
Nadi yang memang sudah berada di rumah sakit langsung menuju ruang di mana Afika saat ini sedang di tangani. Ya, saat Baby hendak berangkat, ia langsung memutuskan untuk menghubungi Nadi, dan mengatakan untuk tidak memberi tahu terlebih dahulu tentang Afika, mengingat jika kondisi Afika saat ini sedang berjuang untuk melahirkan bayinya. Baby tidak ingin jika Adrian hadir di sana dan akan berpengaruh dengan Afika yang akan melahirkan.
"Siapa kamu?" Tanya Junisah menatap Nadi yang baru saja datang.
"Saya teman baik nyonya Afika." Jawab Nadi, sedikit menundukkan kepalanya.
"Kau bukan pengawal Adrian kan?" Tanya ulang Junisah karena melihat setelan Nadi dari ujung kaki hingga ujung kepala, serba hitam seperti seorang pengawal.
"Saya.." Ucapan Nadi menggantung, kala suster datang memanggil Junisah agar masuk ke dalam ruangan.
Sedangkan Rangga saat ini di buat bingung karena niatnya untuk membayar biaya persalinan Afika. Semua biaya hingga kamar termahal yang nanti akan menjadi tempat Afika, sudah terbayar lunas.
"Adrian, pasti pria itu." Gumam Rangga lalu kembali ke tempat Afika di tangani. Ketika sampai di sana, Rangga langsung melihat Nadi, dan benar dugaan Rangga, pasti Nadi orang suruhan dari Adrian yang melunasi semua biaya selama Afika berada di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Saya harap anda tidak membuat keributan, atau saya akan membuat perhitungan dengan anda." Kata Nadi sambil menatap tajam pada Rangga dan berdiri tegap di depan pintu.
"HA, dasar orang kaya seenak jidatnya melarang." Desis Rangga, yang tidak bisa berbuat apa-apa. Karena percuma baginya untuk melawan yang ada dirinya akan di tendang jauh, dan tidak bisa mendekati Afika lagi, sama seperti yang sudah terjadi dahulu.
Farah dan Baby berlari masuk ke dalam rumah sakit.
"Nadi, bagaimana keadaan Afika?" Tanya Baby dengan nafas yang saling memburu karena kelelahan berlari.
"Masih sedang di tangani."
"Nadi, ini adalah sejarah, ini adalah keponakan pertama ku. Aku harap kau bisa menjaga pria itu agar tidak membuat keributan di sini." Kata Baby sambil menatap jegah pada Rangga.
"Baik nona."
__ADS_1
Baby sangat kesal kenapa Rangga bisa ada di rumah sakit ini, dan kenapa juga Rangga bisa berada di depan pintu ruangan Afika, apakah Rangga saat ini masih berhubungan dengan Afika. Tapi tidak mungkin, toh selama ini Adrian sudah memata-matai Rangga dan tidak ada satupun tanda jika Rangga pernah bersama dengan Afika, kecuali hari ini dan bagi Baby mungkin saja ini kebetulan.
Ngoek... Ngoekkk.. Ngoekkkk..
Terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan sehingga membuat semua yang menunggu di depan ruangan langsung bernafas dengan lega. Bersukur karena apa yang telah di nantikan selama ini telah lahir.
"Kau dengar itu Nadi, dia menangis. Jika dia pria pasti dia akan sangat gagah seperti kak Adrian, dan jika dia wanita pasti dia akan sangat cantik sama seperti diriku." Ucap Baby dengan senang dan spontan memeluk tubuh Nadi.
"Hm, nona." Ucap Nadi dengan grogi karena sedekat ini dengan Baby.
Spontan Baby langsung melepas pelukannya pada Nadi. "Sory, tadi refleks." Ucapnya "Lupakan apa yang terjadi tadi." Titah Baby.
"Baik nona."
__ADS_1