Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Kecurigaan Daffa Tentang Jamu


__ADS_3

"Hei pengantin baru. Kenapa kamu terlihat frustasi dan kusut begitu di pagi hari?" sapa Zainal.


Ia duduk di hadapan Daffa, ingin memberikan laporan yang diminta oleh bosnya.


"Tidak apa-apa hanya saja aku selalu merasakan sakit di seluruh tubuhku setiap kali bangun pagi," sahut Daffa.


"Itu karena kamu terlalu sering mainnya. Bukannya cepat hamil istrimu, yang ada justru stamina kalian menurun dan itu berpengaruh pada kualitas ****** kamu," sahut Zainal.


Daffa mendesah, melirik malas kearah Zainal.


"Sejak kapan kamu mengguruiku soal ranjang, bukankah kamu belum menikah!" ledek Daffa.


"Yang penting pengetahuan kita mapan soal itu, urusan menikah belakangan," sahut Zainal.


Daffa memijat kepalanya, sudah dua minggu lebih ia mengalami hal seperti ini padahal sebelum dia menikah dengan Anggia, keadaannya normal saja.


"Ada apa?" tanya Zainal menatap khawatir Daffa yang terlihat melamun.


"Ada yang salah denganku selama sebulan ini. Aku tidak pernah benar-benar merasakan yang namanya bercinta," ucap Daffa tiba-tiba. Ia mendesah frustasi.


"Ataukah ini hanya perasaanku saja," tambahnya lagi.


"Apa maksudmu?" Zainal menatap penuh tanya.


"Setiap kali aku mengajak Anggia untuk melakukannya, setiap kali juga Anggia selalu memberikanku jamu. Dia bilang kalau jamu itu adalah obat kuat dan penambah stamina," ucap Daffa.


"Dan kamu selalu meminumnya?"


Daffa mengangguk.


"Meminum obat kuat tidaklah bagus untuk kesehatan jantungmu!"


"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa menolaknya," Daffa mendesah.


"Itu karena kamu sangat mencintainya sehingga apapun yang dia minta selalu kamu turuti."


"Lalu, apa yang terjadi setelahnya? Apakah permainan kalian luar biasa?" Zainal terkekeh.


Daffa menggeleng. "Justru aku tidak merasakan yang namanya bercinta, walaupun keesokan paginya aku terbangun dalam keadaan tanpa sehelai benangpun, bahkan itu terjadi setiap kali," sahut Daffa.


"Apa maksudmu?" Zainal menatap heran.


"Apa jamu yang di berikan oleh istrimu bukanlah obat kuat?" Zainal mulai curiga.


"Rasanya itu tidak mungkin karena tidak mungkin ia melakukan semua itu pada suaminya sendiri." Daffa menepis kecurigaan Zainal.


"Bagaimana kalau jamu tersebut kamu bawa padaku. Aku akan membawanya pada dokter Aina dan memintanya untuk menelitinya," ucap Zainal.


"Bisa saja jamu itu tidak cocok dengan kondisi badanmu sehingga kamu merasakan kondisi seperti itu," tambah Zainal.


"Aku tidak yakin mengenai itu," gumam Daffa.


"Aku rasa ada yang salah disini!" sambungnya lagi.


"Aku akan membantumu meneliti obat kuat yang kamu maksud tadi, tapi kamu harus mendapatkan sampelnya."


"Iya. Aku tahu," sahut Daffa. "Aku akan memintanya lagi pada Anggia," sambungnya lagi.


"Pasti ada yang tidak beres dengan jamu itu. Aku akan menelitinya untukmu walaupun pada akhirnya kamu menjadikan diriku sebagai musuhmu," Zainal membatin.


"Apa ada yang mencurigakan tentang malam pertamamu?" tanya Zainal.


Daffa berpikir sejenak, ia menggeleng.


"Pagi itu aku mendapati bercak darah di kasur kami menginap. Mungkin itu adalah bercak darah perawan milik Anggia," sahut Daffa.


"Ini aneh Daff, kamu menemukan bercak darah keperawanan di kasur kalian tapi kamu sama sekali tidak tahu rasanya malam pertama juga bercinta, bahkan seterusnya."

__ADS_1


"Itulah yang aku bingungkan. Dan kamu cari tahu apa yang terjadi denganku."


"Sebaiknya kamu memeriksakan dirimu saja ke rumah sakit. Siapa tahu ada penyakit serius yang bersarang di tubuhmu!"


"Itu tidak mungkin. Coba kamu lihat aku sekarang, aku sehat!"


"Tapi yang terlihat hanya luarnya saja Daff, sedangkan dalamnya tidak bisa di tebak."


"Baiklah. Kosongkan jadwalku selama 3 jam kedepan. Kita akan ke rumah sakit sekarang!" ucap Daffa.


Sesampainya di rumah sakit, Daffa langsung menuju ke ruangan dokter spesialis penyakit dalam. Cukup lama mereka melakukan pemeriksaan pada dirinya hingga hasil akhir menyatakan bahwa dirinya sehat-sehat saja.


Daffa bahkan juga sudah mendatangi spesialis syaraf untuk memeriksa syarafnya. Sama, semua juga sehat dan baik-baik saja.


"Daff, kamu sedang apa kesini? Apakah istrimu sudah hamil?"


Dokter Aina berjalan menghampiri Daffa yang berada di lorong rumah sakit.


"Tidak. Aku sedang memeriksa diriku sendiri," sahut Daffa.


"Kamu sakit?" Aina terkejut dan menatap Daffa dengan seksama.


"Menurut pemeriksaan yang sudah aku lewati tadi, hasilnya aku dalam keadaan sehat-sehat saja."


Aina mengerutkan dahinya.


"Lalu, apa yang membawamu hingga kemari kalau kamu sehat-segat saja?"


"Dokter Aina, apa sebaiknya kita bicarakan di tempat lain saja?" Pinta Daffa. Ia menatap sekelilingnya, beberapa orang tampak menatap kearah mereka.


"Oh, iya. Aku lupa," menepuk jidat. "Sebaiknya kita bicara di ruanganku saja," pinta Aina.


Sesampainya di ruangan Aina, Zainal segera menutup pintunya rapat. Ia berdiri tidak jauh dari sahabatnya sekaligus atasannya.


"Apa keluhanmu?" tanya Aina.


Aina menahan semburat di pipinya ia menatap Daffa yang bicara blak-blakan.


"Maksudnya kamu belum pernah melakukannya karena sesuatu yang ada pada dirimu?" mengetuk jari diatas meja.


"Bukan. Bukan itu yang kumaksud. Aku yakin kalau senjata milikku tidak seperti yang kamu bayangkan. Kami selalu melakukannya tapi setiap bangun pagi aku tidak pernah merasakan momen itu!"


Aina mengangguk.


"Tidak ada orang yang tidak merasakan seperti apa rasanya bercinta kalau mereka tidak dalam pengaruh obat dan juga tidak dalam kesadaran yang baik."


"Lalu, bagaimana dengan pengaruh obat tidur?"


Aina tersenyum. "Obat tidur tidak berefek seperti narkotika. Ia hanya membuat seseorang yang meminumnya tertidur dalam jangka waktu tertentu!"


"Tapi, untuk melakukan kegiatan panas, mereka juga tidak bisa melakukannya karena miliknya tidak bisa berdiri!"


"Lalu bagaimana dengan kasusku?"


"Apa ada sesuatu yang kamu minum atau obat atau apa saja yang berhubungan dengan kegiatan panas kalian tersebut?"


"Ada. Anggia setiap kali selalu memberikanku jamu. Entah jamu apa namanya, yang jelas dia mengatakan kalau itu jamu kuat dan penambah stamina," sahut Daffa.


"Kamu bawa samplenya kesini, aku akan memeriksanya untukmu!" sahut Anggia.


"Baiklah. Secepatnya aku akan mengirim samplenya untukmu!"


Daffa dan Zainal meninggalkan ruangan dr Aina.


"Ternyata kecurigaan Daffian selama ini benar, kalau Anggia mempunyai teka-teki. Bahkan beberapa kali kami melihatnya bersama lelaki yang sama pada hari itu," gumam Aina.


Ia meraih handphonenya dan mengetik pesan. Lalu mengirimkannya pada Daffian.

__ADS_1


Aina segera keluar untuk menemui Daffian pada tempat yang sudah di tentukan olehnya.


"Bukankah itu Anggia? Lalu, apa yang dia lakukan disana?"


Bergegas Aina bersembunyi untuk memata-matai Anggia yang sedang berada di apotek.


Matanya terbelalak saat mendapati Anggia yang membeli beberapa resep obat penenang.


"Untuk siapa obat-obat penenang itu? Tidak mungkin ia memberikannya pada Daffakan?"


Anggia meraih handphone miliknya dan memotret sekilas Anggia dengan menjinjing obat yang baru di belinya.


"Hei. Kamu ada apa memanggilku?"


Anggia terkejut saat mendapati Daffian yang menepuk pundaknya. Ia berbalik dan melotot.


"Kenapa kamu marah? Bukankah kamu yang tadi memintaku untuk datang kesini," sahut Daffi.


"Iya Daffi sayang, tapi bukan dengan cara mengagetkanku seperti ini!" sahut Aina.


"Kamu terlihat mencurigakan, mengendap-endap seperti maling."


Aina kembali melotot, ia berpaling dan mendapati Anggia sudah tidak berada di tempatnya lagi. Matanya mencari-cari keseluruh penjuru. Tapi tidak ada keberadaan Anggia.


"Apalagi yang sedang kamu cari?"


"Kita bicarakan hal ini di kantin rumah sakit saja. Aku sudah sangat lapar!" sahut Anggia.


"Baiklah!"


Sesampainya di kantin rumah sakit, dr Aina dan Daffi memilih tempat yang berada di pojok ruangan karena memang hanya tempat itu yang tersedia untuk sekarang.


"Aku hanya ingin membicarakan masalah iparmu."


Daffi menatap Aina sesaat, dahinya mengerut dalam.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? Apakah tentang kehamilannya?" tanya Daffa.


Aina menggeleng. "Bukan. Ini tentang kejadian yang baru saja aku lihat!"


"Apa?" Bisik Daffi mulai serius.


"Aku melihat Anggia membeli sejumlah obat penenang. Dan perlu kamu tahu obat penenang itu tidak sembarangan dibeli. Harus dengan resp dokter!"


Mata Daffi membulat sempurna, ia begitu terkejut mendengarnya.


"Lalu, apalagi yang kamu lihat?" Daffi meneguk air yang ada di hadapannya.


"Tidak ada, hanya itu," jawab Aina.


Daffi mengangguk, ia tampak berpikir sesaat.


"Tapi, saudaramu tadi datang kemari. Dia mengatakan tentang keluhannya padaku."


Mata Daffi kembali menatap Aina dengan intens.


"Apa keluhannya?" sangat penasaran.


"Selama sebulan pernikahannya, Daffa sama sekali tidak tahu rasanya bercinta," lirih Aina.


Daffi terkekeh mendengarnya. "Apa hubungannya ini dengan obat penenang?" sahut Daffi.


"Dengarkan dulu penjelasanku. Jangan asal memotong pembicaraan seperti itu!" Kesal Aina.


"Tidak ada hubungannya sama sekali. Aku hanya ingin mengatakan kecurigaanku saja. Kalau Daffa dalam pengaruh obat tertentu," sahut Aina.


"Dan tugasmu kali ini adalah ikuti gerak gerik dari Anggia. Obat penenang itu di berikannya untuk siapa? Ataukah dirinya sendiri yang meminumnya."

__ADS_1


Daffi hanya mengangguk setuju.


__ADS_2