Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Daffa berjalan kearah kamarnya, membukanya dengan perlahan. Menatap keberadaan Azza yang sedang berdiri menatap pemandangan malam hari di jendela kamar mereka.


Dengan berjalan pelan ia menghampiri Azza.


"Sedang apa hemm?" Daffa memeluk Azza dari belakang, meletakkan kepalanya di ceruk lehernya.


Azza terdiam sesaat, merasakan debaran jantungnya yang menggila.


"Kenapa jantungmu berdetak sangat cepat?"


Azza berusaha melepaskan pelukan Daffa. Ia merasa malu dengan ucapan Daffa tersebut.


"Aku... aku... ingin ke kamar mandi," sahut Azza.


"Aku tahu kalau itu hanya alasanmu saja, kamu ingin menghindar dariku kan?"


Daffa membalik tubuh Azza hingga posisi mereka saling berhadapan. Memeluk Azza dengan intim hingga dada mereka saling bersentuhan.


"Apa yang kamu dengar dengan jantungku?" tanya Daffa.


Azza terpaku menatap Daffa yang begitu lekat menatapnya. Ia juga merasakan detak jantung Daffa yang berpacu cepat.


Azza menggeleng. Ia tertunduk malu.


"Tatap mataku, sayang!" tangan Daffa meraih dagu Azza. Dengan perlahan ia mendekatkan wajah mereka hingga berjarak beberapa inci saja.


Azza merasakan aroma napas Daffa yang memburu bahkan mata lelaki itu penuh kabut gairah. Ia menggeleng tertawa kecil.


"Apa yang lucu, sayang! Jangan katakan kalau kamu sedang memikirkan gaya bercinta kita malam ini!"


Azza melotot mendengarnya, segera menjauhkan wajahnya.


"Aku tidak memikirkan hal seperti itu!" sahutnya dengan mimik cemberut.


"Lalu apa? Apa kamu tidak bisa lagi berpikir karena sudah menginginkan diriku sekarang?" goda Daffa.


"Daff, jangan menggodaku!" Azza menunduk lagi karena merasa malu.


"Aku tidak menggodamu, hanya memancingmu saja."


Daffa melepaskan pelukannya di iringi dengan kekehan. Ia berbalik menjauhi Azza, membuat wanita itu terlihat kecewa.


Matanya nanar menatap Daffa yang sudah berjalan kearah luar kamar mereka. Azza kembali berbalik menatap pemandangan malam yang gelap selepas pintu tertutup.


"Sayang! Aku ingin mengajakmu keluar malam ini!"


Daffa tiba-tiba kembali memeluk Azza dari belakang. Membuat wanita itu tersentak kaget.


"Daff, kamu membuatku terkejut!"


"Ma'afkan aku, aku tidak sengaja melakukannya!" sahut Daffa lembut.


"Memangnya kita mau kemana?" cicit Azza.


"Nanti kamu akan tahu sendiri!" sahut Daffa.


"Tapi pakaianku...," Azza menatap kearah dirinya sendiri kemudian menatap kearah Daffa.


"Seperti itu pun dirimu sudah terlihat sangat cantik. Apalagi kalau tanpa busana di atas sana!" tunjuk Daffa pada tempat tidur mereka.


"Daff, aku serius!" sahut Azza. Ia merasa malu dengan lelucon Daffa barusan.

__ADS_1


"Hanya ke taman samping rumah!" sahut Daffa. Ia menarik tangan Azza lembut.


Sesampainya mereka di taman. Suasana disana sudah di sulap menjadi sangat indah. Dengan dua buah kursi dan meja yang di kelilingi oleh lampu pelita. Bahkan beberapa tangakai mawar merah tergeletak di atas meja.


Azza terperangah melihatnya, matanya beralih menatap Daffa dengan mengerutkan dahinya.


"Memangnya kita mau apa?"


Daffa menggeleng menyuruh Azza untuk tidsk berbicara lagi. Membuat wanita itu mengerti dan mengangguk samar.


"Azza, ma'afkan aku karena selama ini memulai hidup denganmu dengan cara yang tidak biasa. Semua berawal dari kesalahan tetapi aku tidak akan pernah menyesali semua yang telah terjadi pada kita." Membingkai wajah Azza lembut.


"Izinkan aku mengisi setiap sudut hatimu dan biarkan aku duduk dan menemanimu di setiap hari yang kamu lalui hingga tua nanti. Biarkan aku selalu di sisimu merajut indahnya bahtera rumah tangga."


Azza masih menatap Daffa dengan nanar. Dadanya semakin bergejolak hebat bahkan ia juga mulai berkeringat dingin karena saking gugupnya.


"Aku tidak perduli apapun yang akan terjadi ke depannya dengan kita, tetapi suatu saat nanti aku berharap kamu juga selalu ingin bertahan disisiku, mengaggapku segalanya untukmu."


"Azza, aku mencintaimu!"


Jantung Azza semakin menggila saat ia mendengar pernyataan cinta Daffa. Ia memejamkan matanya sesaat, mencoba menyelami perasaannya pada lelaki yang sekarang berstatus sebagai suaminya.


Apakah ia memang benar-benar jatuh cinta dengan Daffa ataukah hanya perasaan kagum dan rasa nyaman saja.


Tetapi menurut Febry tadi siang di telpon kalau gerak-gerik Azza adalah sikap orang yang juga sedang jatuh cinta. Jantungnya selalu berdebar di setiap mereka bersama bahkan ia selalu terlihat malu-malu.


Mata Azza menatap Daffa yang juga menatap dirinya.


"Aku... aku... aku juga mencintaimu!" cicit Azza di ujung kalimatnya. Ia menunduk setelahnya karena merasa malu.


Daffa bergerak meraih tubuh Azza dan memeluknya.


"Ma'afkan aku karena pernyataan cintaku tidaklah romantis!" bisiknya.


"Yang jelas aku bersyukur pada akhirnya kita mengetahui perasaan kita masing-masing!" sahut Daffa.


"Ma'afkan kelakuanku yang dulu padamu. Merebut kehormatanmu secara paksa dan tidak hormat."


Azza menyudahi pelukan mereka, menatap Daffa dengan nanar. Ia membungkam mulut Daffa dengan mulutnya terlebih dahulu saat Daffa kembali ingin bersuara mengenai penyesalannya.


"Kamu sekarang mulai nakal ya!" ucap Daffa saat mereka mengakhiri ciuman mereka.


Azza tersipu malu, ia meremas tangannya.


"Jangan malu. Aku sangat menyukai sikapmu yang seperti itu. Mau memulai semuanya. Tetapi kita juga harus mengakhirinya. Kamu harus bertanggung jawab, sayang!"


Mata Daffa beralih menatap kearah bawah membuat Azza menggigit bibirnya.


"Kamu semakin membuatku menginginkanmu dengan sikapmu sekarang!" Daffa bersuara dengan serak.


"Baiklah. Kita makan malam disini saja. Kata mama tadi kalau kamu tidak mau makan malam!"


Daffa menuntun Azza untuk duduk di kursi yang sudah tersedia.


Bi Mini datang dan menyuguhkan menu makan malam romantis mereka.


"Ini handphone untukmu. Kamu bisa menelponku kapan saja seandainya kamu sangat merindukan diriku."


Menyerahkan handphone tersebut kehadapan Azza.


"Aku tidak perlu handphone, melihatmu setiap saat juga sudah cukup untukku!" sahut Azza.

__ADS_1


Daffa terkekeh mendengarnya.


"Kamu ternyata mulai gombal ya sekarang!" Mencubit hidung Azza.


"Siapa tadi yang ngajarin?"


Daffa kembali terkekeh.


"Sayang, besok aku ingin mengunjungi mama dan abah."


Daffa terkejut mendengarnya.


"Apa yang kamu bilang tadi, coba ulangi sekali lagi!" pinta Daffa.


"Aku ingin mengunjungi mama dan Abah besok!" ulang Azza.


"Bukan itu, tapi panggilanmu untukku!"


Azza tersipu malu.


"Sayang!" ucap Azza. Ia kembali menunduk.


"Terus memanggilku dengan panggilan seperti itu. Aku sangat menyukainya."


Azza memgangguk.


"Boleh saja asalkan aku ikut bersamamu. Lagi pula selama ini aku tidak pernah mengunjungi kedua mertuaku!"


Azza terharu mendengarnya. Ia yakin kalau kedua orang tuanya sangat senang melihat kehidupannya yang bahagia sekarang.


Selepas mereka makan malam, Daffa segera meraih tangan Azza dan bergegas menuju kearah kamarnya. Rasanya ia sudah tidak kuat lagi menahan dirinya. Apalagi saat Azza makan, bibirnya sangat menggoda.


"Bersihkan dulu badanmu, sayang!" pinta Azza.


"Baiklah. Tapi kamu bersiap sendiri ya. Dan saat aku keluar nanti kamu sudah harus siap."


"Kamu tenang saja, aku akan bersiap sendiri!" sahut Azza.


Daffa berjalan keluar kamar mandi. Ia terperangah menatap Azza yang sudah siap dengan memakai lingeria.


"Kamu...," Daffa tidak mampu untuk meneruskan kata-katanya. Ia terpaku melihat Azza yang begitu cantik malam ini.


Dengan cepat ia langsung memeluk Azza dan menciuminya dengan agresif. Hingga malam panjang kembali terjadi.


***


Keesokan harinya Azza dan Daffa akhirnya sudah berada di makam kedua orang tuanya. Mereka berdo'a terlebih dahulu.


"Mama, abah. Aku datang kesini bersama orang yang aku cintai dan mencintaiku. Walaupun pada awalnya semua di mulai dari kesalahan tetapi pada akhirnya berbuah manis."


Daffa membelai punggung Azza lembut.


"Sekarang mama dan abah tidak perlu cemas lagi karena sekarang aku hidup bahagia dengan orang yang tepat. Mama dan abah baik-baik di sana ya. Dan semoga kalian mendapat tempat yang layak disana."


"Sekarang kita pulang," sahut Daffa selepas Azza mengakhiri do'anya.


Azza mengangguk.



__ADS_1



*****


__ADS_2