
Keesokan harinya
"Anggia! Tunggu!!"
Anggia berbalik dan menatap kedatangan Akhmar.
"Kamu!" terkejut. "Ada apa?" Anggia bertanya dengan gaya acuh.
"Ini siapa!?" Memperlihatkan foto yang ada di galerinya. Anggia menatap sekilas.
"Bukan urusanmu!!" Berbalik dan melangkah.
"Tunggu!" Mencekal tangan Anggia. "Itu akan menjadi urusanku, karena kamu mempunyai 2 lelaki, kenapa tidak 3 saja sekalian!" ucap Akhmar.
"Apa kamu bilang!?" melotot dan menghempaskan tangan Akhmar.
"Iya. Aku rela walaupun jadi yang ketiga asalkan kamu mau menerimaku," sahutnya.
"Kamu lelaki gila!" Anggia menatap sinis, tangannya menunjuk wajah Akhmar.
"Aku tidak segila kamu, suka mempermainkan perasaan laki-laki," sahut Akhmar dengan tenang.
Anggia hanya melengos saja sambil berlalu meninggalkan Akhmar yang tersenyum miring.
"Aku akan mengacau pernikahanmu karena kamu sudah berani menolakku dan tidak mempertimbangkan diriku," gumamnya lagi.
Sesampainya di sebuah restoran.
"Dasar lelaki brengsek!" maki Anggia.
"Hei sayang. Kenapa kamu memaki diriku seperti itu?" Alfa menatap heran kekasihnya.
"Eh!" terkejut. "Bukan kamu yang aku maksud!" sambung Anggia lagi.
"Siapa lelaki yang sudah mengganggumu?" tanya Alfa.
"Bukan siapa-siapa, hanya laki-laki gila yang menabrakku tadi!"
Alfa memperhatikan wajah Anggia dengan seksama.
"Kenapa? Apa ada yang aneh di wajahku?" meraba wajahnya dan juga pipinya.
Alfa menggeleng dan mengulas senyumnya. "Aku beruntung bertemu dengan wanita sebaik dan sepengertian kamu!" menyelipkan helaian rambut Anggia.
Pipi Anggia tampak merona, ia terlihat gugup dan salah tingkah. Rasa kesal dan marahnya menguap sudah.
"Kamu terlihat lucu dan manis saat gugup seperti itu!"
Anggia menunduk dengan kedua belah pipi semakin merona.
"Aku tahu kamu juga sangat mencintaiku!" tangan Alfa bergerak membelai kedua belah pipi kekasihnya.
"Ehemm!!"
Anggia dan Alfa mengangkat kepalanya saat mendengar deheman suara seseorang di dekat mereka.
"Akhmar, ngapain lagi dia kesini?" Anggia menggerutu di dalam hati. Menatap kesal kearah Akhmar yang hanya menatapnya dengan senyuman miring.
"Ma'af ya, boleh aku ikut duduk disini? Soalnya di tempat lain sudah penuh." Matanya berkeliling menatap seluruh ruangan restoran tersebut. Begitupun juga dengan Anggia.
"Boleh. Silahkan duduk!" sahut Alfa.
"Apa aku sedang mengganggu waktu kalian berdua?" Masih berdiri.
"Tidak kok mas, duduk saja," sahut Alfa lagi.
Anggia hanya menahan kesalnya saja, ia melirik kearah pengunjung lain yang tampak sibuk dengan makanan mereka.
"Ini pacarnya mas?" Akhmar pura-pura tidak mengenalnya. Padahal diluar tadi ia baru saja memperlihatkan foto kebersamaan Anggia dan juga Alfa.
Alfa menatap Anggia yang balas menatap dirinya.
"Bukan. Dia sepupuku," sahut Alfa.
"Benarkah?" Akhmar terkejut. "Tapi aku lihat tadi kalian terlihat sangat mesra," tersenyum manis.
"Hahaha... mungkin mas salah lihat saja," sahut Alfa. Matanya kembali melirik kearah Anggia.
"Kalau begitu ma'afkan aku yang sudah salah menduga kalian berdua," ucap Akhmar. Ia tahu kalau Alfa bukanlah sepupu seperti yang di bioang oleh nya barusan. Karena ia sangat mengenal Anggia dan keluarganya, kecuali ayah kandung Anggia yang sengaja di sembunyiian kebenarannya.
"Tidak apa-apa, mas!" sahut Alfa.
Momen mereka harus tertunda karena ada Akhmar yang sedang duduk diantara mereka.
"Benarkah mereka sepupu? Tapi aku lihat mereka bertemu hampir setiap hari, bahkan lebih sering daripada Anggia menemui calon suaminya?" Akhmar membatin.
Drt drt drt
Akhmar dan Alfa melirik kearah handphone Anggia yang bergetar.
"Halo."
__ADS_1
"Sayang, kamu dimana?" tanya suara lelaki di seberang telpon.
"Aku sedang berada di restoran Daffa. Ada apa?" Anggia menatap kearah Alfa yang ikut memperhatikan pembicaraan mereka.
Sedangkan Akhmar pura-pura acuh dan meneruskan makannya, padahal kupingnya berdiri tegak.
"Dimana tempatnya? Aku akan menyusulmu," ucap Daffa.
"Sayang. Tidak perlu menyusulku. Aku hanya sebentar saja. Lagi pula aku ada perlu dengan sepupuku," sahutnya.
"Baiklah kalau begitu. Padahal aku sangat merindukanmu." Terdengar nada kecewa dari Daffa.
"Aku hanya ingin bilang sesuatu padamu?" sambung Daffa.
"Apa?" tanya Anggia.
"Pernikahan kita akan di percepat!"
Anggia melotot mendengarnya. Ia berusaha bersikap tenang walaupun sangat terkejut mendengarnya.
"Kenapa di percepat, sayang? Bukankah 3 minggu lagi itu sudah termasuk cepat."
"Karena aku sudah tidak sabar lagi untuk bersamamu. Lagi pula persiapannya sudah rampung sayang," sahut Daffa.
Anggia hanya mengangguk saja, walaupun hatinya sangat menolak semua itu.
"Baiklah. Aku sangat setuju dengan pernikahan itu!" lanjut Anggia di iringi dengan senyum palsu.
Lagi, Akhmar menahan geramnya dan menggenggam erat sendok yang ada di tangannya.
"Ya sudah. Kamu cepat pulang ya dan istirahat. Jangan terlalu cape, sayang."
"Iya, sayang," sahut Anggia.
"I love you!" ucap Daffa.
Anggia hanya diam saja tanpa membalasnya, ia mematikan handphonennya terlebih dahulu.
"Ada apa? Kenapa wajahmu cemberut?" tanya Alfa. Ia meraih tangan Anggia tapi Anggia menarik tangannya terlebih dahulu.
Sesekali matanya melirik kearah Akhmar yang tetap sibuk dengan makannya.
"Pernikahanku di percepat!" sahut Anggia dengan tenang.
Ia meraih jus miliknya dan meneguknya hingga tinggal separuh, rasanya tenggorokannya ikut kering setelah mendengar keputusan Daffa.
Alfa terkejut mendengarnya. "Kenapa bisa?"
"Tentu bisa dong. Orang yang saling mencintai itu pasti menginginkan kebersamaan. Dan yang pastinya kami ingin cepat-cepat bersama."
"Owh... itu lebih bagus lagi!!" Alfa mengembangkan senyumnya.
"Setelah ini aku ingin ke apotek!" ucap Anggia.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu!" ucap Alfa.
"Aku selesai!" celetuk Akhmar. "Permisi!" sahut Akhmar lagi setelah ia berdiri.
Akhmar berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Lebih baik kita pergi sekarang saja!" pinta Anggia.
Mereka segera menuju kearah apotek dan membeli obat penenang untuk Rahiyang. Kemudian Alfa mengantarkan Anggia pulang.
***
"Jadi nama gadis itu Anggia?"
Emran masih memegang kertas yang berada di tangannya. Menatap asistennya sesaat.
"Tapi kenapa data tentang dirinya disembunyikan? Apakah kamu tidak bisa mencari data tentang dirinya lebih detail?"
Madi menunduk. "Iya tuan, identitasnya sengaja di sembunyikan, dan saya tidak bisa mengoreknya lebih dalam lagi," sahut Madi.
Emran hanya mengangguk saja, meletakkan kembali kertas yang di pegangnya tadi.
"Apakah kamu sudah menemukan Rahiyang dan anaknya?" tanya Emran lagi.
"Seperti yang tuan tahu, keberadaan Rahiyang memang kami ketahui tapi soal anaknya kami tidak tahu sama sekali, bahkan dia hidup hanya bersama para pembantunya." Madi menunduk.
"Maksudmu Rahiyang menyembunyikan tentang anaknya dariku?"
"Sepertinya memang begitu, Tuan.
Emran mendesah.
"Apakah anakku dari Rahiyang sudah meninggal?" Emran membatin.
"Oh... jadi begitu kelakuanmu selama ini?"
Emran terkejut dan menatap kearah pintu. Helena berjalan menghampiri Emran.
__ADS_1
"Apakah dia sedang menguping dan mendengar semua pembicaraanku?" gumam Emran.
"Kamu disini, sayang?" Emran menatap Helena.
"Kenapa? Kamu terkejut aku ada disini?" Helena mendekat. Ia menatap sekilas kearah Madi dan menyuruhnya untuk keluar dengan lirikan matanya.
"Kamu boleh pergi. Aku akan memanggilmu nanti!" sahut Emran.
"Sayang, aku hanya mencari tahu tentang anakku saja. Hanya itu!"
Helena terkekeh. "Benarkah? Tapi aku rasa wajahmu tidak mengatakan seperti itu," cemberut.
"Sayang, aku cintanya sama kamu, makanya aku rela meninggalkan Rahiyang demi kamu," sahut Emran.
Ia berjalan dan duduk di dekat Helena, merangkulnya.
"Kalau tidak, mana mungkin aku mau mencari identitasmu dan menikah denganmu. Padahal kita melakukannya hanya satu malam dan juga kita tidak saling mengenal waktu itu."
"Bahkan aku juga yang sudah menebusmu untuk segera keluar dari penjara," sahut Emran.
Helena tersenyum, mengecup sekilas bibir suaminya.
"Aku tahu kalau kamu begitu tergila-gila padaku. Hingga tidak mampu jauh dariku."
Helena mengalungkan kedua belah tangannnya di leher suaminya. Kembali mengecup bibir suaminya.
Emran menekan tengkuk Helena dan memperdalam ciumannya bahkan ia **********.
Tok tok tok
Mereka menyudahi ciuman tersebut, bahkan Helena bergegas memperbaiki riasannya.
"Masuk!"
Erman berdehem sesaat.
"Akhmar, ada apa?" kembali terkejut menatap kedatangan anaknya.
"Hanya ingin mengunjungi papa!" sahut Akhmar acuh. Ia meletakkan bokongnya tidak jauh dari tempat kedua orang tuanya duduk.
"Benarkah? Apa ada sesuatu yang lain hingga membawamu kesini lagi?"
"Papa apa-apaan sih, anak sendiri malah ditanyai seperti itu!" gumam Helena kesal.
"Apa masalah gadis itu lagi sayang?" tanya Helena.
"Siapa namanya?" tanya Emran.
"Anggia pa, namanya Anggia," sahut Helena.
"Kenapa bisa kebetulan seperti ini?" Emran kembali membatin. Ia terpaku menatap kertas yang masih ada di atas meja kerjanya mengenai biodata seorang gadis bernama Anggia.
"Pernikahannya di percepat, katanya seminggu lagi. Dan itu sangat sulit bagiku untuk menemukan peluang, untuk merebutnya," Akhmar mendesah.
"Apa kamu seputus asa itu, berharap pada satu gadis saja bahkan dia juga hampir menikah. Padahal di dunia ini ada banyak gadis, bahkan sangat banyak."
"Kamu tinggal pilih yang seperti apa, papa akan melamarnya untukmu."
"Pa, mencintai seorang gadis itu tidak semudah yang papa ucapkan!"
"Tapi dia calon istri orang Ahkmar!" sahut Emran.
"Hanya calon pa, bukan istri!!" tekan Akhmar.
"Bahkan di luaran sana, masih banyak lelaki yang bisa mengambil istri orang!" sahut Akhmar lagi.
Emran menggeleng, "Itu bukan sikap lelaki sejati!" sahut Emran.
"Sudahlah pa, biarkan saja ia melakukan apa yang dia inginkan. Lagi pula anak kita sudah besar," sahut Helena.
"Justru dia besar maka tanggung jawab kita sebagai orang tua juga semakin besar, Elen!" balas Emran.
"Pa, justru dia besar maka dia sudah tahu arti benar dan salah!" Helena tidak mau kalah.
"Kamu itu ya, selalu saja membela anakmu sendiri. Dia laki-laki dan tidak pantas kamu selalu melindunginya dengan berlebihan!"
Helena melotot menatap suaminya. Ia merasa tidak terima dengan ucapan suaminya barusan.
"Hei! Dia anakku, Emran. Jadi wajar saja aku memperlakukannya berlebihan," sahut Helena.
Emran menatap frustasi kearah Helena. Sejak dulu memang Helena selalu keras kepala, apapun yang menjadi keputusannya harus di lakukan walaupun bertentangan dengan dirinya sendiri.
"Pa, ma. Kenapa kalian justru meributkan hal seperti ini?" kesal Akhmar.
"Sudahlah! Tidak perlu di permasalahkan lagi."
Emran berjalan kearah kursi kebesarannya, ia kembali bekerja dan tidak menghiraukan keberadaan anaknya dan istrinya.
•
•
__ADS_1
•
*******