
"Daffian, bagaimana kondisi Febry tadi?" tanya Aina.
Daffi melirik sesaat kearah Aina dan kembali fokus ke jalanan.
"Aku juga tidak tahu Ai... tapi besok pagi aku akan pergi ke rumahnya untuk melihat kondisinya."
"Kenapa tidak menunggu di rumah sakit tadi saja sih Daff?"
"Kelamaan Ai kamu menungguiku, kamu juga kelihatannya sangat lelah."
"Apa setelah ini kamu akan kembali ke rumah sakit?" tanya Aina lagi.
Daffi kembali melirik kearah Aina. Senyum terbit di bibirnya.
"Tidak lagi karena sudah ada seseorang yang menungguinya. Besok saja aku berkunjung ke rumahnya," ulang Daffian.
"Jangan di pikirkan, aku baik-baik saja!"
Tangan Daffian terulur nembelai rambut Aina sekilas. Membuat wanita itu mengalihkan tatapannya kearah jendela mobil.
"Aku tidak mengkhawatirkanmu Daff."
"Lalu? Pertanyaanmu tadi itu apa?" selidik Daffian. "Ucapanmu sepertinya sangat mengkhawatirkanku!"
Aina terdiam mendengarnya.
"Wajar saja aku mengkhawatirkanmu, kamu menyenggolnya juga gara-gara aku!" sahut Aina.
"Benarkah rasa khawatirmu hanya sebatas itu padaku?"
Daffi berbalik dan menatap Aina intens. Ia mendekatkan tubuhnya hingga tidak berjarak. Mobil mereka sudah sampai di depan rumah Aina.
"Daff, jangan seperti ini. Kalau ada yang melihat kita sedekat ini maka dia sudah pasti salah paham."
Daffi terkekeh mendengarnya, ia menjauhkan dirinya yang sempat menepis jarak diantara mereka.
"Aku juga tidak akan macam-macam denganmu Ai, kecuali kita menikah nanti!"
Aina tampak merona mendengarnya, ia kembali memalingkan wajahnya kearah jendela mobil.
"Kita sudah sampai. Sebaiknya kamu segera pulang dan istirahat Daffian. Kamu juga sangat lelah hari ini."
Daffian menahan tangan Aina yang ingin membuka pintu mobil, membuat wanita itu menatap heran kearah Daffi.
"Ada apa?"
"Ai... bagaimana perasaanmu sekarang padaku? Apakah kamu sudah berubah mencintaiku?"
'Aku... aku...," Aina ragu mengucapkannya.
"Aku apa Ai...?" desak Daffian.
"Bagaimana dengan perasaanmu pada Febry?" Aina membalas tatapan Daffi.
"Perasaan apa?" tanya Daffi mengerutkan dahinya.
"Apakah kamu tidak sadar kalau kamu punya rasa pada gadis itu, hanya kamu belum menyadarinya," lirih Aina. Ada perasaan tidak rela saat ia mengucapkannya.
"Apa tidak sebaliknya Ai?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Aina.
"Aku lihat kamu akhir-akhir ini suka cemburuan saat melihat aku bercanda bersama Febry ataupun berdebat. Kamu bahkan merubah sifatmu padaku, berusaha untuk menjaga jarak denganku."
"Bukan itu alasannya aku menjaga jarak denganmu Daff. Aku... aku... hanya tidak ingin rasa cintamu pada Febry terhalang oleh obsesimu padaku!"
"Obsesi? Jadi perasaan cintaku padamu selama ini hanyalah kamu nilai sebagai bentuk obsesi?" Daffi menggeleng.
"Dengar Ai. Aku mencintaimu bukan karena obsesi tapi karena perasaanku benar-benar tulus padamu. Kamu hanya gengsi sajakan karena jarak usia kita yang berbeda!"
"Kamu salah Daff, aku benar-benar menganggapmu sebagai adik saja!" Aina menatap keluar mobil.
"Kenapa kamu tidak menatap mataku saat mengucapkannya? Apa kamu takut aku mengetahui kebenarannya?"
"Kebenaran apa?" menarik napas. "Kamu harus mengerti Daff!"
"Aku akan buktikan padamu kalau kamu juga ada rasa padaku Ai."
Daffi langsung meraih wajah Aina dan membenamkan bibirnya pada bibir Aina. Membuat wanita itu terkejut tetapi ia memejamkan matanya.
Biarlah ia lancang karena sudah melanggar kata-katanya tadi. Biarlah Aina membencinya setelah ciuman berakhir nanti.
Ia hanya ingin membuktikan pada wanita itu bahwa wanita itu benar-benar gengsi padanya.
Bibir Daffi bergerak perlahan menyesap bibir mungil Aina. Membuat wanita itu tanpa sadar memeluk leher Daffian.
Senyum Daffian terbit setelah ia mendapat balasan dari Aina. Nyatanya ucapannya lah yang benar kalau selama ini Aina memang mencintainya tetapi wanita ini terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Daffian mengakhiri ciumannya, membuat Aina merasa kehilangan. Ia menunduk setelah sadar apa yang sudah mereka lakukan.
"Ternyata benar Ai dugaanku padamu selama ini! Dan aku sudah tahu tentang perasaanmu padaku selama ini."
"Aku cinta kamu Ai sebesar aku mencintai diriku sendiri," bisik Daffi.
Aina menunduk malu, ingin rasanya ia menenggelamkan dirinya ke dalam kubangan lumpur.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa aku tidak menyadarinya!" Aina membatin.
"Mimpi indah malam ini Ai, karena besok sesuatu yang baru akan di mulai."
Aina bergegas membuka pintu mobil dan segera berjalan kearah rumahnya. Ia tidak memperdulikan Daffian lagi yang mentertawakan dirinya. Ia benar-benar malu untuk mengakui kalau ia juga mempunyai rasa yang sama pada lelaki muda itu.
"Bodoh! kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal kalau aku punya rasa yang sama dengannya. Bukan perasaan antara kakak pada adiknya!" gumam Aina.
***
Daffian bersiul senang saat memasuki kediamannya membuat Rika menggelengkan kepalanya.
"Hari ini kamu terlihat senang Daffian. Apakah ada kabar gembira lagi darimu?" tanya Rika.
"Iya ma. Sebentar lagi mama bakalan punya menantu idaman!" sahut Daffian mengecup sekilas pipi ibunya.
"Ajak dia kesini Daff, dan jangan menciumi ibumu terus!" sahut Angga. Ia memeluk pinggang Rika erat.
"Papa tenang saja. Besok aku akan melamarnya! Jadi, aku hanya akan menciumi dirinya saja, tidak menciumi mama lagi," sahut Daffian.
"Ada-ada saja!" Angga menggelengkan kepalanya.
"Ini benar loh pa!" ucap Daffi sambil duduk di samping ayahnya.
__ADS_1
"Memangnya siapa gadis yang beruntung itu?" tanya Rika.
"Siapa lagi ma kalau bukan Aina!" sahut Daffi.
Angga terkekeh mendengarnya. "Setelah sekian lama perjuanganmu dan seribu kali di tolak, akhirnya cintamu di terima juga. Tapi papa senang mendengarnya. Usia tidak menjadi halangan dalam kalian menjalani hubungan. Yang utama adalah kejujuran, saling percaya, saling mencinta dan saling setia," sahut Angga.
"Itu yang namanya cinta perlu pengorbanan pa. Berkorban waktu dan kesabaran."
"Ya sudah, besok kita akan ke rumah Alvaro, lamaran buat kamu," sahut Angga.
"Mama setuju. Kamu dan Aina sebaiknya langsung menikah saja. Mama sangat mengenal Aina sejak ia kecil bahkan mama dulu sempat mengasuh Aina. Jadi, mama yakin kalau Aina adalah gadis baik-baik."
Angga berdehem, menatap Rika dengan sendu.
"Aku tidak suka kamu mengungkit masa lalu, sayang!" ucapnya.
"Aku tidak mengungkit masa lalu, sayang," jawab Rika lembut.
"Lalu itu tadi apa?" tanya Angga.
"Itu tadi hanya membicarakan tentang Aina, bukan tentang dirimu, sayang."
Daffian hanya memutar bola matanya malas saat mendapati drama dari kedua orang tuanya. Pasti ujung-ujungnya mereka akan masuk kamar bersama.
"Daffian, sebaiknya kamu segera bersihkan badanmu terlebih dahulu. Kami mau ke kamar lebih dulu."
Angga menggandeng Rika menuju kearah kamar mereka.
"Tuhkan benar!" gumam Daffi.
"Oh iya. Mama lupa! Katanya tadi anak tante Ambar masuk rumah sakit karena tersenggol mobil!" Rika berbalik.
"Daffi sudah tau ma dan Daffi tidak sengaja menyenggolnya." Daffi meringis.
"Lalu bagaimana kabarnya?" tanya Rika khawatir.
"Dia hanya luka lecet di mata kaki ma, dan besok Daffi akan ke rumahnya."
"Sendiri?" tanya Rika. "Bisa-bisa Aina berubah pikiran karena dia cemburu," tambah Rika.
"Mama tenang saja. Itu tidak akan terjadi, karena aku akan mengajak Aina langsung. Lagipula gadis tomboy itu sudah punya pacar."
"Itu kabar yang baik Daffian. Jadi mama harap tidak ada lagi perdebatan diantara kalian berdua setelah ini!"
"Ayo sayang kita ke kamar. Kamu masih bisa berbicara dengannya besok pagi!" sela Angga.
"Selamat bersenang-senang!" teriak Daffian pada kedua orang tuanya membuat Rika melotot.
"Anak itu," gerutunya.
"Biarkan saja. Sebentar lagi dia juga akan merasakan yang namanya pulau impian!" Angga terkekeh sambil menggendong Rika masuk ke kamar mereka.
•
•
•
*******
__ADS_1