
"Aina! Papa ingin bicara denganmu."
Langkah Aina terhenti saat ia berada di anak tangga pertama. Berbalik dan menatap ayah dan ibunya yang sejak tadi duduk di ruang tamu. Ia sengaja melewati keberadaan mereka tanpa menyapanya terlebih dahulu.
"Apakah papa ingin membicarakan tentang hubunganku dengan Rendy lagi?"
Menatap Alvaro dengan lekat.
"Aku tidak ingin menjadi wanita bodoh dan terjatuh di lubang yang sama. Lebih baik aku bersama orang yang selama ini berjuang untukku sudah sekian lama. Aku tidak ingin melewatkannya dan membuatnya lelah menungguku."
Alvaro tersenyum mendengarnya.
"Papa tidak memaksa keinginanmu, asalkan kamu betul-betul mencintai Daffian dan tidak menggunakan rasa cintamu sebagai pelampiasan."
Aina berdecak dan duduk di samping ibunya, memeluk wanita itu dengan sayang.
"Aku tidak mempermainkan Daffian, Pa. Aku sadar kalau ternyata aku sangat mencintai lelaki itu. Apalagi setelah kedatangan Rendy, aku begitu takut kehilangan dirinya."
Nadia tersenyum senang mendengarnya.
"Apapun keputusanmu, mama akan selalu mendukungmu. Hidupmu, kamu yang menjalaninya, maka sudah pasti kamu yang menentukannya sendiri." Nadia membelai sayang punggung Aina.
"Makasih ma, kalian tidak mengekangku. Justru kalian mendukung apapun keputusanku," sahut Aina senang.
"Ya sudah. Besok kamu panggil Daffian kesini dan katakan padanya kalau papa ingin bicara berdua dengannya."
Aina terkejut mendengarnya, ia merasa was-was tetapi ia tidak mungkin menolaknya.
"Baiklah. Aku akan menyampaikannya pada Daffian. Tapi papa jangan membuat keputusan yang tidak akan membuatku kecewa dengan kalian lagi kan?" Sahut Aina.
"Tidurlah. Ini susah larut malam. Besok kamu sudah harus kembali bekerja," ucap Alvarotanpa menjawab pertanyaan Aina.
Aina mengangguk dan mengecup pipi Nadia sekilas dan memeluk Alvaro sesaat.
"Aku sayang sekali pada kalian berdua."
Alvaro membelai punggung Aina.
"Papa juga sayang sama kamu, Na." Melepaskan pelukan Aina.
"Oh iya. Jangan lupa katakan pada Azza kalau papa dan mama ingin bertemu dengannya. Papa sangat merindukannya."
Aina kembali tersenyum, ada rasa haru saat Alvaro kembali menyinggung Azza. Wanita itu sangat bahagia sekaramg dengan pendamping hidupnya, walaupun di pertemukan dengan cara yang tidak biasa.
***
Keesokan harinya, Daffian sudah bangun pagi sekali. Dia begitu bersemangat setelah mendapat pesan dari Aina yang menyuruhnya untuk ke rumah mereka.
"Tidak perlu menunggu sore ataupun malam, lebih cepat bertemu dengan om Alvaro maka akan lebih baik. Subuh juga baik," ucap Daffian di sela kekehannya.
Daffian berjalan keluar kamarnya menuju kearah dapur mencari keberadaan ibunya.
"Ma, aku mau berangkat sekarang!" ucapnya setelah melihat Rika yang sibuk dengan penggorengannya.
"Kemana?" Rika mengerutkan dahinya heran.
"Kerumah Aina, ma. Om Alvaro memintaku untuk bertemu dengannya."
Rika terkekeh mendengarnya.
"Haruskah sepagi ini, Daffian?" menatap kearah jam dinding. "Ini masih jam 4 subuh, sayang. Apakah mereka tidak kerepotan menerima tamu pada saat jam bangun seperti ini." Lagi. Rika kembali terkekeh, membuat Daffian berdecak.
"Iya, ma. Kalau Aina yang meminta maka aku akan segera melakukannya, apalagi ini hanya soal Om Alvaro yang ingin bertemu denganku."
Rika menghentikan kegiatannya, mengangkat penggorengan miliknya.
__ADS_1
"Om Alvaro ingin bertemu denganmu pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan. Apakah kamu sudah berpikir masak-masak mengenai itu?"
Daffian terdiam sesaat, senyumnya kemudian mengembang.
"Apapun itu, aku pasti siap menghadapinya. Aku sudah berani memacari Aina, artinya aku siap untuk bertanggung jawab atas segala resiko di kemudian hari."
Rika tersenyum mendengarnya, sekaligus terharu di buatnya.
"Bagus. Anak mama sekarang sudah dewasa!" mengacak rambut Daffian.
"Ih mama, rambutku kan jadi berantakan!" Daffian tampak cemberut, membuat Rika terkekeh.
"Minum dulu, dan tunggu hingga jam 5.30, baru kamu berangkat. Biarkan dulu mereka beraktifitas di pagi hari."
Daffian mengangguk.
"Oh iya. Kalau kamu sudah bertemu dengan Om Alvaro, katakan padanya kalau papa dan mama ingin berkunjung ke rumah mereka."
Rika berjalan kearah pantry, membuatkan secangkir kopi untuk Daffian beserta cemilannya.
"Ada urusan apa mama dan papa ingin bertemu mereka?" heran Daffian.
Rika menggeleng. "Hanya urusan keluarga. Sudah lama kami tidak berkumpul bersama. Bukankah mereka juga keluarga kita dengan Azza sebagai penghubung."
Rika meletakkan kopi buatannya di hadapan Daffian. Lelaki muda itu segera menyeruputnya.
"Iya. Aku lupa sesuatu." Daffian bergumam.
"Soal apa?"
"Sampaikan pada Azza kalau papanya ingin bertemu dengannya. Mereka sangat merindukannya."
"Baiklah. Akan mama sampaikan."
Ting tong
Derap langkah kaki terdengar menghampiri pintu, Daffian berdiri dengan canggung.
"Daffian? Kamu? Sepagi ini?" Aina terkejut dibuatnya.
"Bukankah Om Alvaro ingin bertemu denganku, tidak masalah pagi begini aku datang kemari, agar urusan dengan om Alvaro cepat selesai." Daffian terkekeh untuk mengurangi rasa canggungnya.
"Bagaimana dengan keadaanmu tadi malam? Apakah kamu tidur nyenyak?"
Daffian berjalan mengikuti Aina dan duduk di kursi ruang tamu.
"Baik. Bahkan aku tidur sangat nyenyak. Makasih ya sudah membawaku ke pasar malam. Lain kali kita bisa pergi berdua lagikan?" Aina tersenyum dengan pipi bersemu merah.
Daffian terpaku melihatnya. Tidak biasanya pipi Aina memerah saat bersama dengannya tapi sejak semalam, dia kelihatan seperti anak remaja yang baru jatuh cinta. Daffian berdehem untuk menetralkan rasa hatinya.
"Kamu sangat cantik," gumam Daffian tanpa sadar, membuat Aina tampak salah tingkah.
"Daffian. Kita berbicara di ruang kerja Om saja."
Alvaro muncul di belakang mereka membuat Aina segera menjauh dari sana.
"Jangan sampai terlihat oleh papa tingkah konyolku ini," Aina bergumam dalam hati.
"Aku akan buatkan minum untuk kalian berdua." Ia melenggang meninggalkan Daffian dan Alvaro.
"Baik, Om."
***
Sudah 30 menit Alvaro dan Daffian berada di ruang kerja. Aina tampak gelisah menunggu di ruang keluarga. Bahkan ia berjalan mondar-mandir sambil menatap pintu ruang kerja tersebut. Berharap mereka segera keluar.
__ADS_1
"Aina. Lebih baik kamu bantu mama di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk kita semua." Nadia sudah berdiri sejak tadi menatapnya sambil menggelengkan kepala.
"Iya ma."
Aina kembali menatap kearah pintu yang masih tertutup rapat tersebut.
"Ma, apakah mama tahu apa yang sedang mereka bicarakan?"
Nadia menghentikan gerakannya. Dia sedang menyusun piring, sedangkan Aina menyusun gelas.
"Tentu saja mama tidak tahu, sayang. Bukankah mama juga berada disini. Lagi pula kuping mama bukan kuping kelinci loh," sahut Nadia.
"Hehe... aku pensaran ma sama yang mereka bicarakan."
"Bukannya kamu takut Daffian kenapa-kenapa ya. Kamu bukan penasaran tetapi kamu mengkhawatirkan keadaan Daffian. Benarkan yang mama katakan?"
Aina menunduk, ia merasa malu sekarang karena ketahuan sama ibunya.
"Karena semuanya sudah beres, kita tunggu mereka keluar dan sarapan bersama," ucap Nadia.
Aina mengangguk.
Aina berpaling saat mendengar suara Daffian dan Alvaro yang semakin mendekat kearah mereka. Ingin rasanya ia menghampiri Daffian tetapi ia tidak ingin terlihat sangat khawatir. Mereka juga kelihatannya baik-baik saja, bahkan masih sempat-sempat bergurau dan tertawa bersama.
"Daffian, kita sarapan dulu. Aina dan ibunya sudah menyiapkan semuanya."
Daffian mengangguk, matanya beralih menatap Aina yang mencuri-curi pandang padanya sejak tadi.
"Oh iya, Om. Mama tadi berpesan kalau nanti mama dan papa ingin berkunjung dan bertemu dengan Om. Katanya sudah sangat lama tidak bertemu dengan keluarga, Om."
Alvaro terkekeh mendengarnya. "Bukankah beberapa hari yang lalu kita sudah berkumpul saat syukuran kehamilan Azza?" sahut Alvaro. "Pasti ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan denganku." Alvaro membatin.
Sedangkan Aina tampak sibuk menyiapkan makanan untuk Daffian.
"Mana Daffian tahu, Pa. Itu urusan kalian para orang tua!" Aina langsung terdiam setelah menyadari ucapannya. Ia kembali menunduk malu. Ia seperti orang yang tidak sabaran agar hubungan mereka di resmikan saja oleh para orang tua.
"Benar-benar memalukan," gerutunya di dalam hati.
"Kenapa?" tanya Daffian melihat respon Aina yang langsung bungkam.
"Tidak kenapa-kenapa," sahutnya cepat.
"Daffian. Apa yang papa bicarakan denganmu?" bisik Aina.
"Bukan apa-apa Ai..., ini hanyalah pembicaraan antara lelaki sesama lelaki," sahut Daffian terkekeh, membuat Aina tampak mayun di buatnya.
"Jangan bersikap seperti itu di depanku, Ai. Kamu membuatmu gemas dan ingin menciummu," bisik Daffian.
Aina membulatkan matanya melirik kearah ayah dan ibunya yang menatapnya dengan menggoda.
"Cepat habiskan sarapanmu, agar kita cepat berangkat," Aina kembali menunduk karena malu.
"Kamu benaran ya, tidak sabaran ingin cepat-cepat berduaan denganku," sahut Daffian santai, tangannya terulur mengacak rambut Aina.
Aina kembali melotot dengan sikap Daffian padanya, sangat manis hingga membuat pipinya bersemu merah.
"Ehmm, kalian pasangan yang romantis." Alvaro terkekeh melihatnya.
•
•
•
*****
__ADS_1