Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Mendayung


__ADS_3

"Bagaimana perasaanmu setelah kita tunangan? Apakah kamu senang kita akan menikah sebentar lagi?" Daffian mencium tangan Aina lembut.


"Tentu saja aku senang. Tidak ada hari yang paling membahagiakan selain hari itu," sahut Aina senang, tersipu malu.


"Aku sangat senang mendengarnya, karena pada akhirnya kamu bisa menepis perbedaan jarak usia diantara kita."


Aina mengangguk berlebihan, kembali merona melihat perlakuan Daffian padanya.


"Ya. Aku sadar pada akhirnya kalau usia bukanlah segalanya dalam cinta, tapi cintalah segalanya di dalam perbedaan usia. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena kamu begitu gigih memperjuangkan semuanya sehingga membuatku sadar kalau cinta tidak akan pernah memandang perbedaan usia."


Daffian menggenggam tangan Aina lembut. Menyampirkan helaian rambut Aina ke belakang telinganya. Membuat wanita itu terpana melihatnya.


"Apapun akan aku lakukan asalkan cinta yang kita jalani benar-benar tulus. Lagi pula, aku tidak ingin kamu merasakan sakit untuk yang kedua kali."


Aina mengernyit mendengarnya, ia tersenyum setelah mengerti arah pembicaraan Daffian.


"Iya. Aku punya keyakinan sendiri dan prinsip sendiri. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan di bodohi untuk yang kedua kalinya. Aku berharap kedepannya kita bisa saling mendukung, menguatkan dan saling mengingatkan. Juga mampu untuk membina keluarga yang bahagia di atas segalanya."


Daffian mengangguk.


"Pasti. Semua yang seharusnya di miliki oleh suami istri juga harus kita miliki. Dan aku berharap rumah tangga yang kita jalani, berjalan dengan lancar dan bahagia hingga kita menua," sahut Daffian kemudian.


"Bagaimana rencana kita setelah menikah? Apakah kamu punya ide?" Daffian menaik turunkan alisnya, menggoda Aina.


"Apa maksudmu dengan rencana?" wajah Aina memerah, ia mengerti arah pembicaraan lelaki tersebut.


"Rencana untuk membuat berapa banyak anak yang kamu inginkan!" sahut Daffian semakin menggoda Aina.


"Aku belum memikirkannya, memangnya apa yang harus dipikirkan mengenai itu. Kita biarkan saja semuanya berjalan seperti air yang mengalir."


"Lalu, bagaimana dengan bulan madu?" Daffian semakin menggoda Aina. "Apa yang kamu siapkan untuk diriku di malam pertama?"


Aina menunduk. Haruskah mereka membahas semua itu sekarang?


"Semua orang juga pernah menjalaninya untuk yang pertama kali. Jadi kamu jangan khawatir mengenai itu," tambah Daffian.


Aina terperanjat mendengarnya, ia benar-benar tidak dapat berkutik mengenai itu.


"Kamu tenang saja, aku pikir aku akan menyiapkan sesuatu kejutan untukmu nanti," Aina turut menggoda.


"Semacam...." Daffian tidak mampu meneruskan kata-katanya karena Aina sudah menggeleng terlebih dahulu.


"Semacam apa?" tanya Aina memoyongkan mulutnya.


"Hmm semacam lingeria mungkin!"


Aina melotot mendengarnya. Ia seorang wanita saja tidak terpikir hal semacam itu. Sedangkan Daffian si lelaki, kenapa pikirannya seliar itu?


"Bagaimana?" Daffian kembali menggoda Aina. "Itukan kejutan yang kamu siapkan untukku nanti?" tanya Daffian penuh percaya diri.


"Kalau kamu sudah menebaknya, itu artinya bukan kejutan lagi. Tapi tebak-tebakan," sungut Aina kesal.

__ADS_1


"Lagi pula malam pertama bagi wanita, mana ada sempat memikirkan hal seperti itu. Biasanya mereka lebih memikirkan diri mereka sendiri. Dari mulai kurang percaya diri, gugup hingga rasa takut untuk melewatinya," cicit Aina.


"Kamu benar. Biasanya kaum hawa yang begitu khawatir mengenai malam pertama mereka," sahut Daffian cepat.


"Benar," Aina kembali memerah. Rasanya ia begitu malu membicarakan sesuatu yang vulgar dengan pasangannya.


"Tentu saja. Bagi mereka malam pertama adalah sesuatu yang cukup menegangkan karena rasa sakit yang akan mereka alami."


"Sepertinya kamu cukup tahu akan hal itu," sahut Aina lirih.


Daffian berpaling dan menatap kearah Aina yang menunduk sambil mempermainkan tangannya.


"Apa sih yang sedang kita bicarakan?" Daffian terkekeh sendiri, membuat Aina melirik padanya.


"Baiklah. Kita tidak akan membicarakan hal itu lagi kalau kamu malu."


Aina mengangkat kepalanya, tersenyum kearah Daffian.


"Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat hari ini?" tanya Daffian.


Aina menggeleng samar.


"Aku tidak mau kita pergi kemana-mana. Bukankah kita beberapa hari lagi akan menikah. Lebih baik kalau kita istirahat saja di rumah dan mempersiapkam diri untuk acara besar tersebut," tolak Aina.


"Apakah kamu masih mempercayai hal itu, Ai?"


"Hal apa?" Aina mengerutkan dahinya.


"Aku tidak tahu mengenai hal itu. Tapi aku lebih percaya kalau takdir kita sudah diatur oleh Sang Pecipta," sahut Aina.


"Baiklah kalau begitu. Artinya kamu tidak menolak ajakanku kali ini," Daffian tersenyum.


"Bukan begitu. Aku tetap tidak bisa pergi. Lupakan saja mengenai itu. Lebih baik kita menyiapkam diri untuk acara yang hanya tersisa beberapa hari ini," Aina meyakinkan.


"Benarkah kamu tidak ingin pergi denganku. Apakah kamu tidak penasaran dengan tempat yang akan aku tunjukkan padamu nanti? Dan tidak tertarik untuk melihatnya?"


Aina menggeleng kemudian mengangguk.


Daffian tertawa kecil melihatnya. Wanita ini benar-benar menggemaskan di matanya.


"Sudahlah. Sekarang kamu ikut saja denganku, dan jangan menolak lagi. Ini perintah!"


Daffian meraih tangan Aina dan menggandengnya, membawanya berjalan kearah mobil miliknya.


"Apa yang akan kita lakukan disini Daffian?"


Mata Aina menatap sekelilingnya, hamparan danau terbentang luas di depan matanya.


"Apakah kamu tidak tahu tentang danau ini? Danau ini begitu terkenal tetapi sangat sulit di datangi. Banyak dari mereka yang tersesat saat menujunya kesini."


"Benarkah ada tempat seperti ini? Kedengarannya aneh sekali," sahut Aina.

__ADS_1


Daffian membawa Aina menuju kearah pelabuhan, menyewa sebuah perahu untuk mereka dayung bersama.


Aina tampak terlihat sangat bahagia, bahkan beberapa kali ia menjahili Daffian, membuat lelaki itu sesekali tertawa.


"Sayang, bantu aku mendayungnya. Kalau tidak, maka kita tidak akan bisa pulang."


Aina berpaling menatap Daffian, ada keseriusan dari tatapan mata lelaki tersebut.


"Coba lihat, seberapa jauh aku mendayung sendirian. Bahkan aku tidak tahu arah pulang!" ucap Daffian.


Aina kembali menatap sekelilingnya, ingin dia tertawa terbahak-bahak tetapi ia urungkan. Tidak ingin membuat Daffian kecewa karena sikapnya.


"Baiklah. Aku akan membantumu mendayung!" Aina mendekat kearah Daffian.


"Tapi bagaimana caranya, dayungnya hanya ada satu," sahut Aina bingung.


Ingin rasanya Daffian tertawa karena ia berhasil menjahili wanita tersebut. Padahal keinginannya hanyalah duduk berdekatan ataupun memeluknya dari belakang.


"Duduk di depanku. Aku akan mengajarimu!"


Aina mengangguk dan dengan cepat menuruti ucapan Daffian. Sementara itu di belakangnya, Daffian sudah merengkuh tubuhnya membuat Aina menegang.


"Jangan tegang, kalau kamu tegang maka sampan kita akan terbalik. Aku tidak mau mati konyol sebelum malam pertama."


Aina membatu mendengarnya apalagi hembusan napas Daffian begitu dekat di telinganya. Membuat bulu kuduknya merinding karena geli.


"Daffian. Jangan terlalu dekat. Aku geli!" Aina mencoba menghindar.


"Benarkah sedekat ini kamu hanya merasa geli? Ataukah kamu sebenarnya merasa tegang?"


Aina terbelalak mendengarnya. Lelaki ini lagi-lagi menggodanya.


"Hei. Seorang perempuan itu tidak akan pernah merasa tegang dalam hidupnya. Karena yang selalu tegang itu laki-laki," sahut Aina asal.


Aina menutup mulutnya setelah menyadari ucapannya. Melirik kearah Daffian yang berusaha menutup mulutnya dan pura-pura terkejut.


"Apa yang lucu, Daff. Sekarang lupakan ucapanku tadi. Sebaiknya kamu ajari aku bagaimana caranya mendayung," pinta Aina menutupi rasa malunya.


"Baiklah. Baiklah. Kamu sudah tidak sabar rupanya untuk keluar dari sini."


"Bukan begitu Daffian. Justru aku senang bisa sedekat ini denganmu," sahut Aina. Ia kembali menutup mulutnya, lagi-lagi ia mengucapkan sesuatu yang membuatnya malu.


"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya!" Daffian mengecup sekilas pipi wanita itu membuat Aina membeku.


"Kenapa aku segugup ini? Rasanya seperti malam pertama saja," gumam Aina dalam hati. Senyumnya terukir sepanjang perjalanan mereka.




__ADS_1


***


__ADS_2