
Daffian duduk dengan tenang di hadapan penghulu dan juga Alvaro. Pernikahan mereka baru saja akan di mulai. Hanya menunggu mempelai wanita selesai di rias.
"Daffian. Kamu terlihat sangat tegang. Rileks sedikit dan tarik napas dengan perlahan," bisik Daffa.
Daffian mengikuti arahan Daffa. Ia benar-benar gugup kali ini. Baginya penampilan di saat-saat seperti ini haruslah terlihat sempurna. Apalagi ia sudah beberapa hari tidak bertemu Aina.
Daffian terpaku melihat sosok Aina berjalan kearahnya dan duduk tepat di sisi kirinya. Aina terlihat berbeda kali ini dengan riasan pengantinnya. Bahkan wanita itu terlihat sangat sempurna di matanya.
"Hmmm. Bagaimana kalau acaranya kita mulai saja!" ucap Naif membuyarkan tatapan Daffian yang terpesona pada sosok Aina.
Daffian mengalihkan pandangannya dan memgangguk. Ia berdehem sesaat untuk menghilangkan groginya. Kembali melirik kearah Aina yang menunduk saja sedari tadi. Aina terlihat sangat cantik dengan kebaya putih yang di kenakannya.
Daffian tampak khusyuk mendengarkan ucapan Naif tersebut hingga akad yang di nantikan telah tiba. Ia kembali menarik napasnya untuk menenangkan dirinya yang kembali dilanda rasa gugup.
Daffian menjabat tangan Alvaro setelah Alvaro selesai mengucapkan Ijabnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aina Aya Rahman binti Alvaro Samuel Taqi Areliano dengan mas kawinnya yang tersebut di atas tunai."
Sambut Daffian sekali tarik napas dan dengan sekali hentakan.
"Bagaimana para saksi?" Naif menatap para saksi yang berada di kanan dan kirinya.
"Sah."
"Sah."
Setelahnya Daffian membacakan ikrar pernikahan. Kemudian menandatangani buku nikah.
"Silahkan kenakan cincinnya."
Daffian segera mengenakan cincin di jari manis Aina begitupun dengan Aina. Aina menyambut tangan Daffian dan mengecupnya dengan takzim.
Daffian meraih kepala Aina dan mengecup sekilas dahi wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya.
Acaranya di tutup dengan di bacakannya do'a oleh naif.
Selesai akad nikah, keduanya menggelar pesta pernikahan.
"Ai, bagaimana perasaanmu sekarang?" Daffian duduk tepat di samping kanan Aina.
"Aku merasa sangat lega, pada akhirnya kita bisa menikah juga."
Aina menunduk saat Daffian menatapnya lekat. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Aina.
"Paket bulan madu seperti apa yang kamu inginkan?" bisik Daffian.
Aina tertunduk mendengarnya dengan wajah yang merona, perasaannya benar-benar gugup kali ini bahkan dadanya selalu berdebar saat pertama mendengar ucapan Daffian barusan.
"Jangan malu. Kita pasti melewatinya bersama," meraih tangan Aina dan mengecupnya sekilas.
"Duh. Pengantin baru. Mesra amat, aku jadi iri dan ingin cepat-cepat menikah."
Febry berdiri dihadapan mereka bersama tunangannya. Daffian dan Aina ikut berdiri juga.
"Iya dong. Pengantin baru harus selalu mesra, jangan mau kalah sama pengantin lama!" sahut Anggia di belakang mereka.
__ADS_1
"Apalagi sama pengantin tua!" tunjuk Daffa pada Angga dan Rika yang selalu lengket sejak tadi.
Semua yang ada disana tampak tertawa bersama, begitupun dengan Ambar yang juga berada disana.
"Aku tidak menyangka kalau pada akhirnya Angga begitu tergila-gila pada Rika, hingga ia sangat sulit lepas dari istrinya sendiri," sahut Ambar.
Daffa dan Daffian tampak terharu mendengarnya.
"Aku punya sesuatu buat kalian berdua!" Daffa mengeluarkan tiket pesawat. "Ini tujuannya ke Raja Ampat. Kalian bisa menikmati sesi bercinta dari ketinggian."
Daffian melotot mendengar Daffa yang berucap tanpa di saring. Aina tampak memerah.
"Terimalah. Jangan malu-malu. Besok kalian akan berangkat!" tambah Daffa lagi.
"Iya. Nanti aku terima tapi simpan dulu untukku!" sahut Daffian.
"Emm. Kalian berdua, selamat ya atas pernikahannya, semoga langgeng dan bisa memiliki anak yang banyak!"
Febry mengulurkan tangannya kehadapan Daffian dan disambut oleh Daffian.
"Ma'af ya kalau selama ini aku sering kesal sama kamu dan sering berdebat denganmu."
"Tidak apa-apa!" sahut Daffian.
Febry kembali menjabat tangan Aina.
"Hati-hati malam pertama loh. Orang bilang malam pertama, para lelaki melakukannya tidak hanya satu kali." bisik Febry.
"Hey. Aku mendengarnya. Jangan menakuti istriku seperti itu!"
Daffian menatap Febry tajam, meraih Aina dan merengkuh pinggangnya, mengecup dahinya sekilas.
"Aku juga masih mendengarnya Daffian!" sahut Daffa sambil menutup telinga Azza.
"Istriku sedang hamil dan tidak baik mendengar ucapan vulgar dirimu!"
Daffian melotot mendengarnya menatap perut buncit Azza.
"Aku tidak sevulgar dirimu saat berduaan dengan Azza!"
Daffa melotot mendengarnya. "Jangan-jangan kamu pernah mengintip kegiatan kami."
"Enak saja. Memangnya aku tidak punya kerjaan!" ketus Daffian.
Ambar tertawa mendengarnya. "Kalian boleh bertanding deh soal itu. Itu urusan kalian berdua dan kalian bisa memulainya dari sekarang!"
"Tante!!!" teriak Daffa dan Daffian secara bersamaan.
"Ufffs... Tante kesana dulu, dadah!" Ambar berlari kearah kerumunan para tamu.
"Kurang baik apalagi aku coba, sudah memberikan kamu tiket, sudah mema'afkan juga kesalahanmu yang mengintip kami."
"Apaan sih, aku tidak pernah mengintip kalian. Lagi pula kalau bukan karena aku dan Aina, kamu juga tidak bakalan menemukan Azza." Daffian tersenyum miring.
"Iya. Iya. Aku kalah deh! Tapi kalau soal mengintip itu, aku anggap saja kamu sedang belajar dari kami."
__ADS_1
Daffian mendesah sambil memejamkan matanya.
"Jangan dengarkan dia, sayang. Dia hanya sedikit kacau saja," Daffian kembali mencium dahi Aina.
"Enak saja. Aku rileks begini di bilang kacau!" sungut Daffa.
Keduanya kembali terkekeh dan saling merangkul.
"Selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga sakina mawaddah warahmah. Punya banyak anak juga."
"Aamiin...," sahut Daffian.
"Adik ipar, kenapa sejak tadi hanya diam disitu?"
Daffa kembali membelalakkan matanya mendengar ucapan Daffian.
"Kakak ipar, Daffian, bukan adik ipar!"
"Bukannya sekarang Aina sudah jadi kakak iparmu, jadi sudah sepatutnya aku memanggil Azza sebagai adik ipar. Lagian umurnya juga jauh di bawahku!" ucap Daffian bangga.
"Terserah kau sajalah!" Daffa mendesah.
"Sayang, kita cari makanan, aku sangat lapar!" ucap Azza yang sedari tadi hanya diam saja.
"Daff, bawa dia ke meja hidangan. Sejak tadi aku lihat, dia selalu menatap makanan," ucap Aina.
"Lagi pula, wanita hamil tidak baik kalau kelamaan berdiri. Kakinya akan membengkak."
Mendengar hal itu, Daffa tampak khawatir.
"Setelah ini kita akan pergi ke dokter!" ucap Daffa.
"Kakak. Aku kesana dulu ya. Kalau ada perlu sesuatu segera panggil aku."
Azza memeluk Aina sekilas.
"Kamu sebaiknya istirahat saja, jangan terlalu lelah. Kasihan debaynya. Nanti kalau ada perlu, aku bisa meminta asistenku sendiri."
Azza mengangguk mendengarnya.
"Sayang, sebaiknya kamu juga duduk di kursi. Kamu pasti sangat kelelahan menggunakan sepatu berhak tinggi seperti itu."
Aina tersenyum mendengarnya perhatian Daffian padanya. Ia menuruti ucapan suaminya.
Hanya hitungan detik saja, mereka kembali berdiri lagi saat para tamu kembali menghampiri dirinya.
•
•
•
***
Tamat
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca yang mau meluangkan waktunya untuk membaca novel receh ini. Juga kritik dan saran dari kalian yang sangat membantu author.
Salam cinta dari Author 😘😘