahkan ada yang terlihat ikut meneteskan air mata ketika Khaula dipeluk oleh Samsiah.


“Khaula mohon restu, Bu. Maafkan Khaula belum bisa membahagiakan Ibu,” ucapnya pelan.


“Sudahlah, Nak. Jangan katakan itu lagi. Ibu sangat bahagia, Ibu tidak menuntut apa-apa, bisa melihat kamu menikah saja Ibu sudah sangat senang. Jadilah istri yang baik untuk Khalid, jaga kepercayaannya. Hormati dan hargai dia, karena sekarang tanggung jawab Ibu menjaga dan melindungi kamu akan Ibu serahkan pada Khalid,” ujarnya dengan air mata berlinang.


“Uda, alah gadang anak awak kini6. Tenang di surganya Allah, yo, Da.”


Mendengar ratapan Samsiah, Khaula terguncang. Air matanya mengalir deras. Kini ia tidak peduli dengan riasan wajahnya yang mungkin sudah berantakan. Pelukan ibunya membuat ia semakin takut menjalani hari-hari bersama Khalid. Keadaan yang sekarang dialami Khaula, juga sedang berlangsung pada Khalid dan ibunya. Kedua ibu dan anak itu larut dalam haru dan sukacita.


“Khalid, istrimu laksana tulang rawan. Jangan pernah kamu paksa menjadi lurus karena ia akan patah. Pun, jangan biarkan ia mengikuti bengkoknya karena tidak akan memperburuk bentuknya. Jaga dan rawat ia sebagaimana mestinya. Rumah tangga akan menjadi surga, jika seorang suami mampu menjadi imam dan panutan yang baik. Jika istri kamu salah, maafkan dia. Pergauli dan bersenda guraulah dengannya. Kamu boleh cemburu, tapi jangan berlebihan, apalagi mencari-cari kesalahan dan membuka aibnya. Yang paling utama adalah jaga rahasia istri kamu. Jangan beberkan apa pun yang kalian lakukan dalam kamar kalian kepada orang lain, meski hanya ucapan,” tandasnya sambil memegang wajah Khalid yang berurai air mata.


Perlahan tangan tua ibu Khalid, mengusap air yang jatuh ke pipi anaknya.


”Ibu rida, semoga Allah juga meridai pernikahan kalian,” katanya sembari memeluk putra tersayang.

__ADS_1


***


6 Uda\= Panggilan untuk suami, sudah besar anak kita sekarang.


Setelah parade air mata usai, penghulu meminta Khalid dan Khaula duduk di belakang meja menghadap kepadanya. Sementara Juki, semenjak Khaula meminta restu kepada ibunya, ia sering terlihat menunduk. Dadanya kembang kempis menahan gejolak kecewa.


Namun, apa daya. Sebentar lagi, ia akan menjadi saksi dan ikut menandatangani berkas pernikahan Khaula. Laki-laki memang biasa berpikir dengan logika, tapi kali ini perasaan cemburu, marah mengalahkan logika Juki sebagai laki-laki. Ia, mengundurkan diri jadi saksi karena harus kembali ke kantor. Ia tidak peduli tatapan heran Zainul dan keluarga Khaula yang lain. Sebuah amplop dan satu bingkisan kecil diserahkan Juki ke tangan Khaula.


“Hadiah dari kantor, semoga bermanfaat. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek-nenek. Maafkan aku tidak bisa memenuhi keinginan Pak Etek-mu,” ucapnya.


Laki-laki muda itu memaksakan dirinya tersenyum, getir.


“Juki, maafkan aku,” pinta Khaula disela isak yang tertahan. Tatapan matanya menembus jiwa Juki. Laki-laki muda itu menghela napas berat. Tak lama ia berusaha tersenyum kembali.


“Tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu tidak salah. Oh, iya. Di depan ada karangan bunga dari kantor. Terus ada titipan salam dari Heru,” ucapnya pelan. Agar jangan ada yang curiga melihat mereka.


“Juk, kenapa baru kemarin? Kenapa?” Khaula berbisik dengan suara memelas.


“Maafkan aku, Khaula. Maafkan aku,” jawabnya tak kalah lirih, agar jangan sampai di dengar orang lain.


Namun, pertanyaan Khaula barusan, walau pelan mampu menghancurkan pertahanan Juki, ia stidak mampu menahan kecewa yang sengaja disimpan melalui sikap biasa-biasa saja. Tapi, tidak mungkin ia menyatakan rasanya kepada Khaula saat ini, bisa-bisa ia dianggap gila oleh sanak keluarga gadis yang masih menatapnya tak berkedip itu. biarlah sakit yang ia rasa ditelan bersama senyum, agar jangan seorang pun yang tahu kalau saat ini ia sedang mengumpulkan serpihan hatinya yang hancur.


Juki berusaha bersikap setenang mungkin. Menatap Khaula dengan perasaan tidak menentu. Tapi, ini untuk terakhir kalinya. Karena setelah ini, ia dan Khaula tidak ada hubungan apa-apa lagi, kecuali rekan kerja.

__ADS_1


“Aku mencintaimu. Tapi, Khalid lebih tepat untukmu. Hari ini dan seterusnya, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian,” gumamnya pilu.


__ADS_2