
Siti langsung memelul tubuh Afika melepaskan rindu yang amat mendalam. Sungguh Siti merasa bersyukur karena masih bisa bertemu dengan Afika yang keadaannya baik-baik saja.
"Ibu rindu nak." Kata Siti dengan tulus.
"Ibu, Afika juga rindu" balas Afika sambil memeluk erat tubuh Siti, seakan takut untuk berpisah lagi.
Sedangkan Junisah langsung menghampiri baby L yang kini sedang menggeliat di dalam box bayinya. Berbeda dengan Sulis, ia hanya melirik baby L, lalu menghampiri Afika.
"Afika. Syukurlah, kau baik-baik saja. Ibu sampai khawatir tentang dirimu." Ucap Sulis, yang memang sejujurnya begitu khawatir mengenai keadaan Afika.
"Terima kasih bu" Ucap Afika yang memang mengenal sekali Sulis, wanita yang hampir saja menjadi ibu mertuanya dulu.
Lalu Sulis memilih duduk di samping brangkar Afika, dan menggenggam tangan Afika. Kini Afika duduk di atas tempat tidur menatap Sulis yang seakan ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa bu? Katakan" Tanya Afika.
Bu Sulis lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara kasar. "Karena kau sudah kembali. Aku ingin mewakili anakku untuk memintamu kembali menjadi istri anakku, sekaligus menjadi menantuku. Lupakan suami mu itu." Ucap Sulis langsung ke intinya.
"Bu Sulis." Tegur Siti yang tidak menyangkah dalam keadaan seperti ini Sulis justru mengatakan hal yang tidak masuk di akal.
"Maaf, tapi aku tidak ingin kehilangan kesempatan. Ceraikan suamimu dan jadilah menantuku sayang. Ibu janji akan menjagamu, tapi dengan satu syarat." Sulis menghentikan ucapannya lalu menoleh ke arah Junisah yang saat ini sedang menggendong baby L. "Kembalikan dia kepada ayahnya, dan hiduplah bahagia dengan putraku."
"Bu Sulis." Ucap Siti dan Junisah secara serentak. Ia tidak menyangkah Sulis bisa berbicara seperti itu kepada Afika.
__ADS_1
Tidak tahukah Sulis, bagaimana Afika menjaga kandungannya, sampai ia bisa berkata demikian. Tidak tahukan Sulis, bagaimana Afika menantikan kelahiran buah hatinya, dan hanya karena Rangga, Adrian rela meninggalkan Baby L. Sungguh itu adalah pikiran yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Afika. Meninggalkan buah hati demi pria yang dulunya meninggalkan dirinya.
"Aku tidak salah kan. Jika Afika dan Rangga ingin hidup bahagia, maka lepaskan apa yang menjadi pengikatnya dengan suaminya."
Afika masih diam saja. Ia hanya tersenyum masam mendengar penuturan kata dari Sulis. Dulu, Afika sempat begitu bahagia, saat Sulis memintanya untuk menjadi menantunya. Sulis yang Afika kenal dulu, adalah seorang ibu yang begitu sangat baik, namun sekarang? Ternyata penilaian Afika selama ini salah tentang Sulis.
"Hiduplah bahagia dengan Rangga. Mulailah semuanya dari awal kembali." Kata Sulis sambil menggenggam tangan Afika.
Afika mencoba melepaskan tangan Sulis.
"Bu Sulis. Katakan kepada Rangga, jika aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Aku tidak perlu Rangga, dan tidak perlu sosok ibu mertua di sampingku. Sekarang aku benar-benar bahagia dengan kehadiran anakku, dan juga ada ibu Siti, dan tante Junisah yang selalu ada di sisiku."
"Tapi Afika, bukan kah kau mencintai Rangga, dan begitupun sebaliknya. Rangga juga mencintaimu."
"Hahahahah." Sulis tertawa. "Tidak mungkin cinta itu bisa dengan cepat hilang Afika. Atau tunggu, apa kau mencintai suami mu sekarang? Setelah apa yang ia lakukan?" Tanya Sulis, yang memang sudah tahu apa yang terjadi dengan Afika karena Rangga selalu menceritakan semua padanya.
"Tentang cinta, aku rasa bu Sulis tidak perlu tahu. Oh ya bu, maaf hanya saja aki dan bayi ku ingin beristirahat. Aku rasa perbincangan ini cukup sampai di sini saja."
"Tapi Afika. Bagaimana dengan pernikahan kalian? Kau dan Rangga, harus menikah."
"Tidak akan ada pernikahan." Tegas Afika.
"Bu Sulis, lebih baik ibu pulang dulu. Kasihan Afika ingin istirahat." Ucap Siti.
__ADS_1
Sulis terpaksa keluar dari ruangan dengan wajah yang cemberut.
"Ibu, bagaimana?" Tanya Rangga, yang penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana.
Sulis tidak menjawab, ia justru menatap tajam pada Adrian yang saat ini sedang duduk.
"Ayo kita pulang." Ajak Sulis.
•••••
Di dalam sana, Afika menyusui baby L. Semua amarahnya hilang saat melihat wajah baby L yang saat ini sedang menikmati makanannya.
"Jangan di pikirkan perkataan bu Sulis. Anggap saja itu sebagai angin lalu." Kata Siti sambil duduk di samping Afika.
"Tidak bu, lagian sekarang tidak ada waktu untuk memikirkan perkataan omong kosong orang-orang. Sekarang yang penting saat ini hanyalah baby L."
"Kau benar nak. Baby L yang paling penting." Timpal Junisah.
Lalu beberapa saat kemudian saat baby L sedang tertidur pulas dalam dekapan Afika, kini pintu terbuka lebar dari luar menampakkan wajah Baby yang tersenyum memamerkan deretan giginya yang tersusun dengan rapi.
"Afika, sepertinya ruangan ini tidak akan cukup." Ucap Baby, lalu beberapa pengawal Adrian membawa satu persatu barang-barang untuk baby L.
Afika sampai mendesah kesal, karena melihat barang hadiah yang begitu banyak di dalam ruang inapnya.
__ADS_1