Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 43


__ADS_3

Adrian tidak ingin tinggal diam. Ia terus saja berjalan mencari keberadaan Afika, yang mungkin saja masih belum jauh dari rumah sakit. Namun, sejauh Adrian mencari, ia sama sekali tidak menemukan apa-apa. Foto Afika yang berada di ponselnya di tunjukkan kepada orang-orang sekitar, namun tidak ada dari satupun orang yang berada di sana mengenal dan tidak mengetahui. Hingga Adrian di buat frustasi.


"Afika!" teriak Adrian yang berharap suaranya dapat di dengar oleh Adrian. "Maafkan aku. Kembali lah. Kembali lah padaku Afika. Aku menyesal, aku berjanji akan menjagamu dengan sepenuh hatiku." Adrian duduk di halte bis. Dan beberapa saat kemudian para pengawal datang mendekat dan melaporkan jika mereka sama sekali tidak menemukan Afika.


"Cari sampai dapat! Jangan pulang dengan tangan kosong." Kata Adrian dengan nada tinggi dan gemetar menahan rasa khawatir. Khawatir jika terjadi sesuatu pada Afika dan juga pada kandungan Afika. Khawatir jika Afika pergi dan dia tidak bisa menemukan Afika lagi. Mendengar perkataan Adrian, para pengawal pun langsung kembali berpencar untuk melanjutkan pencarian mereka.


Beberapa saat kemudian, Rio datang menghampiri Adrian.


"Bagaimana, apa kau tahu di mana Afika?"


"Tuan, tadi nyonya Afika menikmati nasi goreng dan setelah itu, di pergi menggubakan taxi." Jelas Rio, setelah mendapatkan cerita dari pemilik warung yang di tempati Afika tadi. Dan kali ini Rio sudah memanggil Afika dengan sebutan nyonya, karena atas dasar perintah dari Adrian.


"Taxi?? Lalu?"


"Saya sudah mengecek cctv di area jalan ini dan sudah tahu identitas dari supir taxi itu. Tapi.." Ucapan Rio menggantung membuat Adrian yang penasaran langsung berdiri dan menarik kera kemeja baju Rio.


"Tapi apa? Katakan! Apa yang telah terjadi?"


"Supir taxi itu menurunkan nyonya Afika di jalan. Dan sayangnya jalan itu tidak di lengkapi dengan cctv.."


BUKHHHH.. BUKKKHHH.. Adrian langsung memberikan bogeman mentah ke wajah Rio yang menurutnya sangat tidka becus dalam bekerja.

__ADS_1


"Pokoknya cari istriku sampai dapat. Dan jangan biarkan tubuhnya lecet sedikit pun."


"Baik tuan."


••••


Afika menatap bangunan rumah yang terbilang besar, yang saat ini sedang ada di hadapannya. Bangunan yang dulu menjadi tempat tinggal dirinya. Afika mengusap air matanya, kala mengingat kenangan yang pernah terjadi, antara dirinya dan juga kedua orang tuanya. Saat kaki Afika hendak melangkah pergi, tiba-tiba seorang wanita memanggil nama Afika.


"Afika." Panggil wanita yang usianya sebaya dengan Siti. Afika menoleh dan menatap wanita yang wajahnya mirip dengan alm ibu kandungnya. "Kau Afika, tante yakin itu kamu." Ucapnya sambil menghampiri Afika dan menatap wajah Afika. Wanita yang bernama Junisah itu, menatap wajah Afika. Dan perlahan tangannya mengusap wajah Afika dengan penuh lembut dan kasih sayang. "Tante yakin, ini kamu nak." Ari mata Junisah langsung terjatuh dan Junisah pun langsung memeluk tubuh Afika. "Terima kasih Tuhan, terima kasih sudah membawa Afika kembali." Ucapnya sembari terus menangis.


Afika hanya diam saja. Ia masih belum bergeming di dalam pelukan tantenya.


Junisah mengusap air matanya. "Masuklah, ini rumah mu." Ajak Junisah menuntun Afika perlahan masuk ke dalam rumah tempat di mana Afika dahulu tinggal sebelum kecelakaan maut yang membuat kedua orang tuanya meninggal.


"Ada apa sayang. Katakan."


"Apa aku boleh tinggal kembali di rumah ini?" Pinta Afika dan berharap agar dirinya bisa kembali tinggal di tempat masa kecilnya dahulu. Ya, hanya tempat ini yang terpintas di benak Afika. Dan mungkin hanya tempat ini yang bisa membuar Afika tidak di temukan oleh Adrian. Jujur, Afika ingin kembali ke panti, namun Afika juga masih ragu, karena jika berada di panti, maka dengan sangat muda Adrian menemukan dirinya.


"Sayang ini milikmu. Kau bisa tinggal di sini sampai kapan pun." Junisah berkata demikian karena dia yakin jika memang gadis yang saat ini ada di hadapannya adalah Afika yang sejak lama ia tunggu kehadirannya. Junisah menatap Afika dari ujung kaki hingga kepala. "Boleh tante lihat tanda lahirmu? Agar tante yakin seribu persen jika kau memang benar Afika, keponakan tante." dan demi menyakinkan lagi, Junisah pun meminta hal demikian. Dan betapa senangnya Junisah saat melihat tanda lahir yang benar-benar sama dengan yang di miliki oleg keponakannya dulu. "Apa pun yang kau inginkan katakan saja pada bi Ani, dia akan membantumu di rumah ini."


"Baik tante. Terima kasih."

__ADS_1


Setidaknya, malam ini Afika bisa beristirahat dengan tenang tanpa memikirkan Adrian lagi yang akan datang dan membuatnya kembali mengingat kejadian yang membuat Afika begitu sangat trauma.


Afika mengusap perutnya sembari tersenyum.


"Kuat di dalam sana yah nak. Ibu ingin sekali bertemu denganmu. Ibu yakin kita berdua bisa hidup dengan bahagia." Ucap Afika.


Ya, keputusan Afika sudah bulat. Ia ingin hidup tanpa ada bayang-bayang Adrian lagi di dalam hidupnya. Sakit, kecewa yang ia rasakan tidak akan mudah sembuh walau diberi apa pun. Afika memilih menjauh demi agar ia bisa menjaga buah hatinya agar Adrian tidak bisa menyakiti lagi anak yang saat ini ia kandung.


••••


Seminggu berlalu. Dan hingga sampai saat ini belum ada kanbar sedikit pun tentang Afika yang membuat Adrian terus saja merasa bersalah. Setiap hari di lalui Adrian dengan perasaan penyesalan. Dan rasa bersalah selalu saja menghantui dirinya. Baby, sang adik begitu sangat menghawatirkan sang kakak yang sampai saat ini sama sekali tidak mengurus diri. Karena Adrian hanya sibuk mencari dan terus mencari keberadaan Afika.


"Kak, makanlah." Ucap Baby sambil membawakan makanan ke kamar Adrian.


Adrian hanya pulang jika ingin mengganti setelan saja. Dan kembali pergi mencari Afika.


"Kak, lihat dirimu. Kau harus makan."


"Bagaimana aku bisa makan, jika aku tidak tahu kabar istriku? Apa dia baik-baik saja di luar sana? Apa dia sudah makan? Apakah dia bisa tidur dengan nyenyak?"


"Tapi kak, setidaknya kau harus tetap sehat agar bisa mencari Afika." Bantah Baby yang merasa prihatin dengan kondisi kakaknya saat ini. Kondisi yang lebih parah dari saat Inggrid meminta putus darinya.

__ADS_1


"Baby.."


"Kak. Ingat kau butuh tenaga untuk mencari Afika. Jika kakak jatuh sakit, maka siapa yang akan mencarinya.?" perkataan Baby mampu membuat Adrian langsung duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya. Benar apa yang Baby katakan. Adrian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar merasa gagal karena sampai saat ini tidak ada satupun tanda tentang keberadaan Afika.


__ADS_2