
Pagi hari di ruang makan.
"Daff, bagaimana kalau kalian bulan madu saja?" usul Rika.
Azza melirik kearah Daffa.
"Urusan kantor biar Zainal yang urus dan papamu juga bisa membantu. Bagaimana?" ulang Rika.
"Baiklah, kami akan berbulan madu sesuai dengan permintaan mama!" sahut Daffa tanpa berpikir lagi.
Rika tersenyum senang mendengarnya.
"Besok kalian akan berangkat!" ucap Rika.
"Memangnya kemana ma?" tanya Daffa.
"Bali. Bukankah pulau Bali terkenal sampai ke mancanegara karena keindahannya?"
Daffa mengangguk, "Baiklah."
Daffa meraih kepala Azza dan mengecupnya sekilas di pipi.
"Jangan lupa bawakan mama oleh-oleh!" ucap Rika tersenyum senang melihat kemesraan anak dan menantunya.
"Apa yang mama inginkan? Aku akan belikan apapun itu," sahut Daffa.
Rika menggeleng. "Ini tidak bisa di beli dan juga tidak berbentuk barang, sayang."
Dahi Daffa berkerut, ia bingung.
"Memangnya oleh-oleh apa yang mama inginkan?" tanya Daffa.
Daffi terkekeh mendengarnya.
"Masa pengantin baru saat hangat-hangatnya tidak mengerti yang di maksud oleh mama!" sindir Daffi.
"Istri kamu saja sejak tadi menunduk saja karena malu. Mungkin saja dia mengerti yang di maksud oleh mama. Tanyakan saja padanya," tambah Daffi menunjuk Azza dengan dagunya.
Daffa berpaling pada istrinya yang melirik sesaat kearahnya dengan pipi yang merona.
"Apa kamu tahu jawabannya, sayang?" bisik Daffa.
Azza hanya melirik kearah perutnya. Daffa ikut melirik. Sekarang ia paham apa yang di inginkan oleh ibunya.
"Pasti ma. Aku akan membawakan oleh-oleh buat mama dan juga papa!" sahut Daffa bersemangat.
"Aku akan sering membuatkannya untuk kalian biar cepat jadi!"
Azza menepuk tangan Daffa karena ucapannya yang frontal.
"Itu benarkan sayang, kita harus sering-sering membuatnya biar cepat jadi."
Azza berusaha menahan malunya.
Seluruh anggota keluarga yang ada di sana tertawa serempak. Benar-benar pasangan romantis yang di mabuk cinta.
***
Keesokan harinya keluarga Angga dan juga Ambar sudah berkumpul di rumah Angga. Mereka ingin mengantarkan keberangkatan Azza dan Daffa.
"Azza, sekarang makin lengket ya. Padahal awalnya hanya kecelakaan dan kamu juga tidak suka padanya," ucap Febry.
"Tentu saja Azza takluk. Siapa yang tidak dapat melihat pesona Daffa," Daffi menyahut sambil mencibir.
"Kamu! Aku tidak bicara denganmu. Tapi kenapa sejak tadi kamu selalu menjawab ucapanku. Apa sekarang namamu sudah berganti dengan nama Azza!" sahut Febry kesal.
"Aku hanya menjawabkan untuknya saja. Karena sejak tadi Azzanya hanya diam ataupun mengangguk saja," sahut Daffi santai.
"Kamu benar-benar ya... menyebalkan!!" ucap Febry.
"Jangan bilang begitu dong, siapa tahu di balik menyebalkan diriku kamu justru sangat menyukainya!"
__ADS_1
Febry langsung melototkan matanya dan menarik Azza pergi menjauhi Daffi.
"Kembaran suamimu itu benar-benar menyebalkan!" gerutu Febry.
Azza hanya tersenyum geli mendengarnya.
"Hati-hati loh nanti menjadi suka," sahut Azza.
"Iihhh kamu sama saja ya seperti dia. Sama-sama menyebalkan!"
Azza hanya tertawa menanggapi ucapan Febry.
"Sayang! Kamu disini?" Daffa berjalan menghampiri Azza.
"Ciee... pipinya merona!" ledek Febry.
"Apaan si...," Azza langsung menutupi kedua belah pipinya menggunakan tangannya.
"Kalau begitu, aku mau kesana dulu. Takut mengganggu pasangan romantis!" ucap Febry.
"Ada apa?" tanya Azza menatap Daffa.
"Tidak ada. Hanya ingin bersama istriku saja!" Menjawil hidung Azza di sertai dengan tangan kanannya yang merangkul bahu Azza.
"Gombal," sahut Azza dengan pipi semakin merona.
"Gombalnya kamu sangat suka bukan!" Daffa mengecup pipi Azza.
Membuat Azza berpaling menatap kearah Daffa dan tersenyum manis.
"Sayang, ada Anggia di luar. Dia ingin bertemu dengan kalian!" Rika datang menghampiri.
Membuat Daffa dan Azza berbalik secara bersamaan.
"Mau apa dia kesini? Bukankah surat cerai sudah di tandatangani?" sahut Daffa.
"Jangan berkata seperti itu. Biar bagaimanapun juga Anggia sekarang adalah saudaramu juga. Dia sepupumu satu-satunya," sahut Rika.
Daffa beralih menatap kearah Azza yang mengangguk.
Daffa berdiri dan menggandeng tangan Azza menuju kearah ruang tamu.
Suasana di ruang tamu tampak sunyi, beberapa orang hanya diam dan saling menatap. Begitupun dengan Febry ataupun Daffi.
"Ada apa kamu menemuiku?" tanya Daffa.
"Aku hanya ingin memberikan undangan pernikahanku dengan Alfa kesini!" sahut Anggia.
"Oh. Itu kabar yang sangat bagus. Akhirnya kalian bisa menikah juga walaupun harus di isi terlebih dahulu," menatap kearah perut Anggia yang semakin membuncit.
"Selamat ya untuk pernikahan kalian. Kami nanti akan datang!" ucap Daffa lagi.
"Makasih ya Daff. Kudengar kalian akan berbulan madu hari ini. Semoga kalian pulang dalam keadaan sudah ngisi!" sahut Anggia.
"Iya. Sore nanti kami akan berangkat. Makasih do'anya!" sahut Daffa tulus.
"Bagaimana kabar tante Ra?" tanya Daffa.
Anggia tertunduk sedih. "Mama semakin kacau bahkan akhir-akhir ini dia selalu berhalusinasi ingin membunuh tante Helena."
Daffa membelalakkan matanya.
"Aku turut prihatin mendengarnya."
"Makasih Daff."
"Lalu, tentang pernikahanmu dengan Alfa, apakah tante Ra mengetahuinya?"
Anggia mengangguk.
"Mama sudah tahu tapi mama hanya diam saja tidak menanggapi. Tapi keterdiaman mama bagiku ia merestui saja. Apalagi di perutku sekarang ada janin yang sangat memerlukan figur ayahnya!"
__ADS_1
"Kamu benar. Jangan egois hanya demi ego yang tidak akan pernah bisa terpuaskan!" sahut Daffa.
"Aku tidak ingin dia mengalami hal yang sama seperti yang aku alami."
Anggia menerawang pada masa lalunya.
"Aku tidak ingin dia di katakan sebagai anak haram walaupun cara kami membuatnya salah dan aku juga tidak ingin dia mengalami pembullyan!"
Anggia menggenggam tangannya erat. Walau bagaimanapun juga rasa sakitnya semasa kanak-kanak tidak akan pernah ia lupakan.
"Anggia, kamu yang sabar ya. Lagi pula masa lalu yang pahit itu adalah pelajaran bagi kita ke depannya. Jadi ikhlaskan saja!" ucap Azza.
Daffa menatap Azza dengan sendu, membuat Azza menggelengkan kepalanya.
"Jangan di ungkit masa lalu. Semuanya sekarang sudah berubah dan tidak akan seperti dulu lagi," bisik Azza menggenggam erat tangan Daffa.
"Aku cinta kamu!" sahut Daffa berbisik.
"Aku juga sangat mencintaimu!" balas Azza berbisik.
"Hmmm! Sepertinya aku berada di waktu yang tidak tepat. Karena sudah mengganggu kebersamaan kalian berdua!" ucap Anggia.
Daffa dan Azza berpaling kearah Anggia di sertai dengan kekehan.
"Kalau begituu, aku pulang saja Daff. Semoga perjalanan kalian lancar!" ucap Anggia.
"Aamiin...!" sahut Daffa.
"Hati-hati di jalan!" tambahnya lagi.
"Sayang, bagaimana kalau kita ke kamar saja!" bisik Daffa.
Azza melotot mendengar permintaan Daffa. Matanya mengedar ke seluruh tamu yang ada dan tampak sibuk berbincang masing-masing.
"Tapi ini bukan waktu yang tepat Daff. Banyak tamu disini!" sahut Azza.
"Tidak apa-apa sayang, hanya kilat saja ya!" bujuk Daffa.
"Tapi Daff, bagaimana dengan ibu Ambar serta Febry!"
"Kan masih ada mama, papa dan juga Daffi!" sahut Daffa.
Ia menarik tangan Azza dengan lembut tanpa mendapatkan persetujuan dari wanita itu menuju kearah kamarnya.
Menutup pintu dan menguncinya. Berbalik menatap Azza yang menatapnya dengan wajah merona.
Dengan tak sabaran Daffa menarik Azza menuju kearah tempat tidur mereka.
"Setiap kali aku berada di dekatmu, setiap kali juga aku selalu menginginkanmu!" ucap Daffa serak membuat Azza merinding.
Dengan perlahan ia merebahkan Azza dan melakukan pemanasan sebelum melakukan intinya.
Sore harinya Daffa dan Azza berangkat ke bandara dengan di antar oleh seluruh keluarganya.
"Sayang, aku takut naik pesawat!" ucap Azza memegang erat tangan Daffa.
"Tidak apa-apa sayang, jangan tegang!" ucap Daffa.
"Biar dia saja yang selalu tegang sayang!" tambahnya lagi.
Azza menatap kearah Daffa. Ia mencubit lembut tangan suaminya yang sekarang sangat mesum.
"Apaan sih?" pipi Azza tampak merona.
"Itu benarkan? Kamu jangan tegang. Cukup dia saja yang selalu tegang!" ulang Daffa.
Azza mengalihkan pandangannya kearah keluarga mereka saat ia sudah berada di anak tangga pesawat. Mereka melambaikan tangan.
•
•
__ADS_1
•
*****