
Dan juga Erland yang dulu sempat di culik oleh orang lain.
"Tidak Rahiyang. Kamu salah. Erland dan aku sama-sama tidak bersalah. Kami di sembunyikan bukan karena pilih kasih dan sebagainya. Tapi karena orang tua kami sangat menjaga keamanan kami dari para musuh mereka yang jumlahnya tidak terbaca."
"Sebenarnya semua orang yang menduga kalau orang tuaku punya satu anak saja. Jadi kamu jangan menyalahkan siapa-siapa."
Wajah keriput itu terlihat sendu menatap Rahiyang. Inikah putri Erland yang selama ini tidak di ketahui oleh keluarga keberadaannya. Menyesal Eland tidak mencari tahu keberadaan iparnya dulu.
Ia tidak tahu kalau pada akhirnya Erland tetap menikahi wanita itu walaupun sudah di tentang oleh keluarganya.
Berarti yang Erland sempat katakan kalau dirinya sudah menikah dengan seorang wanita adalah ibunya Rahiyang. Namun sayangnya, mereka menghilang setelah Erland meninggal. Bahkan jejak mereka tidak didapat sama sekali setelah pencarian Eland lakukan.
Pantas saja Erland selalu berada jauh dari keluarganya, rupanya ia memiliki keluarga kecil yang utuh. Tapi kenapa ia menyembunyikannya dari kedua orang tuanya. Ataukah memang ia juga mengetahui sesuatu yang lain.
"Kenapa kamu diam!!" teriak Rahiyang.
"Jadi namamu adalah Galuh Sari, bukan Rahiyang?" tanya Eland.
"Kamu tidak perlu tahu siapa namaku, cukup kalian tahu kalau diriku adalah putri Erland," Rahiyang berdesis.
"Aku sudah sangat lama mengincar kalian berdua, tapi aku tidak pernah bisa mempunyai kesempatan untuk menghancurkan kalian."
"Kenapa kamu tidak jujur pada kami kalau kamu adalah anak paman Erland? Apakah kami begitu hina di matamu?" tanya Angga.
"Seandainya sejak awal kamu mengatakan kejujuran ini pada kami maka kami bisa menerimamu dan kembali menyerahkan milikmu. Tidak perlu kamu menjebak Anggia hidup dalam pusat kesakitan," sambung Angga.
Rahiyang tertunduk, airmatanya meleleh menganak sungai bahkan kucuran itu menutupi pandangannya yang mulai mengabur.
"Aku juga masih mengingat saat pertama kali melakukan misiku untuk mendekati dirimu. Dengan berpura-pura di sakiti oleh seeorang, tapi kamu justru memukul orang tersebut hingga babak belur."
"Seminggu kemudian dia meninggal. Dan apakah kamu tahu siapa orang itu?" Menatap tajam kearah Angga.
"Dia adalah ayah angkatku!"
Angga terbelalak mendengarnya. Dulu saat ia masih remaja, ia memang pernah bertemu dengan seorang gadis yang meminta tolong. Dia pikir lelaki itu adalah penjahat maka Angga memukulnya bertubi-tubi.
"Kemudian, saat dirimu kacau karena istrimu yang menghilang. Aku yang bekerja sebagai pelayan kafe, menjadi pelampiasanmu waktu itu karena penampilanku sangat mirip dengan istrimu. Apakah kamu melupakannya?"
Angga kembali terbelalak setelah mendengar fakta yang lainnya.
"Jadi, kamu selalu menguntitku, Galuh Sari?"
__ADS_1
"Jangan memanggilku dengan nama itu, karena semenjak hari dimana aku tahu kebenarannya, namaku adalah Rahiyang!"
"Tidak Rahiyang. Aku akan tetap memanggilmu galuh sari karena ayahmu menamai dirimu seperti itu dan juga perusahaan itu akan kami berikan padamu dengan suka rela karena itu adalah warisan Erland untukmu."
Rahiyang terbelalak mendengarnya, ia menatap Eland dan Angga bergantian. Ternyata benar yang dikatakan oleh Anggia kalau dirinya terlalu buta dalam mengenali orang.
Bahkan ia sudah buta oleh hasrat dendamnya di masa lalu.
"Walaupun kalian menyerahkan harta itu padaku, aku tidak akan berbaik hati pada kalian. Karena kalianlah penyebab ayahku tewas waktu itu!"
Eland menggeleng.
"Erland tewas memang karena kesalahnku yang memintanya untuk menggantikan posisiku waktu itu. Tetapi bukan kami sebagai pembunuhnya." Eland mengusap wajahnya dengan gurat penyesalan.
"Bukankah kamu sudah tahu kalau pembunuh ayahmu adalah Anton ayahnya Helena, dan juga Yakub."
Tawa Rahiyang membahana bahkan ia memegang perutnya yang sakit karena kerasnya tawanya.
"Apakah kalian mendengar kalau Anton dan Yakub sudah lama mati?" Masih cekikikan.
"Iya, aku sempat mendengar kalau mereka sudah mati beberapa tahun lalu. Dan itu setimpal dengan perbuatan mereka!" sahut Eland.
"Apakah kalian tahu apa penyebab mereka mati?" tanya Rahiyang lagi.
"Akulah yang sudah membunuh mereka berdua tanpa ketahuan sama sekali. Aku yang meracuni mereka dengan menyuruh napi lain untuk menyuntik mereka berdua dengan suntikan mati!"
Rahiyang kembali tertawa. Tawanya lenyap seketika terganti dengan kemarahan kembali.
"Aku akan menghabisi setiap orang yang ikut andil dalam kematian ayahku. Dan orang yang juga sudah memperkosa ibuku! Termasuk kalian berdua dan juga Helena!" tunjuk Rahiyang.
"Aku tidak tahu kalau ibumu di perkosa. Aku turut prihatin," sahut Eland.
"Jangan pura-pura kamu. Ibuku juga di perkosa karena kesalahanmu, Yakub menyuruh orang-orangnya untuk memperkosa dan membunuh mama karena ia tahu kami adalah keturunan Rahardian yang tersembunyi. Tetapi kelakuannya sudah setimpal sekarang dengan kematiannya!"
Rahiyang kembali tertawa senang.
"Kamu gila Rahiyang!!" ucap Eland.
Tawa Rahiyang hilang. Ia menatap Eland dengan tajam. Bahkan melangkah kearahnya dengan perlahan.
Tangan Rahiyang terulur mencekik leher Eland. Daffa dan Angga berlari untuk mencegahnya, tetapi cekikan itu terasa semakin kuat.
__ADS_1
"Mama!! Hentikan semua ini!!" teriak Anggia yang baru membuka pintu.
"Hentikan ma! Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri!" tangis Anggia pecah.
Belum sempat Rahiyang berbalik, ia sudah terjatuh lunglai karena di suntik oleh beberapa dokter yang di bawa oleh Anggia.
"Sudah seharusnya mama menjalani perawatannya. Ma'afkan kesalahan mama pada kalian, aku berjanji hal ini tidak akan terulang lagi."
Anggia berbalik dan ingin pulang.
"Anggia! Tunggu!!" ucap Eland yang menghentikan langkahnya.
"Kamu adalah keturunan Erland. Sudah sepantasnya kamu tidak berkata begitu. Kami adalah keluargamu, Anggia."
Anggia bergetar mendengarnya, ia berjalan dengan perut buncitnya kearah Eland dan memeluknya.
"Kakek," ucap Anggia tulus.
"Jangan tinggalkan kakek lagi, kakek akan semakin bersalah pada Erland kalau tidak dapat menjaga kalian dengan benar!" ucap Eland.
Anggia mengangguk, matanya beralih kearah Daffa yang merangkul Azza dengan erat.
"Daff, ma'afkan semua kesalahanku selama ini. Kamu memang sangat pantas bersama Azza. Dia wanita yang tulus mencintaimu."
"Lalu bagaimana dengan dirimu dan juga anakmu?" tanya Daffa.
"Aku akan mengejar Alfa dan memintanya untuk menikahiku. Aku tahu kalau selama ini Alfa terpaksa meninggalkanku karena mama yang sudah mengancamnya!" menarik napas.
"Mengancam untuk menggugurkan anak Alfa kalau dia tetap berada disisiku dan berhubungan denganku!" Anggia mengusap airmatanya yang meleleh.
"Mama memang menderita skizofrenia. Dan itu sudah sangat lama terjadi, bahkan semenjak nenek di perkosa dan di bunuh di depan matanya. Itulah penyebab traumanya!"
"Kamu yang sabar ya sayang! Rahiyang pasti akan segera sembuh. Bantu dia dengan do'a," Rika meraih Anggia.
"Kamu harus tenang karena sebentar lagi cucu keluarga kita akan lahir. Persiapkan dirimu dan fokus untuk melahirkan saja. Jangan memikirkan hal yang lain."
"Iya tante!" sahut Anggia.
•
•
__ADS_1
•
*****