
Afika kembali muncul di taman belakang dengan suara tawa yang membuat Adrian langsung berlari menuju taman, namun saat Adrian mendekat, lagi dan dan lagi Afika menghilang. Sehingga membuat Adrian terduduk berjongkok di tanah sambil menangis. "Afika, maafkan aku. Hikssss, semarah itukah kau padaku Afika? Maafkan aku.." Kata Adrian di sela tangisnya.
Baby yang mendengar Adrian menangis, langsung berlari menuruni anak tangga dan menghampiri Adrian. "Kak, apa yang kau lakukan, ayo masuk." Ucap Baby.
"Afika.. Dia benci padaku, dia tidak ingin lagi melihatku." Kata Adrian sambil menyandarkan kepalanya di pundak Baby. Baby mengusap dengan lembut pundak belakang Adrian mencoba memberikan ketenangan lewat usapan lembutnya.
"Kak, sebentar lagi hujan. Jadi ayo masuk." Ajak Baby.
Namun, kali ini Adrian kembali melihat Afika yang saat ini sedang berada di tepi kolam, membersihkan kolam.
"Afika." Panggil Adrian melepas pelukan dari Baby.
__ADS_1
"Kak."
"Afika, jangan! Kau bisa jatuh. Jangan berjalan di tepi kolam." Teriak Adrian, dan mencoba berdiri dan berlari menghampiri Afika, namun tetap saja setiap Adrian mencoba mendekat maka Afika akan pergi menghilang. Lagi, Adrian di buat menangis karena Afika pergi meninggalkan dirinya karena kesalahan yang telah ia perbuat. "Afika..."
"Kak sadarlah. Afika tidak ada. Jadi sadarlah kak." Ucap Baby yang sangat prihatin melihat Adrian yang begitu sangat berantakan. Niat Baby mengajak Adrian untuk datang ke mension hutan agar Adrian bisa melihat langsung kado pemberian dan juga ada beberapa barang di kamar Afika, namun ternyata niat Baby justru membuat Adrian semakin bertambah terpuruk dan semakin bertambah merasa bersalah. "Ayo kak, kita masuk."
••••
Beberapa jam kemudian, setelah merasa lebih tenang beristirahat di kamarnya, kini Adrian memantapkan dirinya untuk pergi ke kamar Afika. Adrian begitu sangat penasaran dengan apa yang Baby katakan.
"Ya." Jawab Adrian lalu kini berjalan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Afika. Di susul oleh Baby yang terus memperhatikan Adrian.
__ADS_1
Saat membuka pintu kamar, Adrian merasa ada sesuatu yang hilang. Ya, penghuni kamar yang dulu pernah berada dan tidur di kamar ini sudah tidak ada.
"Kak ini." Kata Baby sambil memberikan gelas yang bergambarkan binatang lion. "Ini hadiah ulang tahun untukmu dari Afika."
Adrian langsung mengambil gelas itu dan memperhatikan gambarnya. "Kau suka?" Bisikan suara Afika terdengar di kuping Adrian. Seketika Adrian tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Kak. Kalau begitu aku keluar dulu." Pamit Baby membiarkan Adrian sendiri di dalam kamar Afika agar Adrian bisa melihat semua apa yang ada di dalam kamar tersebut.
Adrian terus memegang gelas tersebut lalu matanya menatap saputangan yang berada di atas meja yang tersusun dengan sangat rapi.
Adrian lalu mengambil satu saputangan tersebut, dan perlahan Adrian membuka saputangan itu. Kaki Adrian seketika kehilangan kekuatan kala melihat gambaran yang ada di saputangan tersebut. Gambar wajah yang sudah pasti Adrian dapat menebak jika itu adalah wajahnya. Dan di beri tulisan 'Lion lapar'. Ya Artinya singa yang lapar yang siap menerkam Afika.
__ADS_1
Seperti itulah sosok Adrian di mana Afika.
"Maafkan aku." Lirih Adrian, lalu Adrian kembali membuka saputangan kedua yang bertulisan 'Baby Lion'. Seketika Adrian menebak-nebak apakah bayi yang ada di kandungan Afika berjenis kelamin, sampai menulis Baby Lion di saputangan itu. "Afika."