
"Hai Daffi, bagaimana kabarmu?"
Aina menghampiri Daffi yang sedang duduk di restoran.
"Aku baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat," sahut Daffi.
"Kamu sendirian?" tanya Aina.
Daffi terkekeh mendengarnya merasa lucu dengan pertanyaan dari Aina.
"Bukankah kamu tahu kalau selama ini aku selalu sendirian. Dan aku sedang menunggu orang yang aku cintai untuk membalas cintaku." Menatap Aina dalam.
"Ma'afkan aku Daff, aku tidak bermaksud begitu padamu. Aku hanya merasa kalau usia kamu dan aku terpaut jauh."
"Tapi itu tidak menjadi alasan untuk kita menjalin hubungankan? Lagi pula wajah kita juga berbeda, jauh terlihat lebih tua diriku di bandingkan kamu."
Aina menggeleng.
"Bukan itu, tapi ada hal yang lain."
"Ya. Kamu selalu menyebutku kekanakan dan masih labil. Mungkin kriteria kamu adalah lelaki dewasa dan juga tegas," sahut Daffi.
Aina terdiam mendengarnya.
"Lebih baik kita pesan makan siang saja sambil mengobrol hal yang ringan. Sepertinya itu akan membuat hubungan kita lebih santai," ucap Daffi setelah melihat perubahan Aina.
"Baiklah. Aku setuju!" sahut Aina mengangguk.
"Bagaimana kabarnya Azza saat ini?" tanya Aina.
Daffi melirik sesaat kearah Aina.
"Kenapa kamu menanyakan dirinya padaku? Tentu saja sekarang mereka sedang bersenang-senang."
Aina terkekeh mendengarnya.
"Iya. Aku lupa kalau sekarang sudah ada seorang lelaki yang benar-benar mampu untuk selalu menjaganya!" sahut Aina.
"Kamu sepertinya sangat mengenal Azza, padahal seingatku kamu pertama kali bertemu dengannya di hari yang sama denganku."
Aina terdiam, melirik kearah Daffi dan menggeleng.
"Aku hanya perduli padanya saja karena dia seorang yatim piatu. Dan aku juga sempat dulu merasakan seperti apa rasanya kehilangan seorang ibu."
"Apa karena ada hal yang lain?" selidik Daffi.
"Aku lihat kamu banyak berubah setelah bertemu dengan Azza. Bahkan kamu sering melamun. Ceritakan padaku mengenai itu," pinta Daffi.
"Tidak ada Daffi!"
"Jangan berbohong padaku Ai.... Aku tahu mana Aina yang jujur dan mana Aina yang menyembunyikan sesuatu."
Aina mendesah pasrah, menatap lelaki yang begitu pengertian padanya. Tapi sayangnya usianya terlalu muda di bandingkan dirinya.
"Sebenarnya wajah Azza sangat mirip dengan wajah ibu."
Daffi terdiam mendengarnya.
"Tetapi belakangan ini aku mencari identitas mengenai dirinya, aku sama sekali tidak menemukan fakta apa-apa. Dia hanya anak seorang wanita yang dulunya berprofesi seorang pembantu dan ayahnya seorang petani."
"Belakangan ayahku juga terlihat gelisah. Dia sering mengurung dirinya di ruang kerjanya. Bahkan hampir semalaman dia tidak keluar dari sana."
__ADS_1
"Pagi harinya aku mendapati mata papa selalu memerah."
Aina menatap Daffi.
"Aku rasa semua ini ada hubungannya dengan masa lalu mereka yang sedang mereka sembunyikan. Dan aku merasa ada yang janggal disini."
"Kenapa kamu tidak langsung bertanya pada papamu mengenai masalahnya?"
Aina menggeleng.
"Papa selalu menghindar, bahkan ia tidak pernah membicarakan hal pribadi selain mengenai pekerjaannya."
"Aku akan membantumu, apapun itu. Percayalah padaku!"
Daffi meraih tangan Aina dan menggenggamnya erat.
Aina mengangguk.
"Duh yang lagi pacaran, maniiissss bangat.... Tapi sayang lelakinya suka gombal!"
Febry duduk diantara mereka berdua.
Aina segera menarik tangannya dan menatap kearah Febry.
"Kenapa kamu datang kemari? Kamu menggangguku tau!" ucap Daffi sinis.
"Aku juga tidak mau bertemu kamu seandainya mama tidak memintaku!"
Daffi menatap Febry dengan penuh tanya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Nanti matamu lepas loh!" hardik Febry.
"Memangnya apa yang aku lihat dari kamu? Hidung besar dan pesek begitu!" ejek Daffi.
"Hidungku mancung, bukan pesek!" sahut Febry.
"Lubangnya besar begitu, mancungkah?" ledek Daffi lagi.
"Kamu benar-benar kekanakan!" ucap Febry.
Daffi langsung terdiam mendengarnya, matanya beralih menatap Aina yang sejak tadi menatap mereka bergantian.
"Aku tidak kekanakan seperti yang kamu bilang. Apakah kamu mau bukti?" tanya Daffi.
"Apa? Mana? Ayo buktikan padaku kalau kamu tidak kekanakan?"
"Sini, mendekat padaku dan tutup matamu!"
"Apa!? Kenapa harus tutup mata. Bukankah sudah aku bilang aku ingin melihatnya!"
"Benar kamu ingin melihat?"
"Memangnya kamu mau apa? Menyuruhku menutup mata segala!" Febry tampak curiga.
"Bukankah kamu ingin bukti kalau aku sudah dewasa!"
Febry terdiam.
"Tentu saja aku akan membuktikan padamu dengan ciuman!"
Febry tampak merona, ia berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan amarah.
__ADS_1
Berbeda dengan Aina yang mendengarnya, ia menggenggam tangannya erat. Entah kenapa ia merasa tidak senang dengan ucapan Daffi barusan pada Febry.
"Pesanan sudah datang, sebaiknya kita makan siang terlebih dahulu. Simpan saja perdebatan kalian!" ucap Aina.
"Kamu sudah memesan?" tanya Daffi saat melihat pesanan Febry di letakkan di depannya.
"Sudah, tadi saat aku baru masuk!" sahut Febry sambil menyuap makanannya.
"Bagaimana kamu tahu kalau aku berada disini?" tanya Daffi.
"Tentu saja. Aku sangat hafal dengan kebiasaanmu yang selalu makan siang disini!" Febry langsung menutup mulutnya merasa keceplosan.
"Kamu menguntitku!" sahut Daffi.
"Tidak! Aku tidak menguntitmu. Mana ada wanita cantik seperti diriku menjadi penguntit," sahut Febry.
Daffi hanya memutar bola matanya malas. Ia beralih menatap Aina yang tampak bungkam sejak tadi.
"Hei. Makanannya jangan hanya di aduk saja. Kamu tidak akan kenyang kalau tidak menyuapnya!" ucap Daffi.
Aina tersenyum tipis. "Aku tidak lapar Daff." Melirik kearah Febry yang tampak lahap dengan makanannya.
"Kamu tenang saja. Jangan pikirkan mengenai itu, aku akan selalu ada untukmu!" ucap Daffi.
"Aku tidak yakin dengan ucapanmu itu Daffi, bisa saja kamu berubah padaku karena ada yang lain!" Aina membatin.
Aina makan dalam diam sambil sesekali menatap keributan yang terjadi antara Daffi dan juga Febry. Ia benar-benar tidak suka melihat perhatian Daffi terbagi pada Febry. Gadis itu terlalu cepat merubah suasana hati Daffi.
"Aku selesai. Aku ingin segera ke rumah sakit, jadwalku setelah ini cukup padat!" Menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Hei. Tunggu aku. Aku akan mengantarmu!" ucap Daffi.
"Tidak usah Daff, aku bisa sendiri. Lagipula sepertinya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan sejak tadi!" melirik kearah Febry.
"Aku bisa menemuinya lagi nanti setelah mengantarmu. Dia tidak akan keberatan. Iyakan Feb?"
Febry hanya melongo saja mendengar pertanyaan dari Daffi yang tidak di dengarnya tadi.
"Aku tidak apa-apa Daffi. Jangan menghiraukanku!" sahut Aina.
"Aku pergi!" ucapnya sambil berlalu dari hadapan mereka.
"Ada apa dengan dirinya? Kenapa dia berubah seperti itu? Apa karena ia sangat membenciku!" bergumam sendiri.
"Iya benar. Dia sangat tidak menyukai dirimu!" celetuk Febry. Segera meraih air minum dan meneguknya hingga tandas.
Daffi melotot menatap kearah gadis tomboy yang tidak tahu malu tersebut.
"Memangnya kamu mengenalnya sehingga berkata seperti itu!"
"Tidak. Aku hanya menebaknya saja!" Febry bersendawa.
Daffi menatap horor kearah gadis tomboy tersebut.
"Kenapa?"
"Kamu jorok!" sahut Daffi. Selera makannya langsung menghilang.
•
•
__ADS_1
•
*****