Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 72


__ADS_3

"Maafkan aku Adrian. Kenangan itu masih membekas, aku belum pulih seutuhnya dengan trauma yang kau berikan padaku. Aku sudah memaafkan mu Adrian, tapi setiap kau mencoba untuk memelukku, ingatan itu kembali ada. Maafkan aku,." Ucap Afika saat masuk ke dalam kamar Lion pukul 2 dini hari.


Afika memang sudah memaafkan Adrian, tapi bekas trauma tersimpan rapat, tanpa seorang pun yang tau. Bukan soal pukulan, tapi kembali ke soal di mana Adrian merebut kesuciannya dengan cara yang begitu kasar, tanpa memikirkan sama sekali perasaan Afika. Dan itu yang masih sangat membekas di dalam benak Afika.


"Maaf." Gumam Afika.


Lalu setelah Afika merapikan posisi tidur Lion, kini Afika keluar dari dalam kamar, dan saat pintu kembali tertutup dengan rapat, kini Adrian membuka matanya. Ya, Adrian memang terjaga malam ini, ia terys saja berfikir kenapa Afika langsung pergi ke kamar Baby, dan juga Adrian tidak bisa menutup mata, karena harus menjaga Lion yang sedang tertidur, dan saat Adrian mendengar pintu kamar terbuka, dengan buru-buru Adrian menutup matanya. Dan saat ini Adrian tahu, jika apa yang ia lakukan di masa lalu telah membuat Afika trauma dan menderita seorang diri.


Adrian bangun dan langsung mengusap wajahnya. Ia benar-benar merasa sangat bersalah.


"Lion, apa yang harus daddy lakukan?"


•••••


Pagi ini, Afika yang memang sejak tadi berkutat di dapur, menyiapkan sarapan dan di bantu oleh Sri. Afika sengaja tidak masuk ke kamar Lion, karena sudah tahu jika pagi ini Lion pasti telah di urus baik oleh Adrian. Dan saat semua menu sarapan sudah selesai, Afika langsung di kagetkan saat menoleh dan menabrak dada bidang Adrian.


Entah sejak kapan Adrian berada di sana, tanpa Afika sadari.


"Adrian."


"Pagi sayang. Kau sangat cantik." Puji Adrian dengan tulus karena memang wajah Afika begitu cantik di tambah lagi sifatnya yang begitu baik menjadi perpaduan yang sempurna, cantik luar dan dalam.


"Awas aku mau lewat."

__ADS_1


"Maaf." Adrian menyingkir membuat Afika lewat, dan meletakkan menu di atas meja. "Aku suka melihat mu memasak. Kau semakin cantik."


"Sejak kapan berdiri di situ?"


"Setengah jam yang lalu."


"Apa?" Heran Afika lalu melirik Sri.


"Jangan marah pada Sri, aku yang memberinya kode agar tidak memberi tau kalau aku ada." Kini Adrian duduk di kursi.


"Lion mana? Kok ngak ikut ke sini sih?"


"Lion, di sedang bersama Baby."


"Ada yang ingin aku katakan." Ucap Adrian saat Afika menyendokkan nasi goreng ke piring Adrian. "Duduklah."


"Sayang, aku ingin membawamu jalan-jalan." Kata Adrian sambil menyerahkan tiket tiburan pada Afika. "Seminggu lagi, masih banyak waktu untuk memikirkannya."


Afika membuka tiket dan benar saja satu minggu lagi mereka akan liburan.


"Apakah harus? Lion masih kecil. Kasihan."


"Harus sayang. Kita harus liburan, dan soal Lion, kita bisa membawanya."

__ADS_1


"Makanlah dulu. Biar aku pikirkan." Ucap Afika, sejujurnya Afika ingin sekali menolak liburan ini. Karena pasti jatuhnya pada apa yang Afika pikirkan, padahal jelas sekali jika dirinya masih trauma.


••••


"Hahahahahahahah..." Tawa Adrian menggema mengisi seisi ruangan. Adrian tertawa saat melihat Rangga yang saat ini keadaannya sedang tidak baik-baik saja. "Bodoh! Kau pikir kau bisa mengalahkan ku? Cih.."


"Kau tahu, setidaknya aku harus berterima kasih, karena kejadian ini aku akhirnya bisa bersama istriku kembali. Tapi, karena sudah membuatku menjadi koma, hingga aku kehilangan moment menjaga anak dan istriku, maka aku tidak akan bisa mengampunimu Rangga."


BUKHHH...BUKKHHHH...BUKKKHHH..


Adrian terus memukul Rangga dengan cara memba*bi buta. Hingga membuat luka di tubuh Rangga yang beluk sembuh kini semakin tambah parah.


Huff.


"Ingat! Sekali lagi kau mencoba mendekati keluarga ku, maka aku tidak akan segan-segan membu*nuhmu." Ancam Adrian. "Pulangkan dia, dan buat perusahaan miliknya hancur." Titah Adrian pada Rio dan juga Nadi.


"Baik tuan."


"Dan kau Nadi."


"Ya tuan."


"Aku ingin kau menjadi asisten Baby."

__ADS_1


"Haa?" Nadi berfikir lebih baik dirinya di suruh menyekap atau membunuh seseorang dari pada harus menjadi asisten Baby yang memiliki sifat ambigu.


__ADS_2