
"Apa!!? Menikah?" Angga melotot menatap nyalang kearah anaknya.
Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga kediaman Angga.
"Dengan wanita itu!!?" Masih menatap tidak percaya pada anaknya.
"Iya pa, Daffa akan menikah dengan Anggia," ucap Daffa masih bersikap tenang. Seolah-olah keterkejutan ayahnya bukan apa-apa di matanya.
"Dan papa harus tau kalau wanita itu punya nama. Namanya Anggia pa," jawab Daffa karena merasa tidak suka dengan ucapan yang di lontarkan oleh Angga yang seolah-olah tidak mengenal Anggia dengan baik. Padahal kenyataannya, Daffa sudah sangat sering menceritakan gadis itu pada kedua orang tuanya.
"Sayang, kamu masih sangat muda dan juga perjalananmu masih panjang," bujuk Angga lagi dengan nada yang melunak. Ia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan anaknya tersebut, tapi ia tidak ingin mengucapkannya secara langsung. Takut menyinggung perasaan anaknya. Lagi pula kecurigaannya masih belum terbukti.
"Pa, menikah sekarang ataupun nanti tidak akan menjadi masalah bagiku. Aku bahkan sudah memimpin perusahaan sejak usia 18 tahun."
Angga mendesah mendengar penuturan anaknya tersebut. Beberapa kali ia mengusap wajahnya frustasi. Benar apa yang dikatakan oleh anaknya, ia bahkan dewasa sebelum waktunya. Ternyata menjadi orang tua sangatlah susah terlebih lagi saat mereka bisa mengambil keputusan sendiri mengenai hidup mereka.
Mereka begitu cepat tumbuh dewasa padahal kemarin dirinya masih bermain mobil-mobilan bersama mereka. Dan mereka masih sangat manja pada dirinya.
"Papa tau, tapi coba sekali lagi kamu berpikir mengenai pernikahanmu," Angga terdengar pasrah.
"Sudahlah. Biarkan saja ia memikirkan semuanya terlebih dulu, bukankah kita dulu juga menikah muda," Rika menimpali.
"Yang dulu dan sekarang itu beda, ma," sahut Angga menjawab ucapan istrinya.
"Apa bedanya Pa, ma? Sekarang dan dulu itu sama saja. Justru lebih baik yang sekarang karena kami lebih mengenal pasangan sejak lama, bukan zaman papa dulu yang menikah tanpa pikir panjang," sahut Daffa menyindir ayahnya.
"Daffa! Kamu hanya tidak tahu saja perempuan itu seperti apa. Bisa saja kamu hanya mengenal luarnya saja, sedang isinya busuk!" ucap Angga agak keras. Ia merasa tersinggung dengan sindiran anaknya mengenai masa lalunya. Walau bagaimanapun ia tetap menyesali masa lalu tersebut dan bertekad menjadi suami yang terbaik untuk istri dan menjadi ayah yang hebat bagi anak-anaknya.
"Apa maksud papa?" Daffa menatap Angga dengan perasaan berkecamuk.
"Anggia adalah wanita baik-baik, pa. Bahkan kami saling mengenal sudah sejak TK. Apa itu masih kurang menurut papa?" sambungnya lagi. Daffa mendesis kesal terhadap ayahnya.
Mereka selalu mendebatkan hal yang sama setiap harinya. Tidak ada yang akur layaknya anak dan ayah, kecuali di hadapan para pebisnis lainnya.
"Sudah! Cukup!" ucap Rika dengan sedikit keras. Ia melerai perdebatan antara ayah dan anak tersebut. Membuat keduanya langsung terdiam, setelah ibunda ratu bersuara. Tapi lirikan mata mereka masih mengisyaratkan perdebatan yang masih berlanjut walau dalam diam.
"Sayang, apa yang dikatakan ayahmu ada benarnya. Sebaiknya kamu pikirkan masak-masak sebelum mengambil keputusan yang justru akan menjadi penyesalan bagimu kelak," ucap Rika menasehati. Ia menatap penuh cinta terhadap putra sulungnya.
__ADS_1
"Kami akan memberikanmu waktu berpikir terlebih dahulu," ucap Rika menyudahi perdebatan mereka.
"Dan besok pagi di meja makan kamu bisa mengucapkan keputusan finalmu!" tegas Rika lagi.
Daffa hanya mengangguk saja, ia tidak perlu lagi memikirkan semuanya karena hatinya sudah ia mantapkan untuk menikahi Anggia, wanita yang ia cintai sejak dirinya berumur 7 tahun.
Dan percuma saja ibunya menyuruh dirinya untuk berpikir, dan memberinya ruang dan waktu karena hanya akan membuat sesuatu yang sia-sia saja.
"Ma, keputusan Daffa sudah bulat. Dan Daffa tetap akan menikah dengan Anggia!" Daffa berdiri dan berlalu dari hadapan orang tuanya tanpa menatap sedikitpun kearah Angga.
"Anak itu!!" geram Angga melihat tingkah anaknya yang tidak sopan-sopannya dengan orang tuanya. Berbeda dengan Daffian kembarannya. Daffa lebih suka memberontak terhadap orang tuanya bahkan ia selalu menuruti apapun keinginannya walaupun sangat bertentangan dengan orang tuanya. Ia juga sangat keras, apapun keinginannya harus segera terwujud dengan cepat.
"Sudahlah pa, biarkan saja," sahut Rika sambil membelai punggung suaminya, membuat Angga berpaling padanya dan menatapnya dengan sendu.
"Kamu tidak tahu masalah yang sebenarnya. Seandainya kamu tahu kebenaran di masa lalu, kamu pasti akan menolak dengan keras pernikahan ini," gumam Angga di dalam hatinya.
Matanya beralih menatap kearah meja, disana masih ada berkas pekerjaannya yang masih belum diselesaikan olehnya. Tertunda karena kedatangan Daffa yang sudah sering mengajukan keinginannya untuk menikahi Anggia, gadis yang tidak di ketahui asal-usulnya tersebut. Bahkan gadis itu sangatlah mirip dengan seseorang di masa lalunya.
Sementara itu, Daffa keluar mansion keluarganya, menaiki mobil ferrari miliknya menuju kearah kafe tempatnya berjanjian dengan kekasihnya, Anggia.
"Sayang, apa kamu sudah lama menungguku?" Daffa meraih kepala Anggia dan mengecup dahinya sesaat dengan lembut.
"Baru saja," Anggia sedikit menjauhkan wajahnya. Ia beralih menatap Daffa yang sudah duduk tepat dihadapannya.
"Apa kamu sudah membicarakan mengenai rencana pernikahan kita pada orang tuamu?" Anggia menatap penuh tanya.
Daffa mendesah menyembunyikan kekecewaannya pada orang tuanya, ia tersenyum kearah Anggia. Meraih tangan gadis itu dan mengecupnya dengan sayang.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan," sahut Daffa masih menatap Anggia dengan lembut dan penuh cinta.
"Semuanya berjalan sesuai dengan keinginanmu," sahutnya lagi. Daffa kembali meraih tangan Anggia dan menggenggamnya erat dan hangat.
"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita percepat saja pernikahan kita," sahut Anggia masih tersenyum menatap kearah Daffa. Membuat Daffa tersenyum sumringah karenanya. Gadisnya memang luar biasa di matanya.
Daffa mengangguk untuk menanggapi ucapan Anggia. Matanya beralih menatap kearah waiters yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari tempat mereka.
"Kamu pesan saja minumannya, setelah ini kita akan pergi mengunjungi kakekku di kediamannya." Daffa meraih handphonennya dan mengetikkan pesan untuk di kirimkan pada seseorang.
__ADS_1
Anggia kembali mengangguk mendengar ucapan Daffa. Tidak ada yang perlu di khawatirkan mengenai rencana pernikahan mereka. Sepertinya semuanya berjalan sesuai dengan keinginannya. Ia meraih buku menu dan memesan beberapa cemilan beserta sebuah minuman miliknya dan tidak lupa ia juga memesankan untuk Daffa.
Beberapa kali matanya melirik kearah Daffa yang terlihat sibuk didepannya. Anggia menunduk setelahnya, matanya mengedar keseluruh ruangan kafe yang sedang di tempatinya.
Tanpa sengaja matanya bertaut dengan tatapan seorang lelaki yang bahkan sejak pertama kali ia duduk tadi sudah menatapnya dengan intens. Lelaki tersebut duduk tidak jauh dari kursi yang mereka tempati, memberikan senyum terbaiknya pada Anggia yang di balas Anggia dengan wajah datarnya.
Ia sama sekali tidak menyukai lelaki yang bahkan secara berulang kali menyatakan cintanya pada dirinya. Bahkan ia sudah menolaknya entah untuk kesekian kalinya, dengan alasan yang sama bahwa dirinya sudah memiliki kekasih yang teramat di cintai olehnya.
"Ada apa?" Daffa menatap Anggia dengan mengerutkan dahinya. Matanya beralih menatap kearah objek yang sejak tadi di tatap oleh kekasihnya. Senyumnya mengembang.
"Apa kamu sangat menyukainya hingga kamu terus-menerus menatapnya?"
Anggia terperanjat dibuatnya, ia menunduk setelahnya. Apakah Daffa akan marah karena sejak tadi ia terus-menerus menatap lelaki tersebut.
"Aku akan membelikannya setiap hari untukmu," Daffa kembali meraih tangan Anggia dan menciumnya. Membuat Anggia mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan penuh tanya.
"Bukankah sejak tadi kamu selalu menatap kearah bunga Jenggot Musa itu!" tunjuk Daffa pada pot bunga yang di gantung diatas sebagai dekorasi kafe.
Anggia hanya mengangguk mengiyakan saja.
"Tidak perlu kamu membelikannya untukku karena aku hanya suka memandangnya saja," sahut Anggia. Ia menarik tangannya dengan hati-hati dari genggaman Daffa.
"Justru kamu menyukainya aku ingin membelikannya untukmu, agar bunga itu bisa dipajang di kamarmu," ucap Daffa dengan senyum manisnya.
Anggia kembali menggeleng. "Tidak perlu bunga itu yang di pajang, karena aku hanya ingin memandangimu setiap hari, terlebih lagi sesaat setelah aku membuka mata. Kamu adalah orang yang pertama aku lihat setelah aku memulai kehidupanku dan kamu selalu ada disisiku. Itu sudah cukup bagiku," sahut Anggia.
Daffa tampak terharu setelah mendengar penuturan wanita yang di cintainya. Ia semakin yakin dengan keputusannya untuk tetap menikahi Anggia dan hidup bersamanya membangun bahtera rumah tangga dengan beberapa orang anak.
Sungguh impian yang indah dan terdengar sangat membahagiakan.
•
•
•
*******
__ADS_1